Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.62


__ADS_3

Keesokan harinya Alderik terus membujuk Tara agar dia mau bertemu dengannya, tapi Dika selalu berpesan agar Alderik tak terburu-buru.


"Baiklah, apa kesukaan Tara?" tanya Alderik, Dika nampak berpikir apa saja yang Tara suka.


"Dia paling suka menggambar, dulu Jenny selalu membelikan Tara alat gambar." Ungkap Dika, di jawab anggukan oleh Alderik.


Lalu Dika menceritakan apa yang dia tahu tentang Tara, Alderik hanya diam termenung anak kandung. Tapi rasanya seperti orang asing baginya, bagaimana Dika lebih tahu di banding dirinya.


Alderik menghela napas dengan pelan, dia menatap foto Tara saat masih kecil. Banyak hal yang dia lalui, melewatkan banyak hal tentang Tara di sekolah dan lainnya.


"Aku akan coba bicara pelan-pelan pada Tara, agar dia mau bertemu dengan anda om." Kata Dika, kini dia memanggil om bukan daddy. Biarlah Melinda yang memanggil kakek padanya.


"Terima kasih Dika, beruntung Jenny pernah hidup bersama mu. Di sisa usianya, bolehkah nanti om menemuinya?" tanya Alderik, berharap bisa mengunjungi tempat peristirahatan sang anak.


Dulu saat Jenny di kabarkan meninggal setelah melahirkan, Alderik tahu satu minggu setelah Jenny di kebumikan. Dika marah-marah padanya, karena dia tak di harapkan bahkan oleh Jenny sekali pun.


Dia masih ingat saat Jenny memintanya ke Singapura, tapi Alderik malah pergi bersama Linda menemui anak bungsunya.


"Boleh," jawab Dika, membuyarkan lamunan Alderik. Alderik tersenyum padanya dan mengucapkan terima kasih.


Saat jam makan siang Alderik berpamitan untuk pulang, dan berjanji akan kesini lagi saat Melinda ada di kantor Dika.


****


"Maira, papa mau bicara." Kata Hito.


"Bicara apa pa? Kayanya serius banget sih!"


"Sini duduk." Hito menepuk sofa kosong di sisinya, baik Hito dan Maira mereka tak masuk bekerja.


"Ada yang ingin melamar mu, apa kamu menerimanya?" tanya Hito.


"Hah? Lamar? Siapa yang lamar aku?" tanya Maira.

__ADS_1


"Al Rumi, dia yang akan melamar mu." Sahut Yusra, dari arah tangga.


"Apa?" pekik Maira.


"Papa sama mama, pasti bohong ya?" tanyanya tak terima.


"Mama sama papa gak bohong, Mai. Kemarin papanya mewakilkan melamar mu lewat tuan papa mu," jujur Yusra.


"Papa." Rengek Maira.


"Aku kan gak mau nikah muda ahh," tolak Maira.


"Terima saja, Dela saja menikah muda. Baik-baik saja, walau di awal menikah ada pelakornya sih." Kata Yusra mengedikan bahu, membuat Maira berdecak kesal.


"Papa, kenapa diam aja? Tanggung jawab dong pa," kata Maira


"Memang papa ngapain? Harus tanggung jawab segala," cetus Hito, membuat Maira cemberut.


"Ya kan... Papa yang nerima lamaran itu,"


Itu sama saja, dia memberikan harapan pada Rumi. Kenapa laki-laki dingin itu, tiba-tiba melamarnya ya? Maira harus tanyakan itu pada Rumi, dan sekarang dia butuh Prisil teman curhatnya.


"Ya sudah, aku keluar dulu." Pamit Maira.


Hito dan Yusra menggeleng pelan, menatap kepergian sang anak.


"Aku kok belum siap, melihat Maira menikah." Celetuk Hito, membuat Yusra menatap sang suami yang sedang galau.


"Dulu papi juga gitu, walau aku gak dekat sama dia. Tapi dia sedih aku gak serumah lagi sama papi, tapi aku selalu menyakinkan papi. Kalau aku akan tetap dekat dengan papi," jelas Yusra menerawang, saat dia akan menikah malam hari sebelum pernikahannya.


Mario menghampiri dirinya, dan berbicara empat mata dari hati ke hati.


"Yakinlah sayang, Maira akan aman di tangan Rumi. Dia walau terlihat dingin aku yakin dia sangat baik," kata Yusra, yang sempat beberapa kali bertemu dengan Rumi.

__ADS_1


"Doakan Maira, semoga bahagia selalu." Kata Yusra, dia pun menepuk pelan paha Hito dan tersenyum samar.


Lalu melangkah ke dapur, untuk membuat jus dingin. Hito menatap punggung Yusra, sampai tak terlihat lagi. Yusra benar dia harus bicara, dari hati ke hati dengan Maira.


Berpuluh menit kemudian, Maira sudah sampai di perusahaan milik Hito. Yang di gabung bersama dengan milik Yusra, dia berjalan menuju ruang kerjanya dimana Prisil berada.


"Prisil," pekik Maira, saat sudah sampai di lantai dimana ruangannya berada.


"Hemm... Apa?" tanya Prisil tak semangat.


"Ehh... Tunggu, kenapa lo? Kata males gitu? Nunggu gajian ya?" tanya Maira.


"Bukan itu," balas Prisil.


"Lalu apa?"


Prisil membisikan sesuatu pada Maira, yang membuat jantung Maira hampir copot dari tempatnya.


"Gial... Jangan bikin gue kaget dong, serius lo Prisil?" tanya Maira.


"Gue serius Mai, emang muka gue gak di percaya ya?" Prisil sudah cemberut, dan menjadi kesal. Saat Maira malah tertawa puas, tapi beberapa detik kemudian. Dia baru ingat, jika dia pun di jodohkan dengan Rumi.


"Sil, nasip lo juga sama. Sama kaya gue," kata Maira.


"Jadi beneran? Rumor ka Rumi yang mau nikahin lo?" tanya Prisil.


"Iya," jawabnya dengan lesu.


"Astaga... Gak nyangka gue, terima aja sih. Ka Rumi kan ganteng, tajir dan mapan juga." Kata Maira mempromosikan Rumi.


"Idih ogah gue mah," tolak Prisil.


Tanpa mereka sadari, Rumi sudah ada di belakang mereka. Dan mendengar semua obrolan, kedua sahabat itu.

__ADS_1


****


semoga suka 💜 Maaf typo


__ADS_2