
Dua minggu berlalu, selama itu pula Axel lebih sering di Singapura menemani Melinda. Kadang berada di apartemen Melinda, hari ini mereka akan pulang ke Jakarta karena orang tua Axel meminta sang anak untuk pulang terlebih dulu.
"Aku gak usah ikut ya sayang!" kata Melinda memelas, dia sudah terbiasa dengan Axel bahkan Melinda sudah nyaman.
"Engga pokoknya kamu harus ikut, aku akan kenalin kamu. Kepada seluruh anggota keluarga ku, kita juga bakal bahas pertunangan Rakai dan kekasihnya. Lalu setelah itu kita," tutur Axel.
"Tapi aku belum siap, ketemu orang tau mu." Lirih Melinda.
"Kenapa? Kamu sering kan bertukar pesan dengan Elena dan ibu ku? Apa yang kamu takutkan sayang, mereka baik." Axel mengusap lembut pipi Melinda, berusaha meyakinkan sang kekasih.
"Baiklah tapi hanya sebentar, besoknya aku akan pulang ke sini." Putus Melinda, membuat Axel menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Kita lihat saja nanti," balas Axel.
Melinda ingin menolak, tapi tidak bisa Axel terlalu baik karena dia mau menemani dirinya di sini. Bahkan rela bekerja jarak jauh, harusnya Melinda tahu diri.
Siang itu Axel dan Melinda, memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Kurang lebih dua jam, mereka sudah sampai di bandara Internasional Seokarno-Hatta. Axel memutuskan untuk mengajak Melinda makan siang terlebih dulu, karena tadi di pesawat Melinda hanya makan cake saja.
"Mau makan di mana?" tanya Axel.
Melinda nampak berpikir, beberapa minggu di Singapura. Membuatnya merindukan bakso dan mie ayam, walau di sana ada tapi tak seenak buatan yang ada di Jakarta. Itu menurut dirinya.
"Kita makan di pedagang pinggir jalan saja gimana? Aku rindu bakso," ujar Melinda.
Melinda kira Axel bakal menolak, tapi nyatanya dia menyanggupi permintaan Melinda. Bahkan supir taxi onlinenya pun, di traktir oleh Axel. Tak lupa Axel pun membungkus beberapa makanan yang berada di sebelahnya untuk keluarga si supir.
"Kenapa?"
"Gak papa, ternyata kamu baik juga. Dan peduli sesama juga, aku kira orang kaya kamu. Gak akan peduli sama orang-orang seperti mereka," tutur Melinda, langsung mendapatkan sentilan di keningnya.
"Pemikiran mu, cetek sekali nona Melinda. Walau aku terlihat kaya, tapi aku peduli sesama. Orang tua ku selalu mengajarkan untuk berbagi," jelas Axel, di jawab anggukan oleh Melinda.
Pesanan Melinda datang, satu porsi bakso dan satu porsi mie ayam. Sedangkan Axel, dia memesan siomay dan mie ayam.
****
Di ruang kerja Ameera, dia di buat pusing oleh semua laporan yang terpampang nyata di hadapannya. Dia tak mengerti, tapi harus tetap mengerjakannya tak jarang Miska yang selalu memperbaiki pekerjaan Ameera.
Karena Ameera selalu seenaknya, padanya dan selalu menyuruhnya ini dan itu. Seperti sekarang, dia menyuruh Miska mengerjakan laporan akhir bulan. Karena sebentar lagi akan gajian.
"Nih kerjain, gue pusing. Gue mau pergi dulu, awas aja kalo lo ngadu sama daddy Dika habis lo." Ancam Ameera, membuat Miska mendelik dan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Aku bukan seperti mu Ameera, jadi tenang saja kau tak perlu takut." Balas Miska dengan dingin.
Namun Ameera tak menanggapi ucapan Miska, dia masuk ke dalam ruangannya lalu keluar dengan membawa tasnya. Bisa di pastikan wanita itu akan pulang terlebih dulu, dan membuat Miska lembur.
"Melinda aku gak sanggup, lelah banget hidup gue." Keluh Miska, dia pun melihat ponselnya dan membuka status teman-temannya.
Terlihat status Melinda, menampilkan foto awan. Tak ada kata-kata di foto tersebut, lalu beberapa menit kemudian Melinda mengunggah kembali foto makanan yang dia pesan tadi.
"Sejauh apa pun kamu pergi dan melangkah, tetap saja akan merindukan rumah beserta makanannya." Di sertai dengan emoticon tertawa.
"Apa Melinda di Jakarta? Tapi dia kok, gak hubungi gue sih. Melinda... Gue kangen gue mau kerja kalo bosnya lo," teriak Miska frustasi.
Dia ingin mengadu pada Dika, tapi jika tak ada bukti Dika pasti akan memecatnya. Secara Ameera, adalah anak tirinya.
Berpuluh menit berkendara, Ameera sudah sampai di salah satu restoran Korea. Dia memang pecinta Korea, baik dramanya atau Grup musiknya.
Lalu dia melakukan live di Instagram pribadinya, banyak yang menanyakan di mana kekasih Ameera?
"Aku belum punya kekasih loh! Masih singel," kekehnya pada followers setianya.
Ameera pun membaca komen, sambil makan. Lalu menjawab, kapan-kapan dia akan membuat A day in my life. Saat dia akan bekerja, dan Ameera berjanji secepatnya akan dia lakukan.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Ameera.
"Aku rindu kekasih ku, memang tidak boleh?" tanya Azriel, Ameera menghembuskan napasnya dengan pelan.
Entah mengapa hubungannya dengan Axel, merasa hampa. Tak ada lagi debaran di hatinya, seolah padam saat mengetahui Melinda juga memiliki kekasih.
"Aku sibuk akhir-akhir ini, kamu tahu sendiri kalau kakak pertama ku meninggalkan pekerjaannya begitu saja, sampai aku yang harus menggantikannya." Ujar Ameera berbohong.
"Aku tahu aku mengerti," sahut Azriel.
Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, Ameera fokus pada makannya. Sedangkan Azriel fokus pada ponselnya, Azriel harus kembali mengalah pada sang kekasih.
"Jika seperti ini terus, aku tidak yakin bertahan dengan mu Ameera. Aku pun bisa jenuh dan pergi meninggalkan mu, apalagi aku mendengar pengakuan mu pada pengikut mu tentang status mu yang single." Ucap Azriel, dalam hati menatap Ameera.
Dulu Ameera tak seperti ini, dia begitu manis dan baik menurut Azriel. Merasa di perhatikan, Ameera menatap Azriel.
"Kenapa?" tanya Ameera.
"Tidak ada, aku hanya sedang berpikir tentang hubungan kita." Jujur Azriel.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Apa perlu kita break dulu?" Azriel memberikan pertanyaan pada Ameera, dari pada menjawabnya.
"Break," ulang Ameera dalam hati, seacuh apa pun dia tak pernah terpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Azriel.
Azriel baik, pengertian dan juga sangat menyayangi dirinya. Tidak dia tak ingin berpisah atau putus dari Azriel, dia akan mempertahankan Azriel di sisinya.
"Aku gak mau, kenapa kamu minta kita berhenti? Apa kamu memiliki wanita lain?" tebak Ameera.
"Tidak, aku hanya setia pada mu Ameera. Sampai kapan pun," sahut Azriel.
"Lalu kenapa kamu minta kita berhenti?"
"Apa kamu mengakui ku Ameera, mengakui sebagai kekasih? Atau apalah, bahkan kamu mengaku masih single pada penggemar mu." Azriel menggeleng tak habis pikir.
"Aku selalu berpikir, ada kah aku di hati mu Ameera. Aku sudah melakukan semuanya untuk mu," ujar Azriel, membuat Ameera bergeming. Tenggorokannya tercekat, dia sulit untuk berucap.
"Azriel aku..."
"Maaf Ameera, sepertinya keputusan ku sudah bulat." Ujar Azriel, lalu berdiri dari duduknya.
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Ameera, membuat Azriel tersenyum tipis mendengar kata sayang dari mulut gadis yang dia cintai.
"Bukan urusan mu, kita tak memiliki hubungan apa pun. Aku pergi dulu Ameera," pamit Azriel.
"Azriel," pekik Ameera.
Ameera bangkit dari duduknya, lalu mengejar Azriel namun langkah kaki Azriel sangat panjang, dan cepat tak terkejar oleh Ameera.
"Azriel tunggu jangan tinggalkan aku, maafkan aku... Aku salah Zriel. Maaf," teriak Ameera.
Ameera menangis saat melihat Azriel, tak melihatnya lagi. Bahkan untuk menoleh pun tidak.
"Azriel." Isak Ameera.
****
**Semoga suka, maaf typo
Aku update gak tentu ya, bisa malam atau siang**
__ADS_1