
Berpuluh menit kemudian, Aaron dan Miska sudah sampai di bandara. Membuat Miska langsung lemas seketika, dia mengatur napasnya agar tenang.
"Miska ayok, nanti keburu berangkat pesawatnya." Pekik Aaron, dia tidak memakai embel-embel ka pada Miska.
"Sebentar Aaron, kamu sudah membuat ku hampir jantungan." Kesal Miska, dia pun turun dengan keadaan lututnya gemetar.
Karena lama, Aaron pun meninggalkan Miska di belakang yang mengikutinya. Miska yang melihat Aaron pergi mencebik, dan ingin menendang bokong pemuda tersebut.
Aaron tiba di bagian informasi, dia ingin menanyakan keberangkatan menuju Singapura. Dan betapa kecewanya Aaron, pesawat tersebut sudah terbang beberapa menit yang lalu.
"Gimana?" tanya Miska.
"Sudah pergi ka Melinda sudah pergi ke Singapura." Jawab Aaron.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Miska.
"Kita pergi ke Singapura, aku khawatir sama ka Melinda." Putus Aaron, membuat Miska membulatkan matanya tak percaya.
"Apa?" pekik Miska.
"Sudah cepat ayok, sekarang ke rumah mu. Lalu ke rumah ku,"
Tanpa mendengar jawaban Miska, Aaron menarik tangan Miska. Membuat jantungnya tak aman.
"Jangan sampai dia jatuh cinta, pada adik sahabatnya." Gumam Miska dalam hati, menatap tangannya yang di genggam oleh Aaron.
Ada rasa hangat yang menelusup ke dalam hati, membuatnya menyunggingkan senyum tipis.
"Astaga apa yang aku pikirkan? Sekarang fokus ku mencari Melinda, bukan memikirkan cinta," batin Miska, menepuk keningnya.
Aaron melajukan mobilnya menuju rumah Miska, setelah Miska berkemas dengan cepat. Dia menuju rumahnya, untuk membawa baju dan juga uang.
Saat tiba di rumah, dia melihat Anyelir yang sedang bersantai.
"Aaron ada apa nak?" tanya Anyelir, melihat kekhawatiran di wajah sang anak.
Namun Aaron tak menanggapi ucapan sang ibu, hanya melirik sekilas lalu. Lari menuju kamarnya, dia mencari tas ransel yang selalu di bawa bepergian. Setelah mendapatkan keperluan untuk ke Singapura, Aaron memasukan beberapa helai baju dan celananya.
Anyelir yang melihat Aaron, tengah berkemas. Langsung menghampirinya.
"Kamu mau ke mana Aaron?"
"Aku mau ke Singapura ibu," sahut Aaron, dia menggendong tasnya. Lalu melihat isi rekeningnya cukup untuk bolak balik, Singapura Indonesia.
__ADS_1
"Singapura? Mau apa kamu ke sana?" sahut Ameera, dari ambang pintu.
"Iya nak kamu mau apa? Kenapa mendadak?" timpal Anyelir.
"Bukan urusan ka Ameera, maaf bu. Aku tidak bisa bilang aku pergi dulu," pamit Aaron, mencium Anyelir.
Anyelir di buat bingung, akan sikap Aaron pada Ameera. Anyelir menatap Ameera, namun Ameera hanya mengedikan bahunya acuh dan pergi begitu saja.
Anyelir menatap kepergian Aaron, menggunakan mobil yang dia kenal milik Miska. Sahabat dari Melinda, Anyelir memutuskan untuk menghubungi Dika dan menceritakan semuanya.
***
Sementara itu Melinda dan Axel, sudah sampai Singapura. Dan kini mereka akan menuju apartemen, milik Dika. Diaman dulu Melinda di besarkan oleh Dika di sana, dan sekarang apartemen itu tidak di jual atau di sewa.
Taxi membawa mereka ke pemakaman, yang hanya di isi oleh orang kaya saja. Dimana makam Jenny berada, Axel hanya mengikut langkah Melinda yang membawa bunga kesukaan sang ibu.
Dia tiba dia pusara Jenny, yang terawat. Karena baik Melinda atau Dika selalu memberikan uang pada pengurus makam, Melinda mengusap nisan Jenny.
"Mommy," lirih Melinda, membuat Axel menatapnya. Yang terlihat kuat, dan tegar. Nyatanya rapuh, dan butuh sandaran.
Axel mengusap lembut punggung Jenny, dia menatap Melinda yang tengah mengusap air matanya.
"Aku rindu, kenapa harus pergi? Tapi jika mommy tak pergi, maka aku yang ada di sisi Tuhan saat ini." Ujar Melinda tersenyum, menatap foto sang ibu.
Setiap tahun, Melinda tak pernah merayakan ulang tahunnya. Karena itu bertepatan dengan kondisi Jenny memburuk saat itu, Melinda kembali mengusap air matanya. Kini dia memeluk nisan sang ibu, dan menangis tersedu-sedu.
Kurang lebih sepuluh menit di sana, Melinda memutuskan untuk pamit pulang dan berjanji akan datang lagi. Melinda mengajak Axel, pulang tapi sebelum pulang dia ingin berbelanja kebutuhan dapur selama mereka ada di sini.
Tanpa Dika tahu, Melinda memiliki usahanya sendiri di Singapura. Selama kuliah, diam-diam Melinda mendirikan penginapan di sekitaran tempat liburan.
"Kita mampir dulu ke supermarket," kata Melinda pada Axel.
"Ya boleh, aku tahu kamu tidak akan menelantarkan aku dalam keadaan lapar." Ujar Axel, membuat Melinda memutar bola mata malas.
"Kalo boleh tahu, makam ini milik ibu mu?" tanya Axel.
"Ya, ibu kandung ku." Balas Melinda.
Tanpa di minta Melinda menceritakan apa yang terjadi pada Jenny.
"Ibu mu tidak salah, dia mempertahankan apa yang berharga dalam hidupnya. Dia tahu, bahwa Dika ayah mu mungkin belum mencintai ibu mu saat itu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu Melinda, ibu mu mempertahan kan mu. Pertama karena cintanya pada Dika, dan tak tega pada kandungannya jika harus di gugurkan. Kedua ibu mu, ingin ada generasi mu yang selalu ada untuk Dika." Tutur Axel, walau menurutnya sangat aneh penjelasannya. Tapi itu yang dia tangkap dari cerita Melinda.
Jika Jenny apa yang berharga dari dirinya di pertahankan, dan itu adalah benih dari orang yang dia cintai yaitu Dika. Terlepas Dika, mencintainya atau tidak..
__ADS_1
Melinda tak menjawab, dia hanya menatap keluar jendela. Mengingat setiap kenangan saat bersama Dika, memang banyak hal yang dia lalui.
Axel mengusap lembut bahu Melinda, dan tersenyum manis.
"Ada aku, kamu jangan khawatir. Aku akan melindungi mu, saat semua orang menjauhi mu." Ujar Axel.
Melinda tersenyum tipis dan mengangguk sebagai jawaban, dua puluh menit perjalanan mereka sampai di supermarket yang tak jauh dari apartemen milik Dika dulu.
Melinda langsung menuju tempat sayuran, ikan, daging dan perbumbuan. Tak lupa juga, dia membeli perlengkapan mandi, membeli minuman kemasan dan juga beberapa cemilan. Setelah selesai, Melinda menuju kasir.
"Biar aku yang bayar," sela Axel, saat Melinda akan mengeluarkan kartunya.
"Tidak usah, biar aku saja. Uang ku masih cukup kok!"
"Tidak aku saja," tegas Axel tak dapat di tolak.
***
Sementara itu Dika, yang mendapat kabar Aaron pergi ke Singapura. Di buat heran mengapa putranya ingin pergi ke sana?
Dengan segera Dika membereskan pekerjaannya, biarlah dia akan mengerjakan di rumah saja.
Saat menuju parkiran, dia melihat motor Aaron berada di sebelah mobilnya. Dika memutuskan untuk bertanya pada satpam.
"Tuan Aaron pergi bersama bu Miska, tuan." Beritahunya.
"Mereka pergi ke mana?" tanya Dika.
"Saya kurang tahu, mereka pergi ke mana. Tapi yang saya dengar, mereka akan pergi mencari Melinda. Karena seharian ini nona Melinda tak ada di ruangannya," jelas satpam.
"Baiklah terima kasih," ucap Dika, dia masuk ke dalam mobil dan menghela napas dengan pelan.
"Sebenarnya kamu kenapa Melinda? Daddy tak mengerti dengan mu, kamu banyak berubah." Gumam Dika.
Dia mencoba menelepon nomor Melinda, panggilan di tolak.
"Melinda," desis Dika.
"Jangan buat daddy khawatir nak."
Aaron dan Miska, kini sedang berada di pesawat. Miska membawa semua barang-barang milik Melinda, bagi Aaron perjalanan udara kali ini sungguh sangat lambat.
Dia tak sabar segera sampai, dan memastikan sang kakak baik-baik saja. Kakak yang dia sayangi, walau dia juga menyayangi Ameera. Tapi Melinda lah yang selalu melindunginya saat kecil, bahkan saat yang lain pergi dia dan Melinda berada di rumah Laura.
__ADS_1
****
Semoga suka, maaf typo 💜💜