
Acara lamaran berjalan dengan lancar, Maira mana bisa menolak melihat kebahagiaan di wajah neneknya Wina. Maira pasrah, dia hanya berharap jika nanti dia bisa mencintai Rumi.
Dan pandangannya bertemu dengan Prisil, yang tersenyum manis sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia juga datang dengan asistennya Rumi, Ryan.
"Hii... Dasar, Prisil juga udah tau dari tadi? Awas aja kamu Sil," gumam Maira, menatap Prisil yang mengatupkan kedua tangannya dan memegang telinga tanda minta maaf.
Lalu Wina mempersilahkan tamunya untuk makan, karena meja makannya tak muat. Terpaksa semua makanan di bawa ke ruang tamu, mereka makan dengan duduk lesehan.
Rumi sendiri sibuk dengan ponselnya, karena sejak tadi Feli terus melakukan panggilan video. Bahkan saat acara pemasangan cincin, Feli meminta Keanu mengarahkan ponsel Rumi kepada Rumi dan Maira.
Dan kini Feli sedang berbincang dengan Maira, dia berjanji akan datang saat hari pernikahan.
"Iya ka, terima kasih." Ucap Maira, sungguh dia sangat bahagia. Memiliki calon ipar yang baik seperti Feli, di pikirannya dia akan dapat ipar dan mertua yang galak. Tapi berbanding terbalik, dengan pemikirannya selama ini.
Malam semakin larut, keluarga besar Rumi berpamitan untuk pulang.
"Kamu hutang penjelasan sama aku Sil," bisik Maira, Prisil hanya menyengir menunjukan giginya yang rapih.
"Aku pulang dulu Mai, bye." Pamit Prisil, tanpa menanggapi ucapan Maira. Membuat Maira berdecak kesal.
Di dalam mobil Prisil dan Ryan, mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.
"Kapan kamu mau di lamar?" tanya Ryan.
Mereka sudah menjadi sepasang kekasih beberapa menit sebelum mereka tiba, di rumah Maira. Dan Prisil pun menerima Ryan, karena menurutnya Ryan baik. Walau tak sekaya Rumi, tapi Prisil yakin Ryan akan tanggung jawab pada dirinya.
"Secepatnya, jangan terlalu lama." Balas Prisil dengan lancar.
"Serius?"
"Iya, kalau perlu. Satu minggu dari sekarang kamu melamar ku jika memang kamu serius," papar Prisil.
"Oke baiklah, aku akan segera memberitahu orang tua ku. Untuk segera datang ke rumah mu," ujar Ryan dengan antusias.
.
.
.
.
Satu minggu berlalu, hari ini adalah hari di mana acara pernikahan Anyelir dan Dika. Dengan paksaan dan rengekan Dela, yang membuat Dika kesal dan pusing dengan ulah keponakannya tersebut. Akhirnya Dika memutuskan untuk akad dan resepsi sekaligus, mereka melakukan resepsi di hotel dulu dimana Dika dan Jenny menikah.
Dika menatap tajam Dela, yang sedang membantunya bersiap.
"Emang kamu gak ada kerjaan lain apa Del?" tanya Dika.
"Gak ada uncle, makanya aku bantu-bantu disini." Kilahnya, padahal dia ingin memastikan tampilan Dika sempurna.
__ADS_1
Dika menghembuskan napasnya dengan pelan, membiarkan keponakannya melakukan apa pun yang dia mau. Beruntung Maira memiliki Rumi, jadi dia tidak terlalu pecicilan.
"Beruntung WO-nya mau kita sewa, hanya dalam waktu dua malam saja." Ujar Dika menatap Dela yang hanya tertawa.
"Ayok kata panitia sudah siap semuanya," kata Dela, dia melihat kembali penampilan Dika yang sudah sempurna dan tampan.
Dela memeluk Dika, dan terisak kemudian. Tak peduli jika riasannya akan luntur, Dika mengeratkan pelukannya pada Dela. Selalu bersama dari masih kecil, membuat Dela, Dika dan Maira dekat satu sama lain.
"Udah jangan nangis, jelek tau." Ledek Dika, mengusap sudut matanya.
"Aku nangis karena bahagia, akhirnya paman ku yang tampan ini sold out juga." Tawa Dela, namun dia masih mengeluarkan air matanya.
"Kita masih bisa ketemu Del, kamu dekat dengan Anyelir. Apalagi si kembar selalu nempel pada Melinda," kata Dika, di jawab anggukan oleh Dela.
Pintu di ketuk dari luar, Yumna datang bersama Tatiana.
"Astaga... Kok masih di sini sih? Ayok cepat, penghulu sudah menunggu." Kesal Yumna.
"Anak mu nih, yang godain aku terus." Ujar Dika, membuat Dela cemberut.
"Ayok udah." Yumna menarik tangan Dika, dan Dela mengikutinya di belakang.
Sesampainya di ballroom, Dika menatap ke sekeliling. Mengingatkannya pada Jenny, Yumna menepuk pundak Dika dan mengusapnya dengan pelan. Yumna tahu, bahwa Dika tengah mengingat kenangannya dengan Jenny.
"Bismillah Dik," bisik Yumna, di jawab anggukan oleh Dika.
Dela sudah duduk bersama Auriga dan anak-anaknya, yang sudah cantik dan tampan. Dengan pakaian kompak, Dika duduk berhadapan dengan penghulu. Yang menjadi wali untuk Anyelir adalah wali hakim dari KUA, dengan saksi Mario dan Jimi.
Kini Anyelir dan Dika resmi menjadi pasangan suami istri, Anyelir pun datang bersama Laura dan Sekar. Anyelir mencium punggung tangan Dika dengan takzim, begtu juga Dika yang mencium keningnya dengan sayang.
Melinda dan Ameera bertepuk tangan dengan antusias, kedua anak itu sungguh bahagia. Akhirnya mereka menjadi keluarga, dan saling berpelukan.
Dela yang melihat itu pun menyunggingkan senyumnya, dia mengusap kepala Melinda dengan sayang. Bayi merah dan mungil yang dulu dia susui, kini sudah menjadi gadis kecil yang cantik.
"Selamat ya Melinda, udah punya ibu." Kata Dela, mencium pipi Melinda.
"Terima kasih ka Dela," balas Melinda, Ameera yang berharap di cium pun hanya menatap sedih pada Dela. Tak ada yang mengucapkan padanya juga, padahal dia juga punya ayah baru.
Namun rasa sedihnya hanya sesaat, Ameera kembali ceria. Jika kini dia masih biasa saja, tidak menutup kemungkinan saat dewasa dia akan menjadi iri pada Melinda.
Setelah melakukan penandatangan pada buku nikah, dan juga penyematan cincin. Kini saatnya untuk sesi foot berdua dengan kebaya, berwarna putih. Setelah selesai, Dika dan Anyelir berjalan menyapa para tamu. Yang kebanyakan adalah rekan kerja Dika, Mario dan Jimi. Sisanya mungkin adalah pegawai cafe Anyelir, yang khusus hari ini libur dan besok buka dengan memberikan diskon.
"Mbak Anye, selamat ya! Akhirnya udah ada yang nemenin tidur," goda salah satu pegawai Anyelir, membuat Anyelir tersipu malu.
"Cie... Malu nih," kekeh mereka kompak, Dika membiarkan Anyelir bersama pegawainya. Anyelir tak hentinya do goda, dan salah satu dari mereka memberikan kado.
"Pake yah mbak, kalo gak di pake. Berarti mbak Anye gak menghargai kita," ujarnya.
"Iya.. iya akan saya pakai, sudah saya keliling lagi. Makasih ya kadonya," ucap Anyelir, di jawab anggukan oleh mereka.
__ADS_1
Dika dan Anyelir pun kembali menyapa para tamu, lalu Melinda meminta di peluk oleh Dika dan mengucapkan kata selamat dan manis, membuat Dika terharu.
Dari jauh Alderik hanya melihat kebahagiaan Dika dan Anyelir, lalu melihat ke arah Tara yang tersenyum lebar. Ingin rasanya Alderik menghampiri sang anak, namun dia sadar jika dia akan menambah luka hati sang anak dan berakhir membuat kekacauan di acara pernikahan Dika.
"Daddy merindukan mu Tara," lirih Alderik, lalu meninggalkan ballroom tersebut dengan perasaan sesak.
Tara mengetahui kehadiran Alderik, namun dia sangat enggan untuk bertemu dengan ayahnya tersebut, bukan enggan. Lebih tepatnya dia belum siap sama sekali, untuk berhadapan kembali dengan sang ayah.
Biarlah waktu yang akan menjawab semua ini, dan menyembuhkan lukanya.
"Maafkan aku dad," isak Tara, dan langsung memeluk bibi Maura.
"Sudah, ini hari bahagia Dika. Kamu jangan nangis sayang, daddy mu sudah pergi. Dan dia berjanji tak akan menganggu mu," papar Bibi Maura, di jawan anggukan oleh Tara.
Setidaknya dia tidak bertemu dengan Alderik, dan sekarang perasaannya sudah baik-baik saja. Tara di bantu bibi Maura, membersihkan make-upnya.
****
Malam pun tiba, acara resepsi pernikahan Dika dan Anyelir banyak di datangi oleh tamu dan juga selebgram. Tepat pukul sembilan malam, acara tersebut sudah selesai dan seluruh anggota keluarga sudah masuk ke kamar hotel masing-masing. Yang di sewa oleh Dika, untuk seluruh anggota keluarganya.
"Astaga mereka ini, apa yang mereka kasih ini?" tanya Anyelir, memperhatikan baju kurang bahan tersebut.
Kini Dika dan Anyelir berada di kamar, yang selalu di gunakan untuk malam pertama.
"Di pake yah mbak, kalo engga kita akan marah. Jangan lupa kasih bukti jika mbak udah pakai,"
"Hah... Mereka ini menyebalkan," dengusnya, pada akhirnya Anyelir pun memakai pakaian kurang bahan tersebut.
Dia berjalan keluar dari kamar mandi, dengan jantung berdebar seperti terkena serang jantung. Padahal dia sedang gugup saja, untuk melakukan malam pertama setelah tiga tahun lamanya.
Pintu terbuka, pandangan Dika tak lepas dari pintu kamar mandi.
"Ayok sayang kamu mau keluar apa engga?"
"Ta-tapi aku malu," sahutnya.
"Kenapa malu? Aku suami mu, atau perlu aku gendong?" goda Dika.
"Iya... Iya aku keluar,"
Anyelir berjalan dengan pelan, dia berusaha menutupi dada dan bagian intim yang menerawang.
"Tau begitu gak usah pakai baju," gerutunya dalam hati.
Dika terpana saat melihat tampilan Anyelir, yang seksi dengan lingeri berwarna hitam. Yang memperlihatkan hampir lekuk tubuhnya, rambutnya di gerai dan polesan make-up tipis. Membuat gairah Dika bangkit.
"Aku gak bisa menunggu sayang, aku mau sekarang." Bisik Dika, setelah membawa Anyelir duduk di pangkuannya. Sungguh Anyelir pun merasakan milik Dika yang mengeras, di bawahnya.
Dan malam itu tanpa banyak kata, Anyelir memulai semuanya. Lalu Dika yang mendominasi, sama-sama menuju puncak kenikmatan.
__ADS_1
****
Semoga suka, maaf typo 💜