Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.55


__ADS_3

Sementara itu Reen, dia sudah mulai membereskan bajunya hari ini dia akan pulang ke rumah miliknya dan Arjuna. Awalnya dia tak ingin, namun Auriga dan Zea sudah memaksa Reen untuk menyelesaikan permasalahannya agar cepat selesai.


"Makan dulu Reen," ajak Dela, kini di meja makan sudah ada Lula dan Ara.


Sedangkan Auriga sedang berada di kamar si kembar, dia sedang memandikan anak laki-lakinya tersebut. Reen pun menurut, dan ikut bergabung bersama Lula dan Ara yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Ka Reen pulang hari ini?" tanya Lula.


"Iya La, kamu baik-baik yah di sini. Jaga adik-adik mu," pesan Reen, di jawab anggukan oleh Lula.


Tak lama Auriga turun dengan kedua anak kembarnya, mereka berlarian untuk segera sampai menuju meja makan. Dela langsung menatap kedua anak itu dengan tajam, membuat Rakai dan Ceilo langsung berhenti berlari.


Lali Rakai dan Ceilo di dudukan di kursi khusus untuk anak-anak, oleh Auriga dan Dela memberikan mereka makanan agar diam. Membuat Reen tertawa melihat tingkah si kembar, yang tak bisa diam bahkan saat makan pun mereka saling melempar makanan walau Dela sudah melotot.


"Anak uncle tuh gemesin, aku bawa pulang satu merek boleh?" tanya Reen pada Auriga.


"Boleh," sahut Dela cepat, membuat Reen bersorak senang.


"No... Bunda jahat sama kita, memang bunda tahan jauhan sama kta?" protes Rakai, membuat semua yang di meja tertawa. Dan membuat Rakai dan Ceilo berdecak kesal.


"Makanya bikin yang benar kalau mau punya anak," timpal Auriga, membuat Reen mengerucutkan bibirnya.


Sungguh dia pun sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan dia rutin mengkonsumsi ramuan herbal bahkan kurma muda. Tapi jika Tuhan belum memberi dia bisa apa?


"Nanti uncle antar yah!" pinta Reen.


"Iya nanti uncle antar sampai rumah, agar Arjuna tak macam-macam." Sahut Auriga.


Sepuluh menit kemudian, mereka sudah selesai sarapan. Auriga berpamitan pada Dela, dia mencium dan memeluk Dela dengan lama seolah akan berpisah lama.


"Sayang udah dong, kamu kan cuma mau ke Bandung jangan lebay ahh." Ujar Dela.


"Tapi ini pertama kalinya aku jauh sama kamu, dan anak-anak." Kata Auriga.


"Ya sudah setelah sampai kamu hubungi saja aku," pinta Dela, di jawab anggukan oleh Auriga. Lalu mereka berciuman untuk sekilas, karena sudah mendapatkan tatapan tajam dari Reen.


"Ayok," ajak Auriga.


Auriga mengantar Lula dan Ara terlebih dulu, setelah mengantar Ara dan Lula. Auriga dan Reen akan menuju Bandung. Dia pun sudah memberitahukan pada asisten pribadinya bahwa dia akan pergi ke Bandung mungkin tidak akan masuk kerja, selama di dalam perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Sesekali Reen menjawab ucapan Auriga.


Empat jam kemudian Auriga dan Reen sudah tiba di depan rumah, yang sudah lama dia tinggalkan. Saat turun Reen melihat mobil milik Arjuna ada di garasi, itu tandanya Arjuna tak pergi ke kantor.


Reen pun merasa heran menatap pintu yang tak rapat, dia mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan. Reen tebak itu adalah Melati, tapi tak hanya suara Melati dia mendengar suara sang mertua Hilda.

__ADS_1


Reen menahan Auriga untuk masuk, mereka memutuskan untuk mendengarkan percakapan mereka.


"Terima kasih Melati, kamu sudah merawat Arjuna yang sakit. Entah kemana istrinya itu, jadi istri kok kabur-kaburan sih." Gerutu Hilda, membuat Reen mengepalkan tangannya.


"Sama-sama tante, sebagai sahabat yang baik. Tentu aku akan membatu Arjuna," ujar Melati, Hilda pun mengusap lengan Melati.


Setelah pencarian waktu itu, Arjuna jatuh sakit dan saat itu Melati merawatnya dan memberitahukan pada Hilda bermaksud untuk membuat Hilda. Membenci Reen, dan menyuruh Reen bercerai dengan Arjuna itu yang di pikirkan oleh Melati.


"Tante, apa tante berjanji akan mendukung hubungan ku dengan Arjuna?" tanya Melati.


"Jelas, tante setuju kamu dan Arjuna kalian cocok. Mungkin dengan Arjuna menikah lagi dia akan mendapatkan keturunan. Kamu tahu sendiri, sudah hampir tiga tahun mereka menikah. Tapi Reen tak kunjung juga hamil tante malu, malu sama teman-teman tante di tanya kapan kamu punya cucu?" cerita Hilda dengan raut wajah sedih.


Auriga menatap sang keponakan yang sudah mengeluarkan air mata, Auriga membawa Reen kedalam pelukannya dan menguatkan sang keponakan.


"Kamu harus kuat," bisik Auriga.


"Iya uncle," lirih Reen.


Setelah Reen mengusap air mata, dia pun mengetuk pintu dan langsung masuk. Membuat Hilda dan Melati terkejut apalagi dengan tatapan tajam Auriga, membuat mereka membeku dan tak bisa berkata-kata.


"Aku ingin menyelesaikan semuanya, sekarang juga." Ucap Reen dengan dingin.


Namun bukannya menjawab pertanyaan Reen, Hilda malah memarahi Reen. Membuat Arjuna yang sedang di kamar memutuskan untuk keluar, dan terkejut mendapati Reen yang sedang di marahi oleh sang ibu.


"Reen," panggil Arjuna, dia melangkah dengan cepat dan memeluk sang istri dengan erat dan mencium pipinya.


Auriga yang mengerti, segera menari keponakannya menjauh dari Arjuna. Membuat pelukan mereka terlepas, Arjuna menatap Reen yang hanya diam saja.


"Aku ke sini, hanya untuk memperjelas tentang hubungan kita Arjun." Ujar Reen tanpa basa-basi.


"Reen sayang..."


"Cukup Arjuna, beri kejelasan pada Reen. Supaya pasti dan kamu bebas bisa berduaan dengan selingkuhan mu," cetus Auriga, namun tatapannya tak lepas dari Melati yang menunduk.


"Arjuna, mama sarankan untuk melepaskan Reen. Dan menikah dengan Melati agar kamu bisa segera punya anak," ujat Hilda, membuat Arjuna menggeleng.


"Tidak Ma, Reen sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan mu." Tegas Arjuna.


"Arjuna... Kamu janji akan menikahi ku kan?" sahut Melati.


"Apa kamu lupa, atau aku perlu menjelaskan lagi?"


"Diam Melati," bentak Arjuna.

__ADS_1


"Asal kamu tahu, kamu dan aku hanya sebatas patner ranjang tidak lebih." Marah Arjuna, Reen menggeleng mendengar ucapan Arjuna. Semudah itu dia melepaskan orang lain.


"Sudah Arjuna, lepaskan aku. Aku tahu kamu tidak mencintai ku, aku sudah tahu semuanya." Ungkap Reen.


"Aku tunggu surat cerai dari mu," sambung Reen, Reen menarik Auriga untuk pergi dari rumah tersebut.


"Reen tunggu... Reen," pekik Arjuna, namun Reen tak menghiraukan teriakan Arjuna. Dia terus melangkah menuju mobil milik Auriga, tujuannya sekarang adalah rumah milik sang ibu Zea.


Arjuna keluar dan mencegah Reen untuk pergi, dia mengetuk kaca mobil.


"Reen aku mohon, kita bicarakan ini baik-baik. Aku akan menuruti apa kata mu sayang, maafkan aku... Aku mohon Reen," ujar Arjuna dengan memohon, dia terus mengikuti mobil Auriga sampai keluar dari halaman rumahnya.


Hilda dan Melati menahan tangan Arjuna, agar tak mengikuti mobil itu.


"Sadar Arjuna, lepaskan wanita tidak berguna itu. Menikahlah dengan Melati," titah Hilda.


"Berhenti menyuruh ku untuk menikah dengan Melati, Ma. Karena aku tidak mencintainya aku hanya membutuhkannya untuk teman ranjang ku," teriak Arjuna, lalu dia menuju garasi mobil untuk mengeja mobil milik Auriga.


"Arjuna, mau ke mana kamu?" pekik Hilda.


Namun Arjuna tak menghiraukan sang ibu, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak peduli tubuhnya yang terasa lemas.


****


Sementara itu di kediaman Anyelir, anak-anak sedang asik bervideo call dengan Dika yang baru selesai mandi, bahkan Dika belum memakai baju sama sekali dia hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


"Daddy kenapa gak di baju? Nanti sakit loh!" kata Melinda, membuat Ameera terkikik di sebelahnya.


"Daddy gak mungkin sakit," jawabnya sombong.


Saat mereka asik berbincang, Anyelir pun masuk ke dalam kamar dan segera berpaling saat melihat Dika tak memakai baju sama sekali, sekilas dia melihat dada bidang dan rambut yang masih basah dia meneguk ludahnya dengan susah payah. Pipi Anyelir serasa panas, dia tetap pada tempatnya tak membalikan badan.


"Ibu? Ibu kenapa?" tanya Ameera, mengejutkan Anyelir.


"Ahh... I-ibu, baik-baik saja nak." Balas Anyelir, masih membelakangi Melinda dan Ameera.


"Kenapa tante membelakangi kita?" tanya pula Melinda.


"Tante malu, daddy mu tak memakai baju Mel." Ceplos Anyelir, langsung menutup mulut.


Membuat Melinda, Ameera dan Dika tertawa, membuat Anyelir salah tingkah.


"Maaf ibu baru ingat, belum mematikan kompor." Anyelir memberi alasan, dan langsung meninggalkan kamar anaknya.

__ADS_1


Dika yang sejak tadi diam saja, tersenyum kecil. Dia tahu Anyelir sempat melihatnya, Dika pun berpamitan pada Melinda dan Ameera.


****


__ADS_2