
Kurang lebih menempuh satu jam perjalanan, Melinda bersorak senang karena sudah sampai di depan rumah Ameera. Dengan modal menanyakan alamat pada Jimi, tak lupa Melinda pun membawa berbagai makanan untuk Ameera dan Anyelir. Untuk di makan bersama mungkin sebentar lagi akan masuk jam makan siang.
"Melinda, hati-hati nanti kamu jatuh sayang." Tegur Laura, karena melihat Melinda turun dengan tergesa.
"Maaf Grany," ringis Melinda.
Laura menuntun Melinda sedangkan Mario membawa makanan yang tadi mereka beli, Laura mengetuk pintu rumah Anyelir dan juga menekan bel rumahnya. Tak membutuhkan waktu lama, pintu rumah terbuka.
"Melinda," seru Ameera, dia langsung berlari keluar dan memeluk Melinda.
Laura tersenyum menatap Ameera dan Melinda, mereka layaknya adik dan kakak. Laura jadi teringat Yusra dan Yumna, mereka sering bertengkar tapi saat jauh mereka saling merindu ya begitulah adik kakak.
"Tante, om." Sapa Anyelir, di jawab anggukan oleh Mario dan Laura.
"Mari masuk tante," ajak Anyelir, membuka lebar pintu rumahnya. Anyelir pun mengambil alih bawaan yang di bawa Mario sebagian.
"Anak-anak ayok masuk, kalian main di rumah saja ya!" ujar Anyelir, tanpa menjawab pertanyaan Anyelir kedua gadis tersebut langsung masuk ke dalam rumah dan sedikit berlari.
Ameera mengajak Melinda masuk ke kamarnya, yang penuh dengan mainan. Kamar Ameera dan Anyelir memiliki connecting door tapi Ameera menempati kamar tersebut hanya pada siang hari, jika malam dia selalu tidur bersama Anyelir.
Ameera tak menutup sepenuhnya pintu, dia membuka sedikit agar memudahkan Anyelir mendengarnya.
"Wah.. boneka kamu banyak sekali Meera," ujar Melinda, menatap jejeran boneka di kasur.
"Iya, ini semua hadiah dari ibu sama tante Sekar. Kalo dari ayah hanya ini,"
Ameera memperlihatkan boneka kelinci, berwarna merah jambu hadiah dari Axel saat ulang tahun pertamanya. Melinda yang melihat wajah murung Ameera, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Jangan sedih Meera, aku juga tidak punya mommy atau ibu. Aku dali kecil, di urus sama daddy." Beritahu Melinda, kini kedua gadis cantik tersebut berpelukan saling menguatkan.
Anyelir yang berada di balik pintu pun, menatap sedih Melinda dan Ameera. Lalu dia mengetuk pintu, membuat pelukan mereka terpisah.
"Ibu," seru Ameera.
"Ibu hanya mengantarkan minum saja," balas Anyelir, meletakan di meja dekat mereka main gelas yang di gunakan berbahan dasar plastik. Juga memiliki tutup di atasnya, agar tak tumpah jika tersenggol mereka lalu cemilan seperti biskuit dan coklat.
"Terima kasih ibu." Ucap Ameera.
"Terima kasih juga tante."
"Sama-sama sayang, kalo kalian butuh apa-apa. Boleh panggil ibu oke!"
"Siap," seru mereka kompak, Anyelir pun keluar dari kamar dan kembali bergabung bersama Mario dan Laura.
Mereka banyak bercerita termasuk, tentang kepergian Jenny setelah melahirkan Melinda.
"Jadi selama tiga tahun, Dika yang mengurus Melinda sendiri?" tanya Anyelir.
"Iya Anyelir, dia berusaha merawat Melinda. Memberikan kasih sayang yang cukup, memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hari-hari Dika tak mudah, dia mengalami baby blues. Terdengar aneh memang, tapi itu ada pada kenyataannya. Saya sebagai ibu selalu memberikan dukungan pada Dika saat itu, Dela pun ada di sana bersama putra kembarnya untuk memberikan Asi pada Melinda." Papar Laura menyeka sudut matanya, dia menatap lurus mengingat saat menemani Dika berjuang membesarkan Melinda sendiri.
__ADS_1
Anyelir merasa sedih mendengar cerita Laura, setidaknya dia bersyukur masih memiliki Axel yang menemaninya melahirkan. Merawat Ameera sampai dia berusia kurang lebih satu tahun, Anyelir menghembuskan napasnya dengan pelan guna mengurangi sesak di dadanya.
"Jika Jenny, memiliki salah pada mu. Tolong maafkan dia Anyelir tante tau, kamu baik dan selalu memaafkan." Tutur Laura, Mario mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Aku sudah memaafkannya tante, mudah-mudahan Jenny di ampuni semua dosa-dosanya." Doa Anyelir, di aminkan oleh Laura.
Mereka bisa mendengar tawa renyah Melinda dan Ameera, Laura pun memberitahu Anyelir bahwa setelah jam makan siang mereka akan pulang. Tapi jika Melinda menolak, Laura menitipkan Melinda di sini sampai Dika menjemput.
"Melinda mengeluh bosan, karena si kembar sudah di bawa pulang. Kalau masih ada mereka, hemm... Kamu gak akan pernah tau. Betapa berisiknya si kembar," kekeh Laura, membuat Anyelir pun ikut tertawa juga.
"Iya tante, tidak masalah. Aku senang Melinda jadi Ameera ada temannya," ujar Anyelir.
Laura meminta Anyelir menceritakan kisahnya, selama dia menjauh dari Dika. Dan dengan senang hati, Anyelir menceritakannya hari itu Laura menghabiskan setengah harinya bercerita dengan Anyelir. Sementara Mario menjadi pendengar, sesekali menanggapi ucapan para perempuan tersebut.
***
Arjuna terus berusaha mencari Reen, berbagai macam tempat dia datangi. Teman sekolah, kerja bahkan hotel dan penginapan di sekitaran Bandung dia datangi namun hasilnya nihil. Reen tak ada di tempat, yang dia datangi.
"Reen kamu di mana?" gumam Arjuna, mobil dia tepikan di pinggir jalan. Dia belum istirahat sama sekali, setelah pulang dari luar negeri dan langsung mencari Reen.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Arjuna, dia melihat nama Melati. Namun dia tak mengangkatnya, biasanya dia tak pernah mengabaikan panggilan dari Melati.
"Ish... Kemana Arjuna? Pasti dia sedang bersama Reen, cih.. gue bener-bener gak rela. Arjuna hanya milik gue," cetus Melati muncul sisi egoisnya.
Melati pun terus berusaha menghubungi nomor Arjuna, namun saat akan kembali menghubungi nomornya malah tak aktif. Melati pun mengumpat Arjuna.
"Lihat saja, gue bakal buat hubungan kalian renggang." Ucap Melati tersenyum sinis.
Arjuna terus melajukan mobilnya di sepanjang jalan kota Bandung, berharap Reen terlihat di sekitar jalan. Dia juga menuju alun-alung Bandung, namun tak ada Reen di sana.
"Reen," gumam Arjuna.
Reen sendiri dia di rumah Dela, tengah bermain dengan si kembar yang tahun depan akan masuk ke Playground bersama dengan Melinda.
"Ka Reen, tolong hubungi Melinda dong. Aku kangen dia," celetuk Rakai.
"Ka Reen gak punya nomornya sayang," balas Reen.
Rakai tak menjawab Reen, dia pun cemberut dan berlari menuju Dela yang sedang duduk di meja makan. Dia tengah menata makanan ringan milik anak-anaknya, Rakai memeluk Dela erat, tanda ada maunya yang selalu Dela hapal.
Reen memperhatikan Rakai dan Dela, yang sedang melakukan video call dengan Dika. Walau Melinda tak ada, tapi Rakai tetap berbicara dengan Dika. Sedangkan Ceilo, dia sedang asik menggambar di sisinya. Memikirkan tentang anak bohong jika Reen tak sedih, dia selalu mendapatkan hinaan dan cacian dari teman-teman Hilda sang mertua. Walau Hilda selalu membela, tapi dia juga selalu mengeluh pada Sebastian suaminya.
"Ka Reen?" panggil Ceilo.
"Ya ada apa?" tanya Reen.
"Ka Reen nangis?" Ceilo beranjak dari duduknya, dan berdiri di hadapan Reen dia mengusap air mata. Yang mengalir di pipi Reen, dari Rakai dan Ceilo hanya Ceilo lah yang bersikap manis walau wajahnya terlampau datar.
"Engga kok, ka Reen cuma kelilipan sayang." Balas Reen tersenyum, menatap wajah tampan anak dari pamannya tersebut.
__ADS_1
"Ka Reen gak bisa bohong sama aku, aku paling pintal di antara Lakai. Walau dia kakak ku," cetus Ceilo, membuat Reen tersenyum.
"Kamu pintar memuji diri sendiri, pasti kenarsisan mu ini dari bunda mu kan." Kekeh Reen, Ceilo hanya mengedikan bahunya. Lalu dia memilih kembali menggambar, setelah melihat Reen tersenyum dan mulai menemaninya menggambar.
***
Sore hari di rumah Anyelir, Melinda sudah selesai mandi bersama Ameera. Melinda sudah membawa baju tidur sendiri dari rumah, sejak tadi dia memohon untuk menginap di tempat Ameera. Tapi Anyelir beralasan kalau dia harus meminta izin dulu kepada Dika.
"Jangan cemberut dong, nanti cantiknya hilang." Goda Anyelir, tapi Melinda masih cemberut membuat Ameera terkikik geli.
"Tapi tante jahat, gak mau izinin aku nginap di sini." Protes Melinda, menatap Ameera berusaha untuk mencari pembela. Namun Ameera masih terlaku kecil untuk peka, hal-hal yang seperti itu dia malah menatap Melinda dengan wajah polosnya.
"Sayang... Bukan tante gak kasih izin, kamu belum bilang sama daddy mu sayang. Tadi juga Grany gak bilang, kalau kamu mau nginap. Cuma bilang daddy kamu mau jemput sore ini," papar Anyelir, menatap Melinda yang tengah berpikir.
"Boleh aku pinjam ponsel tante?"
"Boleh." Anyelir memberikan ponselnya, Melinda yang sudah bisa membaca sedikit dia sedang mencari nama Dika.
"Hallo daddy," pekik Melinda ketus, setelah panggilannya terangkat oleh Dika.
Sedangkan Dika di sebrang sana, menatap nama di layar ponselnya.
"Ini nomor Anyelir, kenapa ada suara Melinda?" tanya Dika pada diri sendiri.
"Daddy... Daddy, apa daddy dengar aku?" tanya Melinda.
"Iya sayang daddy dengar kok, tapi ini beneran kamu sayang?"
"Iya lah, memang siapa lagi anak daddy? Cuma aku," tegas Melinda.
"Oke, maafkan daddy nak! Ada apa?"
"Daddy boleh aku menginap di rumah Ameera?"
Dika terdiam di sebrang sana, membuat Melinda tak sabar. Dan menangis pada akhirnya, membuat Dika panik.
"Sayang jangan menangis, sebentar lagi daddy pulang." Ujar Dika.
"Aku gak mau pulang daddy, aku mau sama Ameera." Isak Melinda, Anyelir pun mencoba menenangkan Melinda.
"Oke, sekarang kasih ponselnya sama tante Anyelir. Daddy mau bicara," kata Dika.
Melinda pun memberikan ponselnya pada Anyelir, Dika pun berbicara pada Anyelir untuk membolehkan Melinda menginap satu malam saja. Dan berjanji akan menjemput Melinda pada pagi hari.
"Aku tidak masalah mas Dika, aku lihat Melinda anak yang baik."
"Baiklah Anye, terima kasih. Kalau dia rewel tolong hubungi aku," pinta Dika.
"Iya mas," sahut Anyelir, lalu Dika mematikan panggilan teleponnya. Membuat Anyelir menghembuskan napasnya dengan pelan.
__ADS_1
Dia menyentuh dadanya yang berdebar, dengan cepat perasaannya masih sama. Tak pernah berubah pada Dika, Anyelir pun memberitahu Melinda bahwa Dika memberikan izin. Membuat Melinda bersorak bahagia, dia mencium Anyelir dan mengucapkan terima kasih Anyelir tersenyum menatap Melinda.
***