
Sementara itu di kediaman Dika, mereka kini sudah pindah ke rumah yang lumayan lebih besar. Rumah yang di beli Dika dulu, saat bersama Jenny namun rumah tersebut belum di isi perabot karena belum sempat di tempati. Dan dengan senang hati, Anyelir menata rumah yang di hadiahkan untuknya walau dia tahu awalnya itu rumah, yang akan di tempati Dika dan Jenny tapi dia tak masalah itu sudah berlalu. Dan kini mereka harus fokus, untuk menata masa depan bersama anak-anak mereka.
Dan rumah tersebut tak jauh dari rumah Mario, jadi Anyelir dan anak-anak masih bisa ke rumah kakek dan neneknya.
"Sayang kamu masih lemas? Kalo belum kuat, kita datangnya besok saja yah!" ujar Dika pada Anyelir, karena sejak di nyatakan positif hamil. Dika membatasi ruang gerak Anyelir, membuat lelaki tersebut merasakan ketakutan dalam dirinya. Dan membuat Anyelir juga, merasa di kekang oleh Dika. Namun Anyelir memahami kekhawatiran Dika.
"Engga aku baik-baik saja, aku mau ikut ke hotel sama yang lain."
"Ya sudah tapi kita berangkat sorean saja yah!" ujar Dika, Anyelir mengangguk pasrah.
Di saat yang bersamaan pintu kamar di ketuk.
"Daddy ini aku Melinda dan Ameera," serunya.
Dika membuka pintu kamarnya, dan tersenyum menatap kedua gadis tersebut.
"Ayok masuk," ajak Dika, namun Ameera ingin di pangku oleh Dika. Dia menjadi lebih manja, Melinda yang melihat itu pun hanya tersenyum tipis.
Padahal dia juga rindu Dika, tapi Ameera selalu meminta Dika menemaninya ini dan itu. Melinda pun mengalah, dan tak banyak bicara.
"Daddy boleh nanti aku main sama Rakai dan Ceilo?" tanya Ameera.
"Boleh sayang, memang siapa yang melarang kamu main sama mereka hm?"
Ameera melirik Melinda, Dika pun mengerti Dika tak marah pada Melinda.
"Aku gak bilang gitu kok dad," bela Melinda.
"Iya daddy percaya sama kamu, sudah sekarang kalian bersiap. Nanti kita akan berangkat ke hotel," ujar Dika, di jawab anggukan oleh kedua anaknya.
Ameera turun dari gendongan Dika, lalu keluar lebih dulu. Di susul Melinda, Anyelir yang menangkap kesedihan di mata Melinda pun merasa tak enak. Sebagai ibu sambung, harusnya dia lebih menyayangi Melinda tapi dia awal menikah Ameera entah mengapa jadi rewel. Dan selalu ingin ikut tidur dengan Dika dan dirinya, dan sekarang dia sedang hamil membuat Anyelir menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia melirik Dika yang sedang membereskan baju-baju mereka.
Di kamar Melinda dan Ameera, Melinda menatap Ameera. Beberapa minggu ini Ameera sungguh berubah, dia tak pernah mau tidur bersama dengan dirinya. Selalu tidur dengan daddy dan ibunya, membuat Melinda sedih tapi dia tak menunjukan kesedihannya.
"Melinda jangan bawa yang warna itu, kamu yang ini saja." Ameera memberikan gaun berwarna biru awan.
"Memang kenapa? Aku suka warna pink Meera," kata Melinda.
"Tapi aku juga suka, aku gak mau samaan sama kamu lagi." Tolak Ameera dengan tegas.
"Kenapa? Kok kamu gitu sekarang, kita adik kakak. Meera," ujar Melinda.
"Ya... Pokoknya aku gak mau," bentak Ameera, dan pada akhirnya Melinda mengangguk pasrah.
****
Keesokan harinya seluruh keluarga besar kedua belah pihak sudah berada di hotel, dan mereka sudah bersiap untuk acara ijab. Dan resepsi pada malam harinya, Melinda lebih memilih bersama Mario dan Laura.
"Melinda kamu baik-baik saja?" tanya Laura.
"Aku baik-baik saja grany, memang kenapa?" tanyanya.
"Tidak kamu kelihatan sedih sayang," Laura membelai wajah Melinda.
"Aku hanya rindu mommy," isaknya kemudian, dia memeluk Laura. Laura membalas pelukan sang cucu, dan mengusap punggungnya agar lebih tenang.
Laura bingung apa yang terjadi dengan Melinda, dia melirik Dika yang sibuk dengan Anyelir dan Ameera yang sedang rewel.
"Melinda," panggil Ceilo, Melinda melerai pelukannya dengan Laura.
__ADS_1
Dengan sigap Ceilo menghapus air matanya.
"Jangan nangis," ucap Ceilo, di jawab anggukan oleh Melinda.
"Kamu masih punya aku," celetuk Ceilo.
"Iya," balas Melinda, kini dia lebih tenang.
Acara ijab akan segera di mulai, mereka tinggal menunggu mempelai wanita yang sedang berjalan menuju meja ijabnya.
"Cantik," bisik Rumi, setelah Maira duduk di sisinya.
Maira hanya tersenyum malu, dengan mengucap basmalah acara ijab kabul pun berjalan lancar. Kini Maira dan Rumi sah menjadi suami istri, semua tamu berucap alhamdulilah merasa lega.
Saat semua tengah sibuk dengan pengantin baru, Melinda lebih memilih meninggalkan ballroom hotel. Tak ada yang tahu dia keluar, karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan sang ayah Dika, lebih memilih menemani Ameera yang entah mengapa menjadi lebih manja.
"Mau ke mana?" tanya Laura, yang mengetahui Melinda berjalan keluar.
"Ke toilet," jawab Melinda.
"Mau Grany temani?"
"Tidak usah, aku tahu."
"Ya sudah, hati-hati yah!" Melinda pun mengangguk sebagai jawaban, dia bukan ke toilet tapi dia menuju taman yang berada di kawasan hotel.
Melinda terduduk sendiri, menatap danau buatan dan taman bunga yang ada di sana.
"Mommy, aku rindu." Gumam Melinda, menatap ke atas berharap sang ibu bisa mendengarnya. Langit begitu cerah, dia duduk di dekat pohon yang rindang.
Suara jatuh membuat Melinda menoleh ke arah suara, dia begitu terkejut. Karena suara jatuh tersebut, sangatlah keras lalu dia mendengar suara isak tangis.
"Pasti sakit, sini biar aku obati." Tawar Melinda, membuat anak lelaki tersebut terkejut.
"Jangan takut aku gak gigit," kekehnya.
Melinda mengeluarkan tisu basah, dan plester bergambar princess yang selalu dia bawa ke mana-mana. Setelah mengusap lukanya, dia membuka plester tersebut dan menempelkannya pada lutut bocah laki-laki tersebut.
"Lain kali hati-hati, kalo kaki kamu patah bagaimana? Aku gak bisa ngobatin kamu," oceh Melinda, saat tak ada jawaban dari anak tersebut. Melinda mendongkak dan menatap wajah lelaki tersebut, yang juga menatapnya.
"Hey! Kenapa menatap ku? Apa ada yang aneh di wajah ku?" tanya Melinda.
"Tidak, kamu cantik kalo lagi marah-marah." Celetuknya, Melinda yang belum mengerti apa pun hanya mencebik.
"Sudah kita masih kecil, kata daddy gak boleh pacaran." Paparnya.
Melinda membantu anak itu berdiri dan di bawanya duduk di bangku yang tadi dia duduki, lalu bertanya kenapa dia bisa jatuh. Dan kenapa sendiri di taman?
"Aku tadi kejar apa yah?" tanyanya dengan bingung.
"Ahh... Iya tadi aku kejal, kupu-kup cantik. Tapi malah hilang di dekat sana," tunjuknya ke arah danau, dan Melinda pun mengangguk sebagai jawaban.
"Kita kenalan yuk! Nama ku Axel, nama kamu siapa?" tanya Axel.
"Aku Melinda,"
Axel tersenyum menatap wajah cantik di depannya, tak lama terdengar suara yang memanggil nama Axel.
"Itu pasti orang tua mu Axel," kata Melinda.
__ADS_1
"Iya itu pasti mommy dan daddy, aku di sini samai Rakai saudara kembar ku dan juga adik ku Alsaki yang masih bayi," tutur Axel, yang kadang lancar berbicara. Kadang juga terbata dan sulit mengucapkan hurup R.
Tak lama kedua orang tua Axel datang, orang tua Axel merasa sangat lega bertemu dengan sang anak. Bernama Velia dan Daniello.
"Mommy khawatir loh," kata Velia.
"Terima kasih anak manis," ucap Ello pada Melinda, yang di jawab anggukan oleh Ello.
"Sama-sama om, aku masuk dulu ke dalam. Takut di cariin," pamit Melinda, dia menatap Axel dan tersenyum dengan manis.
"Melinda nanti kita ketemu lagi," teriak Axel, saat melihat Melinda yang hampir mulai menjauh.
"Iya." Balasnya dengan berteriak pula.
Perasaan Melinda yang tadinya sedih, sudah baik-baik saja bertemu dan menolong Axel.
****
Sementara di dalam hotel, saat Ameera sudah tenang dan bermain dengan Rakai dan Ceilo. Dika mencari Melinda, tapi tak menemukan anaknya dimana pun berada.
"Ibu, dimana Melinda?" tanya Dika.
"Dia tadi izin ke toilet," jawab Laura.
Dika mengedarkan pandangannya, lalu menatap putri kecilnya berada di pintu masuk hotel. Dika menghampiri Melinda.
"Sayang dari mana?" tanya Dika lembut, akhir-akhir ini dia terlalu sibuk dengan Anyelir yang ngidam dan Ameera yang selalu tidak mau jauh darinya.
"Dari taman daddy," jawabnya pelan, Melinda takut Dika marah.
"Kenapa tidak main sama Rakai atau Ceilo?"
"Tidak apa-apa dad," balasnya lalu Melinda berjalan melewati Dika, membuat Dika menghembuskan napasnya dengan pelan.
Malam pun tiba acara resepsi pernikahan Maira dan Rumi, di gelar dengan sangat meriah. Lebih meriah dari acara tadi pagi, karena banyak mengeluarkan banyak hadiah. Malam ini pun pembawa acara mengumumkan, bahwa akan di bagi hadiah untuk penampilan dansa terbaik bagi pasangan yang hadir malam ini.
Dela tampak antusias untuk mengikuti pesta dansa tersebut, tak lupa Feli dan Yudis dan para orang tua.
Malam semakin larut, tepat pukul sepuluh malam. Acara resepsi anak terakhir dari Nania dan Satria sudah selesai, anggota keluarga yang lain sudah masuk ke kamar hotel masing-masing. Tersisa Maira dan Rumi, yang berbincang dengan Ryan dan Prisil.
Sepuluh menit mereka berbincang, kini Rumi dan Maira menuju presidential suit. Yang sudah di hias sedemikian rupa, untuk melakukan malam pertama. Rumi akan melakukannya, tanpa menunda menurutnya nanti atau sekarang sama saja begitu pikirnya.
Dan saat sampai di kamar, tanpa basa basi Rumi langsung mencium bibir Maira dengan lembut. Namun lambat laun, menuntut penuh gairah.
"Kita belum bersih-bersih sayangg." Kaya Maira, di tengah desahannya.
"Nanti saja sekalian," bisik Rumi, dia lalu menggendong Maira menuju ranjang king size. Yang sudah di hias sedemikian rupa, dan sudah hancur berantakan kelopak bunga berserakan di bawah.
Malam itu merek mengarungi kenikmatan, yang tak pernah sekali pun mereka rasakan sebelumnya. Sampai pada akhirnya, mereka mencapai puncak bersama.
Rumi tersenyum menatap Maira, yang kelelahan di sampingnya.
"I Love you Maira," bisik Rumi, lalu dia mencium bibir Maira dengan lembut.
"Love you too." Balas Maira, setelah tautan mereka terlepas.
****
Semoga suka maaf typo 💜
__ADS_1