Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.99


__ADS_3

Dua hari di rawat di rumah sakit, Ameera sudah merasa lebih baik. Karena dia selalu di kunjungi oleh Melinda dan Dika, orang yang selalu dia sakiti tapi masih peduli padanya. Hubungannya dengan Azriel pun membaik, setelah keluar dari rumah sakit. Ameera merencanakan untuk bulan madu, ke tanah suci.


Dan hari ini bertepatan dengan acara kumpul keluarga di rumah Mario dan Laura, mereka mengundang seluruh anak, menantu, cucu dan cicit mereka.


"Grany undang kita buat ke rumahnya nanti malam," kata Maira pada Rumi.


"Kita datang saja, toh putri kita ada di sana. Entah kenapa dia betah sekali di rumah mama Yusra," tutur Rumi, membuat Maira tertawa dan memeluk sang suami.


"Katanya pengen ketemu Aaron," ungkap Maira.


"Dasar anak itu, kalau udah jatuh cinta aja susah. Beruntung dia punya paman yang tukang omel macam Kaivan," kekeh Rumi.


Maira memeluk Rumi dari belakang, dan memandang putra mereka yang akan menginjak delapan belas bulan. Di beri nama Wishaka Zain, tidak ada lagi kata bahagia yang dapat di gambarkan oleh Maira saat ini.


Melinda pun akan datang bersama dengan Axel, dia sudah rindu untuk berkumpul dengan Ceilo dan Rakai yang sudah kembali, dari studinya sedangkan Tara dia tak ikut karena suaminya tak bisa.


Melinda pun sudah sibuk di dapur, mempersiapkan makanan yang akan dia bawa ke rumah sang nenek. Padahal Laura sudah melarangnya, tapi Melinda ingin.


"Aku ajak Miska jangan yah? Tapi takut dia nangis, karena di jadiin bahan ejekan lagi." Kekeh Melinda, dia pun batal mengajak Miska ke acara keluarga besarnya.


Padahal Aaron sudah mengajak Miska, untuk datang ke acara keluarganya. Miska mana bisa menolak, walau dia sudah mengatakan tidak pada Aaron tapi Aaron selalu saja punya seribu cara untuk membuat Miska ikut dengannya.


Melinda datang sore hari, setelah Axel pulang kerja. Bahkan suaminya itu belum mandi dan berganti baju, alasannya ingin menjadi pertama yang sampai di rumah Laura.


"Granny," pekik Melinda, di belakang Melinda ada Axel yang membawa kotak makan yang sudah di buat olehnya di bantu oleh asisten rumah tangga.


"Melinda sayang," ujar Mario, yang pertama menyambut sang cucu.


"Opah, aku kangen." Rengek Melinda dengan manja.


"Opah juga, opah gak sabar nunggu kelahiran cicit opah."


"Sabar yah, beberapa bulan lagi." Kekeh Melinda.


"Semoga opah sehat, panjang umur dan bisa lihat cicit-cicit opah yang lain." Doa Melinda, membuat Mario tersenyum dan merangkul pundak Melinda.

__ADS_1


Axel berpamitan untuk mandi terlebih dulu, sebelum banyak orang. Melinda dia berbincang dengan Mario, sedangkan Laura selalu memastikan agar makanan cukup untuk anak dan menantunya.


Tak lama satu persatu mulai berdatangan, di mulai dari Yusra yang paling dekat tentu saja dengan Hito dan putra tampannya Kaivan.


"Mel, sudah di sini." Yusra memeluk keponakannya tersebut, dan mencium pipinya.


"Iya dari tadi," kekeh Melinda.


"Apa kabar om, Kai. Makin tampan aja nih," goda Melinda pada Kiavan.


"Iya lah, biar cewek pada nempel sama gue." Cetus Kaivan, memeluk Melinda dan mengelus perutnya. Membuat Hito menggeleng, dan memeluk sang keponakan.


"Nana..." Pekik Mahira.


"Astaga si cerewet." Keluh Melinda, membuat Yusra, Hito dan Kaivan tertawa.


"Ehh... Ka Mel, udah datang aja. Pasti takut gak kebagian makanan yah?" tebak Mahira.


"Enak aja, aku masak lah." Dengus Melinda, Mahira dan si kembar Rakai dan Ceilo tak pernah akur dengan Mahira. Menurut mereka, Mahira itu selain cerewet dia juga cengeng.


Melinda mengajak semua orang masuk, dan berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu yang lain. Para lelaki tentu saja memisahkan diri, mereka membicarakan bisnis. Lalu setelahnya keluarga Yumna, Bara, dan Tatiana di susul Dela dan Auriga serta ke empat anaknya sudah hadir. Tinggal Aaron, Dika, Ameera dan Maira.


"Masa sih? Aku gak percaya sama ka Rakai," kesalnya.


"Idih di bilangin, gak percaya ya udah. Asal jangan nangis lo nanti berisik," protes Rakai.


Membuat semua orang tertawa, dan para orang tua menggeleng. Tak lama yang lain pun mulai berdatangan, dan terakhir Aaron dan Miska membuat Melinda senang.


"Sini," ajak Melinda, agar Miska duduk di sebelahnya.


"Seneng banget deh, kok bisa sama Aaron sih? Tadinya aku mau ajak kamu loh! Ehh ternyata keduluan sama Aaron," bisik Melinda.


"Ceritanya panjang," jawab Miska dengan berbisik pula.


Riuh terdengar di ruangan lain, dimana Melinda dan yang lainnya berada mereka menggoda Mahira. Yang sedang cemberut karena Aaron datang dengan seorang gadis.

__ADS_1


"Ka Maira, anak mu patah hati." Celetuk Kaivan, dan langsung mendapatkan pukulan dari Mahira.


"Memang sudah fiks kalian pacaran?" tanya Mahira pada Miska, membuatĀ  Miska melirik pada Melinda.


"Itu aku..."


"Tapi kamu kelihatan lebih tua dari pada Aaron," sela Mahira, saat Miska ingin menjawab pertanyaan Mahira.


"Mahira, mau dia tua atau muda. Kalau aku cinta aku bisa apa?" tutur Aaron, membuat Mahira diam dan memutar bola mata malas.


"Padahal aku udah dari dulu suka kamu Aaron, tapi kamu malah jatuh cinta pada perempuan yang bahkan seumuran kakak mu." Tutur Mahira, lalu dia berdiri meninggalkan ruangan tersebut yang seketika hening.


"Mahira," panggil Lula yang sejak tadi menyimak, dan mengejar Mahira.


"Maaf, sebaiknya aku pulang saja." Ujar Miska.


"Siapa yang meminta mu pulang? Kamu bersama ku, jadi kamu harus pulang sama aku." Cetus Aaron, tanpa ada yang membatah.


Suasana tersebut menjadi canggung, dan Rakai langsung mencairkan suasana dengan membuat permainan truth or date. Namun semuanya menolak dengan tegas dan memilih, game menebak gambar yang berada di ponsel milik Rakai dengan hadiah uang.


Lula mengejar Mahira sampai ke halaman belakang rumah, tanpa di ketahui oleh para orang tua.


"Mahira." Panggil Lula, Mahira sangat dekat dengan Lula. Dia selalu bercerita apa pun pada Mahira, termasuk dia yang menyukai Aaron pun Lula mengetahuinya.


"Ka Lula, kakak tahukan aku suka sama Aaron. Tapi kenapa dia malah milih perempuan yang lebih tua dari dia," lirih Mahira.


"Mahira, takdir siapa yang tahu. Tuhan bisa membolak-balikan hati manusia," tutur Lula.


"Itu alasan ka Lula, tidak menikah-menikahkan?" tanya Mahira, membuat Lula diam membeku.


Dia belum menemukan lelaki yang pas, karena pernah di khianati. Namun sayangnya Lula masih mengharapkan laki-laki itu, dan selalu berpikir jika Tuhan akan membalikan hati mantan kekasihnya menjadi menyukai dirinya nanti.


Tapi sampai sekarang pun mantannya tersebut, malah hidup bahagia dengan istri dan anaknya. Sedangkan dia, terus menanti yang tak pasti. Lula memejamkan mata, dia menatap lurus ke depan.


"Kamu memang benar, tapi mulai sekarang dan seterusnya. Aku akan lupain dia," kilah Lula.

__ADS_1


"Aku gak yakin, kali ini aku akan berjuang untuk dapetin Aaron ka." Tekat Mahira, membuat Lula pun diam dan berpikir apa dirinya dulu terlalu pasrah saja pada keadaan?


****


__ADS_2