
Malam harinya Aaron dan Miska memutuskan untuk menjenguk keponakannya mereka, karena jika siang Miska enggan bertemu dengan keluarga Axel terutamanya Dika dan Anyelir. Dia masih belum siap, walau dia tahu jika Anyelir baik bisa menerima dirinya menjadi menantu.
"Sudah siap?" tanya Aaron.
"Iya, nanti kita beli buah tangan dulu." Ujar Miska, di jawab anggukan oleh Aaron.
Aaron menggenggam tangan Miska, saat keluar dari hotel tempat mereka bulan madu. Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit milik keluarga Johnson. Dalam hati, Miska berdoa tak ada orang di dalam ruangan Melinda. Namun semua tak sesuai dengan ekspetasinya, di dalam ruangan masih ada Anyelir, Dela dan Yumna. Sedangkan Dika, Auriga dan Bara mereka sedang keluar mencari makan malam.
"Ibu," sapa Aaron, dan langsung melepaskan genggaman tangannya pada Miska.
Membuat Miska menutup mata sejenak, saat Aaron melepaskan genggamannya terasa hampa dan dingin. Dia mencoba biasa saja, dan tersenyum menatap Melinda yang tengah di suapi oleh Axel. Setelah menyapa Anyelir, Dela dan Yumna. Miska menghampiri Melinda dan memeluk sahabatnya tersebut.
"Selamat yah! Maaf gak bawa apa-apa, soalnya aku tadi sibuk." Bisik Miska.
"Tidak apa aku mengerti," balas Melinda tersenyum, lalu dia menolak suapan yang di berikan oleh Axel.
"Aku gak mau makan makanan rumah sakit, aku mau chiken katsu." Rengek Melinda pada Axel.
"Mel, kamu abis lahiran masa makannya kaya gitu sih." Kekeh Dela.
"Ya mau gimana lagi, makanan rumah sakit gak enak." Cibir Melinda dengan wajah di tekuk.
"Sudah-sudah, nanti daddy kamu belikan apa yang kamu mau." Timpal Anyelir, dia pun memanggil Miska untuk duduk di sebelahnya dan menanyakan kabarnya.
Aaron pun memeluk sang kakak dan mengucapkan selamat, Melinda membisikan sesuatu pada Aaron membuat adiknya langsung tersipu malu dan mengangguk pada akhirnya.
Sepuluh menit kemudian, para lelaki sudah kembali dari kantin rumah sakit yang menyediakan makanan sehat dan bergizi dengan menu yang beragam.
"Daddy mana pesanan aku?" celetuk Melinda, saat melihat Dika pertama kali masuk. Namun fokus Dika hanya pada Miska yang tengah menunduk menghindari tatapan mata Dika.
"Aaron om, gak membelikan mu makan malam. Maaf," ujar Bara.
"Tidak apa om, aku akan makan setelah pulang dari rumah sakit." Balas Aaron.
__ADS_1
"Pulanglah ke rumah Aaron, ada yang ingin daddy bicarakan." Celetuk Dika.
"Ada apa dad?" tanya Aaron, membuat Miska memandangnya dan menunduk kembali.
"Pulang saja," kata Dika.
"Baiklah."
Aaron melirik Miska yang mengangguk, dia tak masalah jika harus berpisah lagi bersama suaminya tersebut. Waktu menunjukan pukul sembilan malam, karena Melinda dan kedua bayi kembarnya akan beristirahat semua orang sudah pulang. Dan berpamitan pada Melinda dan Axel, Aaron pun memesankan taxi untuk Miska karena dia akan langsung pulang bersama Dika dan Anyelir. Jika dia mengantarkan Miska terlebih dulu, maka sang ayah akan curiga.
"Maafkan aku, aku berjanji akan meyakinkan daddy dan ibu ku. Supaya bisa secepatnya menerim kamu, dan aku akan memberikan pesta pernikahan impian mu Miska." Ujar Aaron pada pesan chatnya, kini Miska sudah duduk di dalam mobil yang Aaron pesan bahkan sudah di bayar. Aaron pun tak lupa memesan makanan yang di kirim, ke alamat rumah Miska.
Miska tak membalas pesan tersebut hanya membacanya, dia menghela napas dengan pelan dan menatap ke luar jendela. Memandang pekatnya malam, tanpa bintang atau bulan mungkin semesta juga mengetahui jika hatinya tengah merindu dan resah secara bersamaan.
***
Setibanya di rumah, Dika meminta Aaron untuk ke ruang kerjanya. Dan meminta Anyelir untuk tidur lebih dulu, dengan alasan akan membahas kerja bersama Aaron.
"Bagaimana pekerjaan dan kuliah mu Ar?" Bukannya menjawab, Dika malah melontarkan pertanyaan untuk Aaron.
"Baik daddy, semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Aku mampu mengatasinya," papar Aaron dengan serius.
"Syukurlah kalau begitu, daddy harap kamu jangan terburu-buru menikah atau menjalin hubungan dengan wanita." Ujar Dika, menatap Aaron yang terkejut.
"Kenapa?" lirih Aaron.
"Karena daddy mau kamu fokus, mengembangkan bisnis keluarga kita. Dulu daddy menikah dengan ibunya kakak mu Melinda saat akan sidang skripsi dan juga mengurus perusahaan kakek mu," jelas Dika.
Aaron terdiam tak bisa menjawab, dia tak bisa mengungkapkan pernikahan dengan Miska secepatnya.
"Jika perlu, kamu melanjutkan S2 mu si Korea bersama Mahira. Dia akan berangkat ke sana bulan depan," celetuk Dika, membuat Aaron mendelik pada sang ayah.
"Tapi dad, aku lebih baik di Jakarta saja. Aku tidak bisa jauh dari ibu," tolak Aaron.
__ADS_1
"Tidak bisa jauh dari ibu mu? Atau wanita yang kau cintai?" tebak Dika.
"Dad aku..."
"Aaron daddy tidak melarang mu untuk memiliki kekasih, tapi untuk menikah secepatnya daddy akan melarang mu kamu masih muda. Kamu harus mengejar cita-citamu," tegas Dika.
Aaron mengehela napas dengan pelan, dia menatap sang ayah.
"Aku akan pikirkan itu, aku ke kamar dulu. Selamat malam dad," pamit Aaron.
"Ya." Jawab Dika.
Dika menatap pintu ruang kerja yang tertutup rapat, bukannya dia menentang tapi Aaron harus fokus pada tujuannya. Dan percayalah suatu saat nanti dirinya, akan merestui Aaron dan Miska. Dika tak sejahat itu, untuk menguji cinta sang anak.
Aaron menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu, pergi ke Korea? Hah... Itu tidak ada dalam daftar rencananya. Untuk saat ini, dia tak ingin jauh-jauh dari Miska.
"Dasar daddy, kaya yang gak pernah muda aja." Dengus Aaron, dia pun mengirim pesan pada Miska dan langsung di balas oleh istrinya tersebut.
"Selamat makan sayang, makan yang banyak biar gemuk." Kekeh Aaron, pada pesan yang dikirim untuk sang istri.
"Biar enak kalo peluk kamu," goda Aaron lagi.
"Kamu juga, jangan lupa makan yah! Aku gak mau kamu sakit."
Aaron tersenyum menatap pesan balasan dari Miska, dia pun kembali turun ke lantai satu menuju dapur. Untuk menyiapkan makan malam, untuk dirinya sendiri karena kedua orang tuanya sudah makan.
Dia memasak mie instan dengan telur setengah matang, dengan sayur pokcoy dan cabe rawit. Aaron menyukai mie instan saat dia dan Melinda hanya berdua di rumah.
"Jika ibu tau dia pasti marah," kekehnya, sambil menunggu mienya matang. Aaron menyeduh kopi dingin.
Tiga menit kemudian, Aaron membawa makannya ke kamar. Karena dia ingin melakukan video call bersama Miska, berharap Miska belum tidur.
****
__ADS_1