Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.45


__ADS_3

Keesokan harinya Sekar mendapatkan kabar bahwa Anyelir dan Axel kecelakaan di sekitaran kebun teh Malabar, membuat Sekar hampir terjatuh karena syok. Jika tak ada Jimi, mungkin dia akan jatuh.


"Tidak mungkin."


"Mereka ada di rumah sakit, terdekat nyonya. Saya harap anda segera mengurus jenazah pak Axel," beritahu polisi.


"Baik pak, saya akan ke sana." Balas Sekar.


Setelah menutup panggilan, Sekar pun memberitahukan semuanya pada Jimi. Dan memutuskan untuk pergi ke Bandung hari ini juga, Sekar menitipkan anak-anaknya pada Zea termasuk Ameera. Dela tahu semuanya, tapi dia tak pernah memberitahukan pada Dika.


Siang itu Jimi langsunh menguburkan jenazah Axel, di dekat sang ibu Arumi. Axel mengalami pecah pembuluh darah di otak, akibat benturan yang sangat keras. Sedangkan Anyelir mengalami patah kaki, di sebelah kiri dan juga dia mengalami koma.


"Anyelir..." Lirih Sekar.


Menurut saksi mata, mobil Axel menghindari pemotor yang menyalip di depannya. Karena jarak pandang kurang Axel banting stir, dan menabrak truk pembatas jalan sampai masuk ke dalam jurang.


Sekar menggeleng tak percaya, kini dia harus fokus pada kesembuhan Anyelir dan memberikan semangat hidup padanya.


Lamunan Anyelir buyar, saat suara Ameera memanggilnya. Beruntung Anyelir sudah mencuci mukanya, lalu dia mengusap wajahnya dan langsung menghampiri sang anak.


"Ibu." Panggil Ameera dengan suara khas bangun tidur.


"Sudah bangun anak cantik?"


Anyelir mencium pipi anaknya, lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Ameera saat bangun tidur sangat lucu, membuat Anyelir gemas ingin mencubit.


"Ayok mandi dulu," ajak Anyelir.


"Aku malas mandi ibu," rengek Ameera, yang langsung memeluk Anyelir menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu.


"Hey... Gak boleh gitu dong, anak ibu harus cantik dan wangi." Kata Anyelir membujuk Ameera.


"Aku ingin ketemu Melinda bu," celetuk Ameera.


"Melinda?" gumam Anyelir, yang masih di dengar oleh Ameera.


"Iya teman baru ku ibu, yang waktu itu aku ceritain di cafe loh." Ujarnya.


"Tapi sayang, ibu gak tahu rumahnya. Kamu bilang kan, dia baru pulang dari Singapura."


Ameera nampak berfikir, dan membenarkan ucapan sang ibu.


"Iya juga yah," Ameera terkikik geli.


"Kalau gitu, kita ke cafe lagi saja yah bu." Pintanya.


"Ya sudah nanti kita ke cafe," putus Anyelir, agar anaknya berhenti bicara Melinda dan Ameera tidak mungkin bertemu begitu pikir Anyelir.


Anyelir pun membawa Melinda, untuk membersihkan diri. Setelah selesai, mereka keluar dari kamar dan langsung sarapan bersama.


****


Sementara itu di kediaman Mario, pagi-pagi sekali ketiga bocah menggemaskan sudah membuat rusuh di dapur. Membuat Laura kewalahan, apalagi Rakai dan Ceilo yang memaksa.


"Anak-anak, dengerin grany. Kalian lebih baik mandi dulu lalu kita sarapan," perintah Laura, namun Rakai, Ceilo dan Melinda mengabaikan Laura, dan masih kukuh ingin membuat sarapan buatan sendiri.


"No... Grany, aku mau buat salapan sendiri. Bunda suka bolehin aku masuk dapur," kata Rakai.


"Dela," desis Laura, memijit keningnya masih pagi dia sudah pusing.


Rakai, Ceilo dan Melinda membuat roti bakar, dengan pengawasan Mala dan Laura. Ya pada akhirnya Laura membiarkan mereka, melakukan apa pun yang mereka mau.


"Hati-hati Ceilo itu panas," tegur Laura, sementara Melinda fokus memasukan pisang yang sudah di potong oleh Mala ke dalam blender.

__ADS_1


"Tuan kecil biar saya saja," ujar Neti yang sejak tadi melihat kerepotan Rakai mengoles roti, dengan selai coklat.


"Tidak aku bisa," tolaknya dengan galak.


"Astaga putra nona Dela galak sekali yah mbak," bisik Neti pada Mala, membuat Mala tertawa.


Dika turun dengan masih mengenakan piyama tidurnya, dia menatap dapur yang cukup berantakan. Karena ulah si kembar, karena tentu saja Melinda dalam pengawasan Mala jadi dia masih teratasi.


"Daddy," sapa Melinda dengan riang, dia meminta turun dari kursi untuk memeluk sang ayah. Rutinitas yang selalu di lakukan oleh mereka saat bangun dan sebelum tidur, tadi malam Melinda tak melakukannya karena sudah tidur lebih dulu.


"Cantiknya daddy lagi apa?" tanya Dika.


"Aku lagi bikin calapan, buat daddy." Kata Melinda antusias.


"Pintar anak daddy," puji Dika, mencium pipi sang anak.


"Un-uncle aku juga pintar," sahut Rakai.


"Ya kalian sangat pintar, Rakai dan Ceilo. Hebat," ujarnya memberikan jempol pada anak kembar tersebut.


"Kalau sudah selesai kalian mandi yah," pinta Dika.


"Aku mau di mandiin sama Grany boleh?" tanya Melinda melirik Laura.


"Boleh sayang," timpal Laura, membuat Melinda bersorak girang. Lalu mengajak Melinda naik ke kamar Dika.


"Aku ikut," seru Rakai dan Ceilo.


"Mala bantu ibu," titah Dika.


"Baik mas," jawab Mala, lalu Mala mengikuti langkah kedua bocah tampan tersebut.


Dika lebih memilih menikmati kopi paginya di taman belakang, yang masih sama seperti dulu penuh dengan bunga kesukaan sang ibu.


"Uncle," sapa Lula dengan segelas coklat hangat.


"Aku baik uncle," balas Lula, duduk di dekat Dika.


"Uncle masih tampan loh, emang gak ada niatan nikah lagi?" tanya Lula.


"Engga atau bisa jadi belum," jawab Dika.


"Uncle ingin fokus dulu, membesarkan Melinda."


Lula mengangguk lalu mereka bercerita, keseharian mereka dan menceritakan Lula hari pertama masuk SMA.


"Aku mau kuliah di Singapura, nanti mau sewa apartemen uncle yah!"


"Boleh buat kamu gak mahal kok, asal jangan bawa pria masuk." Terang Dika.


"Yey lagian aku belum punya pacar, gak di bolehin sama Bunda." Bisik Lula.


"Bunda mu itu, memang jadi penghalang orang. Dulu pas uncle muda dia selalu bikin cewek-cewek takut," ujar Dika tertawa.


"Ya sudah aku ke dalam dulu, mau liat si kembar."


Dika pun mengangguk sebagai jawaban, lalu menatap kepergian Lula. Dia pun memikirkan tentang sebuah hubungan, yang mungkin akan sulit dia lakukan. Hanya ada satu nama yang terus ada di sudut hatinya yang lain.


"Apakah aku pantas untuk mu?" gumam Dika.


"Aku yakin kamu sudah menikah,"


Dika memejamkan mata, dan senyum Anyelir yang manis terlintas di dalam benaknya. Tapi dia bersama seorang gadis kecil, mungkin lebih muda dari Melinda.

__ADS_1


"Anyelir..."


"Baru pulang kamu mas?" tanya Reen.


"Ya." Balasnya singkat.


Reen menghembuskan napasnya dengan kasar, dia cukup lelah dengan kelakuan suaminya tersebut Arjuna dia sudah mengkhianati dirinya. Reen tahu, semalam Arjuna bermain dengan Sekretarisnya bernama Melati.


Tapi Reen tak melakukan apa pun, ini pilihannya menikah dengan Arjuna.


"Harusnya dulu aku menolak mu Juna, agar aku tak sakit hati." Lirih Reen.


Buru-buru dia mengusap air mata yang mengalir di pipi, lalu menyelesaikan pekerjaannya di dapur setelah selesai dia masuk ke dalam kamar. Membereskan baju suaminya, yang tentu bau parfum wanita lain.


***


Di kediaman Yusra di hebohkan dengan Yusra yang justru mual muntah, membuat semuanya panik. Dulu pada saat hamil Maira, ada Wina yang mengatasinya sekarang Wina sedang berlibur bersama teman-temannya seharusnya Laura ikut.


"Mama kenapa sih?" tanya Maira.


"Bau bawang Maira, kamu kenapa sih tanya terus berisik. Ini lagi parfum kamu bau," protes Yusra.


"Lah... Ini yang aku pakai tiap hari loh Ma," ujar Maira.


"Ya tapi cepat ganti, dan panggil papa mu." Perintah Yusra.


"Iya... Iya."


Yusra pun dengan terpaksa keluar dari dapur, dan memberikan pekerjaannya pada pembantunya. Dia duduk di meja makan, dan minum teh jahe hangat agar mengurangi rasa mual.


"Apa aku hamil ya?" gumam Yusra, mengingat-ingat kapan terakhir datang bulan.


"Nanti aku tes peck saja lah." Katanya.


"Maira nanti siang, kamu ke kantor papa yah!"


"Buat apa? Aku ada kelas pah," rengek Miara.


"Lagian mama sama papa, kenapa gak hamil lagi sih? Hasilin anak cowok, biar ada yang bantu aku urus bisnis kalian." Papar Maira.


"Memang mama dan papa gak mau apa? Papa juga mau punya anak lagi," ketus Hito.


"Ihh... Papa, atau aku nikah muda aja yah!" ide Maira, langsung mendapatkan tatapan tajam dari Hito.


"Apa? Bilang sekali lagi!"


"Nikah muda papa," pekik Maira, dan mendapatkan jeweran di telinganya.


"Akhh... Papa ampun pa, papa ihh... KDRT, aku bilangin mama loh," ancam Maira.


"Sana bilangin, biar kamu di pecat dari daftar waris." Kesal Hito.


Lalu melangkah lebih dulu meninggalkan sang anak di kamarnya, entah dari mana sifat Maira itu terlalu lama gaul dengan Dela dan Dika dia jadi ingin menikah muda kaya mereka. Membuat Hito menggelengkan kepalanya.


Saat tina di dekat meja makan, dia melihat Yusra sedang memijit keningnya. Tak biasanya istrinya itu duduk, biasanya dia sibuk membantu si mbok Mimi.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Hito.


"Mama mual dan muntah papa," sahut Maira.


"Kita ke dokter yah, wajah mu pucat banget loh!" ujar Hito.


"Engga sayang, nanti juga sembuh. Perut aku kembung kayanya masuk angin," tutur Yusra.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kalau sampai siang gak ada perubahan kita ke dokter." Putus Hito, Yusra pun mengangguk sebagai jawaban.


***


__ADS_2