Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.56


__ADS_3

Setelah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan anak-anak, Anyelir memutuskan membawa anak-anak mandi. Karena dia harus pergi ke cafe, lalu mengajak anak-anak jalan-jalan.


"Ayok anak-anak kita mandi dulu," titah Anyelir, Ameera dan Melinda pun menurut.


Melinda sudah bisa membuka baju sendiri, tapi Ameera masih di bantu oleh Anyelir. Karena ada Melinda, Ameera di bantu oleh Melinda. Anyelir yang melihat itu pun merasa haru, karena Melinda memperlakukan Ameera layaknya seorang adik.


"Tante aku sudah bisa mandi sendiri," kata Melinda, Anyelir pun mengangguk lalu melihat Melinda yang mulai menyabuni tubuhnya. Lalu dia memberikn shampo khusus anak-anak pada rambutnya, Melinda membawa peralatan mandi sendiri dalam satu tas kecil.


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai mandi, beruntung Anyelir sudah menyiapkan baju mereka.


"Tante tolong pake kan ini," pinta Melinda pada Anyelir yang sedang menyisir rambut sang anak, Anyelir menerima pelembab bibir untuk anak.


Perlengkapan kosmetik Melinda cukup kumplit tentu saja khusus anak, setelah selesai dengan Ameera. Anyelir membantu Melinda menyisir rambutnya yang ikal di bagian bawah.


"Rambut mu cantik Melinda, tante suka." Puji Anyelir.


"Terima kasih tante, justru aku suka rambut milik Ameera lurus." Jujur Melinda.


"Rambut kalian sama-sama bagus," ujar Anyelir terkekeh.


"Nah sekarang sudah selesai, waktunya ibu yang mandi. Ameera dan Melinda tunggu disini, habis itu kita makan oke!"


"Siap," seru mereka kompak.


Sambil menunggu Anyelir, anak-anak memutuskan untuk menghubungi Dika.


"Halo," jawab Dika.


"Daddy ini aku, daddy dimana? Jadi ke rumah Ameera?" tanya Melinda.


"Daddy sedang di jalan sayang, mungkin setelah makan siang daddy akan jemput kamu." Kata Dika


"Yah..." Seru Ameera dan Melinda kompak.


"Kenapa memang?"


"Aku mau main om," pekik Ameera.


"Iya daddy, aku mau main ke mall yang waktu itu. Tapi kita pergi berempat yah? Boleh kan daddy? Ayolah," mohon Melinda.


Dika menghela napas dengan pelan, sebenarnya dia ada meeting penting hari ini.


"Baiklah setelah pekerjaan daddy selesai, kita pergi jalan-jalan sepuasnya. Sekarang daddy harus cari uang dulu," tutur Dika.


"Oke dad," sahut Melinda.

__ADS_1


"Om jangan lama-lama," timpal Ameera.


"Iya sayang," jawabnya.


Lalu sambungan terputus, tadinya Melinda berharap bisa telepon lebih lama dengan sang ayah. Tapi dia tahu bahwa ayahnya itu harus bekerja, jika tidak bekerja maka uang Dika akan habis begitu pemikiran Melinda.


Tak lama Anyelir sudah siap dengan kemeja, dan juga celana bahan berwana hitam. Anyelir mengajak anak-anak makan, setelah makan mereka akan pergi ke cafe karena hari ini Sekar pun izin tak masuk.


****


Sementara itu di Bandung, Reen dan Auriga sudah sampai dengan selamat di rumah milik Zea yang berada di Bandung dan kebetulan mereka ada di Bandung untuk menghadiri acara penting.


Meski begitu Arjuna mengikutinya dari belakang setelah mobil masuk halaman, pagarnya tertutup rapat. Arjuna memohon pada satpam untuk di bukakan pintunya.


"Pak saya mohon, buka pintu pagarnya. Saya menantu mommy Zea," beritahu Arjuna.


"Maaf tuan Arjuna, nyonya Zea melarang saya untuk anda masuk." Tutur pak satpam.


"Pak sayang mohon, jika tidak saya akan menghancurkan pagar ini." Ancam Arjuna, Zea yang mendengar keributan pun menyuruh pak satpam membuka pintu pagar.


Pintu terbuka Arjuna langsung masuk, dan berlutut di hadapan Reen. Namun Reen melangkah mundur, dan memalingkan wajahnya.


"Bangun Arjuna, jangan merendahkan diri mu. Jika mama Hilda tahu dia bisa mencaci maki ku," ujar Reen.


"Tidak sebelum kamu memaafkan aku Reen, aku mohon maafkan aku. Aku tulus menyayangi mu Reen," lirih Arjuna.


"Reen... Dengarkan semua penjelasan ku dulu, aku mohon." Minta Arjuna, dia masih berlutut di hadapan Reen dan Zea.


Sementara Auriga dan Keano hanya menyaksikan itu semua.


"Maafkan aku Auriga, aku benar-benar gak bisa melanjutkannya Juna. Aku memang bodoh terlalu percaya dan mencintai kamu," tutur Reen dengan suara bergetar.


"Mari kita berpisah, karena tidak ada anak tidak akan ada korban dalam perceraian ini. Kecuali perasaan kita," jelas Reen.


Setelah mengatakan itu Reen pun masuk ke dalam rumah, Arjuna yang ingin mengejar Reen di tahan oleh Zea.


"Mommy!"


"Biarkan Zea tenang dulu Juna, dia butuh waktu. Maka selesaikan duku urusan mu dengan wanita mu itu, setelah selesai kamu boleh datang lagi ke sini." Tutur Zea, dia tak meledak berusaha untuk memberikan kenyamanan pada anak dan menantunya yang sedang bertengkar.


Dia ingin sebisa mungkin rumah tangga anaknya, bisa di selamatkan seperti rumah tangganya dulu bersama Keano.


"Pulanglah Arjun," pinta Keano, yang sejak tadi diam.


"Baik lah, aku akan pulang. Dan akan kembali lagi esok aku gak akan menyerah mom, dad." Katanya dengan pasti.

__ADS_1


Arjuna melangkah gontai menuju mobilnya, dia menatap rumah Zea sekilas. Berharap Reen melihatnya dari dalam, namun semua tak sesuai keinginannya Reen tak menunjukan dirinya.


"Reen tunggu aku," gumam Arjuna.


****


Sementara itu di tempat Rumi, Maira sudah mulai mengerjapkan matanya dia merasa pusing akiba mabuk semalam. Dan ingatkan dia untuk tak dekat-dekat, dengan minuman alkohol.


"Ini semua gara-gara si Mona sialan, awas aja kalo ketemu gue kubur lo hidup-hidup." Gerutu Maira.


Dia mengedarkan sekeliling ruangan, dan merasa asing dengan tempat tersebut.


"Hah... Dimana ini? Ini bukan kamar ku? Apa kamarnya Prisil? Tapi dimana Prisil?" tanyanya pada diri sendiri.


"Prisil? lo dimana Sil?" panggil Maira, dia berusaha untuk bangun tapi kepalanya masih pusing. Alhasil Maira duduk kembali di tepian ranjang.


"Haduh gawat kalo gak pulang, bisa habis sama papa." Gumamnya.


Saat asik berpikir yang tak menemukan jawaban, Maira menatap pintu yang terbuka. Dia membulatkan matanya, menatap laki-laki di depannya ini.


"Ka Ru-Rumi," lirih Maira.


"Ya ini aku Rumi, semalam kamu mabuk. Jadi aku bawa pulang," ujar Rumi to the poin.


"Kenapa kakak gak bawa aku pulang?"


"Memang kamu mau kita menikah?"


"Apa hubungannya?"


"Ada lah, dia pasti menyangka aku yang membuat anak gadisnya mabuk. Padahal pada kenyataanya kamu mabuk bersama teman mu," jelas Rumi.


Maira terdiam mendengar penjelasan Rumi, dia benar jika pulang papanya bakal marah besar. Hito bahkan sudah memperingatinya jangan mendekati minuman beralkohol, tapi dia malah mendekat.


"Maafkan anak mu ini Pa," bisik Maira dalam hati, dia menatap Rumi yang menatapnya dengan datar.


"Terima kasih ka," ucap Maira pada akhirnya.


"Ya, lebih baik kamu mandi terlebih dulu. supaya lebih segar setelah itu kita sarapan, aku sudah buatkan kamu sup hangat dan lemon. Untuk menghilangkan pusing.


Maira pun mengangguk, lalu Rumi keluar dari kamar. Maira menatap pintu yang tertutup, dan membuang napasnya dengan kasar.


"Huh!"


***

__ADS_1


Jangan lupa vote


__ADS_2