Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.81


__ADS_3

Azriel melerai pelukannya dengan Ameera, dan mengusap air mata di pipi sang kekasih. Dan mencium pipi Ameera, membuat Ameera malu meski orang-orang di sekitarnya tak terlalu peduli.


Dika dan Anyelir pun memutuskan untuk berjalan-jalan juga karena Dika merasa lapar, Dika mengajak Anyelir untuk makan malam di rumah makan pinggir pantai. Mereka pun melihat Ameera dan Azriel, yang tengah mencium pipi Ameera membuat Anyelir menggeleng.


"Itu Ameera? Dengan siapa dia?" tanya Dika.


"Azriel, kekasihnya." Sahut Anyelir singkat.


"Kira ajak mereka juga," putus Dika, di jawab anggukan Anyelir.


"Meera," panggil Anyelir.


"Ibu." Ameera langsung berdiri, di ikuti oleh Azriel. Azriel menyalami Dika, karena setiap kerumah Ameera Azriel selalu bertemu dengan Anyelir saja.


"Kalian mau ikut, ibu dan daddy mau makan malam." Kata Anyelir, Ameera dan Azriel saling lirik.


"Kita ikut bu," sahut Ameera kebetulan Ameera pun belum makan, mereka pun berjalan bersama menuju rumah makan.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di rumah makan yang menyediakan olahan seafood dan masakan khas Bali.


"Kamu mau pesan apa Meera?" tanya Anyelir, dia mencoba dekat kembali dengan Ameera setelah kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Aku sama Azriel, ikut saja bu." Sahut Ameera, di jawab anggukan oleh Anyelir.


Anyelir menyebutkan pesanan mereka, satu porsi ayam betutu, sate lilit, ikan bakar dan olahan seafood seperti kerang, lobster dan kepiting. Tak lupa Anyelir memesan nasi putih, dan teh hangat untuk minumnya.


Sambil menunggu pesanan Azriel berpikir mungkin ini lah saatnya, untuk melamar Ameera di depan kedua orang tuanya.


"Om, tante. Apa boleh aku bicara?" tanya Azriel.


"Boleh silahkan," jawab Dika.

__ADS_1


Azriel pun mengungkapkan keinginannya, untuk meminang Ameera untuk jadi istrinya. Dia pun akan melamar Ameera, setelah kedua orang tuanya pulang berkerja dari luar kota.


"Apa kamu serius?" tanya Dika, bagaimana pun juga Ameera adalah anaknya walau statusnya hanya anak tiri.


"Ya saya serius om," jawab Azriel dengan mantap, Ameera tersenyum menatap sang kekasih.


"Baiklah satu minggu setelah dari Bali, kamu dan orang tua mu. Boleh datang ke rumah," kata Dika memberikan keputusan.


Membuta senyum Azriel mengembang sempurna, dia mengangguk antusias. Dan akan langsung mengabarkan kabar baik, pada kedua orang tuanya yang tengah melakukan perjalanan bisnisnya.


Dua puluh menit kemudian, pesanan mereka sudah sampai.


****


Pasangan pengantin baru masih betah berada di tepi pantai, Melinda menyandarkan kepalanya di bahu Axel. Keputusannya menikah dan ikut Axel, membuat Dika sedikit kecewa. Bahkan Dika tak mengajaknya bicara sepanjang pernikahannya, sedih tentu saja Melinda sedih atas sikap sang ayah.


"Maafkan aku daddy," lirih Melinda dalam hati, ini keputusannya dan juga hidupnya.


"Tidak, aku hanya sedang menatap lautan saja." Kilah Melinda, Axel menghembuskan napasnya dengan pelan.


Dia tahu jika Melinda tengah sedih, karena keputusannya yang ikut dengan Axel. Awalnya Axel yang akan ikut Melinda, tapi Melinda menolak dan dialah yang ikut dengan Axel.


"Aku takut kehilangan mu Axel, hanya kamu yang sayang aku. Dan mengerti aku," isak Melinda.


Saat itu saat Dika mengatakan bahwa Melinda tak di temukan di mana pun, Axel langsung berpamitan pada Velia untuk mencari Melinda. Dan saat bertemu, dia menangis tersedu-sedu dengan memeluknya sangat erat.


Lamunan Axel buyar saat Melinda memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Axel.


"Kenapa melamun? Kamu gak denger aku bicara apa kan?" ujar Melinda dengan cemberut.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang." Axel membelai lembut pipi Melinda.


"Janji jangan tinggalkan aku, sudah cukup daddy Dika yang menjauh dari ku. Walau ibu Anyelir masih menanyakan aku," cetus Melinda, untuk pertama kalinya dalam hidupnya di takut di tinggalkan. Karena sekarang, hidupnya sudah berubah.


"Bukankah tadi kita sudah saling berjanji?"


Axel menangkup wajah Melinda, agar menghadap padanya.


"Dengar sayang, kamu istri ku. Walau aku pergi percayalah aku akan kembali untuk mu," janji Axel pada Melinda, lalu Axel mengecup bibir yang selalu membuatnya candu saat untuk pertama kalinya dia mencuri ciuman pertama Melinda.


Melinda mendorong dada Axel, saat merasakan kehabisan oksigen.


"Apa kamu mau bunuh aku," omel Melinda.


"Maaf sayang," kekehnya.


"Ayok kita kembali ke kamar, aku mau makan kamu." Bisik Axel, membuat kedua pipi Melinda memanas beruntung cahaya tak terlalu terang. Jika terang, Melinda yakin Axel akan melihat pipinya yang merah.


"Bi-bisa di tunda gak?"


"Gak bisa, urusan itu gak bisa di tunda sayang. Memang kamu mau keduluan hamil sama ka Freya?"


"Ihh... Apaan sih, berdoa aja yang baik. Mudah-mudahan kita hamilnya barengan," doa Melinda Axel hanya mengangguk, dan mengaminkan doa sang istri.


Melinda pun mengajak Axel untuk ke kamar hotel, karena dia sudah mulai mengantuk. Seketika tatapan mata Axel menjadi tajam, pasalnya dia sudah menunggu sedari tadi. Ehh... Sekalinya di ajak, malah Melinda ngantuk.


Tapi bukan Axel namanya, jika tak memiliki seribu satu cara menggoda sang istri.


***


Semoga suka, maaf typo 💜

__ADS_1


__ADS_2