
Tepat pukul sembilan malam, acara kumpul keluarga telah usai. Bahkan anak-anak sudah tidur di kamar khusus yang Laura buat dadakan, anak-anak di temani oleh Mala jika salah satu dari mereka terbangun saat tengah malam.
"Grany, aku titip semua anak-anak ku yah!" kata Dela sebelum.
"Loh kamu gak nginap Dela?" tanya Mario muncul dari arah tangga.
"Engga opah, aku mau me time sama Auriga." Jawan Dela tersipu.
"Oh.. Ya sudah, jangan khawatir sama anak-anak banyak orang di sini. Opah juga senang rumah jadi gak sepi," ungkap Mario, memang dia sangat merindukan saat Dika dan Dela belum menikah. Pasalnya mereka selalu ada saja, membuat ramai rumah ini.
Bahkan Tara dan Bibi Maura pun ikut menginap di rumah Mario, Yumna, Tatiana dan Bara pun ikut menginap. Beruntung kamar tamu di rumah Mario, cukup banyak jadi bisa menampung semua orang di rumahnya.
Dela dan Auriga pun berpamitan pada yang lain, juga pada Ara dan Lula. Dan berjanji akan menjemput mereka sore hari, kebetulan besok sekolah libur.
Berpuluh menit kemudian Dela dan Auriga sudah sampai di hotel yang tak jauh dari perumahan tersebut, dan memesan satu kamar hotel.
"Nanti kita liburan berdua," usul Auriga, setelah mereka masuk lift.
"Atur saja, sekarangkan ada Melinda jadi gak usah khawatir titipin anak-anak di rumah Grany." Kekeh Dela.
"Dasar kamu ini."
Auriga merangkul Dela, dia gatal sekali ingin mencium Dela di dalam lift tapi ada beberapa orang bersama mereka.
Beberapa menit kemudian, Dela dan Auriga sudah sampai di kamar hotel. Mereka langsung masuk, dan Dela langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dela menghembuskan napasnya dengan pelan, dia sangat gugup seperti akan melakukan malam pertama.
Pintu kamar mandi terbuka, Dela sudah cantik dan seksi dengan Lingeri berwarna hitam. Dan tak lupa rambutnya dia gerai, Dela juga sudah berdandan tipis. Auriga tersenyum melihat Dela, yang masih sama seperti mereka bertemu dulu.
"Kamu makin cantik, setelah memiliki anak. Aku jadi pengen kurung kamu terus deh," goda Auriga, membuat Dela tertawa sejak kapan suaminya ini pintar menggombal.
"Dih gombal banget sih, nih sugar daddy." Kekeh Dela, memeluk Auriga yang sudah tak memakai baju hanya celana boxernya saja.
__ADS_1
Dela menyentuh wajah Auriga, yang tetap awet muda. Padahal dia seumuran dengan Yumna hanya beda beberapa tahun saja.
"Justru aku yang pengen kurung kamu, takut di lirik gadis-gadis." Bisik Dela, Auriga mengerti kekhawatiran Dela.
Bagaimana mungkin dia bisa berpaling pada yang lain, jika istrinya saja sudah mempesona seperti ini. Bahkan Dela semakin padat berisi, di bagian dada dan bokong.
"Kamu jangan khawatir percaya pada ku," ujar Auriga.
"Aku selalu percaya," balas Dela.
Mereka pun menyatukan napas, dan saling ******* kecil. Lama-lama menjadi panas dan penuh gairah, tangan Auriga pun sudah menjalar ke dua bukit kembar yang pernah jadi sumber kehidupan dua anak kembarnya.
Auriga mendorong Dela ke kasur, lalu dia menindihnya dan menyatukan bibir kembali. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah polos dan milik Auriga pun sudah menyatu dengan milik Dela yang selalu membuatnya menginginkannya lagi dan lagi.
****
Sinar matahari menelusup masuk dari sela hordeng, tak biasanya Anyelir bangun kesiangan. Semalam dia tertidur pukul dua dini hari, dia terlalu larut memikirkan Axel sampai melewatkan malam yang panjang.
Anyelir menatap Ameera yang masih terlelap di sampingnya, dia berusaha turun sudah tak memakai tongkat untuk membantunya jalan. Walau masih terasa sedikit nyeri, tapi Anyelir memaksakan berjalan tanpa bantuan apa pun.
"Beneran gak apa?" tanya Anyelir, dia khawatir Ameera rewel di tinggal dua hari.
"Gak apa-apa kok Nye, kamu santai aja." Sahut Jimi.
"Iya benar, Adam sama Lilya pasti senang. Bersenang-senang lah Nye. Kamu dan Axel sudah bekerja keras, untuk membangun bisnis kamu. Jadi nikmati liburan kalian," ujar Sekar.
Dengan berat hati Anyelir pun melepaskan Ameera, yang sesungguhnya anteng berada dalam gendongan Sekar.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu mbak. Titip Ameera," ujar Anyelir.
Sekar mengangguk sebagai jawaban, dia melambaikan tangan Ameera pada Anyelir dan Axel yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dulu. Setelah berpamitan pada Sekar, Jimi dan tentu putri tersayangnya Ameera.
Mobil pun melaju di jalanan ibu kota, waktu menunjukan pukul empat sore. Mereka akan pergi ke Bandung untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka, yang ke dua.
__ADS_1
Semua berjalan lancar, sampai pada saat hari ke dua. Mereka akan kembali ke Jakarta, entah mengapa perasaannya tak enak di tambah sore itu hujan mulai turun. Belum terlalu lebat, tapi saat pertengahan jalan hujan mendadak lebat di tambah suara petir yang seolah bersahutan.
"Axel, kita putar balik saja." Pinta Anyelir yang sudah gelisah.
"Tidak apa-apa sayang, semua akan baik-baik saja. Kamu tenang saja," sahut Axel fokus ke depan.
Anyelir menggeleng jika dia bisa menyetir mobil maka, dia akan ambil alih dan putar balik. Anyelir terus berdoa dalam hati, selalu dalam lindungan sang maha pencipta.
Sekar pun mengabarkan pada Anyelir, bahwa Ameera sangat rewel. Dia kewalahan untuk menenangkannya, dan terpaksa melakukan panggilan video dengan Anyelir untuk menenangkan Ameera.
"Sayang Meera, ibu sama ayah akan segera pulang. Kamu jangan khawatir," ujar Anyelir.
Lalu memperlihatkan Axel pada sang anak, yang masih saja menangis.
"Axel awas," pekik Anyelir.
Membuat ponselnya jatuh, dan masih terhubung. Sekar yang di sebrang panggilan pun merasa khawatir dan tak lama mendengar suara benturan dan teriakan yang keras dari Anyelir, tangis Ameera semakin histeris saat itu.
"Anyelir... Apa yang terjadi? Anyelir? Anyelir..." Panggil Sekar berteriak.
"Kenapa?" tanya Jimi, saat mendengar suara teriakan Sekar.
"Anyelir, aku memiliki firasat mereka tak baik-baik saja. Ameera pun dari tadi menangis tak henti," papar Sekar.
"Sini biar aku yang menggendongnya, kamu buat susu." Perintah Jimi, Sekar pun menuju dapur dan langsung membuat susu untuk Ameera.
Tak membutuhkan waktu lama, Ameera tertidur di gendongan Jimi. Jimi membaringkan Ameera dengan hati-hati, dan ikut bergabung bersama Sekar yang sedang berusaha menghubungi Anyelir. Jimi membuka pintu sedikit, agar jika Ameera menangis dia bisa tau dan segera menghampirinya.
"Bagaimana? Sudah bisa di hubungi?" tanya Jimi.
"Belum ponselnya malah tidak bisa di hubungi, aku khawatir sungguh." Lirih Sekar.
"Berdoa lah supaya mereka baik-baik saja." Jimi membawa Sekar ke dalam pelukannya, agar merasa tenang.
__ADS_1
***