Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.57


__ADS_3

Sesuai janjinya Rumi, mengantar Maira pulang ke rumahnya. Beruntung hari ini di kantor, Rumi sedikit santai, dia juga sudah memberi kabar pada sang bunda bahwa dia ada di apartemen milik Feli.


Selama dalam perjalanan, mereka tak saling bicara hanya suara musik yang menemani kesunyian mereka dalam mobil. Entah kenapa Rumi selalu memutar lagu, yang itu-itu saja Maira ingin bertanya namun merasa sungkan.


Berpuluh menit kemudian, Maira sudah sampai di depan rumahnya dan dia berdoa dalam hati. Semoga sang papa sudah berangkat bekerja.


"Terima kasih ka Rumi," ucap Maira, setelah turun dari mobil.


"Ya," jawab Rumi singkat.


Rumi tak segera melajukan mobilnya, dia lebih dulu mengawasi Maira yang berjalan dengan pelan. Entah mengapa melihat itu, Rumi merasa lucu dan memikirkan jika dia menikah dengan Maira tak begitu buruk. Dari pada terus-terusan di jodohkan dengan wanita kecentilan dan matre, lebih baik Rumi menikah dengan Maira.


"Baiklah aku akan minta bunda, melamarnya untuk ku." Gumam Rumi.


Maira sendiri sudah berdebar-debar, karena takut di marahi oleh Hito.


"Ya Tuhan, mudah-mudahan papa udah berangkat." Doanya dalam hati, saat dia memasuki rumah.


Maira menghembuskan napasnya dengan lega, tapi suara yang dia kenal dari arah dapur membuatnya ingin kabur saja.


"Oh... Ingat pulang, papa kira kamu bakal nginep terus di rumah Prisil." Cibir Hito, Hito belum berangkat sama sekali ke kantor. Karena Yusra tiba-tiba tak mau di tinggal olehnya dan menginginkan jus buah naga buatannya, walau di rumah ini ada pembantu jika Yusra ingin buatan Hito. Harus di turuti, jika tidak Yusra akan marah sangat lama dan Hito tak mau itu terjadi.


"Pa-pa... Papa." Ucap Maira.


"Ya kenapa? Aku masih papa mu Maira," ketus Hito.


Maira menggaruk rambutnya, sambil senyum-senyum menatap Hito.


"Kenapa papa, gak ke kantor?" tanya Maira.


"Memang kenapa? Papa bosnya, terserah papa dong. Mau berangkat atau engga," ujar Hito, membuat Maira memutar bola mata malas.


Maira duduk di sofa ruang tamu, di ikuti oleh Hito yang menatapnya tajam.


"Dari mana kamu? Baru pulang."


"Aku nginap di rumah Prisil pa, semalam aku ikut dia." Jelas Maira, tanpa menatap Hito.

__ADS_1


"Benar?" tanya Hito.


"Iya benar, kalo gak percaya telepon aja. Semalam pestanya sampai malam banget, jadi aku ikut dia deh." Maira memberikan alasan, yang masuk akal.


"Baiklah papa percaya, jika kamu berbohong. Jangan harap papa memberikan mu kebebasan lagi," tutur Hito.


"Iya... Papa," jawab Maira.


"Ya sudah papa ke atas dulu, nemenin mama kamu. Kamu udah makan?" tanya Hito.


"Udah pa."


Hito mengangguk sebagai jawaban, lalu dia melenggang pergi menuju lantai dua dimana Yusra yang sudah menunggu lama. Maira menghembuskan napasnya dengan lega, beruntung hari ini kuliah libur dia akan tidur seharian.


****


Sementara itu Anyelir dan anak-anak menuju cafe, di mana untuk pertama kalinya Melinda dan Ameera bertemu. Mereka sedang bermain di ruang main, sedangkan Anyelir mengecek barang yang habis dan semua kebutuhan cafe tersebut.


Sesekali Anyelir mengecek melalui cctv, walau dia sudah meminta salah satu pelayang untuk menjaga anak-anak tersebut. Anyelir masuk ke dalam dapur, untuk membuatkan mereka cemilan sehat.


"Aku ada di cafe waktu aku sama daddy makan," jawab Melinda.


"Oke, kalau gitu tunggu daddy. Sebentar lagi daddy akan ke sana," kata Dika.


"Oke daddy, jangan lama-lama nanti mallnya tutup." Celetuk Melinda, membuat Ameera tertawa.


Dika di sebrang telepon pun berdecak kesal, anaknya itu sungguh jail setelah datang ke Indonesia. Dika sangat tahu, saat mereka tinggal di Singapura Melinda sangat malu-malu dan selalu menjadi anak baik dan manis. Tapi sekarang dia tak beda jauh, dengan Dela saat belum menikah.


"Ya sudah daddy tutup teleponnya ya!"


"Iya daddy," sahut Melinda.


Melinda dan Ameera tertawa bahagia, tujuan mereka akan segera tercapai mendekatkan ibu dan daddy mereka.


"Dengar ya Ameera, kalau kamu mau aku tetap di rumah mu. Dukung terus aku buat dekatin daddy sama ibu kamu," cetus Melinda, mengompori Ameera yang belum mengerti apa pun. Karena Ameera yang ingin merasakan kasih sayang seorang ayah, pun menerima ajakan Melinda.


"Oke," jawabnya bersemangat.

__ADS_1


Tak lama Anyelir pun datang, dia mengajak anak-anak untuk makan cemilan lebih dulu sebelum pergi jalan-jalan.


Ameera dan Melinda menatap penuh binar makanan di hadapannya, ada berbagai macam cake, coklat dan juga minuman yang sangat di sukai Melinda saat pertama kali datang ke cafe tersebut.


"Kita makan ini dulu, nanti saat main kalian tidak terlalu lapar." Ujar Anyelir.


"Baik ibu, tante." Seru Melinda dan Ameera kompak.


Anyelir yang melihat mereka sangat antusias pun sangat bahagia, dia serasa memiliki dua orang anak dengan jarak yang dekat. Melinda sungguh pintar dia bisa melakukannya sendiri, sesekali dia meminta bantuan dirinya. Dika mengajarkan Melinda mandiri di usianya yang masih terbilang, membutuhkan bantuan dari orang tuanya.


Berpuluh menit kemudian, Dika sudah sampai di cafe milik Anyelir. Dika tak menyangka bahwa cafe, yang ada di hadapannya ini adalah milik mantannya Anyelir wanita yang hebat dan kuat.


Saat masuk ke dalam cafe, Dika mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak mendapati sang anak di mana pun, dia ingin menghubungi sang anak namun belum sempat memanggil dia sudah melihat Melinda dan Ameera tertawa keluar dari sebuah ruangan. Di ikuti oleh Anyelir di belakangnya, Melinda yang melihat Dika langsung melambaikan tangannya.


"Daddy," pekik gadis itu, dan langsung berlari dan memeluk sang ayah dengan erat.


"Aku rindu daddy," rajuk Melinda dengan manja, dia menatap wajah tampan sang ayah dan menciun kedua pipi Dika membuat Dika tertawa.


"Memang kamu saja yang kang3n hem? Daddy juga, semalam daddy gak bisa tidur. Takut Melin nangis cari daddy, tapi tante Anyelir sepertinya berhasil menangani kamu." Jelas Dika panjang lebar.


Membuat Melinda mengangguk, dia tak terbangun sama sekali. Hanya sesekali merengek dan dengan sigap, Anyelir mengusap kepala Melinda dan tertidur dengan lelap.


Ameera yang melihat itu pun merasa cemburu, dia juga ingin seperti Melinda. Tapi dia malu karena Dika bukan ayahnya, dia hanya bisa menunduk saat melihat interaksi Dika dan Melinda. Anyelir pun paham dengan keinginan sang anak, dia langsung mengusap kepala Ameera dan tersenyum.


Ameera membalas senyum Anyelir, dan kembali menatap Dika yang kini sudah menatap Anyelir dan Ameera.


"Ameera mau om peluk?"


Tanpa banyak bicara lagi, Ameera langsung berlari menghambur ke arah Dika dia memeluk Dika dengan erat. Dan terisak pada akhirnya.


"Aku juga mau punya ayah, kaya Melinda om." Ungkap Ameera.


"Ameera boleh anggap om, sebagai ayah Ameera juga." Ujar Dika menenangkan Ameera yang menangis, sungguh Melinda tak cemburu sama sekali dia malah senang.


***


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2