Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.40


__ADS_3

3 tahun berlalu


Cuaca cerah di Negera tetangga Singapura, tak membuat Dika mengurungkan niat mengajak sang anak pergi jalan-jalan.


"Ayo daddy cepat, nanti ketinggalan keleta." Seru Melinda putri Dika dan Jenny, yang kini sudah berusia tiga tahun.


Ermelinda Jenifer Wiriadinata atau Dika selalu memanggilnya Melinda, selama tiga tahun Dika tinggal di Singapura setelah Melinda lahir. Laura dan Mario selalu mengunjungi Dika yang masih betah di sana, tenggelam dalam kesedihan saat Jenny meninggalkan dirinya dan sang anak untuk selamanya.


"Iya sayang sebentar yah," balas Dika.


Dika harus memesan dulu tiket, untuk dirinya dan sang anak.


"Kalau ada Lakai dan Cilo pasti seru ya kan dad," tanyanya pada Dika.


Rakai dan Ceilo adalah putra Auriga dan Dela, usia Melinda dan si kembar hanya berbeda bulan saja.


"Iya... Tapi mereka suka jajan," sahut Dika pada Melinda.


Yang terkikik mengingat sepupu mereka yang jika datang, selalu meminta ini dan itu pada Dika. Melinda pun menatap keluar jendela kereta, melihat apa yang dia lewati dan sesekali bertanya pada sang ayah.


Dika mengajak Melinda ke Singapore Zoo dan Universal Studio setiap akhir pekan, Dika mengerjakan semua pekerjaan kantornya dari apartemennya. Dia belum siap untuk kembali, rasanya berat meninggalkan Negara di mana banyak menghabiskan waktu dengan Jenny lebih dekat.


Tiba di Singapore Zoo, Melinda meminta ponsel Dika dan menghubungi Rakai dan Ceilo. Dan di sambungan pertama terpampang jelas, wajah tampan anak Dela dan Auriga.


"Kamu curang gak ngajak aku Mel," pekik Rakai, karena di antara Rakai dan Ceilo. Rakai yang paling dekat dengan Melinda.


"Makanya kemarin kamu jangan ikut pulang," omel Melinda, walau masih kecil tapi Melinda sangat berisik dan bawel.


Membuat Rakai mencebik, dia menatap Dela yang ada di sampingnya. Dengan tatapan memelas, meminta kembali ke tempat Melinda.


"No... Bunda gak izinin, kasian kakak harus sekolah." Tolak Dela.


"Yah, maaf Melinda. Aku gak bisa ke sana," ujar Rakai kecewa.


"Tidak apa... Nanti aku minta daddy yang ke situ," katanya.

__ADS_1


"Janji?"


"Ya aku janji.." seru Melinda tersenyum manis.


Setelah melakukan perjanjian, Rakai menyerahkan ponselnya pada Dela. Lalu dia ikut bergabung dengan sang adik Ceilo.


"Kapan kamu ke Jakarta? Masa mau di situ terus sih," protes Dela.


"Kasian Melinda, dia juga mau dekat dengan kami sebagai saudaranya uncle." Lanjut Dela lagi, Dika hanya menatap Dela dengan datar. Kemudian dia menghela nafas dengan pelan.


"Aku harus ke mana?" tanya Dika.


"Masih ada Tara uncle, kasian dia. Kata Ara dan Lula, Tara selalu menangis diam-diam menatap foto Jenny. Lalu saat ada teman Tara terlihat ceria, seolah menyembunyikan kesedihannya." Terang Dela.


"Hanya kamu dan Melinda yang Tara punya, jika Alderik membuangnya. Maka dia tanggung jawab mu uncle," sambung Jenny.


"Akan aku pikirkan, ya sudah bye."


Dika mematikan sambungan videonya dengan Dela, lalu menatap Melinda yang sedang asik makan es krim.


Jenny belum pernah sekali pun melihat wajah sang anak, pasalnya setelah melahirkan Jenny sangat lemah dan pendarahan. Sehingga menyebabkan dia koma, dan tak bangun lagi.


***


Sementara itu di Bandung, kini cafe milik Anyelir sudah membuka cabang di Jakarta. Dia pun sering bulak balik Jakarta, Bandung. Tapi terkadang menetap di Jakarta karena tidak ingin kenangan dengan Axel membuatnya sedih.


Dan juga di Jakarta, rumah milik Anyelir dekat dengan rumah milik Jimi dan Sekar. Walau di Jakarta pun dia memiliki kenangan yang tak menyenangkan, dengan seseorang yang masih tersimpan di sudut lain hatinya.


"Anye," panggil Sekar, membuat Anyelir tersenyum samar.


Dia menatap bunga-bunga, yang tumbuh bermekaran di belakang rumah miliknya. Kebetulan Sekar mengantar Ameera, yang sejak tadi bermain bersama Adam.


"Kamu baik-baik saja? Masih ada yang sakit?" tanya Sekar.


"Tidak ada, aku baik-baik saja mbak." Ujar Anyelir.

__ADS_1


Sekar menghembuskan napasnya dengan pelan, dia menatap Ameera yang tertidur di ranjang milik Anyelir. Ameera putri Anyelir bersama Axel, ya pada akhirnya Anyelir menerima Axel. Walau dengan sedikit paksaan, namun dia menjalankan rumah tangganya dengan sepenuh hati. Bahkan mungkin bisa di katakan, Anyelir berhasil move-on dari Dika saat itu. Tapi kini dia patah hati kembali, karena di tinggal Axel.


Sementara itu pernikahan Sekar dan Jimi berjalan dengan harmonis, mereka sepakat untuk tak menambah anak lagi. Agar tak ada kecemburuan dalam anak-anak, mereka yang lain. Sekar merasa bersyukur karena Jimi menyayangi Adam dan Lilya, begitu juga dengan Zea dan Auriga.


Tak jarang Adam dan Lilya, selalu di bawa oleh Reen atau Zea jalan-jalan. Dengan alasan ingin memberikan me time, bagi Jimi dan Sekar.


Bibi Maura menatap Tara, yang sedang melukis foto sang kakak Jenny. Sesekali dia menyeka sudut matanya, mencoba tegar. Walau sudah tiga tahun berlalu, atas kepergian Jenny.


"Harusnya aku yang pergi, bukan kamu ka. Kamu orang baik," gumam Tara.


Alderik selalu berusaha untuk menemui Tara, namun Tara sendiri tak pernah mau bertemu dengan ayah kandungnya tersebut. Tara selalu ada di rumah Laura, atau Yusra dan Yumna.


"Tara," panggil Bibi Maura, Tara menoleh sekilas lalu kembali lagi fokus dengan lukisannya.


Bibi Maura mengusap pundak Tara, jika di lihat Tara lebih kurus. Porsi makannya pun sangat sedikit.


"Kita makan siang dulu yah! Kamu kurus gini, nanti keponakan mu gak mau lihat kamu. Yang gak ada dagingnya," canda Bibi Maura, membuat Tara tersenyum.


Dia akan senang jika tentang keponakannya Melinda.


"Dia kapan ke sini? Aku rindu," ungkap Tara.


"Kata Dika, mungkin beberapa hari lagi." Beritahu bibi Maura.


"Iya kah? Aku gak sabar ketemu Melinda, pasti dia cantik. Seperti ka Jenny," ucap Tara.


"Dia sangat cantik dan manis," sahut bibi Maura.


Bibi Maura pun mengajak Tara, untuk makan siang. Karena Tara selalu menolak untuk makan siang, dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri.


Alderik sendiri diam-diam, selalu mengawasi rumah milik anak ke duanya Tara. Saat kematian Jenny, Dika melarang Alderik untuk melihatnya. Tak peduli Jenny anaknya tapi Jenny sudah menjadi tanggung jawab Dika, Dika masih ingat jelas saat Alderik tak menginginkan Jenny dan Tara.


"Aku sudah kehilangan satu anak, dan aku gak ingin kehilangan anak yang lainnya." Gumam Alderik, menatap kosong ke depan.


Sebagai ayah, dia telah gagal untuk ke dua putrinya. Dia terlalu tunduk pada Linda sang istri, padahal Rafa sendiri yang menegaskan bahwa dia menyayangi Jenny dan Tara sebagai kakak. Bahkan Rafa tak melihat saat terakhir sang kakak, karena Dika benar-benar menutup akses untuk keluarga Sanova.

__ADS_1


***


__ADS_2