Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.75


__ADS_3

Keesokan harinya, Dika memutuskan untuk pergi ke makam Jenny. Dengan membawa satu buket, bunga kesukaan istri pertamanya tersebut. Melinda tak ikut, karena dia harus menyiapkan sarapan untuk semua orang.


Dia juga berencana untuk mencari pekerjaan di sekitaran apartemen, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun berlalu. Dika menginjakan kaki kembali ke tempat peristirahatan sang istri pertamanya, dulu sempat liburan. Namun Dika tak mengunjungi makam Jenny, Dika menatap nisan dan mengusap nisan tersebutm


Dan berdoa untuk Jenny, rasa sedih dan kehilangan itu memang masih ada dalam hati Dika. Jenny pun menempati, bagian lain hatinya.


"Terima kasih Jenny, terima kasih. Kamu sudah mencintai ku sejak lama, kamu memberikan anak yang hebat. Kamu tahu Melinda begitu persis diri mu jika sedang manja, maafkan aku  yang belum bisa menjadi ayah baik untuk anak kita. Bahkan aku sendiri tak mengetahui dia memiliki kekasih," kekeh Dika.


"Dia pasti sudah mengenalkan kekasihnya pada mu kan," tebak Dika.


"Aku sudah menikah dengan Anyelir, sesuai keinginan mu. Kami memiliki satu orang putra, dia begitu mirip dengan ku." Dika terus bercerita di hadapan makam Jenny, walau dia tahu tak akan ada jawaban darinya.


Sampai Dika lupa janjinya pada Anyelir, untuk memberi kabar padanya.


****


"Ibu mana mbok?" tanya Ameera, pada pelayan di rumahnya.


"Ibu belum keluar kamar mbak, dia juga menolak sarapan." Sahut pelayan tersebut.


Ameera mengangguk, dia berdiri dari duduknya dan akan menyusul Anyelir ke kamar. Untuk mengajaknya sarapan.


Tok!tok!tok!


"Ibu," panggil Ameera.


"Ayok kita sarapan bu," ajak Ameera.


Namun tak ada jawaban dari dalam, membuat Ameera khawatir.


"Si Melinda, ada atau engga pun. Dia tetap merepotkan," kesal Ameera.


Ameera memutuskan untuk membuka pintu kamar Anyelir, menggunakan kunci cadangan. Saat pintu terbuka, kamar sang ibu masih gelap hanya pencahayaan dari lampu tidur. Ameera langsung membuka seluruh gordeng, Ameera bisa melihat Anyelir yang sedang tidur.


"Ibu," panggil Ameera, mengusap lembut lengan Anyelir.


Anyelir mengerjapkan matanya, setelah subuh tadi. Dia tidur kembali, karena baru tidur pukul dua dini hari. Dia tak bisa tidur karena Dika belum memberikan kabar.


"Kenapa Ameera?"


"Ibu baik-baik saja?" tanya Ameera.


"Ya ibu baik, ibu hanya merindukan suami ibu. Biasanya kita tak pernah berjauhan," tutur Anyelir, kini dia beranjak dari tidurnya dan akan ke kamar mandi. Membersihkan diri.

__ADS_1


"Kamu turunlah terlebih dulu, nanti ibu menyusul," ujar Anyelir.


"Iya bu," sahut Ameera.


Saat pintu tertutup, Ameera langsung menghubungi nomor Melinda yang aktif. Melinda yang baru selesai membuat sarapan, di kejutkan oleh dering ponselnya.


"Ha..."


Sebelum Melinda menyapa, Ameera menyela ucapan Melinda dengan  marah-marah.


"Lo tuh ya, gak deket gak jauh. Nyusahin terus, lo gak kasihan sama ibu gue. Dia gak bisa jauh dari daddy Dika, asal lo tahu Melinda ibu gue sakit gara-gara lo. Lo udah gede bukan anak kecil jadi jangan bersikap kekanak-kanakan," ucap Ameera dengan sinis, tanpa menggunakan kata aku kamu.


"Maaf." Itu yang bisa Melinda ucapkan, dia duduk di depan meja makan yang sudah tertata rapi makanan.


"Gue minta daddy sama Aaron pulang, kalo lo mau di situ gak apa. Di situ aja terus gak usah pulang, dan merepotkan semua orang." Tekan Ameera, tanpa mendengar jawaban dari Melinda dia memutuskan sambungan teleponnya.


Melinda menghela napas dengan kasar, apa salahnya pada Ameera. Kenapa dia berubah? Jika Melinda tidak ada, apa Ameera akan bahagia?


"Kamu kenapa Mel?" tanya Miska.


"Gak papa, habis sarapan kamu ikut pulang sama daddy dan Aaron." Ujar Melinda.


"Mel, aku ikut kamu yah di sini. Pliss Mel," rengek Miska, dia tak mau jika nanti dia berkerja dengan Ameera.


"Gak bisa Miska," tolak Melinda.


"Miska dengarkan aku, jika kamu di sini. Tidak ada yang mengawasi Ameera," tutur Melinda.


Miska menyimpan ponselnya, lalu dia menatap Melinda dengan tatapan curiga. Dengan terpaksa Melinda, menceritakan semu rencananya.


"Baiklah aku akan bantu kamu," putus Miska, dia pun kasihan pada Melinda.


Melinda ingin Dika tahu, perlakuan Ameera selama ini padanya. Dan hanya Miska yang bisa membantunya.


"Baiklah, aku akan lakukan agar kamu manjadi bos mu Mel." Isak Miska, dia memeluk Melinda dengan erat.


"Daddy sudah pulang? Ayok kita sarapan," ajak Melinda, setelah melepaskan pelukannya dengan Miska.


Dika, Melinda dan Miska menyantap sarapannya dengan tenang, sementara Aaron dia masih melakukan olahraga. Di lantai bawah apartemen, selama sarapan Melinda pun mengingatkan Dika untuk menghubungi Anyelir.


"Astaga... Daddy lupa, hah... Dia pasti marah," ujar Dika dengan panik.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Dika langsung menuju kamarnya. Dia menghubungi Anyelir, yang tiba-tiba tak menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Sayang maafkan aku, semalam aku lelah. Bahkan aku makan malam pun pukul dua belas, dan membangunkan Melinda." Bohong Dika, pada pesan chat tersebut.


Terkirim tapi masih centang abu, dia menunggu beberapa saat. Sampai istrinya itu online, Dika merutuki kesalahannya yang tak menghubungi sang istri.


Pasalnya dia terlalu larut dalam kenangan bersama Jenny, saat masuk ke dalam kamar. Walau di samping Dika ada Aaron, anak dari wanita yang dia cintai.


Tak lama balasan dari Anyelir pun masuk, Anyelir tak mempermasalahkan itu semua. Tapi Dika terlanjur tahu, rumus wanita jika tak apa maka ada apa-apa.


Dika melakukan panggilan video dengan Anyelir, yang menampakan wajah cemberutnya. Dika merasa gemas pada sang istri, jika Ameera, Melinda dan Anyelir bersama. Mereka seperti adik kakak, bukan ibu dan anak.


Termasuk menceritakan tentang Axel, kekasih Melinda. Di balik pintu kamar Anyelir, Ameer menguping semua pembicaraan Dika dan Anyelir. Yang tak sengaja dia dengar, awalnya Ameera hanya ingin mengajak Anyelir jalan-jalan.


Tapi dia malah mendapatkan info, yang sangat penting tentang Melinda.


"Jadi dia memiliki kekasih?" Ameera tersenyum sinis.


"Apa yang menjadi miliknya, harus menjadi milikku." Gumam Ameera, di pun akan menyusun rencana untuk mendapatkan kekasih Melinda.


Walau dia sendiri sudah memiliki kekasih, yang sangat mencintai Ameera.


****


Apartemen Melinda


Axel menghubungi Melinda, yang tengah bersantai di balkon.


"Astaga itu orang, padahal tinggal tekan bel. Apa susah ya sih manja," cibir Melinda.


Melinda membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia mendapati buket bunga mawar merah yang sangat besar.


"Axel," desis Melinda menghela napas dengan pelan, dia meminta Axel masuk.


Beruntung semua orang sedang jalan-jalan, karena besok Dika, Miska dan Aaron akan kembali ke Jakarta.


Tiba-tiba Axel berlutut di hadapan Melinda, dia mengeluarkan kotak set perhiasan.


"Astaga kapan dia mempersiapkannya?" bisik Melinda dalam hati.


"Kemarin kamu hanya mengklaim kalau aku adalah kekasih mu, maka hari ini aku akan meresmikan kamu menjadi kekasih ku. Ermelinda Jenifer Wiriadinata, maukah kau jadi kekasih ku?" tanya Axel, membuat Melinda kehabisan kata-kata.


Dia menatap wajah tampan Axel, dua ragu. Namun sorot mata yang penuh keyakinan, dan ketulusan sangat jelas terpancar di mata Axel.


"Aku..."

__ADS_1


****


Semoga suka, maaf typo 🥰


__ADS_2