
Beberapa bulan berlalu, minggu ini minggu di mana Melinda mendekati hari persalinan. Anyelir dan Dika lebih sering menemani sang anak di rumah milik Axel, terkadang Melinda yang berada di rumah Dika.
Ameera pun sedang dalam perjalanan pulang dari liburannya, lebih tepatnya perjalanan dinas Azriel ke Singapura. Dan kini Ameera sedang hamil kembali, usia kandungannya menginjak tiga bulan beruntung Ameera tak kepayahan saat hamil. Malah napsu makannya meningkat pesat, sedangkan untuk Lula dia sudah menikah.
Lula menerima lelaki yang di jodohkan oleh orang tuanya dan akan belajar mencintai suaminya, dan beruntungnya lelaki tersebut sangat menyayangi Lula. Mahira sendiri dia tak bisa melakukan apa pun, saat orang tuanya mengetahui dia menyukai Aaron yang sudah memiliki kekasih. Bahkan Rumi, berencana mengirim Mahira ke Korea dan tinggal bersama kakaknya Feli.
"Sayang," panggil Axel yang melihat Melinda mengelus lembut perutnya, Melinda melirik sekilas dan tersenyum.
"Kamu baik-baik saja?"
"Mulas sedikit, kayanya dia gak sabar mau lihat ayahnya." Kekeh Melinda masih bisa bercanda.
"Mommy kapan berangkat liburan?" tanyanya pada Axel.
"Katanya setelah lihat cucu kembarnya lahir," ujar Axel, Melinda pun mengangguk.
"Ayok kita ke sana, aku kangen Ibel. Sama adik-adik ipar ku," kekeh Melinda.
Pasalnya Melinda sangat senang jika Alsaki, Elena dan Gia berantem yang tak penting lalu di tambah Alvir yang pasrah saja.
"Dasar kamu ini." Axel mencubit pipi Melinda dengan gemas, sementara Melinda bersiap Axel menyiapkan keperluan Melinda dan perlengkapan bayi. Jaga-jaga Melinda akan melahirkan saat di tempa sang ibu, semua perlengkapan bayi kembar dan baju Melinda sudah siap.
"Ayok sayang aku udah siap," kata Melinda, keluar dengan baju hamil bermotif bunga berwarna biru muda.
"Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh." Tegur Axel, dia pun menuntun Melinda untuk duduk terlebih dulu di sofa yang berada di dekat jendela. Melinda setiap sore, senang memandang keluar jendela.
"Aku terlalu semangat, buat ketemu Ibel." Kekehnya, membuat Axel menggeleng lalu dia masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian ke yang lebih santai. Axel sendiri sudah cuti bekerja, dia mengajukan cuti pada sang kakek langsung yaitu tuan Samanta Johnson.
Berpuluh menit kemudian, Melinda dan Axel sudah sampai di kediaman Johnson. Barang-barang untuk bayi, Axel tinggal di dalam mobil agar memudahkan, jika nanti Melinda merasakan kontraksi sementara keperluan dirinya dan Melinda dia bawa masuk. Beserta makanan yang dia bawa, saat masuk Melinda di sambut oleh Velia dan Elena, lalu Melinda masuk ke kamar Ibel yang berada di lantai dua. Dengan pelan dan hati-hati Melinda menaiki tangga.
"Sayang tante kangen loh," kata Melinda pada Ibel, yang sedang tengkurap di karpet bulu lembut. Lalu dia memeluk Freya. Karena Ibel, lebih fokus pada mainannya. Karena sudah berumur satu tahun, Ibel memang agak susah di dekati oleh orang yang lama tak dia jumpai.
"Kapan lahir?" tanya Freya, kini mereka berada di kamar Ibel yang berdekatan dengan kamar orang tuanya. Freya merawat sendiri Ibel, tanpa bantuan baby sitter.
__ADS_1
"Satu minggu lagi, bisa maju bisa mundur. Itu kata dokter aku harap sih secepatnya udah berat," kekeh Melinda.
"Iya lah kembar, aku juga mau punya kembar. Tapi satu aja bikin pusing kalo nangis," ujar Freya menatap sang anak.
"Iya prosesnya aja yang enak sih," celetuk Melinda, membuat mereka berdua tertawa.
Lima menit kemudian, Melinda mendengar suara Alsaki. Dia meminta semua orang untuk berkumpul di ruang tengah, Axel datang dan menuntun Melinda turun. Freya dan Ibel sudah lebih dulu di depan mereka.
"Santai saja, paling dia mau bermanja sama mommy." Celetuk Axel, membuat Melinda tertawa.
Sesampainya di ruang tamu, Melinda melihat Alsaki yang sedang merangkul Velia. Sedangkan Elena, Gia dan Ello sudah duduk manis. Setelah berbasa-basi, Alsaki dan Elena memberikan kejutan pada seluruh anggota keluarganya tentang kehamilan Elena dan Gia.
"Selamat," seru Melinda, dia mengelus lembut perutnya yang terasa kencang.
Ponsel Melinda berdering, pesan dari Miska bahwa Aaron melamarnya.
"Aku harus gimana Mel? Aku bingung, aku mau jauhin dia tapi Aaron selalu mengancam ku. Buat sakiti keluarga aku, tapi aku tahu dia gak akan berbuat macam-macam. Di sisi lain, aku gak pantas untuk menjadi menantu di keluarga kamu aku terlalu tua untuk adik mu Mel." Ujar Miska dalam pesannya.
Melinda mengehela napas dengan pelan, dia pun tak tahu harus menjawab apa. Apa Dika tahu? Jika tidak, mereka akan dalam masalah di kemudian hari. Dia tak habis pikir dengan Aaron dengan tindakannya tersebut.
"Dia datang sendiri, dan sekarang sedang berhadapan sama ibu ku Mel. Apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu terima aja Mis, aku dan Axel yang akan jadi saksi kalian saat menikah. Kamu jangan khawatir, ada aku dan Axel jika daddy dan ibu menolak mu." Balas Melinda.
Setelah menunggu lima menit, tak ada balasan pesan dari Miska. Namun ada pesan masuk dari sang adik, bahwa dia akan menikah siri terlebih dulu dengan Miska di kediaman Miska. Dan meminta Melinda untuk datang malam ini, Melinda menyetujui untuk datang. Sebagai kakak tertua dia akan hadir untuk mewakili keluarganya yang tak bisa datang, karena Aaron ingin Miska di terima lebih dulu oleh seluruh keluarga besarnya.
Tak lupa Melinda pun memberitahu Ameera, dan Ameera pun berjanji akan datang dan mendukung sang adik.
"Kenapa?" tanya Axel, sejak tadi menatap sang istri yang termenung. Dia khawatir kalau Melinda sedang merasakan kontraksi.
"Aku baik-baik saja, hanya saja. Aaron akan menikah malam ini," jujur Melinda.
"Lalu, apa masalahnya?"
__ADS_1
"Masalahnya Miska ragu, karena gak ada restu dari daddy dan ibu. Tapi aku janji akan datang sebagai kakak dari Aaron," kata Melinda.
"Iya kamu sudah benar sayang, kamu harus mendukung Aaron dan Miska. Jangan sampai Aaron merasa sendiri, kamu jangan khawatir aku akan mendukung mu." Papar Axel, memeluk Melinda agar tenang.
"Terima kasih, karena selalu ada untuk ku Axel."
Melinda memeluk Axel dengan erat, enggan untuk melepaskannya. Walau kerikil kecil selalu hadir dalam rumah tangga mereka.
***
Di rumah Miska, semua persiapan untuk pernikahan secara agama sedang di lakukan. Mereka hanya mengundang tetangga dekat, rt dan rw dan pemuda, pemudi setempat agar jika Aaron menginap tak terjadi kesalah pahaman.
"Kamu sudah yakin?" tanya ibunya Miska.
"Iya Ma," jawab Miska dengan ragu, sang ibu mengetahui alasan mengapa harus menikah secara agama terlebih dulu. Aaron dan Miska sepakat tidak akan ada, yang mereka sembunyikan dari ibunya Miska.
Dengan alasan sering keluar kota bersama, akhirnya ibunya Miska memberikan izin pada mereka untuk menikah dengan wali adiknya Miska. Yang baru tiba dari Bandung.
Ibunya Miska, mengusap lembut pundak sang anak.
"Mama selalu berdoa yang terbaik untuk mu Mis, kamu sudah banyak berkorban kebahagiaan mu untuk mama dan adik mu Denis." Kata sang ibu.
"Mungkin ini saatnya kamu meraih kebahagiaan mu bersama dengan Aaron, jangan pernah dengarkan apa kata orang tentang perbedaan kalian berdua. Yang akan menjalani rumah tangga ini adalah kamu dan Aaron," ujar sang ibu, Miska pun hanya mengangguk tak lama seseorang mengetuk pintu kamar.
Aaron menyewa make-up profesional, untuk memberikan riasan pada wajah Miska. Tak lupa dia pun menyewa kebayanya, walau serba dadakan. Tapi Aaron ingin memberikan yang terbaik, untuk calon istrinya tersebut.
"Mama keluar dulu, kamu harus tampil cantik." Kata sang ibu.
"Iya bu," sahut Miska.
"Silahkan mbak-mbak, masuk." Ujar ibu Miska pada tukang rias.
****
__ADS_1
Jangan lupa vote