
Sore harinya Dika tidak menjemput Anyelir, karena Dela terus saja mengekor dirinya. Tapi dia berjanji akan menjemput Anyelir jika sempat.
"Kenapa sih lo ikutin gue terus? Kaya kurang kerjaan aja!" gerutu Dika.
"Lah aku kan mau uncle aman dari godaan cewek genit," ujar Dela.
Mereka baru saja pulang kuliah, karena kuliah mereka sampai sore. Dan Dela memilih pulang ke rumah Granny dan opanya.
"Kalian ini, baru juga pulang kenapa udah ribut aja sih?" tanya Laura, yang baru saja turun.
"Liat nih bu, cucu kesayangan mu. Ngikuti aku terus, aku kan risih." Kesal Dika.
Dika pun melengos ke dapur membawa minuman sendiri, sementara Dela hanya memutar bola mata malas atas ucapan Dika.
"Granny aku kan lindungi, uncle rese. Kalo engga dia bakal di kejar-kejar cewek satu kampus," ujar Dela meletakan berbagai macam surat, dan hadiah yang di tujukan untuk Dika.
Dela pun memilih makanan ringan, yang di berikan oleh teman sekelasnya untuk Dika.
Dika memang rupawan namun dia memiliki sifat yang judes dan dingin, namun pada Dela dia biasa saja. Makanya banyak mahasiswi yang menitipkan hadiah dan surat untuk Dika, yang terkadang membuat Dela memberengut kesal.
"Wah... Banyak banget hadiahnya? Kamu ulang tahun Del?" tanya Yusra tiba-tiba, Yusra tinggal dengan ibu mertuanya Nenek Wina yang tak jauh dari rumah Laura dan Mario.
"Bukan auntie, ini punyanya uncle rese," jujur Dela.
"Wah... Bu, kayaknya kandidat calon mantu ibu banyak," kekeh Yusra.
"Kamu ini, Dika masih muda. Dia harus melanjutkan pendidikannya." Ujar Laura.
"Aku setuju sama ibu," sahut Dika, memberikan minuman pada Dela. Dika jarang sekali merepotkan pembantu rumah tangganya, dia selalu membuat minumannya sendiri.
"Halah... Liat aja, dia nikah muda pasti." Cetus Yusra.
"Engga yah," elak Dika.
"Sudah-sudah kalian ini," tegur Laura.
"Ibu mau ke dapur dulu, mau siapin makan malam. Kami nginep lagi disini Del?" tanya Laura.
"Iya Granny, mumpung hari sabtu dan besok minggu." Kekeh Dela.
Laura pun mengangguk, Dela dan Yusra sibuk membuka hadiah milik Dika. Mereka tertawa saat membaca surat cinta sambil melirik Dika, yang sudah cemberut.
"Aku ke atas dulu," pamit Dika, di jawab anggukan Dela dan Yusra yang masih tertawa membaca surat dari fans Dika.
Dika merebahkan dirinya di kasur menatap langit-langit kamar, selalu terbayang senyum manis Anyelir yang membuat hatinya berdebar.
"Anyelir mau kah kamu jadi kekasih ku?" gumam Dika, dia menutup wajahnya dengan bantal karena malu.
"Anyelir mau gak yah? Harus mau," kekeh Dika.
Malam ini dia akan pergi menjemput Anyelir, di tempat kerjanya dan akan menyatakan cintanya.
***
Makan malam pun tiba semua anggota keluarga Mario telah berkumpul di meja makan, tak lupa Maira pun ikut bergabung bersama Wina, besan dari Laura dan Mario. Sedangkan Hito belum pulang dari perjalanan bisnisnya.
__ADS_1
Maira, Dela dan Yusra sangat kompak menggoda Dika.
"Bersyukur ka Yusra anaknya satu, coba kali dua!" celetuk Dela.
"Kenapa gitu?" tanya Yusra.
"Jadi bertambah tim bullynya uncle Dika," kekeh Dela.
Membuat semua orang tertawa, hanya Dika yang memutar bola mata malas.
"Sudah-sudah makan dulu," tegur Laura.
Mereka memang makan tapi sesekali saling lirik, membuat Dika jengah juga. Tapi jika berjauhan bisa juga rindu.
Setelah selesai makan malam, mereka masih berkumpul di meja makan. Dika melirik Laura yang sedang berada di dapur dia ingin meminta izin untuk keluar, mumpung Dela dan Maira anteng.
"Bu," bisik Dika membuat Laura terkejut.
"Dika, kamu bikin ibu kaget saja." Ujar Laura.
"Maaf bu," ringis Dika.
"Kenapa bisik-bisik segala?" tanya Laura.
"Aku mau keluar bu, boleh yah? Kali ini aja, aku kan anak baik gak pernah keluar rumah," mohon Dika.
"Memang mau kemana?"
"Memperjuangkan cinta seorang gadis," cetus Dika tersenyum.
"Baiklah ibu mengizinkan mu keluar, tapi jangan terlalu larut malam pulangnya. Nanti papi marah," ujar Laura.
"Siap bu, makasih bu. Ibu memang yang terbaik," puji Dika mencium pipi Laura.
Laura menggelengkan kepalanya saja, dia menatap Dika yang sudah pergi begitu saja. Tak butuh waktu lama, Dika sudah siap dia memakan kaos berwarna hitam, dan juga memakai Hoodie berwarna coklat.
Dika pergi saat Dela dan Maira berada di kamar Dela, sementara yang lain sibuk mengobrol di ruang tamu.
Kali ini dia menggunakan motor kesayangannya yang jarang di gunakan, dia melesatkan motornya di jalanan ibu kota yang lumayan ramai. Karena malam minggu.
Berpuluh menit kemudian, Dika sudah sampai di cafe tempat Anyelir kerja. Dia melihat Anyelir yang hilir mudik membawa pesanan ke meja satu, ke meja berikutnya.
Dika tersenyum menatap gadis pujaan hatinya, karena cinta datang tak terduga pada siapa saja. Dika memutuskan menunggu Anyelir di dalam, dia meminta pelayan lain yang mengantar makanan dan minuman untuk Dika.
Dua jam menunggu tak membuat Dika lelah, justru dia menikmati wajah cantik Anyelir yang berkeringat. Sesekali dia menyeka peluh yang mengalir, begitu cantik.
Tepat pukul sepuluh Anyelir sudah keluar, dia begitu terkejut pada Dika yang berada di hadapannya tengah tersenyum manis.
"Mas Dika," lirih Anyelir
"Seharusnya aku bawa kamu keluar lebih dulu," keluh Dika.
"Ayok aku antar," ajak Dika menarik Anyelir ke motornya.
Tanpa menunggu jawaban Anyelir, Dika akan mengantar Anyelir pulang. Tapi dia akan mengajak Anyelir makan malam dulu.
__ADS_1
"Seharusnya mas Dika gak usah repot-repot," ujar Anyelir, saat mereka duduk di warung bakso.
"Aku gak repot Nye!"
"Tapi Mas..."
"Sudah diam, ayok makan. Anggap aja ini hari jadian kita dan aku yang mentraktir kamu makan," cetus Dika membuat Anyelir heran.
"Jadian?" gumamnya.
"Kalo masih mau, kamu boleh nambah Nye. Gak papa kok, aku suka gadis gemuk." Ucap Dika.
"Engga mas, aku sudah kenyang." Tolak Anyelir.
"Ya sudah aku antar kamu pulang,"
Dika pun berdiri dan membayar pesanan mereka, mengucapkan terima kasih pada si penjual bakso. Kemudian mengajak Anyelir terlebih dulu ke taman, walau malam semakin larut. Tapi taman masih ramai oleh muda-mudi yang berpacaran.
Mereka duduk bersisian, karena bangku taman pun penuh juga.
"Kenapa mas Dika, liatin aku gitu? Ada yang aneh ya mas?" cerca Anyelir.
"Engga kok, kamu cantik." Puji Dika.
"Nye mau kah kamu jadi kekasih ku?" tanya Dika tiba-tiba.
Walau tak ada adegan berlutut, tapi ucapan Dika cukup mencuri perhatian yang lainnya.
"Terima saja mbak," celetuk pengunjung taman.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Dan sorak sora meneriaki Anyelir untuk menerima Dika, maka tak ada pilihan lain selain menerima Dika.
"Ya aku mau mas,"
"Yes," pekik Dika.
Dika bersorak senang, dia pun mentraktir semua orang yang ada di taman. Membuat mereka bahagia, dan mengucapkan selamat.
"Boleh peluk gak sih?" kekeh Dika.
"Boleh mas," jawab Anyelir malu-malu.
Dika pun memeluk Anyelir dengan erat, dan di balas pelukan Anyelir. Setelah pelukan mereka terlepas Dika membayar semua pedagang yang berada di sana. Dan mengantar Anyelir pulang ke rumah.
Semoga suka 💞
Maaf typo
Ada yang kangen gak yah 😅
__ADS_1
Pasti kangen sama Dela dan Auriga, sabar yah 😁