Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.49


__ADS_3

Keesokan paginya, sudah menjadi rutinitas setiap pagi. Reen menyiapkan sarapan, baju kerja Arjun dan juga bekal makan siang untuk Arjuna. Tak peduli laki-laki yang menjadi suaminya itu memakannya atau tidak, yang penting dia sudah melakukan kewajibannya sebagai istri.


Tapi kali ini dia kesiangan dan tak sempat membuat sarapan, hanya mengolesi roti dengan selai coklat. Arjuna pun masih terlelap dalam mimpi, membuat Reen mendengus dengan kasar.


"Sayang... Bangun ini udah siang, memang kamu gak ke kantor?" tanya Reen masih bersikap lemah lembut.


Arjuna menggeliat dan mengerjapkan matanya, dan kembali memeluk guling.


"Arjuna." Panggil Reen.


"Sebentar Mel, bukannya hari ini kita akan ke luar kota bersama." Celetuk Arjuna, entah sengaja atau tidak. Dia memanggil Melati pada Reen.


Membuat Reen memundurkan langkahnya, lalu keluar dari kamar membanting pintu dengan keras. Berharap Arjuna bangun, dan ya. Usahanya berhasil dia bangun dan menatap pintu yang tertutup, dia pun tersadar dan merasa bodoh telah keceplosan di depan Reen.


"Bodoh... Bodoh," umpat Arjuna memukul mulutnya.


Dia bergegas membersihkan diri, beberapa menit kemudian. Dia sudah rapih dengan setelan jas berwarna hitam, dan membawa koper kecil. Reen yang melihat itu pun hanya acuh tak acuh, melanjutkan menikmati sarapannya.


"Sayang... Selama satu minggu ini, aku akan pergi keluar negeri. Kamu gak papa di sini sendiri?" tanya Arjuna.


"Setiap malam aku selalu sendiri, aku baik-baik saja." Jawab Reen dengan dingin, Arjuna pun menyadarinya.


"Sayang maafkan aku, aku..."


"Cukup tak perlu di jelaskan, aku sudah tahu." Sela Reen, dia beranjak dari duduknya lalu masuk ke ruang cuci. Begitulah dia setiap hari setelah menikah, dan berhenti kerja Arjuna menghela napas dengan pelan.


"Aku berangkat sayang," pamit Arjuna, namun tak ada jawaban dari Reen.


Setelah mendengar pintu tertutup, Reen menatap sarapan dan kopi milik Arjuna yang belum di sentuh sama sekali. Lalu dia membantingnya ke lantai.


"Aaa... Apa salah ku? Kenapa kamu tega sama aku, Arjuna. Kenapa?" teriak Reen, air matanya tak bisa dia tahan. Sakit hatinya sungguh sakit, Reen pun memutuskan untuk mengikuti kemana Arjuna pergi.

__ADS_1


Reen pun menghubungi temannya, yang bekerja di kantor Arjuna. Dan mendapatkan info, bahwa Arjuna akan pergi ke Bali bersama Melati.


"Reen, lo harus tahu. Pekerjaan di Singapura hanya satu hari, tapi menurut info mereka pergi selama satu minggu." Lapor teman Reen, yang bernama Marcel.


"Terima kasih infonya Cel," ucap Reen.


"Sama-sama Reen, gue kerja lagi." Pamit Marcel.


Reen menyimpan ponselnya di dashboard mobil, dan bersiap untuk ke bandara. Dia hanya membawa beberapa helai baju, karena tak berniat lama. Setelah mendapatkan bukti dia akan kembali ke Bandung, atau perlu dia akan ke Jakarta dan tinggal bersama sang ibu.


Namun pertengahan jalan, dia mengurungkan niatnya. Lalu memutar balikan mobilnya menuju suatu tempat, untuk menenangkan diri entah akan seperti apa ke depannya. Rumah tangga yang dia jalani, dengan penuh kepalsuan.


Ruangan Arjuna


"Sayang," panggil Melati.


"Aku kangen loh," lanjutnya lagi.


"Semalam kamu gak nginap, jadi aku kangen banget sama kamu. Kamu janji kan akan bawa aku pergi ke Singapura?" tanya Melati, namun Arjuna malah melamun menatap hingar bingar kota Jakarta dari lantai lima perusahaannya.


"Ini salah... Semuanya salah Mel, kita harus berhenti sampai di sini. Aku gak mau menyakiti Reen lebih dalam dan lama," jujur Arjuna, membuat Melati menatapnya tak percaya.


"Tapi kenapa? Setelah semua yang aku lakukan dan aku berikan untuk mu, begini balasannya?" pekik Melati, menahan marah.


"Aku kan sudah bilang kita hanya patner ranjang saja, tanpa melibatkan perasaan." Tekan Arjuna.


"Gak bisa, aku udah terlanjur cinta kamu. Kamu sendiri yang sudah bosan sama istri kamu kan? Kamu bilang hanya main-main sama dia, kamu bilang hanya penasaran menaklukan wanita dingin seperti Reen." Teriak Melati.


"Melati pelan kan suara mu," Arjuna memberikan peringatan pada Melati.


"Biarkan saja... Biarkan semua orang yang ada di sini tahu, kalau kamu hanya pura-pura cinta sama Reen. Dan hanya penasaran saja padanya," bentak Melati terisak.

__ADS_1


Arjuna membawa Melati ke dalam pelukannya, agar wanita tersebut tenang dan tidak sampai melantur kemana-mana. Mereka ceroboh dan melupakan satu hal, sejak tadi pintu tak tertutup rapat dan seseorang sedang merekam mereka dan mengirimkannya pada Reen.


"Jika kamu dulu memilih ku, aku yakin kamu gak akan pernah tersakiti karena cinta." Ucapnya pada pesan tersebut, dengan cepat Reen membuka video itu dan mendengar percakapan antara Melati dan Arjuna. Membuat Reen memejamkan mata, dan merasakan kecewa yang mendalam.


Memang dulu dia sangat ketus dan judes, pada setiap lelaki. Tapi dia pun tak menyangka akan di jadikan mainan seperti ini, oleh Arjuna.


"Seharunya aku menolak mu dari awal Juna, karena aku pun ragu saat itu. Tapi melihat kebahagiaan dari mommy Zea aku tak tega," gumam Reen.


Dia pun memutar balikan mobil, menuju rumah yang selama tiga tahun dia tempati. Dengan aman, damai dan harmonis namun kini semuanya sudah berubah. Apalah artinya selama tiga tahun, pernikahan mereka Arjuna yang manis, penyayang dan setia. Nyatanya hanya omong kosong belakang, Reen naik ke lantai dua rumahnya dan mengeluarkan isi lemarinya. Memasukan barang-barangnya dengan cepat, lalu dia menulis surat untuk Arjuna.


***


Anyelir sendiri sedang sibuk memeriksa laporan keuangan yang di kirim oleh Sekar, melalui e-mailnya beruntung dia memiliki Sekar. Yang dapat membantu pekerjaannya, dan Jimi yang selalu mendukung sang istri.


"Ibu," rengek Ameera.


"Apa sayang?" tanya Anyelir, menatap sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada laptop.


"Aku mau ketemu Melinda lagi, di sini sepi. Gak ada teman," lirih Ameera.


"Sayang... Mungkin Melinda, sudah pulang ke Singapura." Anyelir memberikan alasan, karena dia tak ingin bertemu Dika.


"Tapi ibu, Melinda bilang dia gak akan ke sana lagi." Tutur Ameera, Anyelir menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Gimana kalo kita tanya dulu, sama daddy-nya Melinda. Apa masih di sini, atau sudah kembali." Usul Anyelir, di jawab anggukan oleh Ameera.


Anyelir pun mencoba menghubungi Dika, namun Dika tak kunjung menjawab. Dia perlihatkan pada Ameera, yang tentu saja kecewa.


"Mungkin papanya, Melinda sibuk sayang. Dia kan bekerja sama kaya ibu," jelas Anyelir.


"Baiklah, maafkan aku ibu." Ucap Ameera dengan lirih, Anyelir mengusap rambut sang anak dan menyelipkannya ke belakang telinga.

__ADS_1


"Tidak apa sayang, maafkan ibu yang sibuk. Sekarang kamu main sama Barbie dan boneka mu yah! Nanti ibu akan bawa Meera ke taman," ujar Anyelir, di jawab anggukan oleh Ameera.


****


__ADS_2