
Setelah hari itu Dika, menjadi lebih dingin pada semua orang. Dan bahkan karyawannya menjuluki dirinya manusia es, tapi Dika tak peduli sama sekali.
"Pak Dika gak ada senyumnya yah?" bisik salah satu karyawannya.
"Sstt... Nanti kita di pecat," balas salah satu karyawan yang lain.
Hari ini sebenarnya dia ingin ikut Dela berlibur ke Bandung, namun jadwal kerja yang padat membuatnya urung. Dela akan berangkat siang ini, agar saat malam harinya mereka bisa malam mingguan di Bandung dan menikmati malam.
"Udah jangan cemberut gitu, jelek tau!" kekeh Dela.
"Lo udah nikah malah nyebelin yah Del," ketus Dika.
"Yey... Biarin, suka-suka aku." Ledek Dela.
Dela pun masuk kedalam rumah, dan membawa keperluan untuk di sana. Padahal Auriga sudah melarangnya namun Dela tetap membawa kebutuhan mereka, padahal Vila di sana sudah lengkap.
Sementara Anyelir dia sedang bersiap untuk memetik teh, tapi saat akan keluar dia di buat terkejut dengan kedatangan Lilya dengan wajah paniknya.
"Lilya, ada apa?" tanya Anyelir.
"Ka Cinta tolong aku," pinta Lilya terisak.
"Kamu kenapa? Coba kamu tenang dulu, dan cerita pelan-pelan." Ujar Anyelir membawa Lilya masuk, dan memberikan dia minum.
"Ka ibu, ibu pingsan dan aku gak tahu harus minta tolong sama siapa? Tadi ibu mengeluh pusing," cerita Lilya.
"Ya ampun, ayok kita lihat ibu mu. Dan kita bawa ke puskesmas."
Anyelir dan Lilya pun langsung bergegas menuju rumah Lilya, tak lama mereka sudah sampai dan melihat Adam yang menangis.
"Adam," panggil Anyelir.
"Kakak."
Adam menghambur memeluk Anyelir.
"Bentar kakak cek dulu," kata Anyelir.
Anyelir pun memutuskan meminta bantuan pada orang-orang sekitar, dan membawa ibunya Lilya ke puskesmas.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di puskesmas dan dokter memeriksanya.
"Gimana dok?" tanya Anyelir setelah memeriksa Sekar ibu Lilya.
"Tekanan darahnya naik, dan ibu Sekar kurang istirahat. Terlihat dari kantung matanya," papar dokter.
"Sebaiknya bu Sekar di rawat di puskesmas terlebih dulu, jika sudah agak membaik bisa pulang." Lanjutnya lagi.
"Baik dok, terima kasih." Ucap Anyelir.
Kebetulan puskesmas tersebut ada ruangan rawat inap.
"Lilya, kamu jaga ibu sama adik yah? Nanti sore kakak kembali lagi, kakak harus kerja." Jelas Anyelir, setelah di ruang rawat hanya ada tiga pasien termasuk Sekar.
"Iya ka, terima kasih." Balas Lilya.
"Kakak pergi dulu,"
Lilya pun mengangguk, dan Anyelir menitipkan mereka pada perawat yang Anyelir kenal bernama Indah. Sebelum benar-benar pergi, Anyelir membeli makanan dan minuman untuk Lilya dan Adam.
__ADS_1
****
Pukul dua belas siang, Dela dan Auriga sudah berangkat menuju kota Bandung.
"Sayang yah? Uncle Dika gak ikut," celetuk Lula.
"Uncle Dika lagi galau," kekeh Dela.
"Aku sih maunya, ka Manda yang ikut. Atau ka Tiana." Kata Ara sibuk memainkan bonekanya.
"Nanti kalau ka Manda dan Tiana libur sekolah, kita bisa ajak mereka jalan-jalan lagi." Usul Auriga.
"Bener Ayah?" tanya Ara antusias.
"Iya bener, sekarang kalian tidur saja. Belum tidur siang kan?"
"Belum ayah," jawab Lula dan Ara kompak.
Mereka pun menurut perintah Auriga, hubungan Ara dan Lula yang semula bagai musuh. Kini sudah lebih dekat berkat Dela, Auriga menatap Dela dengan tersenyum manis dia menggengam tangan Dela.
"Kenapa sih? Jadi curiga," kekeh Dela.
"Gak papa, aku bersyukur bisa ketemu kamu dan kamu dengan tulus menyayangi kedua anak ku." Tutur Auriga.
Membuat Dela mengulum senyum, Auriga memang bucin pada dirinya. Dalam hati pun, Dela bahagia bisa mengenal Ara, Lula dan Auriga.
"Kamu tahu, banyak wanita yang dekat sama aku. Tapi anak-anak gak bisa dekat sama mereka, selalu banyak alasan saat anak-anak dengan wanita yang dekat dengan ku." Cerita Auriga.
Namun Dela hanya mengangguk, dia sedang tak ingin menanggapi masa lalu sang suami. Dan lebih tepatnya perutnya mual sekali, saat Auriga menoleh pada Dela. Auriga terkejut dengan wajah pucat dan juga muncul keringan dingin.
"Kamu baik-baik aja sayang?"
"Entahlah aku mual, mungkin aku mabuk perjalanan." Lirih Dela.
"Kita putar balik saja yah? Aku khawatir sama kamu!"
"Engga kasian anak-anak,"
Dela terus memuntahkan isi perutnya, dia pun duduk dengan pintu mobil yang di buka lebar. Sedangkan Auriga tengah membeli teh manis hangat.
"Minum dulu," ujar Auriga saat sudah sampai.
"Gimana? Udah enakan?"
"Sudah."
"Beneran gak papa? Kita bisa putar balik lagi sayang, liburan bisa nanti."
"Aku gak papa, lanjutkan saja. Sudah setengah jalan,"
"Baiklah."
"Bunda kenapa?" tanya Lula.
"Bunda mabuk perjalanan sayang," jawab Auriga.
"Aku bawa kayu putih, aku balurin ke perut bunda yah? Biar enakan!"
"Biar bunda saja, kamu tidur lagi saja." Titah Dela, Lula pun menurut.
__ADS_1
Mereka pun melakukan perjalanan, dengan Dela yang tertidur.
***
Sementara itu Anyelir yang sudah selesai memasak dan menjajakannya di depan rumah kontrakannya, terus bertanya pada perawat yang menjaga Lilya dan Sekar.
"Bu Sekar baru bangun, dan sedang makan siang. Bersama anak-anaknya mbak," lapor perawat yang bernama Indah tersebut.
"Syukurlah, makasih mbak. Kalau ada apa-apa kasih tau aku yah!"
"Cinta?" panggil Bu Ai.
"Ehh... Bu, aku udah pisahin pesanan ibu. Bentar aku bawa," kata Anyelir.
Tak lama Anyelir menyerahkan tiga buah kotak makan, pesanan bu Ai.
"Ini bu, semuanya seratus ribu."
"Ini, makasih yah!"
"Sama-sama," balas Anyelir.
Anyelir pun kedatangan beberapa ibu-ibu yang akan membeli masakannya.
"Ehh... Bu, katanya Villa di bukit itu mau kedatangan yang punyanya yah?" tanya bu Sifa.
"Iya kali, gak tau aku mah. Yang aku tau cari uang, mereka mah kaya. Enak gak pusing mikirin duit," sahut bu Endah sedikit ketus.
"Ish... Si ibu nih, aku dengar dia duda yang baru nikah sebulan loh!" ujar bu Sifa masih asik bergosip.
"Ya memang kenapa bu kalo duda? Toh gak masalah kan?" timpal Anyelir.
"Ya gak masalah sih, tapi itu istrinya lebih pantas jadi anaknya atau keponakannya deh!" oceh bu Sifa.
"Ini bu Sifa total tiga puluh ribu," Anyelir memberikan pesanan ibu-ibu yang hobi gosip tersebut.
"Ini punya bu Endah lima puluh ribu,"
"Makasih yah Cin, masakan mu selalu enak. Kapan-kapan kalo ada acara bantu kita-kita ok!" ujar bu Endah.
"Siap bu," balas Anyelir.
Bu Endah dan bu Sifa pun pulang, dengan ocehan bu Sifa yang sesungguhnya membuat bu Endah jengkel. Anyelir hanya tertawa pelan, dia melirik masakannya tinggal sedikit.
"Lebih baik aku bungkus buat Lilya dan Adam, kasian mereka pasti lapar." Gumam Anyelir.
Setelah selesai membereskan bekas jualan, Anyelir pun memutuskan untuk pergi ke puskesmas. Karena sebentar lagi hari akan gelap, Anyelir memastikan pintu terkunci dengan rapat. Dan berjalan melewati jalan yang hanya muat untuk mobil.
Auriga dan Dela pun sudah sampai, di daerah kampung Malabar. Yang dekat dengan perkebunan teh dan tak jauh dari pabrik, vila milik Auriga sendiri dekat dengan rumah-rumah warga.
Saat Dela menatap keluar jendela, tak sengaja ia melihat siluet tubuh yang sama dengan Anyelir yang berada di depan mobilnya, Dela pun membuka kaca mobil.
"Anyelir," pekik Dela.
Refleks Anyelir pun menoleh, dan menatap mobil yang berhenti. Dia bertanya-tanya, kenapa ada yang tahu nama aslinya?
Saat Anyelir melihat Dela turun dari mobil yang tergesa, Anyelir membulatkan matanya.
"Dela," desis Anyelir.
__ADS_1
bersambung..
Semoga suka, maaf typo 🙏