
Berpuluh menit kemudian, Jimi sudah sampai di depan rumah milik Anyelir.
"Terima kasih tuan Jimi," ucap Anyelir.
Saat Sekar akan turun, Jimi menahannya dan ingin berbicara sebentar.
"Anak-anak, boleh om bicara sama ibu kalian?" tanya Jimi.
Adam dan Lilya saling lirik, lalu melirik sang ibu. Dan mengangguk sebagai jawaban, Anyelir pun mengajak Adam dan Lilya turun. Setelah kedua anak Sekar, dan Anyelir turun. Jimi berdehem untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Ada tuan?" tanya Sekar dengan lembut.
"Sekar begini, aku rasa mungkin aku sedang mengalami jatuh cinta." Kata Jimi membingungkan Sekar.
"Maksudnya?"
Jimi menghembuskan napasnya dengan pelan, dia melirik Sekar dan mengeluarkan kotak yang berisi cincin. Entah kapan Jimi mempersiapkan itu semua.
"Sekar ucapan ku di rumah sakit tadi, itu aku benar-benar serius. Aku tidak bercanda, aku ingin kamu menikah dengan ku dan menjadi istri ku." Papar Jimi, menatap Sekar yang memalingkan wajahnya.
"Kita baru kenal loh," balas Sekar.
Jimi meraih tangan Sekar, yang dingin karena gugup.
"Percayalah Sekar, aku akan membahagiakan mu dan kedua anak ku."
Sekar menatap Jimi, yang sesungguhnya masih tampan di usianya yang akan memasuki lima puluh. Tak ada keraguan di dalam sorot wajahnya, yang ada hanya kejujuran dan cinta yang besar untuknya.
"Bagaimana dengan anak-anak anda?" tanya Sekar pada akhirnya.
"Kamu tenang saja, Zea dan Auriga akan mengerti. Lagian mereka sudah menikah," ujar Jimi.
"Beri aku waktu tuan," kata Sekar.
"Baiklah, sebelum aku ke Jakarta. Kamu harus memberikan jawaban," putus Jimi.
"Sekarang kamu turun, dan beritahu anak-anak." Perintah Jimi, Sekar menurut dan turun dari mobil milik Jimi.
Anyelir sendiri dia mengintip dari dalam, dia mengulum senyum merasa lucu jika melihat kisah cinta Sekar dan Jimi. Kisah cinta pada pandangan pertama, seperti dia dan Dika.
"Dika." Desis Anyelir, senyumnya langsung hilang. Dia harus move-on dan membuka hati untuk Axel.
Saat Sekar masuk, Anyelir langsung memberondong pertanyaan pada Sekar.
"Dia melamar ku," jujur Sekar, tersipu malu.
"Apa? Serius?" tanya Anyelir antusias.
"Iya, tapi aku masih ragu. Karena takut anak-anak Jimi tak merestui apalagi mereka sudah dewasa, bukan anak-anak seperti Adam dan Lilya. Mungkin mereka akan menerima Jimi dengan senang hati," tutur Sekar.
Anyelir mengusap lembut pundak Sekar.
__ADS_1
"Aku yakin, Zea dan Auriga akan menerima mu. Selagi itu bisa membuat ayah mereka bahagia," papar Anyelir menenangkan Sekar.
"Ibu, apa om Jimi akan jadi ayah kita?" celetuk Lilya yang mendengar semuanya.
Lilya akan senang jika memiliki ayah lagi, dia akan meminta Jimi untuk mengantar dirinya dan Adam pergi sekolah seperti teman-teman yang lain.
"Iya jika kalian mengizinkan ibu menikah lagi," timpal Anyelir.
"Om Jimi bakal jadi ayah kalian, kalian juga akan punya dua kakak." Lanjut Anyelir, mendapatkan cubitan dari Sekar.
"Loh kok aku di cubit sih," protes Anyelir.
"Aku mau ibu, aku mau om Jimi jadi ayah aku sma Adam. Aku mau kaya teman-teman yang lain, yang di antar jemput sama ayah mereka. Lalu di ajak membeli es krim pulangnya," tutur Lilya dengan semangat.
Sekar pun menghembuskan napasnya dengan pelan, dan tersenyum menatap sang anak. Sedangkan Adam tak mengerti apa yang di bicarakan oleh ketiga wanita beda generasi tersebut, tapi yang dia tahu akan memiliki ayah. Sosok yang sudah lama dia rindukan selama ini.
"Aku juga mau ibu," seru Adam.
"Iya... Nanti om Jimi akan jadi ayah kalian." Putus Sekar.
Membuat Anyelir tersenyum bahagia dan memeluk Sekar, akhirnya Sekar menemukan kebahagiannya. Dan Sekar pun mengirim pesan pada Jimi, bahwa dia menerima lamaran Jimi. Tapi Sekar ingin mereka, bertemu dengan anak-anak Jimi.
Jimi yang baru sampai di apartemen Reen, syok mendapat pesan dari Sekar. Yang menerima lamaran dirinya, ingin rasanya dia berteriak melampiaskan rasa senangnya.
"Yes!" seru Jimi, membuat Reen yang memang berada di apartemen mengeryit heran menatap sang opah.
"Kenapa opah?" tanya Reen.
"Tapi buat apa?" tanya Reen, masih penasaran.
"Kamu akan mendapatkan oma baru Reen," ungkap Jimi, memeluk sang cucu.
Reen pun terkejut bukan main, dia menatap Jimi tak percaya.
"Hah? Yang benar saja," batin Reen.
Tapi dia pun menurut saat Jimi mengajaknya ke sebuah mall, dia tak kuasa menolak karena melihat wajah senang sang opah.
"Wajar opah mau menikah lagi, opah masih tampan dan gagah. Bahkan orang-orang mengira aku gebetan opah," celetuk Reen, saat mereka sudah sampai di mall yang tak jauh dari pasar baru.
"Kamu ini, ada-ada saja." Kekeh Jimi.
"Memang siapa orangnya opah? Apa aku kenal?"
"Tidak, nanti juga kamu akan tahu Reen. Sekarang tolong belikan keperluan untuk calon istri opah," perintah Jimi dan di jawab anggukan oleh Reen.
Jimi pun membelikan baju, sepatu dan tas untuk kedua anak Sekar, Reen pun menebak bahwa calon istri Jimi memiliki anak. Jimi dan Reen pun pulang, saat Dela juga pulang ke apartemen.
"Dad? Dari mana? Reen?" tanya Zea, saat melihat anak dan sang ayah. Membawa barang belanjaan yang banyak.
"Opah, abi belanjaan seserahan mom." Sahut Reen.
__ADS_1
"Apa? Seserahan? Memang siapa yang mau menikah?" tanya Zea, menghampiri Reen yang membereskan barang-barang berasama Jimi.
"Daddy," jawab Jimi.
Membuat Zea terduduk, dia menatap Jimi tak percaya akan ucapan sang ayah.
"Kenapa? Kamu gak percaya? Kalo daddy masih laku?" cerca Jimi.
"Bukan gitu dad, tapi daddy kan..."
Zea menggantungkan ucapannya.
"Tua?" tebak Jimi.
"Walau daddy tua, tapi daddy masih kuat memberikan kamu dan Auriga adik. Tapi menurut daddy, kalian akan mendapatkan adik baru walau itu adik sambung." Tutur Jimi.
"Jadi dia punya anak?" tanya Zea.
"Iya dua anak, laki-laki dan perempuan." Jawab Jimi.
Membuat Zea membuang napas dengan kasar, apakah dia rela melepaskan sang ayah untuk menikah? Tapi dia pun tak ingin menghalangi ke bahagiakan Jimi.
"Aku akan panggil ka Riga dulu," ujar Zea, dia beranjak dari duduknya dan menuju kamar tamu menemui sang kakak. Yang sudah berbaikan dengan Dela, Auriga menemani Dela dan memijat kakinya.
"Sayang." Panggil Auriga.
"Sudah dong marahnya, aku bersumpah gak tidur sama dia."
Namun Dela tak menanggapi ucapan Auriga, dia malah memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Anak-anak sedang berada di kamar Reen, bersama Manda.
Suara ketukan di pintu mengalihkan atensi Auriga dari Dela, Auriga mengusap pelan kaki Dela.
"Aku buka pintu dulu," katanya.
Dela tetap tak menjawab, membuat Auriga menghela napas pelan. Pintu terbuka, dan menampilkan wajah Zea yang cemberut.
"Ada apa Zea?" tanya Auriga.
"Daddy mau menikah," kata Zea ketus.
"Lalu apa masalahnya? Selagi daddy bahagia sih aku oke," jawab Auriga, membuat Zea semakin cemberut.
Dia tak rela harus berjauhan dengan Jimi nantinya, padahal Zea sudah menikah dan harus mengerti keadaan Jimi. Semua anak-anak akan hidup mandiri, setelah menikah dan meninggalkan rumah orang tuanya.
Auriga mengusap lembut pundak Zea.
"Kamu gak boleh egois Zea, daddy butuh seseorang yang mendampinginya. Teman hidupnya yang bisa berbagi masalah, suka atau duka." Papar Auriga.
"Kita sebagai anak, hanya perlu mendukung saja. Itu kenapa dulu daddy selalu menyuruh ku menikah, karena jika Lula dan Ara dewasa. Dia akan pergi bersama ke rumah suaminya," jelas Auriga.
Zea pun terdiam, memikirkan ucapan sang kakak. Ada benarnya juga setiap weekend, dirinya selalu menghabiskan waktu bersama anak dan suami. Terkadang hanya dengan Keano saja berkencan.
__ADS_1
****