
Lula menatap Mahira, yang bertekad untuk merebut Aaron dari Miska.
"Aku gak mau kaya ka Lula, yang pasrah aja kekasihnya di ambil orang." Tegas Mahira.
"Mahira," tegur Lula.
"Ka Lula diam aja, jangan pernah ikut campur urusan ku." Ketus Mahira, lalu dia meninggalkan halaman belakang rumah. Lula hanya menatap sendu Mahira, dia sudah menganggap Mahira sebagai adik.
Saat melewati ruang tamu, Rumi menatap sang anak yang wajahnya di tekuk.
"Mahira kamu mau ke mana?" tanya Rumi.
"Pulang ke rumah Nana," jawabnya singkat, dia berlari meninggalkan rumah Mario tanpa pamit menuju rumah Yusra. Membuat Rumi menggelengkan kepala, dan meminta maaf atas kelakuan sang anak.
Sementara itu Miska sungguh tak enak, saat melihat Lula kembali tanpa Mahira. Kata Lula Mahira pulang, karena ada yang harus di kerjakan itu hanya alasan saja. Mahira hanya ingin meluapkan kesedihannya.
Melinda yang melihat kegelisahan Miska, mengajak semua orang untuk ke meja makan.
"Ayo lah, aku lapar. Bayi-bayi ku sudah protes meminta makan," candanya, membuat semua orang tertawa.
Melinda menarik lengan Miska, agar ikut makan bersama. Walau sudah menolak tapi Miska tak kuasa, dia selalu menurut akan perintah Melinda dan Aaron. Di meja makan sendiri, Laura di bantu Yusra dan Yumna menata makanan.
"Tante aku lapar," rengek Melinda, memeluk lengan Yusra dan Yumna.
"Heumm... Bumil selalu saja lapar," kekeh Yusra.
"Iya lah apalagi anak ku ada dua," sahut Melinda.
Yumna menyuruh semu orang untuk duduk, dia mun menghampiri ruang tamu di mana para pria berkumpul dan mengajaknya makan. Makan malam kali ini, semua orang membicarakan Aaron dan Miska. Lula hanya diam saja kali ini, tak banyak berkomentar.
Tepat pukul sepuluh malam, acara kumpul keluarga sudah selesai. Semua orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, kecuali Melinda dia ingin menginap di rumah Mario karena ingin bermanja pada Mario.
****
Miska di antara kembali oleh Aaron, seperti biasa selalu ada keheningan di dalam mobil tersebut. Kali ini, Aaron tak menyalakan musik untuk mengusir sepi.
__ADS_1
"Lebih baik kita tak usah dekat Aaron," celetuk Miska, memecah keheningan.
"Kenapa?"
"Aku gak pantas buat kamu, kamu masih muda. Apa kata orang nanti? Kamu cocok sama Mahira," tutur Miska, membuat Aaron menghentikan mobil secara mendadak.
"Apa maksud mu? Aku tidak mencintainya Miska, aku hanya mencintai kamu. Dengan cara apa lagi yang harus aku membuktikannya?" pekik Aaron, menahan kekesalannya.
Miska hanya menunduk dan menggeleng, dia pun tak tahu harus bagaimana? Di satu sisi, dia pun menyukai Aaron. Tapi di sisi lain, dia merasa kasihan pada Mahira yang sudah lama menyimpan perasaan untuk Aaron.
Tanpa di sangka, Aaron menarik Miska dan menciumnya dengan pelan dan dalam. Aaron menahan tengkuk Miska, walau dia sudah mendorong dadanya.
"Hah... Aaron, kamu mau bunuh aku?" marah Miska.
"Maaf, aku mau kamu jadi milik ku Miska. Besok aku akan datang ke rumah mu dan meminta mu pada ibu mu," putus Aaron.
"Aaron, kamu gak bisa begitu."
"Kenapa? Toh anak lelaki gak perlu wali,"
"Bukan itu tapi..."
"Bukan, tapi kamu masih muda Aaron. Lebih baik kamu kejar cita-cita mu terlebih dulu," papar Miska menundukan kepalanya.
"Aku bisa mengejar cita-cita dan kuliah, setelah menikah. Tidak ada larangan Mis," ucap Aaron lembut, dia membelai pipi Miska.
"Kamu jangan khawatir, jika seluruh keluarga ku menolak. Kamu masih punya ka Melinda sama ka Axel aku yakin mereka akan dukung kita," tutur Aaron.
Miska pun hanya mengangguk dengan pasrah, dia akan mengikuti apa yang Aaron lakukan. Bahkan jika Aaron akan menikahinya secara diam-diam, dia pun rela asal tak berpisah dengan laki-laki muda yang sudah mulai dia sukai.
****
Sementara itu di kediaman Yusra, Mahira duduk termenung dia masih tak rela untuk mengikhlaskan Aaron dengan Miska.
"Harusnya kamu lihat aku Aaron, kamu selalu acuh pada ku." Bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Mahira, dengan terpaksa dia membuka pintu. Dan mendapati sang paman, yang sedang tersenyum manis di depan pintu kamar.
"Ngapain?" tanya Mahira ketus.
"Astaga ketus amat neng, gak laku tau rasa." Cebik Kaivan.
"Dih... Gaje," gumam Mahira, dia membiarkan pintu terbuka agar Kaivan masuk.
"Kenapa sih? Dari tadi tu wajah kusut amat kaya baju belum di setrika," ledek Kaivan, mendapatkan pelototan dari Mahira.
"Aku kesal sama Aaron," jujur Mahira, terbiasa bersama dari kecil dan selalu menganggap Kaivan sebagai kakak. Membuat Mahira tak bisa bohong pada Kaivan.
"Kenapa dia?"
"Dia jadian sama perempuan yang lebih dewasa masa," katanya dengan cemberut, Mahira menceritakan semua permasalahannya pada Kaivan.
"Ya gak papa dong, itu haknya Aaron. Dia mau jatuh cinta sama kamu atau engga itu haknya, jika dia sudah cinta atau suka sama wanita itu kita bisa apa?" jelas Kaivan, namun semua itu tak dapat di terima oleh Mahira. Dia tetap pada pendiriannya bahwa apa yang harus jadi miliknya di awal, harus dia dapatkan.
"Bisa sebelum janur kuning melengkung, aku gak akan nyerah buat dapetin Aaron." Cetus Mahira, membuat Kaivan menggeleng.
"Terserah." Katanya sambil berlalu, keluar dari kamar bernuansa pink tersebut.
Di kediaman Auriga, Lula sedang di interogasi oleh Auriga di dampingi oleh Dela.
"Sampai kapan kamu seperti ini terus Lula?" tanya Auriga, namun Lula menunduk tak menjawab pertanyaan sang ayah.
"Bahkan adik mu saja Ara, sudah akan punya anak pertama. Tapi kamu di usia mu yang ke tiga puluh masih betah saja sendiri," cibir Auriga.
"Sayang Lula, atau mau bunda kenalkan sama anak dari teman bunda?" tanya Dela dengan lembut.
"Aku tidak mau bun, aku tidak mau di jodoh-jodohkan. Aku masih percaya kekasih ku akan kembali," tegas Lula, walau usianya sudah tiga puluh tahunan. Tapi Lula masih seperti Ara imut dan awet muda, banyak yang menyangka jika Lula dan Dela seperti adik kakak di banding ibu dan anak.
"Dasar kamu bodoh Lula, kamu terlalu di buta kan oleh cinta mu untuk lelaki yang bahkan tega membatalkan pernikahan impian mu waktu itu. Beruntung ayah memergokinya, jika tidak. Maka kamu akan sakit hati sama dengan apa yang di alami oleh Reen," jelas Auriga.
Dia masih ingat masalah yang menjerat keponakannya tersebut, namun setelah Reen hamil Arjuna pun berubah dan berjanji akan setia. Tapi jika tidak, maka seluruh aset milik Arjuna dan orang tuanya jatuh ke tangan Reen semuanya. Bahkan Reen bisa saja memiskinkan mereka.
__ADS_1
****
Jangan lupa vote yah guys!