
Dan setelah berbicara dengan Auriga, Zea pun berbicara juga dengan Keano. Dan Keano pun tak mempermasalahkan itu semua.
"Itu hak daddy, sebagai anak. Kita harus mendukungnya sayang," ujar Keano pada Zea.
"Apa kamu sedang cemburu?" tebak Keano.
"Ya... Aku cemburu, aku takut kasih sayang daddy terbagi lebih sayang mereka." Ungkap Zea, Keano membelai lembut rambut sang istri. Yang sejujurnya lebih tua dari dirinya.
"Kenapa kamu harus cemburu, kamu punya aku sayang. Daddy kesepian sejak kalian beranjak dewasa, saat kalian sebesar Manda dia selalu berusaha memenuhi kebutuhan mu dan Auriga kan? Mengabaikan kebahagiaannya sendiri, kamu pernah mikir gak? Kenapa daddy Jimi tak menikah lagi?" tanya Keano, Zea pun menggeleng tanda tak tahu.
"Karen mungkin jika daddy menikah lagi, dia takut istrinya tak menyayangi kamu dan Auriga," papar Keano.
Membuat Zea berpikir membenarkan ucapan sang suami, terbukti dari sang kakak Auriga yang menikah lagi dengan Dela. Karena Ara menyayangi Dela, dan sebaliknya Dela dan Auriga malah saling jatuh cinta. Membuat Dela benar-benar tulus menyayangi Ara dan Lula, bahkan Dela bisa membuat Lula menyayangi Ara.
"Baiklah aku setuju, jika daddy mau menikah lagi." Kata Zea.
Keano mengusap rambut Zea, dan menatapnya penuh cinta. Walau di awal tak ada cinta, tapi lama kelamaan dia jatuh cinta pada Zea.
Tepat pukul delapan malam, Sekar, Anyelir dan kedua anak Sekar sudah tiba di kawasan apartemen Reen. Dela sendiri menjadi antusias menyambut mereka, bahkan Yumna dan Bara pun ada di sana untuk menyaksikan lamaran.
"Aku gak nyangka Jimi bakal menikah lagi," kekeh Yumna, dia pun baru sampai mungkin selang beberapa menit dari Anyelir.
"Ya... Namanya jodoh siapa yang tahu," sahut Bara.
Tak lama mereka pun sampai, dan langsung di sambut oleh Dela.
"Mertua mu mau lamaran loh Del, kok kamu yang semangat," bisik Yumna.
"Gak papa dong bunda," kekeh Dela, membuat Yumna memutar bola mata malas.
Zea menatap Sekar dari atas ke bawah, terlihat dari wajahnya dia sangat baik dan penyayang. Bahkan Zea pun melirik calon adik tirinya, mereka masih kecil dan terlihat wajah bahagia yang terpancar dari senyum mereka.
"Aku senang banget Ara, bisa punya ayah lagi." Kata Adam, dan Zea pun mendengar itu.
"Loh, memang ayahnya Adam ke mana?" tanya polos Ara.
"Ayah ku sudah di surga."
"Sama kaya bunda aku dong, apa mereka ketemu?"
"Entahlah mungkin saja," jawab Adam.
__ADS_1
Sementara anak-anak bermain, orang tua sibuk menentukan tanggal pernikahan Jimi dan Sekar. Mereka sepakat bahwa pernikahan akan di laksanakan tiga hari lagi.
"Apa gak terlalu cepat?" tanya Zea yang masih saja khawatir.
"Tidak sayang, niat baik harus di segerakan." Sahut Jimi, dia pun paham tentang kekhawatiran Zea dan rasa cemburunya.
Pasrah Zea pun hanya mengangguk saja sebagai jawaban, Jimi dan Sekar di berikan kesempatan untuk berbincang berdua. Di balkon yang tak jauh dari ruang tamu tersebut, membicarakan setelah menikah Sekar dan kedua anaknya harus ikut ke Jakarta.
Sementara pekerjaan akan di ganti oleh yang lain, untuk membantu Anyelir. Anyelir pun tak mempermasalahkan itu semua, toh Anyelir pun terbiasa sendiri sebelum bersama Sekar.
Tepat pukul sepuluh malam acara temu keluarga selesai, Sekar dan Anyelir di antar oleh Bara dan Yumna, awalnya Auriga akan mengantar tapi di tolak oleh Yumna. Dengan alasan sekalian pulang.
Keluarga besar Mario pun sudah tahu, tentang rencana pernikahan Jimi. Mereka pun berjanji akan datang, dan Laura pun sudah mengetahui kondisi sang menantu Jenny.
Dika memberitahu Laura, bahwa hari di mana Jimi menikah dia dan Jenny akan pergi ke Singapura untuk berobat.
"Jadi mungkin aku gak ikut ke Bandung," kata Dika.
"Tidak apa-apa, ibu dan papi mu datang karena menghormati Jimi yang pernah jadi asisten papi mu." Papar Laura.
Dika memeluk Laura erat.
"Ibu selalu mendoakan mu," balas Laura, Laura cukup mengerti keadaan Dika saat ini.
Jenny tengah beristirahat di kamar milik Dika, yang berada di rumah milik Mario. Dia ingin bertemu Laura, sebelum berangkat dan menitipkan Tara pada Bibi Maura.
"Aku titip Tara bi, jaga dia seperti anak bibi. Aku takut, tidak bisa bertemu dengannya nanti setelah pulang." Ungkap Jenny dalam sambungan telepon.
"Jangan bicara seperti itu, yakinlah kamu sembuh sayang." Lirih Bibi Maura.
"Entahlah bi, aku takut benar-benar takut." Isak Jenny pada akhirnya.
"Sudah sebaiknya kamu istirahat, jangan banyak pikiran. Tetap berfikir positif," pesan Bibi Maura.
"Baik bi."
Jenny memutuskan sambungan panggilannya dengan Bibi Maura, dia menatap koper yang sudah siap untuk di bawa ke Singapura.
****
Tiga hari berlalu, pernikahan Sekar dan Jimi di gelar di rumah milik Anyelir. Walau tak ada resepsi meriah, namun acara cukup ramai karena di hadiri oleh karyawan cafe Anyelir.
__ADS_1
Mereka makan-makan di rumah Anyelir atau cafe milik Anyelir, tentu Jimi yang memberikan biaya.
"Dad, selamat yah." Ucap Zea, memeluk Jimi dengan erat.
"Terima kasih sayang," balas Jimi, membelai lembut pipi sang anak.
Keano, Auriga dan Dela pun memberi selamat pada pengantin baru tersebut, lalu Anyelir yang memeluk erat Sekar.
"Terima kasih Anyelir, jika bukan karena mu. Mungkin aku tidak akan bertemu dengan mas Jimi," ujar Sekar.
"Takdir yang membawa ku bertemu Lilya, lalu pak Jimi. Oh... Ya biarkan Adam dan Lilya di sini dulu, agar gak mengganggu malam pertama kalian," kekeh Anyelir, mendapatkan cubitan dari Sekar.
"Betul apa kata Anyelir, anak-anak kit titip di sini dulu. Nanti dari hotel kita jemput untuk ke Jakarta," sahut Jimi semangat.
"Hah... Baiklah," pasrah Sekar.
Membuat Anyelir tertawa, lalu memeluk kembali Sekar. Tepat pukul dua siang, acara resepsi sederhana sudah selesai semua orang sudah membubarkan diri pulang ke rumah.
Yumna dan Bara langsung berpamitan pulang menuju Jakarta bersama Dela dan kedua anak Auriga, awalnya Auriga menolak tapi dia pasrah saja. Karena Dela ingin ke rumah Yumna.
Malam pun tiba Anyelir tengah bersantai setelah semua pekerjaan rumah beres, dan rapih dari sisa-sisa pesta siang tadi cafe pun libur sehari.
Saat akan mengunci pintu, tiba-tiba sebuah mobil terparkir cantik di depan rumah milik Anyelir. Dia terkejut dengan kedatangan Axel dan Arumi ke rumahnya.
"Tante," sapa Anyelir.
"Tumben malam-malam ke rumah ada apa?" tanya Anyelir lagi.
Anyelir pun mengajak masuk Arumi dan Axel, mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
"Habis ada acara?" tanya Axel.
"Iya, maaf aku gak kasih tahu kamu. Tadi siang Mbak Sekar menikah," tutur Anyelir.
Axel hanya beroh saja sebagai jawaban, tapi tidak dengan Arumi. Dia merasa tak di hargai oleh Anyelir dan Sekar, tapi bukan saatnya protes atau marah untuk saat ini.
"Tidak masalah, tante ke sini hanya menyampaikan sesuatu untuk mu Anyelir. Kedatangan tante ke sini, ingin melamar mu untuk jadi istri Axel," papar Arumi.
Membuat Anyelir membelalakan matanya, dia terkejut akan lamaran dadakan ini. Dia memang berusaha move-on, tapi tidak dengan lamaran yang secepat ini. Dia pun bingung ingin menjawab apa, dia perlu waktu. Sementara Axel yang di samping sang ibu, hanya diam saja memperhatikan wajah cantik Anyelir menunggu jawabannya.
***
__ADS_1