
Setibanya di Singapura, Aaron dan Miska bingung akan ke mana? Ini semua karena kesalahan mereka, yang terlalu terburu-buru hingga tak menanyakan terlebih dulu pada yang tahu.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Miska.
"Kamu pernah ke sini gak Ar?" lanjutnya lagi.
Aaron nampak berpikir, dia pernah datang tapi hanya satu kali. Itu pun saat dirinya masih kecil, dan dia tak ingat di mana letak apartemen milik sang ayah.
"Gak tau lupa gue," ungkapnya, membuat Miska terduduk lesu di kursi tunggu.
Inilah akibatnya jika terlalu terburu-buru, tanpa persiapan apa pun. Tidak mungkin juga mereka harus kembali lagi ke Jakarta, setidaknya mereka harus memastikan keadaan Melinda terlebih dulu.
Aaron teringat dengan Dela, yang pernah datang ke apartemen milik Dika di Singapura. Dia merogoh ponselnya, lalu mencari nomor Dela.
"Halo Aaron," sapa Dela.
"Ka Dela, kakak tahu alamat apartemen tempat daddy dulu sama Melinda?" tanya Aaron.
"Tahu, memang kenapa?"
"Aku dan Miska ada di Singapura, dan gak tahu alamatnya. Dan bodohnya lagi kita terlalu terburu-buru," jelas Aaron.
"Memang kamu sedang apa di Singapura?"
"Ada urusan ka, ka Melinda ada di sini tanpa bilang siapa pun. Melinda dan Ameera sepertinya sedang bermasalah," jujur Aaron.
"Baiklah nanti aku kirim lewat chat,"
"Iya ka, terima kasih."
"Sama-sama."
Aaron memutuskan panggilannya dengan Dela, Miska yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Aaron dengan ibu dari si kembar Rakai dan Ceilo.
Tak lama pesan dari Dela masuk ke ponsel Rakai, setelah mengetahui di mana alamat apartemen Melinda. Aaron memesan taxi, yang ada di sekitaran bandara. Yang akan membawa mereka ke wilayah apartemen tersebut.
Di apartemen sendiri, Melinda tengah di sibukkan dengan urusan dapur. Dia memasak nasi, lalu memarinasi ayam, yang akan dia buat menjadi ayam pedas manis. Juga telur dadar sosis, makanan favorit Melinda.
Sementara Axel sendiri dia tengah menghubungi sang ibu, jika dia akan berada di Singapura selama beberapa hari. Lalu mengecek beberapa pekerjaannya, yang sudah di kirim asistennya lewat e-mail.
Telepon apartemen Melinda berdering, telepon tersebut memudahkan untuk berkomunikasi dengan penjaga keamanan apartemen.
"Ya." Jawab Melinda.
"Nona, ada dua orang warga Indonesia. Yang mengaku kenal dengan anda," beritahu penjaga tersebut, dalam bahas Inggris. Anggap aja bahas Inggris gitu ya.
"Siapa?"
"Aaron dan Miska."
"Izinkan mereka masuk."
Setelah menutup panggilan tersebut, Melinda merasa heran. Mengapa Aaron dan Miska menyusulnya ke sini?
"Kenapa?" tanya Axel, yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Melinda walau tak terdengar.
"Oh.. adik dan sekretaris ku ada di bawah."
Dan tak lama bel pintu berbunyi, Melinda dengan segera membukanya. Membuat Miska dan Aaron bernapas dengan lega, bahkan Aaron sampai memeluk Melinda dengan erat.
"Aaron sudah, aku kesulitan bernafas." Kata Melinda.
"Maaf ka, aku khawatir sama kakak. Kenapa pergi gak bilang-bilang?" omel Aaron.
"Maaf, ayok masuk. Kalian pasti lelah," ajak Melinda, mempersilahkan Aaron dan Melinda masuk.
Tatapan mata Aaron dan Axel bertemu, seolah terpancar permusuhan di antara mereka.
"Aaron, dia Axel. Dia yang membantu kakak ke Singapura," beritahu Melinda pada Aaron, yang memasang wajah tak suka.
"Axel kenalkan ini Aaron, dan dia Miska sahabat ku." Ujar Melinda, Axel berdiri di samping Melinda.
__ADS_1
Seperti seorang kekasih, yang posesif.
"Salam kenal saya Axel," jawan Axel, di jawab anggukan oleh Miska.
"Sebentar yah, aku lanjut masak dulu. Mis kamu istirahat aja di kamar," pinta Melinda.
"Engga aku bantu kamu aja masak," sahut Miska, dia mengikuti Melinda setelah meletakan tas yang dia bawa. Tinggallah Axel dan Aaron, yang saling diam membisu.
Axel tak mempermasalah kan itu, dia kembali fokus memeriksa pekerjaannya.
***
Dika sudah sampai di kediamannya, dia langsung masuk ke kamar. Karena Anyelir ada di kamar, rumah pun jadi sepi karena Aaron dan Melinda tak ada di rumah.
"Sayang," sapa Dika, dia melihat Anyelir yang melamun di balkon kamar.
"Mas." anyelir memeluk Dika.
"Apa yang terjadi, kenapa Aaron pergi ke Singapura?"
"Mungkin menyusul Melinda," jawab Anyelir.
"Melinda di Singapura? Bagaimana kamu tahu?"
"Tadi Dela menelepon ku, bahwa Aaron menanyakan alamat apartemen mu yang dulu."
"Ada apa dengan Melinda, aku merasa dia tertutup kembali pada kita. Setelah tadi pagi, kita memintanya untuk terbuka." Isak Anyelir, sebagai ibu dia merasa sedih dan merasakan kegagalan. Karena dia tak bisa menjadi teman bicara yang baik, bagi Melinda tak bisa membuat Melinda nyaman.
Bahkan Dela menanyakan, kenapa Melinda pergi sendiri. Dan Aaron menyusulnya.
"Maafkan aku," lirih Anyelir.
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Nanti aku akan memberitahu Melinda," kata Dika menenangkan Anyelir.
"Aku akan menyusulnya," putus Dika.
"Apa kamu mau ikut?"
"Baiklah, satu jam lagi aku akan berangkat. Aku akan mandi dan makan terlebih dulu," ujar Dika.
Anyelir mengangguk, dia mempersiapkan keperluan Dika selama di Singapura.
Pukul tujuh malam waktu Singapura, Dika sudah sampai. Dia menggunakan taxi, untuk sampai di apartemennya. Berpuluh menit kemudian, Dika sudah sampai di kawasan apartemen miliknya saat dia masih tinggal di Singapura.
Dika masih ingat untuk pertama kalinya, dia menginjakan kakinya di sini bersama Jenny yang tengah hamil. Bulak balik ke rumah sakit, untuk kesembuhan Jenny. Namun saat terakhir kehamilannya, kondisi Jenny malah drop. Dika menghembuskan napasnya dengan pelan, jika teringat akan kenangan tersebut.
Penjaga keamanan yang memang sudah mengenal Dika, hanya menyapa sebentar. Tak membutuhkan waktu lama, Dika sudah sampai di depan unitnya. Masih sama seperti dulu, tak berubah.
Saat akan mengetuk pintu, pintu terbuka lebih dulu. Membuat Miska dan Aaron terlonjak kaget, akan kedatangan Dika.
"Pa-pak Dika." Sapa Miska gugup.
"Daddy," pekik Aaron.
Aaron dan Miska saling pandang, mereka berniat untuk membeli makanan di bawah malah bertemu dengan Dika.
"Emm... Silahkan masuk pak," ucap Miska, dia memberi ruang untuk Dika masuk ke dalam.
"Miska kenapa balik lagi? Daddy," pekik Melinda, dia tak menyangka Dika akan menyusulnya.
Namun Dika tak merespon apa pun, pandangannya tertuju pada laki-laki yang berdiri di sebelah sang anak. Yang sedang membantu, membersihkan peralatan bekas makan.
"Daddy, dia Axel." Kata Melinda.
"Lalu? Dia yang membawa mu ke Singapura?" tanya Dika.
"Iya dia yang membawa ku ke sini, yang mau meluangkan waktunya untuk ke makam mommy," sahut Melinda, tak ada takutnya dengan wajah dingin Dika.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak minta daddy, atau adik mu yang menemani?"
Namun Melinda hanya tersenyum tipis, dan menatap Dika.
__ADS_1
"Aku selalu meminta daddy, untuk pergi ke makam mommy. Tapi daddy selalu punya alasan untuk menolak ku."
Aaron, Miska dan Axel, hanya diam memperhatikan perdebatan antara ayah dan anak tersebut. Mereka tak akan ikut campur, bahkan Aaron sebagai adik kandung Melinda pun hanya diam.
"Kamu tahu kan, apa alasan daddy selalu menolak."
"Iya aku tahu, karena Ameera. Aku tahu itu daddy, apa aku harus bilang jika daddy pilih kasih? Ameera anak dari orang yang daddy cintai, sedangkan aku bukan." Lirih Melinda.
"Melinda," desis Dika.
"Aku tahu semuanya daddy, aku tahu. Kamu terpaksa menikah dengan ibu ku karena permohonannya kan?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Bukan urusan daddy, dari siapa aku tahu. Aku hanya ingin daddy jujur," pinta Melinda.
Walau dia tahu jawabannya, tapi dia ingin tahu jawaban langsung dari mulut sang ayah. Dan dia tahu, mungkin itu akan menyakiti hatinya.
Melinda mendengar penjelasan dari Dika, mereka kini sudah duduk di ruang tamu. Air mata Melinda tak hentinya mengalir membasahi pipinya, dia mengusapnya dengan pelan.
"Tapi sungguh daddy menyayangi mu Melinda, jika tidak. Mungkin saat kamu lahir daddy sudah menyerahkan kamu kepada Alderik kakek mu, tapi nyatanya aku yang merawat mu." Tutur Dika.
Melinda membenarkan ucapan Dika, tapi dia pun enggan kembali ke rumahnya. Dia ingin di sini, dekat dengan sang ibu.
"Maaf kan aku daddy, kalian selalu mementingkan Ameera. Tapi jika daddy meminta aku untuk kembali maafkan aku, aku tidak bisa. Aku akan tinggal di sini, dan keluar dari perusahaan." Putus Melinda, kali ini keputusannya sudah bulat.
Mungkin itu satu-satunya cara, agar Ameera tak lagi membenci dirinya. Jika dia ingin pulang pun, dia tahu harus ke mana?
Miska menggeleng menatap Melinda, dia tak ingin jika bekerja dengan yang lain. Jika Melinda keluar, dia pun akan keluar Miska sudah berkaca-kaca dan menggeleng pada Melinda. Begitu juga dengan Aaron, yang mendengar keputusan dari sang kakak, dia sangat tidak setuju jika kakaknya itu tinggal di sini sendiri.
"Melinda," desis Dika.
"Maafkan aku daddy, itu keputusan ku. Bahkan aku sudah membuat surat pengunduran diri dan lamaran kerja di perusahaan yang berada di sini," bohong Melinda, jelas dia akan lebih fokus mengelola tempat penginapannya menjadi lebih besar dan maju.
"Tapi ka Mel, di sini bakal sendiri." Kata Aaron.
"Tidak aku di sini dengan Axel, dia kekasih ku dan akan menemani ku." Kata Melinda, membuat Dika kembali terkejut anaknya sudah memiliki kekasih.
"Maaf Axel," batin Melinda menatap Axel, yang malah tersenyum manis.
Sementara Axel dia tidak benci pada Melinda, malah dia merasa senang atas pengakuan gadis tersebut. Pengakuan akan dirinya sebagai kekasih, dia memang sudah jatuh hati pada Melinda saat pertama kali, melihatnya berada di balkon. Wajahnya yang putih, diterangi cahaya rembulan membuat wajahnya terpancar.
Dan Axel memiliki rencananya tersendiri, rencana melamar Melinda. Pertama-tama, dia akan membawa Melinda kerumahnya. Memperkenalkannya pada kedua orang tuanya.
"Tapi nak, kalian belum menikah. Dan tak baik jika tinggal bersama," cetus Dika.
"Axel memiliki apartemen di sebelah daddy." Sahut Melinda.
Dika menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu dia menatap sang anak.
"Ya sudah daddy tidak akan memaksa mu, daddy merestui hubungan mu. Kalau begitu daddy istirahat dulu, Aaron kamu tidur dengan daddy. Dan Miska tidur dengan Melinda," jelas Dika.
"Baik pak," jawab Miska, sedangkan Aaron mengikuti langkah sang ayah menuju kamar pribadinya dulu. Yang akan di tempati oleh Melinda, sementara Melinda dan Miska di kamar tamu.
"Axel maafkan aku, karena aku. Kamu harus terlibat kebohongan ku," tutur Melinda.
"Beneran juga gak papa ko Mel, aku senang bisa menjadi kekasih mu." Jujur Axel.
"Mel, aku ke kamar duluan." Pamit Miska, karena tidak mau menjadi obat nyamuk.
"Iya." Sahut Axel.
"Kamu sudah mengklaim aku sebagai kekasih mu, jadi mulai sekarang kita berdua pacaran. Dan setelah dari sini aku akan memberi tahu mommy dan daddy ku," ucap Axel, membuat Melinda salah tingkah. Malah jantungnya berdebar kencang.
"Selamat malam my princes," bisik Axel, mengecup pipi Melinda. Membuat Melinda membeku di tempat, dia menatap punggung Axel yang menghilang di balik pintu.
"Astaga... Ya Tuhan," gumam Melinda.
****
Semoga suka, maaf typo 💜
__ADS_1