
Malam pun tiba, persiapan pernikahan akan segera di lakukan. Seluruh tamu undangan sudah mulai berdatangan, Melinda dan Ameera pun sudah datang bersama suami mereka masing-masing. Kini Melinda sedang berada di kamar Miska, menemani sang sahabat yang selesai merias wajahnya. Miska terlihat cantik dengan make-up natural dan kebaya berwarna putih, dengan rambut di Gelung.
"Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Daddy ku baik gak gigit," canda Melinda, dan langsung mendapat cubitan dari Miska karena Melinda masih sempat-sempatnya bercanda. Sedangkan Ameera hanya tertawa saja, sebelum Miska keluar kamar. Ameera memberikan satu set perhiasan mewah untuk calon adik iparnya, Miska sudah selesai di rias dan sedang menunggu di panggil oleh sang adik.
"Hadiah untuk mu, awalnya aku sempat bingung mau kasih apa?" kata Ameera, memberikan kotak perhiasan pada Miska.
Miska memandang kotak tersebut, tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa akan mendapatkan hadiah mewah tersebut. Melinda memberikan tiket liburan ke Singapura.
"Makasih, aku gak bisa bicara apa-apa. Bahkan aku masih gak percaya akan semua yang terjadi," tutur Miska menghela napas dengan pelan, di satu sisi dia bahagia. Di sisi lain, di juga merasa tak enak dan insecure pada Mahira jika bertemu nanti.
Suara ketukan di pintu, mengalihkan atensi mereka.
"Masuk." Perintah Melinda.
"Mbak, semua sudah siap. Ustad yang akan nikahin mbak pun sudah datang," kata Denis, di jawab anggukan oleh Miska.
Denis pun ke depan lebih dulu, karena sang kakak sudah ada yang menemani. Melinda dan Ameera mengapit tangan Miska, kanan dan kiri.
"Jangan gugup, rileks." Kekeh Melinda, membuat Miska mendelik.
Setibanya di ruang keluarga, Aaron sudah menunggu di depan meja yang sudah terdapat mahar. Dengan lantang Aaron mengucapkan ijab, tanpa keraguan sedikit pun membuat Miska menahan tangis teringat akan sang ayah yang sudah pergi lebih dulu.
Kini Miska dan Aaron sudah sah menjadi suami istri, secara agama hanya sementara. Aaron menjanjikan akan mendaftarkan pernikahan mereka secepatnya, Aaron memeluk Melinda dan Ameera saat meminta restu dan meminta maaf pada sang kakak. Karena selalu merepotkan sang kakak.
Sementara itu di kediaman Anyelir, Dika memandang foto sang anak yang sedang melakukan pernikahan secara diam-diam. Anyelir tak mengetahui semuanya, hanya dia yang tahu.
"Sampai kapan dia menyembunyikan statusnya," gumam Dika, menatap foto Aaron.
Aaron tak pernah tahu bahwa dia dalam pengawasan Dika, setelah pengakuan sang anak yang mencintai Miska. Tidak ada yang salah dalam cinta, namun dia hanya ingin Aaron fokus dalam pendidikannya dan juga pekerjaannya.
Setelah menghadiri pernikahan sang adik, Melinda pun langsung pulang ke rumah Ello. Semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, saat Melinda sampai di rumah tersebut. Dan waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, setelah melakukan ritual membersihkan wajah Melinda bersiap untuk tidur dan menunggu Axel yang sedang membersihkan diri.
Sejak tadi perut Melinda memang sudah gak enak, namun Melinda rela menahannya demi sang adik Aaron. Dia mengusap lembut perutnya yang menegang.
"Kalian ingin segera ketemu ibu?" tanya Melinda pada perutnya.
Dia menatap pintu kamar mandi yang terbuka, tersenyum pada Axel yang memakai piyama tidur miliknya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Axel.
"Perut ku," tunjuknya pada perutnya.
"Kenapa? Sudah mulas?"
"Sedikit," katanya mencoba menenangkan Axel.
Axel mencium perut Melinda dan mengusapnya, lalu mengajak sang istri berbaring. Mengelus perut Melinda dengan pelan, berharap sakitnya akan hilang dan tak membutuhkan waktu lama Melinda terlelap. Melinda terbangun saat pukul dua belas malam, melirik pada Axel yang terlelap. Dia tak tega membangunkan Axel dan mencoba menahannya sampai pagi.
*****
Keesokan paginya, Melinda sudah berada di rumah sakit. Saat pukul tiga dini hari, dengan segara Axel membawa Melinda ke rumah sakit karena Melinda yang tak bisa diam. Infus sudah terpasang di lengannya, Melinda hanya bisa duduk karena merasa tak enak jika berbaring.
"Sayang," panggil Axel, dan di jawab gumaman oleh Melinda.
"Tidurlah, kamu pasti ngantuk. Ini baru pukul tujuh," kata Axel.
"Aku gak bisa tidur, perut ku sakit." Lirih Melinda, mencoba menahan kontraksi.
"Sabar yah! Kamu mau minum atau makan?" tanya Axel.
Satu jam kemudian, dokter memeriksa jalan lahir bayi. Dika dan Anyelir, Velia dan Ello sudah berada di rumah sakit.
"Baru bukaan satu, nyonya." Kata dokter.
"Apa masih lama dok?" tanya Axel, dia tak tega saat Melinda menahan rasa sakit semalaman.
"Iya harus sampai bukaan sepuluh tuan Axel," ujar dokter, lalu berpamitan pada Axel.
"Kamu di operasi saja yah? Aku gak tega lihat kamu kesakitan."
"Engga, aku masih bisa tahan kok!"
Axel menggeleng, dan terus membujuk Melinda agar melahirkan lewat jalan operasi sesar. Tepat pukul sembilan pagi, Melinda memutuskan untuk operasi sesar karena Axel yang tak tega melihat Melinda kesakitan.
Lima belas menit kemudian, dua bayi laki-laki hadir ke dunia dan di sambut suka cita oleh seluruh anggota keluarga Ello dan Dika. Untuk pertama kalinya Dika melihat cucu laki-lakinya yang tampan, yang begitu sangat mirip.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Melinda di pindahkan ke ruang perawatan." Kata Axel, setelah melihatkan video kedua bayinya.
"Syukurlah, daddy lega sekali Melinda baik-baik saja. Kedua bayinya pun sehat," tutur Dika memeluk menantunya.
Kini Melinda sudah berada di ruang perawatan VVIP, kedua bayi tersebut pun berada dalam gendongan Velia dan Anyelir.
"Sudah ada namanya?" tanya Velia.
"Sudah mom," sahut Axel.
"Siapa namanya?" tanya Elena, kini dia mendekat berada di samping Velia melihat keponakan tampannya.
"Nathan Aldrin Johnson dan Neil Nazario Johnson." Ujar Axel, menoleh pada Melinda yang tersenyum dan mengangguk pasalnya Melinda sendiri menyerahkan urusan nama pada Axel.
Membuat semua orang tersenyum dan mengangguk, pintu kamar terbuka nampak Freya, Rakai dan baby Ibel.
"Ibel sayang, lihat kamu akan di lindungi oleh dua pria tampan." Ucap Elena, memangku sang Ibel. Walau Ibel tak mengerti apa yang di ucapkan oleh tantenya, dia tersenyum melihat bayi menggemaskan di depannya.
"Mudah-mudahan mereka tak menyebalkan yah," bisik Elena.
"El aku dengar loh," celetuk Axel, membuat semua orang tertawa.
Kabat kelahiran Melinda, sudah sampai pada seluruh keluarga besar Mario. Mereka satu persatu mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Melinda dan kedua bayinya.
Aaron dan Miska pun datang, saat di beritahu oleh Ameera.
"Kita akan datang?" tanya Miska, dalam pelukan Aaron. Setelah semalam melakukan hubungan suami istri, Miska sempat menolak namun Aaron sudah tak bisa menahannya pada akhirnya dia pun memasrahkan diri pada Aaron.
"Tentu," sahutnya.
"Tapi..."
"Tapi apa? Kamu jangan khawatir pada seluruh keluarga ku. Mereka baik," Aaron menenangkan Miska, agar tak merasa khawatir pada seluruh keluarganya.
Walau Aaron menenangkannya, tapi hati Miska selalu gelisah dan merasa ragu jika nanti bertemu dengan Dika dan Anyelir. Dia memejamkan matanya dalam pelukan Aaron, dan menghirup wangi tubuh sang suami.
****
__ADS_1
Semoga suka