
Ryan terus mengikuti Rumi kemana pun lelaki dingin itu melangkah, ya kecuali ke toilet ya! Membuat geram Rumi, dan langsung menatapnya dengan tajam.
"Lo kenapa ikutin gue sih Yan? Kaya gak ada kerjaan aja," omel Rumi.
"Ya lagian, lo gak mau kasih tau gue. Kenapa lo tiba-tiba langsung melamar si Maira itu? Gue masih inget ya, dia bukan tipe lo." Cibir Ryan.
"Yan bisa diem gak? Kalo engga bisa, gue pecat lo jadi asisten." Ketus Rumi.
"Oke... Oke sorry bos," kekeh Ryan.
"Terus gimana lo sama Prisil?" tanya Rumi.
"Gimana apanya? Gue gak ada hubungan apa-apa sama dia, pas dia bangun gue langsung di marahin sama tuh cewek." Kesal Ryan, mengingat Prisil langsung menuduhnya yang tidak-tidak.
Rumi tertawa menatap sahabatnya yang kesal, Rumi menepuk pundak Ryan.
"Hati-hati benci dan cinta beda tipis bro!" kekeh Rumi.
"Kurang ajar lo, rese banget mentang-mentang udah mau sold out." Ketus Ryan.
Ponsel Rumi berdering, panggilan dari bunda Nia. Dengan segera Rumi menerima panggilan sang bunda.
"Ya bun," balas Rumi.
"Gimana lamarannya?" tanya Rumi tak sabar.
"Kata ayah, tuan Hito akan menanyakan dulu pada Maira. Karena bagaimana pun juga yang menjalani ini semua adalah Maira," beritahu bunda Nia, pada Rumi membuat Rumi mendesah dengan pelan.
Dia kira jika melalui ayah Maira, akan mudah. Nyatanya tak semudah yang dia kira.
"Kalo gitu kita langsung datang ke rumahnya saja bun, biar gak bisa nolak." Usul Rumi.
Di sebrang telepon bunda Nia nampak terdiam, dan membernarkan ucapan sang anak.
"Oke bunda setuju," jawab bunda Nia, membuat Rumi menghembuskan napasnya dengan pelan. Beruntung memiliki bunda yang bisa di ajak kerja sama, bunda Nia menutup panggilannya.
"Ayok cepat bereskan semua kerjaan, gue ada urusan penting abis ini." Kata Rumi, dengan pasrah Ryan menurut dia tidak bisa bertanya lebih lanjut pada Rumi.
****
Karena tak ada balasan dari Dika, Alderik terpaksa bertemu dengan Dika di perusahaan milik Mario.
__ADS_1
"Maaf tuan anda belum membuat janji," ujar resepsionis.
"Kamu tidak tahu saya siapa?" bentak Alderik.
"Maaf tuan saya tahu, tapi peraturan perusahaan memang seperti itu. Jika belum membuat janji kami berhak melarang tamu masuk," tegas resepsionis.
"Akhhh... Sial, bilang pada Dika. Aku Alderik kakek dari Melinda datang dan temui saya sekarang juga," perintah Alderik.
"Baik."
Resepsionis tersebut menghubungi Mona, untuk meminta Dika turun ke lobby karena mertuanya ada di bawah. Mona pun langsung menyampaikan semuanya pada Dika, membuat Dika kesal.
Dan saat itu juga Melinda, Anyelir dan Ameera menghampiri Dika ke perusahaannya. Atas permintaan Melinda saat tiba di lobby, Melinda senang karena Dika sudah ada di bawah tengah berbicara dengan seseorang.
"Daddy," pekik Melinda, Dika langsung melihat Melinda dan tersenyum ke arahnya.
Dika menyambut pelukan sang anak, yang memeluknya dengan erat. Seperti biasa Melinda selalu mencium pipi Dika, Anyelir yang melihat adegan ayah dan anak itu sudah mulai terbiasa dan tersenyum.
Alderik sudah berkaca-kaca, untuk pertama kalinya melihat Melinda. Dia begitu mirip dengan Jenny saat masih kecil.
"Melinda," lirih Alderik.
"Daddy kenapa kakek ini menangis," bisik Melinda.
"Kakek itu senang ketemu sama Melinda," jawab Dika.
"Boleh kakek peluk kamu nak?" pinta Alderik, dia sudah berjongkok agar menyamakan tingginya dengan Melinda.
Melinda melirik pada Dika, untuk meminta persetujuan ayahnya tersebut. Walau berat, Dika harus memberitahu Melinda bahwa Alderik adalah kakeknya juga.
"Boleh sayang... Dia kakek mu," ungkap Dika.
"Benar dad?"
"Iya."
Melinda langsung berbalik dan memeluk Alderik, yang langsung pecah tangisnya. Alderik menangis sambil memeluk Melinda, dia memanggil-manggil nama Jenny.
Melinda yang bingung pun, ikut menangis karena Alderik memanggil nama Jenny yang Melinda tahu. Itu adalah nama mommy-nya, alhasil Melinda pun ikut nangis.
"Sayang tidak apa-apa, kakek hanya merindukan mommy." Kata Alderik menenangkan.
__ADS_1
"Kakek rindu mommy?" tanya Melinda.
"Iya kakek rindu mommy mu, juga tante Tara." Jujur Alderik melirik Dika.
"Kalau gitu, ayok kita ke rumah tante Tara. Aku sama Ameera mau ke sana, benarkan ibu?" tanya Melinda pada Anyelir.
"I-iya sayang..." Jawab Anyelir gugup.
Alderik menatap Anyelir dan satu orang anak kecil yang berdiri di samping Anyelir.
"Jangan pernah ganggu mereka, Anyelir calon istri ku." Sahut Dika, dia tahu bagaimana liciknya Alderik. Dika hanya takut Alderik memisahkannya dengan Anyelir, sama seperti dulu Jenny memisahkannya dengan Anyelir.
Saat sebelum melahirkan Jenny menceritakan bahwa dia yang meminta Anyelir pergi dari hidup Dika, Dika yang mengetahui sebuah fakta tersebut merasa kecewa pada Jenny. Namun dia tak bisa marah, karena kondisi Jenny saat itu sangat lemah.
"Saya tidak akan memisahkan mu dengannya, karena dia yang pantas untuk menjadi ibu sambung Melinda." Jujur Alderik, dia telah mencari tahu tentang Anyelir.
Dika pun mengajak semuanya naik ke ruangannya, agar tak mengganggu para karyawan bekerja. Sesampainya di ruangan Dika, Melinda dan Ameera langsung dekat dengan Alderik. Dan bercerita banyak dengan sabar Alderik mendengarkan mereka
"Apa keputusan ku sudah tepat?" bisik Dika pada Anyelir.
"Ya, aku percaya kamu gak akan Setega itu pada ayah mertua mu." Kata Anyelir.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesan, kita makan di sini saja yah! Soalnya kerjaan ku masih banyak. Biar nanti malam cepat lamar kamu dan kita menikah secepatnya," ujar Dika mencium pipi Anyelir.
Anyelir yang sudah terbiasa degan peluk dan cium pun tak merasa canggung lagi, dia menoleh dan tersenyum pada Dika.
"Iya, aku dan Ameera sama kan saja dengan pesan mu dan Melinda."
"Baiklah, aku juga akan pesan untuk Alderik." Putus Dika.
Sesekali Alderik bertanya pada Anyelir, sepanjang hari mereka mengobrol seru bahkan Ameera dan Melinda di janjikan mainan oleh Alderik. Dan saat makan siang, Alderik merasa terharu Dika mau mengajaknya makan bersama.
"Terima kasih Dika," gumam Alderik, kini tujuan Alderik adalah mendapatkan maaf dari sang anak bungsu Tara. Anak yang dia telantarkan, karena menjadi penyebab sang istri meninggal. Tapi setelah kepergian Jenny dan Dika yang selalu, melarangnya bertemu dengan Tara membuat Alderik merindukan sosok anak perempuannya.
Tak terasa sore menjelang, Alderik masih bertahan di kantor Dika. Dika sendiri tak mempermasalahkan itu, dan dia pun tak merasa terganggu sama sekali. Dengan kehadiran mereka, malah membuat Dika semangat bekerja karena sesekali Melinda menyemangati dirinya.
Anyelir pun memeriksa hasil pemasukan dari cafenya lewat ponsel, dan untuk lamarannya dengan Dika. Sudah di siapkan oleh Sekar dan sudah beres, jadi setelah dari perusahaan Dika dia akan langsung pulang.
****
Semoga suka 💜
__ADS_1