
Aaron mengajak Miska untuk pulang lebih dulu, tentu saja mereka pamit masing-masing pada tuan rumah.
"Kenapa gak nginap aja sih!" kata Melinda, memeluk Miska.
"Adik mu mengajak pulang," bisik Miska, Melinda pun tertawa dan mengerti romansa pengantin baru sedang ingin dekat-dekatnya.
"Kamu harusnya mengerti kakak ipar, karena kamu yang sudah lebih dulu menikah." Cibir Miska.
"Iya... Iya aku tahu, udah jangan cemberut gitu dong."
Melinda memeluk kembali Miska, sahabat dekat yang selalu ada untuknya kini menjadi adik iparnya. Melinda mengantar Miska ke depan dan menunggu sampai Miska masuk ke dalam taxi yang di pesan oleh sang adik Aaron.
"Mudah-mudahan kisah kalian gak terlalu berat," gumam Melinda.
Saat akan masuk tanpa sengaja dia melirik ke atas balkon, dimana Dika sedang menatapnya. Melinda tahu Dika pasti sudah mengetahui pernikahan Aaron dan Miska, saat acara pernikahan Aaron Melinda melihat orang suruhan Dika. Melinda memutuskan untuk menemui Dika, dan berbicara empat mata.
"Aku tahu daddy, sudah tahu." Celetuk Melinda, kini dia ikut berdiri memandang pekatnya malam. Semua tamu sudah pulang, hanya keluarga inti yang menginap bahkan Nathan dan Neil sekarang berada di kamar Velia dan Ello.
"Ya daddy tahu," jawab Dika to the point.
"Aku harap daddy tidak memisahkan mereka, daddy pasti tahu bagaimana rasanya terpisah dengan orang yang kita cinta." Tutur Melinda, tanpa basa basi. Dia pun tahu perihal Aaron, yang akan pergi ke Korea secara tak sengaja.
Dika mengehela napas sepenuh dada, dia memandang anak pertama dari istri pertamanya walau bukan yang dia cintai.
"Akan daddy pikirkan, daddy hanya ingin Aaron fokus pada pendidikannya dan juga pekerjaannya." Kata Dika.
"Harusnya daddy suruh Aaron kuliah dulu, bukan kerja tiap hari ketemu Miska. Itu sih salah daddy pake pecat aku segala," cibir Melinda, bukannya kesal Dika malah tertawa melihat kekesalan sang anak. Dika merentangkan tangannya, meminta Melinda masuk ke dalam pelukannya. Walau dengan wajah cemberut dia tetap masuk ke dalam pelukan Dika.
"Iya... Iya maafkan daddy, daddy salah." Ungkap Dika.
"Iya lah, daddy udah bikin Aaron dan Miska cinlok." Seru Melinda.
"Apa itu cinlok?" tanya Dika, heran dengan bahasa anak zaman sekarang. Yang Dika tahu hanya cilok, makan kesukaannya bersama keponakannya Dela dan Maira.
"Cinta lokasi." Jawab Melinda tertawa.
"Dasar kamu ini." Dika mencubit pipi sang anak, walau Melinda sudah punya anak tapi baginya Melinda adalah putri kecilnya. Putri yang selalu merengek, dan bermanja pada dirinya.
__ADS_1
****
Sementara itu Aaron dan Miska, sudah dalam satu mobil.
"Kita akan ke mana?" tanya Miska.
"Ke Bandung, aku akan bawa kamu ke rumah ibu yang di sana. Dekat tempat wisata lebih tepatnya," jelas Aaron.
Miska sempat dengar kalau Anyelir, memiliki rumah makan di daerah Bandung. Dan juga tempat sewa penginapan milik ayah kandung Ameera yang kini sudah menjadi milik Ameera, dan di kelola oleh orang kepercayaan yang Dika kirim.
Aaron menggenggam tangan Miska, seolah sedang menikmati moment kebersamaan mereka. Sebelum Aaron di sibukkan ini dan itu, dia menatap wajah cantik Miska yang seumuran dengan Melinda tapi tetap saja perawakannya yang imut dan mungil. Malah seperti seumuran dengan Mahira, kurang lebih menempuh perjalanan empat jam. Aaron sudah sampai di Bandung tepatnya di Pangalengan waktu menunjukan pukul dua dini hari, walau keadaan jalan lengan Aaron tak terlalu cepat melajukan roda empatnya.
Dia juga sudah memberitahu pegawai Anyelir, bahwa dia akan datang dan meminta satu kamar yang langsung berhadapan dengan pemandangan kebun teh. Aaron menatap Miska yang tertidur lelap, dia terbangun hanya untuk makan malam di rest area. Aaron tak tega untuk membangunkan Miska, dia malah menyentuh pipi sang istri dan merapikan rambut yang menghalangi wajah cantiknya.
Aaron memutuskan untuk menggendong Miska masuk ke dalam penginapan, dan membaringkan Miska di ranjang yang lumayan muat untuk dua orang. Dan juga, setiap kamar sudah memiliki kamar mandi sendiri. Jika dulu, kamar mandi terdapat di luar kamar dan harus mengantri.
Lima menit cukup untuk Aaron membersihkan diri, dan sudah berganti pakaian dengan piyama tidur yang sudah di persiapkan oleh pengurus penginapan tersebut. Aaron ikut berbaring di sebelah Miska, dan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintai mu, entah kapan rasa itu hadir untuk mu. Yang aku tahu, wajah sebal mu begitu menggemaskan bagi ku," kekeh Aaron, lalu mengecup kening Miska dia pun ikut terlelap.
Keesokan paginya, cuaca pagi ini cukup cerah walau menjelang subuh sempat gerimis. Membuat udara di sekitaran penginapan menjadi lebih dingin, Miska mengerjapkan mata dan mencoba menelisik di mana dia sekarang? Seingatnya kemarin dia berada di mobil bersama Aaron, yang akan mengajaknya menuju Bandung.
Merasakan pergerakan dari samping, membuat Aaron mengeratkan pelukannya.
"Selamat pagi," ucapnya dengan khas bangun tidur.
"Emm... Pagi juga," jawab Miska sedikit canggung, walau sudah tiga bulan berlalu. Miska mencoba melepaskan tangan Aaron, yang melingkar di perutnya.
"Mau ke mana sih?"
"Aku mau ke kamar mandi,"
"Sepuluh menit lagi," pinta Aaron, membuat Miska membuang napasnya dengan kasar.
"Aku gak yakin sih ya," kekehnya, merasakan sesuatu yang mengeras.
"Lagian suruh siapa semalam tidur," cebik Aaron.
__ADS_1
"Sekarang kamu bantu aku melepaskan hormon Testosteron sayang," bisik Aaron, lalu dia memulai ritual suami istri di pagi hari dengan udara dingin yang cocok untuk mereka.
Tepat pukul delapan pagi, Aaron menyudahi menuju puncak kenikmatan bersama Miska.
"Ayok ahh, katanya mau jalan-jalan." Kesal Miska, saat melihat Aaron masih memeluknya dari belakang.
"Aku masih kangen sama kamu," bisik Aaron, membuat Miska meremang karena hembusan napasnya menerpa belakang telinganya.
"Cih... Tiap hari ketemu di kantor," cibir Miska, membuat Aaron terkekeh.
"Tapi kita bertemu hanya beberapa jam, sisanya aku lebih banyak fokus bekerja untuk masa depan kita dan..."
Aaron mengusap lembut perut Miska, berharap akan hadir Aaron junior atau Miska Junior.
"Anak-anak kita." Bisik Aaron.
Aaron ingat tadi pagi, dia mengeluarkannya di dalam dan tanpa pengaman pula. Mereka terlalu larut, dalam penyatuan rindu yang menggebu. Butuh waktu satu jam, untuk bersiap karena Aaron terus menggoda Miska. Mereka sudah di tunggu oleh pegawai rumah makan milik Anyelir.
"Mas Aaron, silahkan masuk. Kami sudah mempersiapkan semuanya," ujar kepercayaan Anyelir, yang bernama Randu.
"Terima kasih Ran, dan tolong jangan beritahu ibu dan daddy." Bisik Aaron.
"Beres mas, tenang aja. Aman pokoknya," bisik Randu pula.
Berbagai hidangan sudah tertata rapih di meja, Aaron meminta ruangan yang lebih privasi agar tak terganggu oleh yang lain. Dia ingin menghabiskan waktu liburnya bersama Miska, bahkan ponsel milik Aaron dan Miska sudah di nonaktifkan.
Rumah makan milik Anyelir, kini sudah beragam menu makannya tak hanya masakan khas Sunda. Ada juga masakan khas lain, rumah makan tersebut buka dua puluh empat jam. Dan selalu ramai oleh pengunjung, bahkan jika hari libur rumah makan tersebut selalu penuh dan juga para pegawai mendapat bonus. Anyelir pun selalu mendatangi usaha miliknya, bersama Dika jika saat akhir tahun saja.
"Banyak sekali, semuanya enak." Cetus Miska, menatap menu yang memang ada kesukaannya. Yaitu nasi liwet dan juga menu lainnya.
"Makan yang banyak," kata Aaron, memberikan ayam geprek cabe ijo.
"Bisa-bisa timbangan aku naek," keluh Miska.
"Gak papa, aku suka. Biar enak di peluk," goda Aaron.
"Ish... Dasar." Miska tersipu malu, sekaligus berdebar mungkin kadar cintanya pada Aaron bertambah berkali-kali lipat.
__ADS_1
****
Semoga suka