
Setelah menimang-nimang tawaran Rumi, akhirnya Maira menyetujui tumpangan yang di berikan lelaki dewasa tersebut. Maira pun mengambil tasnya yang berada dalam mobil, lalu menguncinya agar aman dari pencuri.
Saat pertama masuk ke dalam mobil milik Rumi, aroma kopi langsung hinggap di penciumannya membuatnya segar dan menginginkan kopi.
"Kamu mau pulang atau ke mana?" tanya Rumi, jarak usia Rumi dan Maira adalah sepuluh tahun lebih tua Rumi. Sedangkan Maira kini berusia dua puluh satu tahun.
"Antar aku pulang saja," balasnya, Rumi pun mengangguk sebagai jawaban.
Terjadi keheningan di antara mereka, Maira pun merasa canggung karena baru pertama kali duduk satu mobil dengan laki-laki lain, selain bersama Hito, Mario dan Dika.
Berpuluh menit kemudian mereka sudah sampai di perumahan elit
Sky House, perumahan yang di masuki oleh Rumi tak sembarang orang masuk. Mereka harus di periksa apa tujuan mereka datang, tapi karena Rumi datang dengan Maira dia langsung masuk karena penjaga keamanan perumahan tersebut sudah mengenal Maira.
"Di depan belok kanan," kata Maira, memang dari gerbang sangat jauh untuk sampai di rumahnya.
"Berhenti di rumah bercat putih dan hitam," lanjutnya lagi.
Tak lama mereka sudah sampai, Maira pun menatap Rumi yang sesungguhnya sangat tampan jika di lihat dari dekat.
"Terima kasih Tuan Rumi," ucap Maira.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi nona." Pamit Rumi.
Maira pun mengangguk dan menunggu sampai mobil Rumi pergi dari pengelihatannya, tanpa dia sadari Dika mengintip dari jendela kamarnya.
Rumah Mario dan Yusra memang dekat mungkin terhalang satu rumah.
"Maira?" panggil Laura.
"Ehh... Grany," sahutnya.
"Di antar siapa?" tanya Laura kepo.
"Oh.. Itu di antar Tuan Rumi, Grany. Tadi ban mobil ku pecah jadi aku gak bisa jemput mamah sama papa," papar Maira, di jawab anggukan oleh Laura.
"Ya sudah mamah mu sudah pulang, mungkin mereka sedang istirahat." Ujar Laura, Maira pun mengangguk sebagai jawaban. Tapi saat akan melangkah Laura memanggilnya kembali.
"Oh.. Ya Mai, bilang sama mamah dan papa mu. Nanti malam makan di rumah Grany yah! Soalnya Melinda sama Dika sudah pulang," beritahu Laura.
"Apa? Sudah pulang? Yang bener Grany? Gak bohong kan? Gak lagi ngeprank kan?" cerca Maira.
"Engga Maira, mana mungkin nenek mu ini bohong." Sahut Dika, yang tiba-tiba muncul dari arah dalam.
Maira pun menjerit, membuat Laura menutup telinganya. Dia langsung memeluk Dika dengan erat, dan mencubit pipi Dika dengan gemas. Karena jika di cium Dika akan ngamuk.
"Maira." Keluh Dika, mencoba melepaskan pelukan keponakan barbar-nya.
__ADS_1
"Astaga... Astaga, kok gak bilang-bilang sih kalo mau pulang?" tanyanya.
"Ya kalo bilang bukan kejutan dong namanya," ketus Dika.
"Lagian kalo bilang, kamu sama Dela pasti bakal minta oleh-oleh. Dih gak rela yah," lanjut Dika, membuat Maira cemberut.
"Dasar paman pelit," omel Maira.
"Ehh.. mana Melinda? Aku kangen sama dia."
"Dia tidur Mai," timpal Laura.
"Yah.. ya sudah aku pulang dulu bye," pamit Maira melambaikan tangannya.
"Dia masih saja bar-bar," kekeh Dika.
"Ya begitulah keponakan mu." Sahut Laura, mengajak Dika masuk.
***
Di kediaman Auriga, terjadi kerusuhan pada ketiga anak Auriga. Siapa lagi kalau bukan Ara, Rakai dan Ceilo. Mereka selalu saja begitu jika tengah berkumpul, membuat Dela yang terbiasa membiarkan mereka dengan perdebatannya.
"Pokoknya Lakai dulu," tegas Rakai.
Begitu juga sebaliknya Ara, dia tak mau mengalah pada adik-adiknya. Kadang Lula harus turun tangan menenangkan mereka, tapi kali ini Lula belum juga pulang karena ada pelajaran tambahan.
Membuat Rakai dan Ceilo langsung diam seketika, sedangkan Ara sudah terkikik geli melihat ekspresi wajah kedua adiknya.
"Jangan dong bunda," ujar Ceilo.
"Makanya kalian harus nurut sama kakak, biar bunda gak marah." Sahut Ara.
Rakai mendekati Dela, yang sedang menyiapkan pakaian si kembar. Mereka akan menginap beberapa haru di rumah Laura, sedangkan Ara akan kembali pulang ke rumah bersama Dela. Setelah Auriga pulang dari bekerja.
"Bunda," rengek Rakai dan Ceilo, karena Dela tak menanggapi ucapan kedua anak tersebut.
"Bunda bicara dong, jangan marah. Kalo marah nanti cantiknya ilang loh," goda Ceilo.
"Apa? Kamu tadi bilang apa?" tanya Dela, dia langsung mencubit gemas pipi gembul Ceilo lalu menggelitik perutnya.
Ceilo tertawa terbahak, lalu Rakai pun ikut menggelitik sang adik.
"Ampun... Ampun bunda, aku nyerah aku mau ngompol." Seru Ceilo, membuat Dela menghentikan gelitikannya.
"Udah sayang Rakai, nanti adik mu ngompol di lantai lagi. Memang kamu mau bersihinnya?" tanya Dela.
"Ihh... Engga, bau." Cebik Rakai.
__ADS_1
Dan benar saja Ceilo berlari ke arah kamar mandi, dia sudah bisa membuka celananya sendiri untuk pipis sedangkan untuk buang air besar. Dela selalu membantu kedua anaknya tersebut, suara deru mesin mobil membuat atensi Rakai teralihkan dia langsung berlari ke depan.
Rakai tahu itu mobil milik sang ayah Auriga, setelah Auriga turun. Rakai langsung melompat di gendong oleh Auriga, dan tertawa saat Auriga menciumnya secara bertubi.
"Ayah," pekik Ceilo, dia baru selesai dari kamar mandi.
"Kenapa harus Rakai yang pertama sih, aku juga mau jadi yang pertama yah." Protes Ceilo.
Auriga menurunkan Rakai dari gendongannya, lalu memeluk Ceilo dan menciumnya bertubi.
"Kamu kan datang kedua, jadi ayah mencium kakak mu yang pertama." Jelasnya.
"Lagian dia kan bis ompol ayah," kata Rakai.
"Iya lah aku kan di gelitiki bunda sama Rakai," protes Ceilo.
"Sudah-sudah, kalian sudah selesai membereskan baju kalian?" tanya Auriga.
"Sudah ayah bunda yang membantu," lapor Rakai.
Auriga mengajak anak-anaknya masuk, dan menemui Dela yang sedang menutup tas yang membawa perlengkapan Rakai dan Ceilo.
"Ara, jagain adik-adik mu yah! Bunda mau bikinin ayah minuman,"
"Baik bunda," sahut Ara.
Dela memeluk Auriga dan mencium suaminya, kebiasaan yang dia lakukan selama dua tahun terakhir ini.
"Kok aku jadi curiga yah," kekeh Auriga.
"Ihh... Memang apa gitu," Dela mencubit lengan Auriga.
"Biasanya juga suka gitu kan," sambung Dela kemudian, mereka melangkah bersama menuju kamar mereka.
"Engga, yang tadi beda. Kaya ada maksud tertentu gitu,"
Membuat Dela menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu dia memeluk Auriga kembali dengan erat.
"Ada apa?" tanya Auriga.
"Aku kangen kamu sayang," rengek Dela.
"Ya terus? Ini kan udah ada di depan kamu," ujar Auriga, membuat Dela cemberut suaminya ini tak mengerti kode.
Padahal sudah dua minggu ini Auriga dan Dela, sudah lama tak memadu kasih. Karena si kembar selalu tidur bersama mereka, dengan alasan takut monster malam. Pernah Dela menyuruh Lula menemani Rakai dan Ceilo, tapi kedua bocah tampan tersebut tetap saja masuk ke dalam kamar Dela dan Auriga saat mereka akan melakukan ritual suami istri.
Membuat Auriga tertawa, bukannya dia tak mengerti tapi dia akan memberikan kejutan nanti malam setelah pulang dari rumah Mario. Dan rencana Auriga adalah menitipkan ke empat anaknya di rumah Laura, tanpa sepengetahuan dari Dela.
__ADS_1
***