
Terhitung tiga jam sudah, Melinda belum juga bangun. Mungkin alam mimpi begitu menyenangkan bagi Melinda, Axel terus memandang sang istri dan terus mengucapkan kata cinta.
"Sayang kamu mau ninggalin aku? Aku gak mau jadi duda loh!" celetuk Axel, jika Melinda sadar sudah pasti Axel habis oleh Melinda.
"Sayang, cepat bangun yah! Aku rindu," ucapnya dengan lirih, lalu mengecup kening Melinda.
Axel memutuskan untuk membersihkan diri, karena badannya sudah tak enak bau keringat.
Sementara itu di alam mimpi Melinda.
Melinda berjalan di sebuah taman yang dia tak tahu ada di mana, dan merasa asing.
"Ini di mana? Axel?" panggil Melinda.
Dari kejauhan Melinda tersenyum, karena mendapati seorang wanita memakai baju putih bersih. Yang sedang duduk, menatap ke hamparan bunga mawar putih dan merah. Warna kesukaan Jenny, dan Melinda.
"Syukurlah ada orang," gumam Melinda, Melinda berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Permisi, saya mau tanya ini dimana?" tanya Melinda.
Wanita tersebut menoleh dan tersenyum pada Melinda, membuatnya berkaca-kaca.
"Mo-mommy," lirih Melinda, langsung memeluk Jenny yang balas memeluknya dengan erat. Entah ini mimpi atau kenyataan, Melinda pun tak mengerti. Jika ini mimpi tolong jangan pernah buat dia bangun.
"Sayang, kamu sudah besar." Ucap Melinda.
"Aku kangen sama mommy, ayok kita pulang mom. Mommy tinggal sama aku yah! Karena daddy sudah menikah," tutur Melinda, Jenny melerai pelukannya dan mengusap pipi sang anak.
"Tidak sayang, dunia kamu dan mommy berbeda. Kamu harus berjuang melahirkan generasi mu sayang," ujar Jenny.
__ADS_1
"Maksudnya? Melahirkan bagaimana? Hamil juga belum mom," lirih Melinda.
"Kamu akan mendapatkan dua anugrah sayang." Jenny mengusap pipi Melinda, lalu menghilang dengan senyum manis.
"Mommy... Mommy, jangan tinggalkan aku. Mommy," teriak Melinda.
"Mommy," pekik Melinda, dia pun terbangun menatap sekeliling yang begitu asing. Lalu melepaskan masker oksigen, dia sudah bisa bernapas dengan lega.
"Mommy," lirih Melinda, sepi tak ada siapa pun yang menemaninya.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Axel yang sudah segar. Dia memakai kaos santai, dan celana training berwarna hitam.
"Sayang, kamu sudah bangun." Ucapnya memeluk Melinda dengan bahagia.
"Aku kira kamu gak nemenin aku," isak Melinda, memeluk Axel dengan erat.
"Mana mungkin, aku tidak akan meninggalkan mu. Apa pun yang terjadi," balas Axel.
"Daddy Dika mau di kasih tahu, atau engga?" tanya Axel, membuat wajah Melinda menjadi murung.
"Terserah, tapi aku rasa daddy gak peduli sama aku." Lirih Melinda.
Dia ingat pertemuannya dengan Jenny di alam mimpi.
"Tadi aku ketemu mommy Jenny, aku memintanya untuk kembali tapi dia gak mau. Tapi mommy bilang aku harus berjuang melahirkan generasi penerus, apa maksudnya yah?" tanya Melinda menatap Axel, Axel pun menggeleng tak tahu.
"Apa mungkin aku hamil sayang?" celetuk Melinda penuh harap.
Axel duduk di samping Melinda, dan mengusap perutnya dengan lembut.
__ADS_1
"Semoga saja, semoga secepatnya kamu hamil." Doa Axel, mencium puncak kepala Melinda. Dan mengusap perut rata Melinda, Axel pun tak mempermasalahkan jika mereka tak secepatnya di beri anak. Tapi dia mengerti perasaan Melinda, setiap Axel membawanya ke acara perusahaan.
****
Sementara itu di kediaman Dika, dia yang baru pulang dari kantor. Entah mengapa perasaannya tidak enak, sejak setelah selesai makan siang tadi. Dadanya terus berdebar dengan cepat, Dika sudah menghubungi orang tuanya dan mereka pun baik-baik saja.
"Kenapa mas?" tanya Anyelir, sejak makan malam tadi Dika melamun bahkan tak menghabiskan makanannya.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Jawabnya, lalu sibuk dengan ponselnya kembali.
Anyelir tahu, jika Dika tengah merindukan Melinda. Begitu juga Anyelir, dia juga merindukan Melinda yang jarang di temui.
"Kamu kangen Melinda?" tebak Dika.
"Tidak, buat apa? Dia tak butuh kita, seharusnya dia berdiskusi dengan aku selaku orang tua kandungnya saat akan mengambil keputusan." Cetus Dika dengan nada dingin.
Anyelir membuang napas dengan kasar, dia tak bisa melakukan apa pun. Hanya menatap sedih foto terakhir Melinda, Anyelir pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya untuk memejamkan mata.
Ameera sendiri dia tak tinggal di kediaman Dika, dia ikut bersama Azriel di rumah utama keluarganya. Orang tua Azriel, lebih sering berada di luar kota di banding di rumahnya.
"Sayang, bagaimana keadaan calon anak kita?" tanya Azriel, berjongkok di depan Ameer dan mengusapnya dengan lembut.
"Baik sayang, dia gak bikin aku rewel. Apa lagi daddy Dika mau nemenim aku makan siang," jawab Ameera dengan antusias, membuat Azriel tersenyum.
"Syukurlah, aku gak mau kamu stress atau terlalu banyak pikiran. Apa yang kamu mau aku usahakan memenuhinya," ujar Azriel, mencium pipi Ameera lalu turun ke bibir dan terakhir perut yang masih rata.
"Termasuk menghalangi Melinda, bertemu dengan daddy Dika. Dan buat dia tak bisa hamil," gumam Melinda, yang tentunya berani dia ucapkan dalam hati.
Beruntung Ameera memilki Azriel, yang selalu mengerti dirinya.
__ADS_1
****
Semoga suka, maaf typo 😁