Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.68


__ADS_3

Ketika hari berganti, bulan dan tahun terlewati, tak akan ada yang tahu akan seperti apa di masa mendatang. Begitu banyak kejadian yang di lalui setiap manusia di dunia. Ada yang meninggal, ada juga yang lahir.


Dua puluh tiga tahun berlalu, kini kehidupan rumah tangga Dika dan Anyelir baik-baik saja bersama ketiga anaknya. Melinda, Ameera dan anak lelakinya bersama Anyelir yang bernama Aaron Arsalan Wiriadinata.


Yang kini berusia delapan belas tahun, yang sebentar lagi akan lulus sekolah menengah atas. Sedangkan Melinda, dia bekerja di kantor Mario yang kini berada di bawah pimpinan Dika.


Sedangkan Ameera, dia memutuskan untuk membuka butik sendiri. Dan berjualan lewat sosial medianya, yang lebih banyak peminatnya. Jadilah dia lebih terkenal, di banding Melinda. Karena Ameera selalu memposting foto dirinya dan Aaron sang adik saja.


"Kamu gak pulang?" tanya Miska asisten, sekaligus sekretaris Melinda. Mereka sudah berteman sejak Sekolah menengah atas.


Miska menatap Melinda, yang tengah duduk di balkon apartemennya. Lebih tepatnya apartemen milik Jenny, dia tahu saat Alderik memberikannya pada saat Melinda ingin menyendiri.


"Entah lah, aku lebih nyaman di sini. Di banding di rumah," katanya menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu menarik napas dalam.


Tidak ada yang tahu tentang apartemen ini, karena ini adalah apartemen milik sang mommy. Yang tingkat keamanan dan privasinya di jaga ketat, jadi tak sembarang orang yang masuk.


"Kamu berantem lagi sama Ameera?" tebak Miska.


"Tidak, aku dan dia baik-baik saja. Walau hubungan kita serasa makin jauh," ungkap Melinda.


"Mis, tolong pesankan makanan aku lapar." Pinta Melinda, dia menatap jam di ponselnya baru pukul tujuh malam.


Tak ada pesan dari Dika atau Anyelir, dia tak mencarinya sama sekali. Dan saat dia melihat status Ameera, semua jawaban yang Melinda ingin tahu akhirnya terjawab. Keluarganya sedang makan malam, bersama di sebuah resto mewah dan mahal.


"Merayakan 1M follower sosial media ku"


Begitulah caption-nya, membuat Melinda memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Dan memilih menginap di apartemen saja, lalu dia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri sebelum makanannya tiba.


Sementara itu di resto Jepang favorit Ameera, Dika, Anyelir dan Aaron. Mereka sedang menikmati makan malam bersama tanpa Melinda.


"Melinda belum bisa di hubungi?" tanya Dika pada Ameera.


"Belum daddy," jawab Ameera, tanpa menoleh pada Dika. Padahal sejak tadi, dia tak menghubungi sang kakak tiri.


"Biar aku coba dad," sahut Aaron, lalu dia menghubungi Melinda. Dan memang ponselnya tak aktif.


"Ponselnya gak aktif dad, mungkin habis batre." Aaron memberikan alasan, agar kakaknya tersebut tak mendapatkan marah dari sang ayah. Dika mengangguk sebagai jawaban.


Aaron selalu merasa jika Ameer selalu berbohong tentang Melinda, dia tahu semuanya sebelum Melinda tak aktif. Dia sempat bertukar kabar dengan sang kakak, setelah makan malam ini dia akan mencari tahu dimana Melinda.

__ADS_1


Mereka makan dengan Ameera yang terus berceloteh di sosial media miliknya, karena sambil melakukan live.


"Ameera lebih baik kamu makan dulu, dengan benar dan tenang." Tegur Dika, memang tak nyaman jadinya.


"Maaf dad," jawab Ameera, sementara Anyelir menatap Ameera dengan tajam. Tolong ingatkan Anyelir, untuk menasehati sang anak.


Makan malam itu pun berakhir, dengan mood Ameera yang berantakan karena di tegur Dika.


"Daddy aku ke rumah Grany yah?" izin Aaron.


"Malam-malam gini?" tanya Anyelir heran, pasalnya Aaron paling jarang datang ke rumah Laura jika tak bersama yang lain.


Alasannya dia menghindari anak dari Maira dan Rumi, yang cerewetnya membuat Aaron sakit kepala.


"Iya ibu, aku kangen Grany. Kasian Grany sendiri di rumah," ujar Aaron memberi alasan, padahal dia ingin mencari Melinda.


"Baiklah, jika kemalaman kamu boleh nginap." Ujar Anyelir, di jawab anggukan oleh Aaron.


Dengan menggunakan motor sportnya, Aaron melaju di keramaian malam. Berbaur dengan para pengendara lainnya, Dika menatap sang anak yang sudah menjauh. Lalu mengajak Anyelir pulang, sedangkan Ameera dia pulang dengan mobilnya sendiri. Dan akan tidur di kosannya.


"Melinda sekarang jarang kumpul dengan kita," celetuk Anyelir, setelah di dalam mobil.


"Engga, setiap hari dia selalu membereskan semua pekerjaannya dengan tepat. Paling jika ada lembur atau kerjaan di luar dia selalu bilang," tutur Dika.


"Semenjak dia kelas tiga sekolah dasar, dia tak pernah lagi bermanja pada ku. Atau pada mu sayang, aku paling tahu bahwa Melinda paling dekat dengan mu. Tapi dia seperti di paksa bersikap dewasa dan mengalah, aku sebagai ibu harusnya memperhatikan dia. Memberikan kasih sayang pada Melinda yang merindukan ibunya, aku seperti gagal jadi ibu untuknya." Curhat Anyelir pada Dika, apa yang dia rasa selama ini memang begitu.


Anyelir merasa Melinda hanya bersikap sewajarnya, tak pernah merengek padanya. Tak pernah menunjukan kesedihan padanya, bahkan ketika haid pertama. Melinda lebih memilih bertanya pada Dela, sampai dia menginap di rumah Dela. Mengingat itu membuat, air mata Anyelir tak dapat di cegah untuk keluar.


Dika membenarkan ucapan Anyelir, putri pertamanya itu sekarang lebih tertutup padanya. Dulu saat mereka masih di Singapura, Melinda akan selalu mengeluhkan apa pun atau menceritakan semuanya pada Dika. Bahkan tak ada rahasia, di antara Melinda pada Dika.


Memikirkan itu membuat Dika menghembuskan napasnya dengan pelan, banyak hal yang dia lewatkan. Terutama tentang pertumbuhan sang anak, dia akan membicarakan ini dari hati ke hati bersama sang anak pertama.


"Nanti kita luangkan waktu bertiga dengan Melinda, dan bicara dari hati ke hati dengannya." Usul Dika, di jawab anggukan oleh Anyelir.


Mobil Dika meninggalkan halaman parkir resto Jepang tersebut, lain halnya dengan Melinda. Dia makan malam bersama Miska, Miska menemani Melinda dia tak tega jika harus meninggalkan sahabatnya tersebut.


"Abis ini, kamu pulang aja Mis. Aku gak papa di sini sendiri, toh gak ada yang tahu aku kakak dari Ameera." Ujar Melinda.


"Tapi aku gak tega, ninggalin kamu sendiri Mel." Kata Miska, dia pun kukuh untuk menginap di apartemen Melinda.

__ADS_1


"Oke... Oke, kamu boleh nginap." Putus Melinda pada akhirnya, membuat Miska bersorak senang.


Jam sepuluh malam, Miska sudah terlelap di kamar milik Melinda. Sedangkan Melinda dia tak dapat tidur sama sekali, dia sungguh merindukan sang mommy jenny. Yang sudah lebih dulu, pergi saat melahirkannya.


"Mommy," lirih Melinda, dia duduk di balkon kamarnya. Dia menatap foto Jenny, dan memeluknya dengan erat.


"Seharunya mommy bawa aku, aku gak sekuat yang kelihatannya mommy. Aku rindu mommy," isak Melinda pada akhirnya.


"Aku kira kunti, yang nangis malam-malam. Ternyata wanita cantik," celetuk seorang lelaki, yang berada di sebrang balkon kamar Melinda.


Membuat Melinda menghentikan tangisnya, dan dia terkejut menoleh seorang pria sedang bertelanjang dada. Membuat Melinda merona, matanya tak ingin lepas dari pemandangan indah.


"Ya Tuhan, aku mesum sekali." Batin Melinda memalingkan wajahnya, membuat pria itu terkekeh.


"Tidak usah malu, aku ikhlas memperlihatkan roti sobek ku." Katanya dengan menggoda.


"Apaan sih, siapa yang lihat badan kamu." Ketusnya, kini kesedihannya hilang karena cowok menyebalkan di sebelahnya ini. Mungkin dia tetangganya begitu pikir Melinda.


"Kamu manusia kan?" tanyanya.


"Apa maksud mu? Kamu kira aku apa?" kesal Melinda, ingin rasanya dia menjatuhkan. Laki-laki tersebut, dari lantai ini.


"Ya aku kira mbak-mbak, yang suka di pohon itu loh!" celetuknya, membuat Melinda geram. Refleks Melinda melemparkan boneka Chimmy, kesayangannya ke arah lelaki tersebut. Dan langsung di tangkap olehnya.


"Nyebelin kamu, memang aku kunkun apa? Aku manusia," bentak Melinda.


"Iya maaf, kan aku kira." Kekehnya.


"Ehh... Betewe, terima kasih bonekanya. Adik ku menyukai boneka ini," tunjuknya pada boneka Chimmy, membuat Melinda cemberut.


"Balikin gak?" marah Melinda.


"Kalo mau ambil sini," balas lelaki tersebut, meninggalkan balkon kamar.


Membuat Melinda kesal setengah mati, dia ingin keluar tapi takut. Alhasil dia merelakan bonekanya untuk lelaki tersebut, dia melihat Miska sudah memeluk bonekanya yang lain.


***


Semoga suka, maaf typo

__ADS_1


__ADS_2