Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.14


__ADS_3

Jenny menepati janjinya, dia keluar dari rumah sakit sebelum waktu istirahat. Dia akan ke kantor Dika saja, sebelum bertemu Dika. Dia melakukan make-up, terlebih dulu agar tak kelihatan wajahnya yang pucat tapi pusingnya sudah hilang.


Begitu tiba di kantor Dika, Jenny langsung masuk ke ruangan Dika. Awalnya Jenny di tolak oleh Mona sekretaris Dika, namun bersikeras dia sudah membuat janji dengan Dika.


"Sudahlah izinkan saya masuk," ujar Jenny.


"Tapi pak Dika sedang ada tamu," tolak Mona.


Jenny pun berdecak kesal, dengan terpaksa dia pun menunggu Dika.


Tak membutuhkan waktu lama, tamu yang di sebut Mona sudah keluar. Dan saat itu, Dika pun ikut mengantar sampai depan. Dengan tergesa Jenny menghampiri Dika.


"Dika," pekik Jenny.


"Jen, kamu sudah datang?"


"Iya baru saja,"


Dika pun mengangguk, dia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Mona kerjaan ku sudah selesai, jika papi bertanya bilang saja aku bersama Jenny." Ujar Dika.


"Baik Pak," balas Mona.


"Ayok," ajak Dika, walau Dika tak banyak bicara. Tapi Jenny merasa bahagia.


Mona menatap lift yang sudah tertutup, dia sangat heran mengapa Dika berubah. Pasalnya dia tahu, beberapa minggu terakhir dia tak suka jika Jenny masuk ke dalam ruangannya.


"Sudahlah bukan urusan ku," kata Mona dia pun melanjutkan pekerjaannya kembali.


****


Sementara Dela dan Auriga kini sudah tiba di kediaman mereka, perjalanan yang sedikit lambat. Karena Dela kembali mual, Auriga pun sudah membuat janji dengan dokter kandungan.


"Ayah? Bunda kenapa?" tanya Ara.


Pasalnya Ara tahu, saat Dela muntah di tepi jalan.


"Bunda sedang sakit," jawab Auriga.


"Kenapa ayah tak membawa bunda, ke dokter?"


"Nanti sore kita akan ke dokter, Ara dan ka Lula tunggu saja di rumah tante Zea oke!"


"Engga, aku mau ke rumah Neni Yumna saja. Aku mau ketemu tante Tiana," sahut Lula.


Auriga pun menghembuskan nafasnya secara pelan, pasalnya masih ada rasa sungkan dia bertemu dengan Yumna sang ibu mertua.


"Baiklah ayah akan antar kalian ke Neni Yumna."


"Yeay!" seru Lula dan Ara kompak.


"Oke! Sekarang kalian tidur siang dulu."


Ara dan Lula pun berlari menuju kamar mereka, yang berada di lantai dua. Karena sekarang Ara tidur bersama Lula.


Pusat perbelanjaan yang di kunjungi Jenny dan Dika, adalah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.

__ADS_1


"Kita makan siang dulu atau belanja dulu?" tanya Jenny antusias.


"Kita makan dulu saja."


"Oke!"


Dika dan Jenny pun memasuki restoran Jepang, karena Dika ingin makan ramen. Dan dia pun tahu, ramen terenak di mall tersebut.


Dika memesan Ramen, Sushi dan Onigiri. Sedangkan Jenny hanya memesan takoyaki dan ramen saja, karena dia tak suka makan ikan mentah atau goreng karena alergi.


"Kamu gak suka Sushi?"


"Engga, aku alergi semua jenis ikan." Ujar Jenny


Dika pun mengangguk sebagai jawaban, tak banyak yang mereka bicarakan saat menunggu pesanan datang.


Mereka hanya sibuk dengan ponselnya masing-masing, walau begitu, Jenny tak masalah dia bahagia. Jika Dika kini mau menerimanya, mungkin pelan-pelan akan mencintainya.


Memikirkan kata cinta, Jenny mendadak murung. Bagaimana jika Dika mencintainya saat penyakitnya semakin parah? Jenny melirik Dika yang asik menatap ponselnya.


Setelah selesai makan siang, Dika pun mengajak Jenny ke sebuah toko perhiasan langganan keluarganya.


"Pak Dika," sapa Manager toko tersebut.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya kemudian.


"Berikan cincin pertunangan dan pernikahan yang cocok untuk calon saya pak," ujar Dika.


"Wah.. Pak Dika akan menikah? Selamat pak, baik ini yang terbaru di toko kami."


Manager tersebut menunjukan lima buah cincin yang katanya limited edition, dan terbaru pada Jenny. Semua bagus dan Jenny suka, tapi yang paling mencuri perhatian Jenny adalah sebuah cincin berbentuk mahkota dengan berlian di sekelilingnya.


Pas di jari manisnya.


"Bisakah ini di ukir nama dengan nama Dika?" tanya Jenny, membuat Dika yang sibuk melihat kalung anak pun menoleh.


"Kenapa?"


"Tidak apa, aku ingin saja."


"Bisa Nona."


Manager tersebut memberikan pada pelayan untuk di bawa ke tempat ukir, lalu Jenny pun melihat-lihat perhiasan yang lain. Pandangannya terpaku, pada satu buah kalung yang sangat cantik. Berbentuk sebuah perisai, dia sangat ingin membelinya.


Dia pun berbicara pada Manager toko, untuk membungkus kalung tersebut. Dan membayar dengan uang pribadinya, walau sedikit malah. Dia akan memberikannya pada sang anak nanti.


Setelah dari toko perhiasan, Dika dan Jenny memasuki toko baju ternama, toko tas terkenal dan lain-lainnya. Sehingga menghabiskan waktu kurang lebih dua jam.


"Makasih Dik, kamu sudah membelikan adik ku juga." Cetus Jenny.


"Tidak masalah, aku mau Tara juga hadir di acara pertunangan dan pernikahan kita."


"Tapi.. Daddy tidak akan suka," lirih Jenny.


"Tara urusan ku, biar dia datang bersama keluarga besar ku. Ibu akan menjaga Tara," ucap Dika.


Jenny pun mengangguk setuju, dia pun meminta di antar ke rumah Tara. Dia akan tinggal di sana, beberapa hari.

__ADS_1


Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai.


"Kamu gak mau mampir dulu?" tanya Jenny.


"Lain kali saja, aku harus bertemu Dela."


"Dela? Wanita yang mengaku pacar kamu itu?"


Dika tertawa untuk pertama kalinya, dan Jenny terpesona.


"Dia bukan pacar ku, dia keponakan ku. Aku risih pada mu waktu itu. Sampai minta tolong sama dia," kekeh Dika.


"Lagian dia sudah menikah," sambungnya kemudian, Jenny pun mengangguk saja.


"Ya sudah, kalau begitu. Aku pergi dulu," pamit Dika.


"Iya hati-hati Dik."


Jenny menunggu sampai mobil Dika keluar dari perumahan, setelah mobil keluar dan tak terlihat lagi. Jenny masuk ke dalam rumah, dan di sambut oleh bibi Maura.


"Bi," sapa Jenny dengan senyum merekah di wajahnya.


Bibi Maura pun senang melihat senyum yang menghiasi sang anak asuh, selain Tara. Dulu bibi Maura yang membantu merawat Jenny saat masih bayi.


"Sepertinya ada yang bahagia nih!" goda bibi Maura.


"Ayok masuk, aku mau cerita bi. Dimana Tara?" tanya Jenny dan duduk di ruang tengah.


"Dia ada di kamarnya, sedang tidur."


Bibi Maura menuju dapur, dan membawakan minuman untuk Jenny.


"Terima kasih bi,"


Setelah meminum minumannya, Jenny pun mulai bercerita pada bibi Maura. Bahwa dua minggu lagi, dia akan bertunangan dan menikah. Setelah menikah dia akan berhenti bekerja, dan semua tabungan untuk Tara.


"Apa keputusan anda sudah benar nona?" tanya Bibi Maura, setelah Jenny bercerita.


"Iya bi, aku akan lega. Jika ada orang yang melindungi Tara sebelum aku pergi," tutur Jenny.


"Sebaiknya nona, memberitahu tuan Dika tentang penyakit kamu." Usul Bibi Maura.


"Tidak bisa bi, aku tidak mau. Dika menikahi ku dan mencintai ku karena penyakit ku ini,"


"Jika nanti aku pergi anggap Tara sebagai anak mu bi, dan tetap tinggal di sini." Timpal Jenny.


"Kamu pasti sembuh nak,"


"Aku tidak akan sembuh Bi." Isak Jenny.


Bibi Maura membawa Jenny ke dalam pelukannya, sejatinya Jenny harus menjadi tulang punggung untuk sang adik. Karena ayah mereka tidak tanggung jawab, mungkin bukan tidak bertanggung jawab lebih tepatnya karena istri barunya Linda. Yang selalu menghasut Alderik, agar lepas tanggung pada kedua putrinya.


tbc...


Maaf typo Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏


Jadwal update Cinta Anyelir Sore atau Malam

__ADS_1


Bukan Pengantin Pengganti Pagi atau Sore


__ADS_2