
Setelah mendapat kabar Dela di rumah sakit, malam itu juga Bara dan Yumna berangkat ke Bandung. Sedangkan Tatiana mereka titipkan di rumah Laura, pukul satu dini hari Yumna dan Bara sudah sampai di rumah sakit, yang di kirim oleh Zea.
Dengan tergesa dia memasuki ruang rawat sang anak, walau Yumna tahu ini bukan jam besuk. Saat masuk, ada Auriga yang sedang tertidur di sofa. Sementara Dela, sedang menatap kosong ke arah layar televisi yang menyala dengan suara pelan.
"Sayang," lirih Yumna dia menghampiri Dela, lalu memeluk sang anak dengan erat.
"Aku baik-baik saja bunda," balas Dela, seolah tahu kekhawatiran sang ibu dan juga ayahnya. Yang tersenyum dan memeluk dirinya, setelah Yumna melepaskan dekapannya.
"Ayah tahu, kamu dan anak kamu pasti kuat." Ujar Bara, mengelus lembut perut sang anak dan mencium puncak kepala Dela.
Dela mengangguk sebagai jawaban, lalu memeluk Bara kembali. Yumna yang melihat itu pun mengerti, bahwa Dela membutuhkan Bara sebagai pelindungnya kini. Yumna pun beralih lada Auriga, laki-laki yang jadi menantunya kini sedang terlelap. Namun Yumna membiarkan saja, sempat terbesit pikiran membawa Dela pergi malam ini. Tapi dia masih mengingat Lula dan Ara.
Setelah cukup puas berada dalam pelukan Bara, Dela akhirnya tertidur. Dengan hati-hati Bara meletakan Dela, dan menyelimuti dirinya.
"Sebaiknya kita sewa hotel juga sayang, nanti pagi kita ke sini lagi." Ucap Bara.
"Baiklah, tapi hotelnya yang sekitaran sini." pinta Yumna.
Bara pun menurut, mereka keluar dari ruang rawat Dela dengan pelan. Takut membangunkan mereka berdua.
****
Keesokan harinya, Yumna sudah bangun pagi sekali. Padahal dia hanya tidur beberapa jam, setelah melakukan panggilan dengan Tatiana. Yumna bergegas pergi mandi dan memesan sarapan untuk Dela, sementara Bara dia sedang asik dengan pekerjaannya di laptop.
"Kamu sibuk sekali sayang," ujar Bara, menatap Yumna yang bulak balik.
"Aku kesal, ingin memarahi Auriga." Sahut Yumna, tapi Bara malah tersenyum.
"Baguslah, setidaknya dulu kamu diam saja kan di tekan sama dia. Sekarang lampiaskan dia menantu mu," kekeh Bara, malah membuat Yumna kesal dan mencubit perutnya.
"Kok KDRT sih," protes Bara.
"Heh... Mana ada di cubit KDRT, yang ada di banting, di sundul sampe mimisan. Baru itu KDRT namanya," omel Yumna tertawa, Bara mematikan laptop dan menutupnya kemudian dia menyimpannya di meja. Lalu membawa Yumna ke dalam pangkuannya.
"Jangan macam-macam, ingat anak kita sedang sakit." Ujar Yumna.
"Gak apa dong, Dela bisa menunggu yang di bawah tidak. Kamu selalu sibuk sama Tatiana dan toko mu, jika malam kamu kelelahan mana tega aku."
Bara mengecup pipi Yumna, yang sudah merah merona. Itu yang selalu Bara suka sari Yumna, jika di goda dia malu-malu dan pagi itu terjadilah penyatuan antara Bara dan Yumna. Yang sesungguhnya sudah di tunggu oleh Dela, yang cemberut menatap Auriga.
"Sayang," panggil Auriga.
"Jangan dekat-dekat," pekik Dela.
"Maafkan aku sayang, kamu gak kangen apa sama aku? Anak kita juga, pasti dia kangen sama ayahnya." Cerca Auriga.
"Engga, anak-anak gak kangen sama ayahnya." Ketus Dela.
Auriga menghela napas dengan kasar, dia pun duduk kembali di sofa yang dia pakai tidur semalam. Untuk Riana, dia akan menemuinya hari ini.
Berbeda dengan Jimi, pagi-pagi dia sudah berada di cafe milik Anyelir. Dengan alasan memesan sarapan, padahal Zea memasak untuk mereka di apartemen Reen.
Jimi melihat Anyelir dan Sekar masuk ke pintu samping cafe, dengan dua anak kecil kisaran umur delapan tahun dan empat tahun.
"Apa itu anak-anaknya Sekar?" tanyanya pada diri sendiri.
Jimi memutuskan untuk turun, dan menghampiri mereka. Saat sampai tatapannya tertuju pada anak laki-laki, yang juga menatapnya.
"Ada apa ya om?" tanya Adam dari jarak jauh, dia takut jika laki-laki di depannya ini adalah penculik.
Jimi menggaruk rambutnya yang tak gatal, gugup dan bingung jadi satu. Dia sedang memasuki jatuh cinta tahap tiga, setelah yang pertama pada Dania dan ibu dari Zea dan Auriga.
"Adam ayok makan," teriak Lilya.
"Sebentar ka ada orang di sini," sahutnya.
Lilya dan Sekar pun menghampiri Adam, yang masih di dekat pintu. Khawatir orang jahat.
"Loh! Pak Jimi, ada apa yah? Kami masih tutup pak," katanya.
__ADS_1
"Ahh... Itu, sayang ingin bertemu dengan pemiliknya."
"Cinta?" tanyanya.
"Iya." Sahut Jimi cepat.
"Oh.. Silahkan masuk, anak-anak ayok makan dulu. Nanti kalian telat ke sekolah," ujar Sekar.
Sekar pun mempersilahkan masuk, Jimi mengikuti Sekar dan anak-anaknya. Anyelir terkejut dengan kedatangan mertua dari Dela sepagi ini.
"Pak Jimi, ada apa?" tanya Anyelir.
"Begini Anyelir... Ehh... Cinta," katanya salah tingkah.
"Anyelir saja," balas Anyelir menahan tawa, dia tahu kenapa Jimi salah tingkah begini.
"Saya ingin menyampaikan pada kamu, kalau Dela di rumah sakit. Katanya dia ingin kamu jenguk," alasan Jimi, membuat Anyelir terkejut.
"Kenapa Dela? Apa dia akan melahirkan?" tanya Anyelir.
"Tidak semalam dia keram, mungkin kelelahan jadi di bawa ke rumah sakit." Beritahu Jimi, di jawab anggukan Anyelir.
"Baiklah nanti saya lihat, anda sudah sarapan? Kebetulan mbak Sekar membuat lebih," cetus Anyelir.
"Dan juga masakannya enak," puji Anyelir, membuat Sekar menatapnya penuh tanya.
"Baiklah saya ikut," sahut Jimi, tak ingin kehilangan moment pedekate dengan Sekar.
Anyelir pun membawa satu piringnasi goreng untuk Jimi, dengan teman kerupuk udang. Setiap pagi dan siang Mereka selalu makan di cafe, sementara malam mereka masak di rumah atau tak jarang makan di cafe.
***
Pagi hari di kediaman Jenny, Dika di buat khawatir oleh muntah-muntahnya Jenny. Lalu dia pun tak bisa makan apa pun.
"Apa setiap pagi selalu begini?" tanya Dika.
"I-iya," jawab Jenny menunduk, mungkin ini saatnya dia jujur tentang penyakitnya.
Jenny memeluk erat Dika, lalu menangis dalam pelukannya. Berulang kali meminta maaf pada Dika, jika selama ini dia bohong dan menyembunyikan penyakit yang bersangkutan dengan otak.
Dia yang mendengar pengakuan Jenny, menghela napas dengan pelan. Dia mengusap punggung Jenny yang bergetar karena tangis, lalu melerai pelukannya dan mengusap air matanya.
"Sudah jangan menangis, aku sudah tahu semuanya. Aku senang kamu jujur," ungkap Dika, membuat Jenny semakin menangis.
"Maafkan aku, harusnya dari awal aku jujur. Tapi aku gak mau mengugurkan anak ini," papar Jenny, yang kembali memeluk Dika.
"Aku takut menjadi beban, buat kamu Dika. Aku takut penyakit ku gak bisa sembuh,"
"Stt... Jangan bilang begitu, kamu bukan beban ku, kamu pasti sembuh oke." Ujar Dika mencoba menenangkan Jenny.
Dika terus mendekap erat Jenny, yang masih menangis.
"Nanti kita berobat ke Singapura, agar kamu sembuh." Kata Dika.
Jenny menggeleng, bukannya dia tak mah sembuh. Tapi menurut Alzeta, harapan sembuhnya hanya sekian persen.
Jenny dan Dika terdiam larut dalam pikiran masing-masing, ketukan di pintu membuyarkan lamunan mereka.
"Ada apa bi?" tanya Dika.
"Sarapan sudah siap, apa mau di bawa ke sini apa di bawah saja?"
"Bawa sarapan ke sini saja bi, dan berikan Jenny buah, roti panggang dan susu hamil saja. Sepertinya dia tak bisa makan nasi," ujar Dika.
"Dia muntah lagi?" tanya Bibi Maura.
"Ya bi, aku sangat khawatir." Jujur Dika.
Bibi Maura mengusap lengan Dika, dia bisa melihat ketulusan dari sorot matanya. Walau belum ada cinta, tapi kepedulian Dika sangat tinggi untuk Jenny.
__ADS_1
"Kamu yang sabar nak Dika," ucap Bibi Maura, dan berpamitan ke bawah.
Dika menatap Jenny yang sedang memejamkan matanya, Dika tahu Jenny sedang menahan pusing.
"Axel kapan kamu lamar Anyelir?" tanya Arumi ibunya Axel.
"Entahlah bu, Anyelir selalu menolak ku. Dia belum bisa melupakan tuan Dika," kata Axel menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Undang dia, biar ibu yang membujuknya."
"Baik bu, nanti aku akan ke tempat Anyelir."
***
Siang harinya di rumah sakit tempat Dela di rawat, Auriga menatap Yumna yang habis memarahi dirinya. Dulu dia menekan dan mengancam Yumna, sekarang malah dia yang kena marah dan di ancam.
"Huh... Sungguh dunia terbalik," bisik Auriga dalam hati.
"Ingat yah Auriga, aku akan membawa Dela setelah dia sembuh, dan kamu aku larang menemui dia." Tegas Yumna.
Yumna berhenti marah saat Ara dan Lula datang, mereka langsung memeluk Yumna. Mereka pun dekat sekali dengan Yumna, dan memanggilnya Nana.
"Nana kapan datang?" tanya Lula.
"Semalam sayang," jawab Yumna.
"Ka Tiana gak ikut?" tanya Ara pula.
"Tidak dia kan sekolah,"
"Oh... Iya yah," kekeh Ara.
"Ara belum sekolah sih, jadi kaya libur terus." Lanjut Ara kemudian.
Lula mendekati Dela saat Ara dan Yumna asik bicara, dan mencium pipinya. Lalu mengusap perut Dela.
"Bunda sudah sehat kan?"
"Sudah, mungkin nanti sore bisa pulang. Bunda udah gak betah di rumah sakit," cetus Dela, di jawab anggukan oleh Lula.
Dan saat mereka asik berbincang, tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka. Anyelir menjenguk Dela, dan betapa terkejutnya Yumna melihat Anyelir disini.
"Anyelir," desis Yumna.
"Ka Yumna," lirih Anyelir menunduk.
"Sini Anye," panggil Dela.
Anyelir pun menurut, dia duduk di bangku samping ranjang Dela. Lalu mengelus lembut perut buncitnya.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Anyelir.
"Baik udah enakan," balas Dela.
"Kenapa bisa ke sini?"
"Ahh... Itu, tuan Jimi yang memberitahu." Ujar Anyelir.
"Sebenarnya, itu alasan ayah mertua mu Dela. Dia ingin dekat, dengan mbak Sekar tapi dengan alasan memberitahu kamu ke rumah sakit." Bisik Anyelir, membuat Dela tertawa dan menatap ayah mertuanya. Yang sedang bercengkrama dengan Bara.
Sementara sang suami, entah dimana dia berada. Dela pun tak peduli.
"Kamu tahu Dela, sampai-sampai tuan Jimi mengantar Adam dan Lilya ke sekolah," sambungnya lagi dengan berbisik pula.
"Iya kah? Wah... Kayanya daddy Jimi, jatuh cinta." Tawa Dela dan Anyelir pun pecah.
Setelah berbincang dengan Dela, Anyelir pun menyapa Yumna. Yang sudah lama tak dia temui, jujur Anyelir sangat merindukan Laura juga. Yang sudah dia anggap sebagai ibu, walau dia tak jadi menantu dari Laura.
****
__ADS_1