Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.41


__ADS_3

Satu minggu kemudian sesuai janjinya, Dika membawa Melinda ke Jakarta. Dengan jarak tempuh satu jam lima puluh menit mereka sudah sampai. Dika akan memberikan kejutan pada keluarganya, maka dari itu dia menggunakan taxi yang sudah berjejer rapih di bandara.


"Sudah sampai ya dad?" tanya Melinda.


"Sudah sayang, mulai hari ini. Kamu akan tinggal, sekolah di sini sama Rakai dan Ceilo." Ujar Dika mengusap puncak kepala sang anak, membuat Melinda tersenyum senang pasalnya di Singapura dia tak memiliki teman sama sekali. Dika mengawasi Melinda sangat ketat, dan Dika termasuk ayah yang over protektif dalam pertemanan.


"Dad, aku lapal." Kata Melinda menatap Melinda, tadi selama di pesawat dia tertidur.


"Baiklah kita makan dulu di sekitaran sini," ajak Dika.


Dika pun mengajak Melinda ke cafe milik Anyelir, yang dekat dengan bandara tempatnya nyaman dan ada area bermain anak. Walau harus menempuh jarak sangat jauh.


Dika memesan makanan khusus anak, dan untuk dirinya nasi goreng seafood. Dika menatap cafe yang lumayan ramai, dia pun memperhatikan Melinda yang menatap ke arah tempat bermain. Dika pun mengerti, mungkin sang anak masih canggung dan malu.


"Kamu boleh main di sana sayang," tanya Dika.


"Memang boleh dad?" tanya Melinda dengan berbinar.


"Boleh, sangat boleh. Asal jika daddy panggil kamu harus segera menghampiri daddy oke," ujar Dika.


"Siap bos," kekeh Melinda dengan menghormat pada Dika, membuat Dika tertawa dan mencubit pipi sang anak.


Melinda berbaur dengan anak yang lain, dia memperkenalkan diri pada anak-anak yang sedang main. Namun mereka mengacuhkan Melinda, membuat Melinda murung.


"Aku Ameera," sahutnya mengulurkan tangan pada Melinda.


Melinda tersenyum menatap Ameera, yang mungkin ada di bawah dirinya dan langsung menerima uluran tangan Ameera. Mereka bermain bersama, beberapa menit kemudian, Dika meminta pelayan memanggil sang anak.


"Meera, nanti kita main lagi." Kata Melinda, lalu Melinda pun melambaikan tangannya pada Ameera dan pergi bersama pelayan tersebut.


Tak lama Sekar pun datang menghampiri Ameera, dia menatap Ameera yang tersenyum.


"Kayanya ada yang bahagia nih," goda Sekar.


"Iya tante, aku bahagia karena. Kalena dapat teman balu," tunjuk Ameera, pada Melinda yang sedang makan.


Sekar pun melihat Melinda, bersama seorang lelaki yang Sekar tebak mungkin ayah dari Melinda. Namun Sekar tak dapat melihat wajahnya, karena terhalang oleh pelayan yang menata makanan di meja.


"Ya sudah, ayo keruangan ibu mu dulu dia menunggu." Kata Sekar, Ameera pun menurut saat Sekar menuntunnya ke ruangan milik Anyelir


Dimana Anyelir sudah menunggu dengan berbagai macam puding kesukaan Ameera dan juga berbagai roti untuk makan siang, sama seperti Axel yang sangat menyukai puding. Saat hamil Ameera dulu, Anyelir pun rajin membuat puding dan selalu mencicipinya lebih dulu sebelum di berikan pada Axel.


Mengingat Axel, Anyelir sungguh sangat merindukan Axel. Tangan mungil yang mengusap air mata Anyelir, mengembalikan dia dari lamunannya tentang Axel. Anyelir menatap Ameera yang tersenyum manis, dan memeluknya erat Ameera perpaduan dirinya dan Axel tapi lebih dominan Axel.


"Ibu jangan nangis, ada Ameela." Ujar Ameera, terkadang Ameera bisa dengan lancar mengucap hurup R.


"Ibu gak nangis kok, ibu cuma kangen sama ayah." Jujur Anyelir.


"Kata tante Sekar, kalo lindu doain."


"Ya kamu benar Ameera, kamu pintar." Puji Sekar, yang sejak tadi masih berdiri menyaksikan ibu dan anak yang sedang merindukan sosok laki-laki yang mencintai mereka.


Anyelir tersenyum tipis, sejak kecelakaan yang menimpa dirinya dan Axel. Kakinya patah sebelah dan Ameera di asuh oleh Sekar dan Jimi, wajar jika Ameera dekat dengan Sekar dan Jimi. Adam dan Lilya pun senang jika Ameera di rumah mereka.


Sekarang keadaan kakinya sudah mulai membaik, demi sang anak Anyelir harus kuat dan sembuh.


"Ayok kita makan dulu, habis itu kita pulang ke rumah." Ajak Anyelir, Ameera pun menurut.


Terkadang Ameera masih harus di suapi, jika sendiri makanannya akan berceceran kemana-mana.


"Enak," seru Ameera dengan binar di matanya, sambil makan sesekali Ameera menceritakan teman barunya yang bernama Melinda pada Anyelir.


"Katanya dia baru pertama kali di sini, lalu dia hanya datang bersama daddy-nya saja." Oceh Ameera, membuat Anyelir tersenyum melihat Ameera bersemangat menceritakan anak yang bernama Melinda.

__ADS_1


Sesekali Anyelir menanggapi ocehan Ameera, dan Sekar pun tertawa mendengar ocehan Ameera.


***


Dika dan Melinda sudah selesai makan siang, lalu mereka pun melanjutkan tujuan mereka ke rumah Laura.


Dika mengusap lembut rambut sang anak yang telah terlelap, mungkin efek kekenyangan dan kelelahan. Dika menatap keluar jendela, beberapa kenangan yang terlintas dalam ingatan Dika, termasuk tentang Anyelir membuat Dika menghembuskan napasnya dengan pelan.


Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai. Dika membayar taxi dan membangunkan sang anak, yang masih mengantuk sopir taxi sendiri membantu Dika menurunkan koper.


"Kita sudah sampai?" tanya Melinda.


"Iya sayang kita sudah sampai, ayok." Ajak Dika.


Pak satpam yang melihat Dika turun menyambut dengan antusias.


"Ya Allah mas Dika, akhirnya pulang juga. Kami kangen loh," katanya antusias. Dika hanya tersenyum tipis.


Pak satpam membawakan koper Dika, sementara Dika sendiri menggendong Melinda yang enggan untuk bangun.


"Nyonya, mas Dika pulang." Seru pak satpam.


Membuat Mala langsung keluar dari dapur, di ikuti oleh Laura yang sedang membereskan meja makan.


"Mas Dika," pekik Mala bahagia.


"Mbak Mala," sahut Dika, sementara Laura sudah memeluk Dika dengan erat walau ada Melinda di gendongannya.


"Sayang, grany rindu." Ucapnya mencium Melinda, membuat bocah kecil itu menggeliat dan melihat pelakunya.


"Grany," pekik Melinda, langsung minta di gendong.


"Mala buatkan Melinda susu, dan minuman untuk Dika." Perintah Laura pada Mala.


"Baik nyonya," balas Mala, yang baru turun menyimpan koper.


"Karena kalau grany di rumah Melin, opah kesepian." Sahut Mario, dia di beritahu oleh Mala saat Mala menyimpan koper milik Dika.


Melinda cemberut menatap sang kakek, namun dia tetap mengulurkan tangannya minta di peluk. Dan tertawa saat Mario mencium gemas Melinda.


"Ayok di minum dulu," ujar Laura.


"Aku masih kenyang grany," tolak Melinda.


"Ya sudah biar daddy saja yang minum," kata Dika, meraih cangkir yang berisi minuman kesukaannya.


Walau waktu telah berlalu, tapi semuanya masih sama tak ada yang berubah dari Dika. Mungkin tentang hatinya yang berubah.


"Grany, mana kembar? Mereka gak ke sini?" tanya Melinda.


"Mungkin besok," jawab Laura.


"Aku mau bikin kejutan buat kembar,"  ujar Melinda.


"Kejutannya aku mau main ke rumah kembar, boleh kan dad?" tanya Melinda antusias.


"Boleh, besok kita ke rumah Rakai dan Ceilo. Sekarang Melinda istirahat dulu pasti cape," timpal Laura, di jawab anggukan oleh Melinda.


Tapi Melinda ingin Laura yang mengantar ke kamar, dan ingin di temani oleh Laura. Sedangkan Dika berbincang dengan Mario sebentar, sebelum dia menyusul Melinda ke kamar.


***


Berkali-kali Yusra menelepon nomor sang anak Maira, pasalnya Maira berjanji akan menjemput Yusra di bandara.

__ADS_1


"Kenapa sih?" tanya Hito.


"Anak mu loh yang, dia belum datang juga. Padahal ini sudah mau satu jam," jelas Yusra.


"Mungkin lagi di jalan, sabar aja."


Yusra dan Hito baru saja pulang dari Kalimantan, untuk mengecek pertambangan batu bara milik Mario, karena kini Hito pun ikut mengurus perusahaan Mario setelah Dika mengurus pekerjaannya dari Singapura.


Hito pun milik perusahaan sendiri yang bergerak di bidang makanan kemasan, lalu perusahaan cabang yang atas nama Yusra pun dia yang mengurusnya.


"Halo Maira, kamu dimana? Ini mamah udah nunggu lama," omel Yusra.


"Maaf mah, mobil bannya pecah. Dan jauh dari bengkel," beritahu Maira.


"Aku lagi nunggu pekerja bengkel, tapi mereka belum datang sama sekali." Lanjut Maira dengan kesal pula.


Membuat Yusra menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu dia melirik ke arah Hito yang menatapnya juga.


"Ya sudah mamah dan papa, akan pulang pakai taxi saja. Kamu hati-hati yah! Jika belum datang juga, tinggalin aja mobilnya," papar Yusra.


"Iya mah," balas Maira.


Yusra pun memutuskan sambungan teleponnya.


"Kenapa?" tanya Hito.


"Mobilnya mogok, kita pulang pakai taxi saja yah," kata Yusra, di jawab anggukan oleh Hito.


Mereka pun pulang menggunakan taxi, sementara Maira sudah merasa kesal karena mobilnya mogok. Dan yang membuatnya lebih kesal tak ada satu mobil pun yang lewat.


"Sial banget sih, niatnya pengen cepat malah bannya pecah." Gerutu Maira.


Saat asik menatap ban mobil, Maira di kejutkan dengan klakson mobil yang keras.


"Ish... Sial," umpat Maira, menatap mobil yang berada di belakangnya.


"Woy... Gak liat apa ban mobil gue pecah," bentak Maira.


Pemilik mobil tersebut pun turun, membuat Maira sedikit terpesona akan ketampanannya.


"Astaga Mai sadar... Sadar," bisik Maira dalam hati, lalu dia memukul kepalanya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Ban mobil ku pecah," tunjuk Maira.


"Apa ada ban cadangan?" tanyanya, Maira pun menggeleng sambil menggaruk rambutnya.


Membuat laki-laki tersebut menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu dia menelepon seseorang.


"Kamu ikut dengan ku, nanti mobil mu akan di bawa oleh montir langganan keluarga ku." Paparnya.


Maira menatapnya dengan penuh curiga, sebagai gadis muda yang jarang keluar rumah. Jika keluar pun dia selalu bersama Dela atau pamannya Dika, itu sebelum kedua orang tersebut menikah. Sehari-hari Maira selain kuliah, dia membantu sang ayah Hito mengurus perusahaan karena hanya dirinya anak satu-satunya Hito dan Yusra.


"Hey," tegur laki-laki tersebut, melambaikan tangannya di depan wajah Maira.


"Ahh... Iya ada apa?"


"Kenapa melamun?"


"Tidak ada, aku tidak pernah menerima tumpangan dari orang asing."


"Baiklah, kenalkan nama ku Al Rumi." Ujarnya.

__ADS_1


Ya dia Rumi putra kedua Nania dan Satria, adik dari Feli. Rumi sebenarnya tahu siapa gadis di depannya ini, dia adalah putri dari Hito Wijaya pemilik Wijaya grup. Perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman kemasan, setiap ada pertemuan di acara pesta Rumi selalu melihat gadis tersebut dengan wajah kesalnya.


***


__ADS_2