Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.30


__ADS_3

Zea memperhatikan sang daddy, yang melirik ke arah Sekar yang sedang membantu menyusun piring-piring di meja.


"Apa anda pemiliknya?" tanya Dela.


"Bukan nona, saya hanya pegawai. Yang kebetulan di percaya oleh pemilik cafe ini," papar Sekar.


"Oh... Aku kira anda pemiliknya," balas Dela, Sekar hanya tersenyum saja.


Sementara Anyelir, memantau lewat CCTV yang terhubung di ruangannya.


"Selamat menikmati, semoga suka." Ujar Sekar, lalu melangkah meninggalkan meja tersebut.


Anyelir pun memperhatikan Dela, yang kandungannya sudah besar. Dulu saat pertama bertemu dia belum hamil, dan sekarang saat bertemu kembali sudah hamil sebesar ini.


"Sayang aku ke kamar mandi dulu," izin Dela.


"Aku antar?"


"Tidak perlu sayang," balas Dela, dia pun berdiri dengan kesusahan walau duduk di kursi. Perutnya yang membuncit membuatnya agak susah bergerak bebas, belum lagi kenaikan berat badannya yang meningkat.


Membuat Dela kadang insecure, pada dirinya sendiri. Tapi Auriga tak mempermasalahkan itu semua, dia senang melihat Dela menjadi gemoy dan berisi di bagian tertentu.


Saat Dela berada di kamar mandi, Riana pun menghampiri keluarga Auriga. Dengan tak tahu malunya, dulu dia pernah di tolak oleh Jimi tapi sekarang malah menampakan diri.


"Selamat malam," ucap Riana.


"Malam," seru semua orang yang ada di meja, tapi tidak dengan Auriga dia menatap datar Riana.


"Boleh bergabung?" tanyanya.


"Silahkan," sahut Sebastian, ayah Juna.


Riana pun mengambil alih tempat duduk Dela.


"Itu tempat duduk bunda ku," protes Lula.


"Tapi kan bunda mu gak di sini, lagian di sini tidak ada kursi kosong." Balas Riana tersenyum sinis pada Lula.


Zea pun menatap lekat Riana, merasa familiar dengan wajahnya. Dan dia baru ingat, Riana yang pernah di tolak oleh sang daddy. Zea pun tidak suka, karena Riana berlaku tidak sopan. Sebastian yang mempersilahkan di duduk pun tak tahu, letak permasalahan keluarganya dan Riana.


"Kenapa ada di sini?" bisik Auriga.


"Aku akan mengikuti mu, kemana pun kamu pergi Riga. Karena kamu milikku," tegas Riana dengan berbisik pula.


Mereka pun mengacuhkan Riana, dan kembali berbincang tentang pernikahan anak mereka. Dari jauh, Dela mengepalkan tangannya, melihat Riana akrab dengan Zea dan Jimi.


Dia pun memilih turun ke lantai satu, dengan susah payah dan dengan hati-hati. Dia duduk di pojok, dan memesan kopi ice dan Croissant untuk mengembalikan moodnya.


Semua itu tak lepas dari pengawasan Anyelir, dia melihat raut wajah Dela yang badmood. Anyelir memutuskan untuk menghampiri Dela, dan menemaninya.

__ADS_1


"Dela," panggil Anyelir, membuat Dela mendongkak menatap Anyelir tak percaya.


Beberapa bulan tak bertemu, membuatnya pangling jadi tambah cantik.


"Anyelir," pekik Dela, dia berdiri walau susah payah dan memeluk Anyelir.


"Kamu ke mana saja? Aku hubungi kok gak bisa? Kamu ganti nomor lagi? Pindah lagi?" cerca Dela, tak melepaskan pelukan Anyelir.


Anyelir melepas pelukan Dela, dan menggengam tangannya.


"Satu-satu pertanyaannya," kekeh Anyelir.


"Oke... Oke,"


Anyelir mengajak Dela duduk kembali.


"Bagaimana kabar mu? Dan juga..."


"Dia baik, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Beritahu Dela, menatap wajah Anyelir yang tertunduk.


"Aku juga baik, sebentar lagi akan melahirkan anak kembar." Sambungnya lagi.


Anyelir tersenyum menatap perut Dela, tak menyangka Dela hamil anak kembar. Pantas saja, perutnya terlihat lebih besar dari biasanya.


"Selamat laki-laki apa perempuan?" tanya Anyelir.


"Kata dokter sih, laki-laki semua."


"Sekarang ceritakan tentang mu, bagaimana kamu bisa sesukses ini?" tanya Dela antusias.


Anyelir pun menceritakan semuanya, setelah dia melihat pernikahan Dika di televisi. Anyelir langsung memiliki kesibukan, dengan membangun bisnis kulinernya.


"Jadi ponsel mu di jual, untuk menambah modal? Atau menghindari ku?"


"Dua-duanya, nanti kapan-kapan kamu mampir ke Pangalengan. Rumah makan ku dekat dengan tempat wisata," imbuh Anyelir.


"Ya nanti jika aku sudah melahirkan,"


Dela mengelus lembut perutnya, terdapat tendangan-tendangan kecil yang membuat Ara dan Lula betah. Berlama-lama, di depan perut Anyelir.


"Kapan kamu menikah Nye? Jangan bilang, kamu belum move-on dari Dika?" tebak Dela.


"Aku belum siap, belum tidak move-on." Kilah Anyelir, nyatanya sungguh sulit melupakan Randika.


Membuat Dela mengehela napas pelan, dia pun mengalihkan topik lain. Tidak membahas Dika, Dela meminta Anyelir agar mengunjungi dirinya di Jakarta.


"Iya aku pasti datang, saat kamu lahiran." Ucap Anyelir.


"Terima kasih Anye, kamu sudah menemui ku. Bisa saja yang lain menjauh, karena enggan berurusan dengan masa lalu." Cetus Dela.

__ADS_1


Dela pun melirik ke lantai dua dimana keluarganya berada, ada rasa sedih karena Auriga tak mencari dirinya.


"Kenapa? Kamu baik-baik saja?" tanya Anyelir menatap raut wajah Dela yang murung.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Bohongnya.


Anyelir pun meminta izin untuk kembali bekerja, karena sebentar lagi akan pulang. Dela hanya mengangguk sebagai jawaban, moodnya sungguh jelek.


Sementara di lantai dua, Auriga yang merasa Dela belum kembali merasa cemas dan khawatir. Tapi Riana selalu menahannya, membuatnya sedikit geram dan tidak mungkin dia mengusir Riana di depan orang lain.


Zea menatap Auriga, dan saling pandang.


"Ayah kenapa bunda belum kembali?" celetuk Lula.


"Ayah gak tau sayang, biar ayah lihat." Jawab Auriga, dia pun beranjak dari duduknya.


Lalu melangkah menuju kamar mandi, sementara Riana menatap tajam Lula. Yang tak kalah tajamnya, dengan wajah dingin khas Auriga.


Auriga menanyakan pada pengunjung yang baru keluar, dan dia tak melihat ada wanita hamil di dalam. Membuat Auriga panik dan cemas.


"Kemana kamu sayang?"


Sedangkan Dela sendiri, dia sudah pergi dari cafe tersebut. Dan memutuskan untuk kembali ke apartemen milik Reen, satu pesan dari Auriga dia abaikan. Tapi dia pun membalas pesan tersebut.


"Aku pulang duluan, bersenang-senanglah kamu dengan mantan mu." Balas Dela, di dalam pesan tersebut.


Membuat Auriga bernafas dengan lega, dia kembali ke meja dan berpamitan pulang lebih dulu. Karena Dela sudah lelah, dan dia menunggu di bawah tentu saja bohong. Jika mengatakan Dela pergi sendiri, dia akan di marahi oleh Jimi dan Zae.


"Sayang kalian mau pulang bareng ayah? Apa tante Zea?" tanya Auriga pada kedua anaknya.


"Aku pulang bareng ayah aja," balas Lula.


"Aku juga ayah, aku udah ngantuk." Timpal Ara.


"Ya sudah ayok," ajak Auriga, lalu berpamitan pada semua orang.


Riana pun menatap tak suka Auriga, lalu ikut berpamitan dan menyusul Auriga.


"Aku numpang boleh? Hotel ku gak jauh dari apartemen mu kok," katanya.


"Tidak boleh," sahut Lula dengan judes.


"Kenapa?" tanya Riana.


"Karena yang boleh masuk ke dalam mobil ayah, cuma kami bertiga. Aku, Ara dan bunda." Tegas Lula, walau masih remaja dan akan masuk ke kelas tiga.


Lula terlihat sekali ketegasannya, dan setiap bicara dengan orang yang tak dia suka selalu ketus dan terkesan dingin. Mungkin karena wajahnya dominan Auriga, maka sifat Auriga pun dominan dalam diri Lula. Sementara Ara, dia mirip dengan ibu kandung mereka.


tbc...

__ADS_1


Semoga suka.


Tenang yah, nanti kisah Anyelir dan Dika pasti akan ada. Untuk sementara waktu kita adain kisah Dela dan yang lainnya agar gak kehabisan ide 🙏


__ADS_2