
Kabar pertunangan Dika yang akan di laksanakan dua minggu lagi, pun sudah sampai pada Dela.
Dela berdecak kesal, kenapa Dika menerima wanita seperti Jenny.
"Aku gak habis pikir sama Dika, kok dia mau nerima wanita kaya gitu?" tanyanya pada Auriga, kini mereka tengah bersantai di balkon kamar mereka.
Sementara Lula dan Ara, mereka belum bangun. Cuaca dingin di perkebunan, membuat mereka enggan beranjak dari selimut hangatnya.
"Bisa-bisanya Dika, lupain Anyelir. Katanya mau berjuang," omel Dela, Auriga pun membawa Dela duduk di sisinya lalu memeluk Dela.
"Sudah sayang, jangan marah-marah terus. Nanti mood mu jelek," ujar Auriga.
"Tapi aku kesal," rengek Dela.
"Kalau mereka jodoh mau bagaimana lagi?"
"Kita doakan yang terbaik untuk mereka oke," lanjut Auriga.
Dela pun diam dengan wajah cemberutnya, dia menyandar pada dada bidang Auriga yang sangat nyaman. Entah mengapa, kini dia ingin Auriga mengusap perutnya.
"Sayang," panggilnya manja.
"Hemm..."
"Elus perut ku dong," pinta Dela.
Auriga pun menurut mengelus, perut rata Dela. Berharap akan segera tumbuh anak laki-lakinya.
"Sepertinya kamu harus segera tes kehamilan sayang," cetus Auriga.
"Memang kenapa?"
"Kamu sudah lama tidak datang bulan kan?"
"Iya harusnya minggu lalu, tapi ini mau satu bulan aku belum datang bulan." Ujar Dela berpikir.
"Pulang dari sini, kita periksa." Putus Auriga, Dela pun mengiyakan lalu meminta Auriga mengelus kembali perutnya.
***
Sementara itu Anyelir tidak berjualan dulu, karena harus mengurus kepulangan Sekar pagi ini. Setelah dokter melakukan pemeriksaan yang terakhir.
"Aku banyak merepotkan kamu Cinta," lirih Sekar, kini dia pun sudah nampak segar dan infus pun sudah habis.
"Tidak masalah bu, aku sudah menganggap kalian seperti keluarga ku. Karena kalian, yang membantu ku saat datang pertama kali ke sini." Papar Anyelir.
Dia pun sudah selesai menata sarapan untuk mereka berempat, Anyelir memberikan bubur pada Sekar. Kemudian dia membangunkan Lilya dan Adam.
"Cuci muka dulu, abis itu kita sarapan bersama. Ka Cinta udah beliin kalian bubur," ujar Anyelir.
"Baik ka," jawab Lilya dan Adam kompak.
Tepat pukul delapan, Sekar sudah di bolehkan pulang. Anyelir pun membayar biaya selama Sekar di rawat, dan menebus obat. Sekar dan anak-anak pulang menggunakan becak, sedangkan Anyelir dia berjalan kaki.
Anyelir meminta Sekar dan anak-anaknya, untuk tinggal di rumahnya sementara. Agar Anyelir mudah memantau mereka sekaligus.
Beberapa menit kemudian Anyelir sudah sampai, dan betapa terkejutnya dia bertemu kembali dengan Dela. Lengkap dengan kedua anak Auriga, mereka baru kembali dari pasar minggu.
__ADS_1
"Astaga... Bagiamana ini? Apa aku putar balik saja? Tapi jika putar balik, kentara banget. Kalau aku jauhi mereka," batin Anyelir, namun dia memutuskan untuk berjalan saja.
Saat Anyelir keluar dari gang, dan otomatis mereka berpapasan, Anyelir pun mengangguk dan di balas pula oleh Dela dan Auriga.
"Tunggu," suara Dela, menghentikan langkah Anyelir.
Anyelir pun berbalik, dan menyunggingkan senyumnya.
"Iya, ada apa?" tanya Anyelir, berusaha menormalkan rasa gugupnya.
"Kamu yang namanya, Cinta kan?" tanya Dela, dia sudah tau dari Auriga.
"I-iya."
"Oh... Syukurlah, kita bertemu di sini. Tadi aku kerumah mu, dan maaf waktu itu. Aku sempat menuduh mu, pacar dari paman ku," kekeh Dela.
"Bunda ayok, kita sambil jalan saja." Panggil Lula, yang sudah jauh di depan bersama Ara.
"Lebih baik kita sambil jalan saja," ajak Auriga pula, dia pun berjalan paling belakang mempersilahkan Dela dan Anyelir di depan bersama Lula dan Ara.
"Warga sini bilang, kamu pandai masak dan masakannya enak. Aku jadi ingin coba," ujar Dela.
"Boleh, nanti saya kirim ke Vila anda nona."
"No... Kamu masak, di Vila kami." Cetus Dela.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi," tegas Dela.
"Maaf nona, bukan saya menolak. Kerabat saya sedang sakit, dan mungkin dia sudah sampai rumah." Papar Anyelir.
"Dan jangan panggil aku Nona, panggil aku Dela," lanjutnya lagi.
"Baik Dela,"
Anyelir pun sudah sampai di depan kontrakannya, di sana Sekar, Lilya dan Adam. Sudah menunggu, Anyelir mengenalkan Dela pada Sekar. Anyelir pun memberitahu Sekar, bahwa dia akan memasak di Vila milik Dela.
Dan disinilah mereka sekarang, berada di dapur. Dela begitu antusias membantu Anyelir masak, sementara Sekar di izinkan istirahat di kamar tamu.
Dan anak-anak sedang bermain di awasi oleh Auriga. Anyelir dan Dela, memasak untuk makan siang.
"Kamu kerja apa selain menjual makanan jadi?" tanya Dela.
"Saya memetik teh," jawab Anyelir yang sedang sibuk memarinasi ayam dan ikan.
"Tapi hari ini saya kebetulan libur," sambungnya kemudian.
Dela pun mengangguk mengerti.
***
Sementara Dika, dia berjanji akan bertemu dengan Jenny. Dan akan memperkenalkan Dika pada Tara sang adik.
Menurut Jenny adiknya tersebut mengalami depresi saat berumur lima belas tahun, dan menurut dokter. Itu sudah terjadi saat Alderik ayah mereka menikah lagi, dan selalu menyalahkan Tara. Atas kepergian ibu mereka, tentu saja dengan bumbu yang di tambah oleh Linda istri baru sang ayah, lalu Tara juga memiliki riwayat penyakit Asma.
Dan saat kecil, adik dari Jenny tersebut mengalami gangguan kemampuan komunikasi. Gangguan kemampuan komunikasi adalah anak yang mengalami penyimpangan dalam bidang perkembangan bahasa wicara, suara, irama, dan kelancaran dari usia rata-rata yang disebabkan oleh faktor fisik, psikologis dan lingkungan, baik reseptif maupun ekspresif.
__ADS_1
Dika tak menyangka, seorang Jenny Sanova mengalami hal yang sangat berat saat masih kecil. Harus bekerja keras dari remaja, hingga dewasa. Kemewahan yang dia miliki dari sang ayah, di atur oleh Linda. Sedangkan penghasilannya sendiri untuk sang adik.
"Maaf lama," ujar Jenny masuk kedalam mobil.
"Jadwal pemotretan ku padat," lanjutnya lagi.
"Tidak apa-apa,"
Dika pun melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota, kurang lebih dua jam. Mereka sudah sampai, di salah satu perumahan elit. Tempatnya yang nyaman dan asri, membuat siapa saja akan betah tinggal di sini.
Mobil pun berbelok di salah satu rumah yang cukup mewah, di perumahan ini cukup privasi.
"Disini cukup privasi, karena penjagaannya sangat ketat. Dan tidak sembarangan orang yang masuk, jika mau mereka harus atas izin pemilik rumah," papar Jenny, Dika pun hanya mengangguk.
Saat tiba di dalam rumah, mereka melihat gadis mungkin berumur sekitar dua puluh tahun.
"Tara," pekik Jenny.
Namun gadis yang di bernama Tara tersebut tak merespon, hanya fokus pada objek di depannya.
Jenny pun duduk di sisi sang adik, dia mengelus lembut pundak sang adik.
"Tara," panggil Jenny lembut, dan Tara pun menoleh sekilas. Dia sibuk menggambar di buku gambar kesayangannya.
Padahal Jenny sudah membelikan Tara, alat lukis namun dia tak pernah mau. Tara tinggal bersama seorang perawat khusus, dan dua pelayan rumah tangga. Yang sabar melayani Tara, salah satunya yang mengasuh Tara dari kecil.
"Kamu selalu gitu, kalau kakak panggil. Kamu suka gak denger," keluh Jenny cemberut.
Dan semua itu tak luput dari perhatian Dika, Jenny nampak sabar menghadapi adiknya. Tara pun masih sibuk dengan gambarnya.
"Oh... Kaka mau kenalin kamu, sama calon tunangan kakak." Kata Jenny dengan tersipu.
Barulah Tara menoleh pada Jenny, lalu bertanya dengan isyarat yang hanya Jenny dan bibi Maura yang mengerti.
"Namanya Randika, itu orangnya." Tunjuk Jenny.
"Dia tampan," balas Tara dengan suara yang tak jelas.
"Iya dia tampan dan baik, setelah kakak menikah. Kakak akan selalu menjaga mu," ujar Jenny memeluk sang adik.
Dika pun tersenyum pada Tara, namun Tara nampak cuek.
"Bi tolong temani Tara,"
"Baik non."
"Maafkan adik ku, dia memang begitu. Jangan pernah paksa dia dan mengganggunya," kata Jenny.
"Jika tidak, emosinya akan meledak. Dia akan melukai siapa pun yang di dekatnya," sambungnya lagi.
"Tidak apa, aku mengerti." Jawab Dika singkat.
"Sekarang kamu sudah tahu tentang kehidupan ku, makasih sudah menerima ku dan adik ku Dika." Lirih Jenny.
Namun ada satu fakta lagi yang Jenny sembunyikan, biarlah dia pendam sendiri. Yang penting kini ada seseorang yang sudi menjaga Tara, saat dia tak ada nanti.
tbc...
__ADS_1
Maaf typo, jangan lupa tinggalkan jejak 🙏