
Dua bulan berlalu, kini kandungan Dela berusia dua bulan. Walau masih belum terlihat, tapi kenaikan berat badan yang di alami Dela cukup signifikan.
Dua bulan pula, Riana mencoba mendekati Auriga. Namun Auriga nampak acuh, membuat Riana memikirkan rencana yang lain.
Kehidupan rumah tangga, Dika dan Jenny pun berjalan lancar. Kini mereka tinggal di rumah, yang di tempati oleh Tara. Jenny pun sudah berhenti menjadi bagi Sanova entertaintment.
Dua bulan untuk Anyelir, sungguh cepat. Warung makan yang dia dirikan lumayan cukup ramai, sampai akhirnya Anyelir membangun sebuah rumah di samping tempat makan tersebut. Tentu dengan bantuan Axel.
"Terima kasih Axel, kalau bukan karena kamu. Mungkin aku akan kesusahan lakuin ini semua," ujar Anyelir, menatap rumah yang sebentar lagi rampung.
"Sesama manusia, kita harus saling membantu kan." Balas Axel.
Dua bulan mengenal Anyelir, membuatnya merasakan debaran-debaran aneh. Bahkan Axel sendiri sudah memeriksakan diri pada dokter, namun dokter bilang semua normal.
Maka Axel menyimpulkan, dia jatuh cinta pada Anyelir. Axel menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu melirik Anyelir yang tersenyum menatap hasil kerja kerasnya.
"Kenapa?" tanya Anyelir, saat Axel melihat dirinya.
"Kamu cantik," sahut Axel, Anyelir tersenyum tipis.
Lalu melangkah menuju rumah makan miliknya, selama berjualan di sana. Ibu Axel, mengizinkan dirinya tinggal di salah satu kontrakan milik ibu Axel.
"Jelas aku cantik, karena aku perempuan." Balas Anyelir.
Axel menggaruk kepalanya yang tak gatal, ingin sekali dia mengungkapkan isi hatinya. Bahwa dia jatuh cinta pada dirinya, lalu ingin Anyelir jadi istrinya.
Toh Dika pun tak menanyakan lagi tentang Anyelir, dia sudah memiliki istri. Mungkin sebentar lagi akan memiliki anak.
"Ayok masuk, mbak Sekar mungkin sudah selesai masak. Ayok makan siang bersama," ajak Anyelir, Anyelir pun mengubah nama Sekar dari ibu menjadi mbak. Dan kini Lilya pun melanjutkan sekolah yang sempat berhenti, karena biaya beruntung pihak sekolah mengizinkan Lilya.
"Baiklah, beruntung sekali aku menjadi tetangga mu." Kekehnya.
"Ahh... Sebentar, aku panggil ibu dulu." Lanjutnya.
Axel pun berlari menuju kediaman sang ibu, dimana selama ini dia tinggal hanya berdua dengan ibunya. Bernama Arumi, sedangkan sang ayah sudah tiada saat dirinya kelas dua sekolah menengah atas. Axel anak tunggal, dia tidak memiliki saudara lainnya.
****
Dela baru saja selesai menemani Ara mandi, dia menunggu Auriga pulang. Biasanya pukul tiga, Auriga sudah di rumah. Tapi ini hampir pukul setengah enam tapi, Auriga belum juga pulang.
"Mungkin dia lembur," gumamnya.
"Ayok bunda kita makan," ajak Ara.
"Gak tunggu ayah?"
__ADS_1
"Engga, Ara sudah lapar."
"Baik lah ayok,"
Dela menuntun Ara menuju meja makan, sedangkan Lula sedang berada di gazebo. Entah apa yang dia lakukan, Dela memanggil Lula untuk makan terlebih dulu.
Dan Dela pun menemani kedua anaknya makan, sebenarnya dia lapar juga. Tapi dia akan menunggu suaminya.
"Bunda gak makan?" tanya Lula.
"Bunda bareng ayah aja," kata Dela.
"Kalo nunggu ayah lama bun, lebih baik. Bunda makan aja, kasian adik di dalam perut. Dia juga perlu makan," papar Lula.
"Iya sayang, bunda makan setelah kalian,"
Lula pun mengangguk, lalu makan kembali fokus pada makanannya.
Sementara itu Auriga masih berada di cafe milik sang adik, yang kini dia kelola. Cafe ini akan di berikan pada anaknya Zea, jika dia sudah lulus. Makanya Auriga yang mengelola terlebih dulu setelah pulang dari perusahaan miliknya.
Satu hal yang dia lupa, dia tak mengabari Dela akan pulang telat. Tepat pukul tujuh malam, Auriga memutuskan untuk pulang. Lalu saat di dalam perjalanan, dan di jalan sepi. Tak sengaja ada yang menabrakkan diri ke mobilnya. Membuatnya terkejut, lalu dengan segera turun mengecek apa yang menabrak mobilnya tersebut.
"To-tolong aku," lirihnya.
"To-tolong aku mo-mohon." Wanita itu mengangkat wajahnya, dan membuat Auriga terkejut.
"Riana?" pekik Auriga.
"Riga, tolong aku sakit." Rintih Riana.
"Apa yang terjadi? Kamu kenapa?"
Tiba-tiba terdengar suara dari kegelapan, membuat Riana takut. Dan meminta tolong di bawa pergi.
"Oke, ikut aku."
Auriga membawa Riana masuk, ke dalam mobil. Dan melaju dengan cepat.
"Sial!" umpat mereka, tapi setelah mobil menjauh mereka tertawa terbahak.
"Gila akting bos kita keren," ujar mereka, tertawa terbahak.
"Ayok kita pergi, bos udah di bawa targetnya." Kata salah satu pemimpin tersebut.
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut, sementara di dalam mobil. Auriga menatap Riana, yang terdapat memar di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ri?" tanya Auriga.
"Aku mau di perkosa sama mereka, lalu aku melawan malah di pukul." Jelas Riana, membuat Auriga mengangguk.
"Kita ke rumah sakit?"
"Tidak, antar aku pulang saja."
"Oke,"
Auriga pun mengantar Riana pulang, ke perumahan milik Riana. Berpuluh menit kemudian, Auriga sudah sampai dan langsung membantu Riana masuk.
"Mampir dulu Riga,"
"Tidak aku harus pulang, anak-anak sudah menunggu." Ujar Auriga.
Membuat Riana sedikit kecewa, namun dia tak menyerah untuk menahan Auriga tetap di rumahnya.
***
"Aku punya kejutan untuk kamu," ucap Jenny malu-malu.
"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Dika.
Jenny menyerahkan kotak kecil, yang di hias pita. Lalu Dika membuka kotak tersebut, Dika tersenyum saat melihat isinya test pack dan foto hasil USG 4D.
"Kamu hamil?" tanya Dika.
"Ya aku hamil, dan di perkiraan berumur satu bulan." Katanya.
Dika memeluk Jenny, dan mencium pipinya.
"Terima kasih,"
Jenny pun memeluk Dika tak kalah erat, tadi pagi setelah Dika berangkat. Jenny merasakan tak enak pada tubuhnya, dia mual saat mencium bau sabun dan nasi.
Lalu Bibi Maura, mengajak Jenny untuk memeriksakan diri ke Klinik yang tak jauh dari rumah mereka. Dan betapa bahagianya Jenny, saat itu mendapati buah cintanya dengan Dika.
"Kita akan mengumumkan ini besok," putus Dika, di jawab anggukan Jenny.
"Ayok kamu harus banyak istirahat," ajak Dika.
Walau belum ada cinta pada Jenny, tapi dia akan memperlakukan Jenny dengan baik. Apalagi, kini dia sedang mengandung calon anaknya.
tbc...
__ADS_1