
Dua jam sebelum makan siang. Azriel memutuskan untuk pulang ke rumahnya, dia akan membicarakan masalah Ameera yang tak kunjung bangkit pasca keguguran.
Sesampainya di rumah, Azriel menatap makanan yang sudah siap.
"Dimana Ameera?" tanya Azriel pada pekerja yang berada di rumah.
"Nyonya sejak tadi pagi di kamar tuan," ujar pelayan tersebut.
Azriel mengangguk dan langsung menuju kamar pribadinya dan Ameera, mungkin dia harus menjalankan rencana yang di buat oleh ibunya.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Azriel menghembuskan napasnya dengan pelan.
"Ameera," panggil Azriel, Ameera bergeming masih menatap ke lurus keluar.
Ameera pun merasakan jika, panggilan Azriel sedikit dingin. Tapi dia tak terlalu menanggapinya, di pikirnya mungkin nanti juga akan biasa saja.
"Kalo kamu seperti ini terus, aku akan mencari madu untuk mu Ameera." Celetuk Azriel, Ameera langsung menoleh pada Azriel.
"Maksudnya?"
"Aku butuh istri untuk menyiapkan keperluan ku, kebutuhan biologis ku dan mampu memperhatikan ku. Tapi kamu, kamu seperti mayat hidup yang harus aku urus. Aku lelah pulang kerja, harus menghibur mu Ameera. Jika kamu gak sanggup maka kamu harus menerima jika aku membawa istri lagi," ancam Azriel.
"Kamu tahu alasan ku kan?"
"Ya aku tahu, kamu bersedih kehilangan calon anak kita. Tapi kamu masih bisa hamil lagi Ameera, sekarang semua keputusan ada di tangan mu. Berubah dan bangkit atau kamu siap memiliki madu," cetus Azriel, lalu meninggalkan Ameera sendiri.
"Azriel tunggu... Jangan pergi," pekik Ameera, dia pun mengikuti sang suami keluar rumah.
Azriel melajukan mobilnya, dia tak sanggup melihat Ameera yang menangis. Dia sungguh lemah terhadap Ameera, tanpa Azriel sadari Ameera mengikutinya dari belakang.
"Baiklah jika itu mau mu, maka aku akan terima Azriel. Jika kamu mau mencarikan ku adik madu," gumamnya dalam hati, Ameera melangkah sembarang arah. Sampai dia melewati jalan di mana, Melinda melintas.
****
Sementara itu di ruangan Axel, Melinda sudah selesai membereskan bekas makan siang mereka.
__ADS_1
"Maaf aku gak bisa antar," ujar Axel.
"Tidak apa sayang, aku mengerti."
Axel mencium kening Melinda, dan mengecup perut Melinda dengan sayang.
"Jangan bikin mami repot ya sayangnya papi," kata Axel pada perut buncit Melinda, membuat Melinda tersenyum dan menarik perhatian seluruh karyawan yang melintas di lobi.
"Sayang sudah ahh malu, lihat semua orang liatin kita." Keluh Melinda.
Axel menatap sekeliling, jika dengan Melinda dia lupa kalau dia sedang berada di tempat umum.
"Maaf," kekeh Axel.
"Mereka gak ada yang berani macam-macam, atau bicarakan hal buruk tentang aku. Kalau itu terjadi aku akan pecat mereka," cetus Axel.
Melinda tertawa dia memeluk Axel, lalu berpamitan setelah melihat mobil jemputan. Di dalam mobil, Melinda memikirkan Ameera dia melihat jalan yang dia lewati tapi Ameera sudah tak ada. Namun di depan sana, terjadi kemacetan entah apa penyebabnya.
"Ada apa pak?" tanya Melinda.
"Tidak tahu nyonya," jawab pak supir.
"Maaf mas, ada apa yah?"
"Itu nyonya ada yang pingsan, tapi malah gak ada yang nolong." Katanya.
"Astaga kasian," gumam Melinda, masih dapat di dengar oleh supir.
"Nyonya anda mau ke mana?" tanya pak supir saat melihat Melinda turun.
Melinda memiliki firasat yang tak enak, dia merasa jika itu adalah Ameera. Dan benar saja, saat melihat siapa yang tergeletak dia melihat Ameera yang tak sadarkan diri.
"Ameera," pekik Melinda.
"Ameera, kamu kenapa? Ya Tuhan, kenapa tidak ada yang menolongnya. Pak," panggil Ameera pada sang supir.
__ADS_1
"Nyonya."
"Pak tolong Ameera, kita bawa ke rumah sakit sekarang." Perintah Ameera.
"Jika tidak mau membantu, maka jangan menghalangi jalan." Ketus Melinda, dia berusaha bangun di bantu salah satu warga. Dan mengucapkan terima kasih, saat sudah berada di dalam mobil.
"Cepat pak," pekik Melinda.
"Ameera bertahanlah," gumam Melinda, mengusap wajah Ameera dengan sayang.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit lalu perawat membawa Ameera ke IGD dan melakukan pemeriksaan. Melinda memutuskan untuk memberitahu Anyelir, karena nomor Azriel tak bisa di hubungi.
Dokter keluar dari ruangan IGD, dan memberitahu bahwa Ameera hanya kelelahan dan stres berlebih. Dan hari itu juga Ameera di pindahkan ke ruangan VIP, tak lupa juga Melinda memberi kabar pada Axel agar tak khawatir.
"Kenapa Mel? Kenapa?" tanya Axel di sambungan telepon, kini mereka sudah di ruangan perawatan.
"Kenapa apanya? Kamu suka aneh deh sayang," kekeh Melinda, terdengar Axel menghembuskan napasnya dengan pelan.
"Kenapa kamu nolongin dia? Kamu tahu sendiri kan, kalau dia hampir bikin anak kita keguguran."
Melinda terdiam, dia ingat bahkan masih ingat. Dan tak akan lupa, apa yang Ameera lakukan padanya.
"Aku tahu sayang, tapi bagaimana pun juga aku adalah kakaknya. Dan dia adalah adik ku," tutur Melinda, menatap Ameera yang masih belum sadar.
Axel mendesah dengan pelan, dia tahu bagaimana Ameera dan Melinda. Karena, Melinda selalu mengisahkan Ameera saat kecil.
"Baiklah, kamu hati-hati. Nanti aku jemput dan jangan terlalu cape," pesan Axel.
"Iya sayang," jawab Melinda, lalu panggilan mereka berakhir.
Tanpa di sadari Melinda, Ameera sudah bangun. Dia merasa senang, sekaligus sedih karena Melinda masih menyayangi dirinya.
"Melinda." Gumam Ameera dalam hati.
Ingin rasanya dia memeluk Melinda, dan mengungkapkan kata maaf pada sang kakak
__ADS_1
***
maaf typo