Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.74


__ADS_3

Sementara itu di Jakarta, tepatnya di kediaman Dika. Anyelir dan Ameera tengah makan malam bersama, biasanya Ameera selalu ada di luar rumah. Jika Melinda ada di rumah.


"Ameera, ibu ingin bicara setelah makan." Ujar Anyelir.


"Ada apa bu?" tanya Ameera.


"Sudah makan saja," ketus Anyelir, seumur-umur Anyelir tak pernah berkata ketus padanya.


Diam-diam Ameera menatap sang ibu, dia bisa merasakan kemarahan dan juga rasa kecewa yang terpancar di raut wajahnya.


"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya, sama Melinda?" tebak Ameera dalam hati.


"Ibu sudah selesai," ujar Anyelir.


"Tapi makanan ibu belum habis," celetuk Ameera.


"Ibu gak selera makan, nak. Ibu menunggu kabar daddy Dika," jujur Anyelir, kini dia kembali duduk.


"Memang daddy kemana?" tanya Ameera.


"Dia ke Singapura, menyusul Melinda dan Aaron."


"Apa istimewanya Melinda? Dia bukan anak kecil bu," dengus Ameera, tak suka karena Melinda jadi prioritas Dika. Ameera lupa, jika Melinda adalah anak kandung dari Dika.


"Ameera, wajar Dika mengkhawatirkan Melinda. Selama ini dia selalu tertutup atas apa pun," cetus Anyelir.


"Melinda adalah anak kandung Dika," lanjutnya lagi.


Ameera kesal, sungguh kesal. Dia berhenti makan, terjawab sudah semua orang pergi ke Singapura karena satu orang. Yaitu Melinda.


"Aku tahu ibu, Melinda anak kandung daddy Dika. Tapi jika bukan karena Jenny ibunya memisahkan ibu dan daddy Dika, mungkin yang jadi anak kandung daddy Dika itu aku. Bukan Melinda ibu," pekik Ameera.


"Aku tidak suka sama Melinda, dia pintar, banyak di sukai oleh semua orang. Di sayang oleh saudaranya dan nenek kakeknya, sedangkan aku. Dari kecil pun aku tidak tahu nenek, kakek dan saudara yang lain."


Anyelir terdiam, dia mendengarkan unek-unek yang ada dalam hati Melinda.


"Bahkan semua teman kelas ku, menyukai Melinda. Dia sempurna untuk jadi pemimpin,"


"Ameera," lirih Anyelir.


"Melinda dan ibunya sama-sama menyusahkan, dan membawa masalah bagi ibu. Menghalangi cinta ibu dan daddy Dika," cetus Ameera.


"Ameera," marah Anyelir, dia tak suka jika Jenny yang sudah tenang di sisi Tuhan. Di ungkit-ungkit, jika Melinda tahu dia akan sedih.

__ADS_1


"Lihat dia tak di sini pun, ibu membelanya. Harusnya ibu juga membenci Melinda, karena ibunya sudah membuat ibu dan daddy Dika terpisah." Ketus Ameera.


Lalu pergi meninggalkan meja makan, dia kesal pada sang ibu karena membela Melinda.


"Aku anaknya, bukan dia." Ketus Ameera dengan kesal.


Anyelir terdiam dia menutup matanya, harusnya dia memang membenci Melinda. Tapi dia tak Setega itu, apalagi menurut Dika, Jenny ingin meminta maaf padanya sebelum dia drop.


"Jenny," lirih Anyelir dengan mata berkaca-kaca.


Singapura


Setelah selesai membersihkan diri, Melinda teringat bahwa ayahnya belum makan malam. Dia memutuskan untuk menghangatkan masakannya.


"Kamu mau ke mana Mel?" tanya Miska setengah mengantuk.


"Aku lupa daddy belum makan, jadi mau hangatkan makanan dulu." Kata Melinda.


"Oh... Kalau gitu, aku tidur duluan yah!"


"Iya."


Saat Melinda samapai di dapur, dia melihat Dika tengah merebus air untuk minum teh.


"Belum, tadi daddy lihat ada cake. Daddy mau makan cake sama teh hangat saja," ujar Dika..


"Daddy mau makan nasi? Kalau mau aku hangatkan makanannya,"


"Boleh," sahut Dika.


Dia menatap sang anak dengan intens, Melinda sungguh cekatan. Dika pun tidak tahu, dari mana Melinda belajar memasak.


Makanan malam untuk Dika susah siap, Dika menatap nasi beserta lauknya.


"Itu aku semua yang masak dad," ujar Melinda malu, pasalnya jika di rumah dia selalu datang saat semua makanan tersaji di meja.


Dika menyunggingkan senyumnya.


"Baiklah akan daddy coba."


"Bagaimana? Kata Aaron, Miska dan Axel masakan aku enak." Kekehnya.


"Lumayan, masih enak masakan istri daddy." Celetuk Dika, membuat Melinda memutar bola mata malas.

__ADS_1


Dika tersenyum tipis, melihat raut wajah sang anak yang cemberut.


"Kamu dan Axel, sudah kenal berapa lama?" tanya Dika.


"Sudah lama daddy," bohong Melinda, jika dia bilang kemarin malam. Maka daddynya tak akan mengizinkan, dia tinggal di Singapura.


"Kalian tidak ada rencana untuk menikah muda kan?" tanya Dika, membuat Melinda tersedak minumannya.


"Astaga... Kalau minum pelan-pelan Mel," tegur Dika.


"Maaf dad."


"Menikah? Hah tidak mungkin," bisik Melinda dalam hati, dia hanya pura-pura jadi tidak ada niat untuk menikah dalam waktu dekat.


Dia ingin membangun usahanya sendiri di sini, baru memikirkan menikah.


"Daddy sudah selesai makan, kamu jangan tidur terlalu malam." Pesan Dika.


"Iya daddy, selamat istirahat." Melinda memeluk Dika, dan mencium pipi sang ayah. Dika membalas mencium kening sang anak, anak yang dulu dia rawat dari masih bayi.


"Daddy akan menyayangi mu Mel," bisik Dika.


"Aku juga daddy."


Dika melepaskan pelukannya, lalu menatap anak pertamanya. Yang jika di lihat, lebih mirip dengan Jenny.


"Selamat malam."


"Malam daddy," balas Melinda.


Melinda menatap pintu kamar utama, yang tertutup. Lalu Melinda, membereskan bekas makan Dika dan mencucinya.


Melinda memutuskan untuk duduk di balkon, karena tak bisa tidur. Untuk sejenak, dia merindukan Rakai dan Ceilo yang sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Mereka apa kabar? Aku rindu kalian," gumamnya.


Tanpa Melinda sadari Axel memperhatikannya dari arah balkon sebrang, dia tak memesan hotel. Tapi menyewa apartemen, yang kosong di sebelah unit Melinda.


"Kamu terlihat lebih cantik, jika sedang melamun Melinda." Gumam Axel, dia jadi tak sabar untuk segera menjadikannya istri.


Pertama-tama Axel, akan membawa Melinda bertemu orang tua dan kedua adiknya. Termasuk Rakai sang kembaran.


***

__ADS_1


Semoga suka, maaf typo


__ADS_2