
Dika memeluk Melinda dengan erat, dia tak bisa menahan rasa bahagia dan bersalah sekaligus pada sang anak.
"Maafkan daddy," lirih Dika, namun Melinda hanya terdiam menatap pada Axel yang mengangguk.
Melinda pun membalas pelukan Dika, dan menangis kemudian. Dia sangat bahagia bisa merasakan pelukan kembali sang ayah, Anyelir menyeka sudut matanya merasa sangat haru.
"Maafkan daddy sayang," ucap Dika sekali lagi.
"Engga, aku yang harusnya minta maaf sama daddy. Udah buat daddy kecewa," ujar Melinda.
Dika melerai pelukannya, lalu mengusap air mata di pipi sang anak. Dan mencium keningnya dengan lama, lalu Anyelir pun ikut memeluk Melinda dan Dika. Diam-diam Axel memotret mereka bertiga, jika Ameera tahu tentu saja dia akan cemburu dan akan jadi masalah lagi.
Keharuan mereka terganggu dengan datangnya pelayan, membawa makanan dan minuman.
"Ayok kita makan dulu, cucu daddy harus sehat." Celetuk Dika, membuat Melinda menghentikan langkahnya.
"Daddy tahu?" tanya Melinda.
"Daddy mu sudah tahu dari awal sayang," sahut Axel, Anyelir pun membenarkan itu.
"Daddy senang kamu hamil, akhirnya daddy akan punya cucu dari kamu." Ujar Dika memeluk Melinda kembali, lalu mereka pun duduk untuk menikmati makan malam mereka.
"Ingat jangan makan ikan," pesan Dika.
"Iya daddy," sahut Melinda, dia menikmati sosis bakar dan chiken katsu yang di pesan oleh sang ayah.
Di lain tempat, Ameera mendadak tak napsu makan sama sekali. Tak ada satu makanan pun yang cocok yang dia makan, selalu saja berakhir dengan mual.
"Kalo kamu gak makan, kasian baby kita sayang." Ujar Azriel.
"Tapi aku mual, aku maunya makan sama ibu dan daddy." Rengek Ameera.
Azriel menghembuskan napasnya dengan pelan, menghadapi ibu hamil dia harus exstra sabar.
"Baiklah kita hubungi daddy dan ibu, kita undang mereka makan di rumah kita." Putus Azriel, membuat Ameera tersenyum senang. Awalnya mereka akan makan di luar, namun mendadak Ameera ingin makan di rumah.
Azriel menghubungi nomor Anyelir, namun tak di angkat begitu juga nomor Dika.
"Merek tak mengangkat panggilannya sayang."
__ADS_1
Ameera meraih ponselnya, dan mencoba menghubungi sang ibu. Tapi sama saja, sang ibu tak mengangkat panggilan dari dirinya.
"Ya sudah, aku mau tidur saja."
"Sayang, kamu belum makan."
Namun Ameera mengabaikan Azriel, dan terus melangkah menuju kamar Azriel. Sungguh napsu makannya, lebih baik saat bersama keluarganya di banding makan di rumah seperti ini.
Iseng Ameera membuka sosial media miliknya, dan mendapati status milik Axel kakak iparnya. Membuat Ameera mengepalkan kedua tangannya.
"Pantas ibu gak bisa di hubungi, ibu sama daddy sedang makan malam sama Melinda." Kesal Ameera, moodnya berubah menjadi buruk.
Dan satu lagi yang membuat mood Ameer hancur adalah, postingan Axel beberapa hari yang lalu. Tentang foto hasil USG, yang dia tahu pasti milik Melinda.
"Jadi dia hamil?" gumamnya, Ameera benar-benar kesal dan ingin marah tapi tidak tahu marah pada siapa.
"Aku gak mau anaknya Melinda jadi pusat perhatian, aku mau hanya anak ku yang jadi bintangnya." Ameera menatap ke sembarang arah.
****
Keesokan harinya, Melinda bangun dengan suasana hati yang bahagia. Karena semalam dia dan Dika sudah berbaikan, dan menerima semua keputusan sang anak asal Melinda bahagia.
Soal Melinda di keluarkan dari perusahaan, Dika pun sudah menjelaskan semuanya pada Melinda. Dika juga sudah meminta maaf, karena caranya yang salah dan Melinda tak mempermasalahkan itu semua.
Melinda mencium pipi Axel.
"Selamat pagi sayang," ucapnya, lalu memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Lima menit kemudian, Melinda sudah selesai membersihkan wajahnya. Semenjak hamil, mandinya menjadi siang hari atau bahkan sore. Melinda melirik Axel yang masih terlelap, dan memutuskan untuk ke dapur membuat sarapan spesial untuk sang suami.
Lima belas menit Melinda berkutat dengan alat-alat di dapur, dan menghasilkan masakan yang menggugah selera.
"Sayang sudah bangun?" tanya Melinda melihat Axel menghampirinya, masih memakai piyama tidur.
"Kamu jangan terlalu cape sayang, biar bibi yang mengerjakan semuanya." Ujar Axel, karena kehamilan Melinda masih terlalu muda.
"Gak papa, sekali-kali lah." Kekeh Melinda.
"Oh ya, nanti makan siang aku kirim. Sekalian aku akan kirim buat daddy dan Aaron," ujar Melinda.
__ADS_1
"Aku izinin kamu, asal di bantu bibi." Putus Axel, di jawab anggukan oleh Melinda.
Perusahaan Wiriadinata
Miska terlalu pagi datang ke kantor, alhasil dia pun duduk terlebih dulu di pantry. Dan mengobrol dengan petugas kebersihan yang masuk pagi-pagi sekali, mereka banyak mengobrol kan banyak hal.
"Mbak Miska, pak Aaron itu tampan yah? Tapi sayang dia dingin," kekeh office girl bernama Sri.
"Hus... Jangan gitu, nanti di pecat."
"Ish... Mbak ini, asal mbak gak bilang semua aman."
"Oh ya, bagaimana keadaan nona Melinda?"
"Baik, dia sedang hamil. Dan tuan Dika akan mengadakan syukuran kecil-kecilan di sini," kata Miska, dia tahu dari Mona. Karena Mona meminta bantuan Miska, untuk mencarikan catering.
"Olah iya kah? Aku senang kalo mbak Mel hamil," ujarnya antusias, di banding Ameera semua karyawan sini lebih menyukai Melinda.
Menurut Sri, Ameera itu sombong, judes, dan suka seenaknya pada bawahan. Apalagi jika yang kerjanya lemot, pasti bakal habis di marahi.
Tanpa mereka sadari, Aaron sudah berdiri di ambang pintu memperhatikan Miska dan office girl tersebut. Yang asik membahas dirinya.
"Tolong buatkan saya kopi," celetuk Aaron, menatap Miska yang terkejut. Sedangkan Sri dia sudah menunduk dan menyiapkan air untuk membuat kopi.
"Aku minta Miska yang membuatkannya," titah Aaron.
"Ba-baik pak," balas Miska, walau Aaron lebih muda darinya dia memanggil Aaron dengan sebutan pak, karena Aaron adalah atasannya sekarang.
Seketika gerakan tangan Sri terhenti, dan mundur di gantikan oleh Miska.
"Ahhh... Bodoh sekali kamu Mis, saking asiknya mengobrol. Tak sadar kalo Aaron udah ada di ambang pintu, hah... Gimana kalo dia denger aku gosipin dia? Jangan sampai," bisik Miska, tapi tangannya sibuk meracik kopi untuk Aaron. Yang sudah kembali, ke ruangannya Aaron memang tepat waktu dia datang selalu tepat di banding Dika.
Hanya tiga menit, Miska sudah menyelesaikan tugasnya membuat kopi untuk Aaron. Dia juga yang akan mengantarkan langsung, sekalian membaca jadwal hari ini untuk sang bos muda.
Miska menatap Aaron yang sangat serius, sesaat dia sangat mengangumi Axel. Bagaimana tidak, di usianya yang belum dua puluh tahun. Axel sudah di percaya memimpin perusahaan, menggantikan Melinda.
Aaron yang sadar di perhatikan, mengalihkan perhatiannya pada Miska. Yang malah melamun, menatap padanya.
"Anda boleh keluar Miska," ujar Aaron, membuat Miska kembali pada lamunannya.
__ADS_1
Miska pun mengangguk, dan keluar dari ruangan Aaron. Dulu Miska, sangat betah berdiam lama di ruangan Aaron saat bersama Melinda. Tapi sekarang lain lagi, semua berbeda dan dia akan merindukan momen itu.
*****