Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.86


__ADS_3

...Perpisahan paling menyakitkan adalah kematian, karena sedalam apa pun kita rindu. Dia tak akan pernah kembali ke dunia....


Sesampainya di kediaman Mario, Melinda tak langsung turun dia menatap rumah yang dulu pernah dia tempati.


"Ayok turun," ajak Axel.


"Aku takut Grany juga menolak ku," celetuk Melinda.


"Belum di coba sayang, ayok." Ajak Axel lagi.


"Tapi..." Melinda menggeleng, padahal di rumah Laura sedang ada Yumna dan Dela.


"Kita ke rumah tante Tara saja," kata Melinda, Axel pun menurut.


Laura yang melihat dari balkon pun menatap heran mobil Axel yang pergi lagi.


"Melinda, kenapa kamu sejauh ini dengan keluarga mu nak." Gumam Laura.


Sepanjang perjalanan Melinda kembali hanya diam, dan menatap keluar jendela.


"Nanti aku nginap di rumah tante Tara yah!" izin Melinda.


"Iya sayang boleh, nanti aku bawakan kamu baju dan keperluan mu yang lain."


"Iya."


Melinda melihat tantenya Tara, sedang sibuk dengan bayinya.


"Nona Melinda," sapa bibi Maura, yang masih setia bekerja di rumah Tara. Bahkan anak bibi Maura menyuruhnya untuk berhenti, tapi bibi Maura tidak mau kalau diam cepat pegal badannya.


"Bi." Melinda memeluk bibi Maura dengan erat, lalu memeluk Tara dan keponakannya bernama Theo yang kini akan menginjak usia enam bulan.


Sedangkan untuk Dea, dia memiliki satu orang putri bernama Sandrina yang berusia empat bulan. Bayi-bayi menggemaskan yang selalu menjadi pelipur lara Melinda, jika dia sedang berada di kediaman Alderik.


"Kok tumben ke sini?" tanya Tara.


"Pengen aja, rindu sama baby Theo." Ujar Melinda.


Tara menyapa Axel, dan Axel pun kembali berpamitan pada Tara dan Melinda karena dia harus kembali bekerja. Dan berjanji akan menjemputnya nanti, Axel mencium kening Melinda.


"Hati-hati sayang," ucap Melinda, di jawab anggukan oleh Axel.


Setelah mobil tak terlihat lagi, Tara mengajak Melinda masuk ke dalam.


"Kamu sudah makan Mel?" tanya Tara.


"Belum tante, gak enak makan." Jujur Melinda.


"Kenapa?"


"Aku hamil," ucap Melinda malu-malu.


"Beneran? Akhhh... Selamat yah." Tara memeluk Melinda, yang sedang menggendong Theo.


"Sini kamu gak boleh berat-berat," Tara mengambil Theo dari gendongan Melinda.

__ADS_1


"Astaga, Theo gak berat ko tan." Kekehnya.


"Aku kangen Sandrina, dia kesini gak yah?" tanya Melinda.


"Katanya sih," ujar Tara, mengajak Melinda duduk di ruang keluarga. Dimana foto keluarga berada di sana, Melinda menatap foto Jenny.


"Mommy," lirih Melinda.


"Aku akan memiliki anak mom, bahkan Tuhan memberikan aku dua calon anak. Yang sedang tumbuh dalam rahim ku," ujar Melinda dalam hati, menatap foto Jenny dan Dika.


"Kamu rindu mommy mu?" tanya Tara, mengusap pundak Melinda.


"Iya, tapi aku bisa apa? Ingin bertemu pun tidak bisa," ujar Melinda menatap foto Jenny, lalu menatap Tara yang sudah berkaca-kaca. Mereka berpelukan, merasakan rindu pada orang yang mereka sayang.


****


Sementara itu di perusahaan Wiriadinata, Dika kedatangan Mario dan Laura. Mereka datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu, Laura menggandeng lengan sang suami. Masih hangat di ingatannya, saat pertama kali Mario mengajaknya dan mengenalkannya sebagai seorang istri.


"Aku jadi inget dulu," celetuk Laura, saat dalam lift. Membuat Mario tersenyum, dan membenarkan ucapan sang istri.


Lantai yang di tuju pertama kali adalah lantai di mana dulu Melinda bekerja, tapi sekarang Aaron yang mengisi.


"Tuan Mario, nyonya Laura." Sapa Miska, menunduk hormat.


"Miska, Melinda ada?" tanya Laura, membuat Miska tercekat tak tahu ingin menjawab apa?


"I-itu anu nyonya, nona Melinda. Dia sudah di keluarkan dari perusahaan oleh tuan Dika," cicit Miska menunduk tajam.


"Apa?" pekik Laura dan Mario, dan saat itu pintu ruangan terbuka menampilkan Aaron yang terkejut.


"Kenapa kamu di sini Aaron? Mana kakak mu Melinda?" tanya Mario, untuk meyakinkan ucapan Miska.


"Ka Melinda, dia di keluarkan daddy dari perusahaan opah." Jujur Aaron.


"Kenapa? Apa dia membuat kesalahan?" tanya Mario dengan dingin.


"Aku tidak tahu opah," lirih Aaron menunduk, Mario benar-benar marah. Lalu tanpa kata dia mengajak Laura ke ruangan sang anak Dika.


Sesampainya di lantai di mana ruangan Dika berada, Mona langsung menunduk penuh hormat pada Mario dan Laura. Mario dengan kasar membuka pintu ruangan sang anak, yang sedang mengadakan rapat bersama Andi.


"Ibu, papi? Ada apa?" tanya Dika.


Tanpa kata Mario menampar Dika, dengan keras. Dika menatap tak percaya pada ayah yang dia sayang.


"Kenapa papi menampar ku?" tanya Dika mencoba lembut.


"Kamu bodoh atau bagaimana Dika? Kenapa kamu mengeluarkan Melinda dari perusahaan ini," marah Mario menatap tajam Dika.


"Dia bukan anak ku lagi papi, jadi aku memutuskan mengeluarkan dia." Cetus Dika, membuat Mario menggeleng tak percaya.


Tak lama Aaron pun menyusul karena takut terjadi sesuatu pada Mario, Laura sendiri berusaha menenangkan Mario. Namun Mario, malah menepis tangan Laura.


"Bukan anak mu? Karena satu kesalahan kamu membencinya? Kamu mengabaikannya? Seharusnya dari dulu kamu meminta Jenny mengugurkan kandungannya, agar dia tak keluar dari agamanya. Harusnya kamu mikir Dika, apa yang membuat Melinda seperti itu? Dia anak yang ceria, manja dan juga penyayang. Tapi sejak kamu menikah dan perhatian mu tercurah pada Ameera, Melinda menjadi pendiam, bicara seadanya, menyembunyikan semua perasaannya. Kamu terlalu mementingkan perasaan anak dari wanita yang kamu cintai, hingga tak memperdulikan Melinda." Papar Mario panjang lebar, dia menakan dadanya yang sesak karena marah pada sang anak yang dia bangga kan.


"Sayang sudah," ujar Laura.

__ADS_1


Laura menatap Dika yang hanya menunduk dan tak bicara sepatah kata pun.


"Apa kamu sedang mengulang, apa yang di lakukan Alderik pada Jenny dan Tara Dika?" tanya Laura kecewa pada sang anak.


"Benar apa yang di katakan oleh papi mu, jika kamu ingin mengabaikan Melinda maka harusnya dulu. Kamu meminta dan membujuk Jenny untuk mengugurkan kandungannya," tutur Laura.


"Maafkan aku papi, ibu." Kata Dika.


"Jangan meminta maaf pada ku, minta maaflah pada anak mu Melinda." Tekan Mario, lalu mengajak Laura untuk pulang.


Setelah kepergian orang tuanya, Dika meminta Andi dan Aaron untuk keluar.


"Tinggalkan aku sendiri," pinta Dika.


"Baik tuan,"


"Daddy aku..."


Belum sempat Aaron menyelesaikan ucapannya, Dika meminta sang anak untuk keluar.


"Dad."


"Daddy mohon Aaron, keluar tinggalkan daddy sendiri." Pinta Dika.


Setelah kepergian semua orang, Dika menangis untuk kedua kalinya setelah saat itu Jenny pergi untuk selamanya.


"Jaga anak ku Dika, jika tidak sanggup maka berikan pada bibi Maura. Dia akan mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari bibi Maura," ujar Jenny kala itu, saat merasakan kontraksi.


Bahkan saat itu Jenny, meminta jangan pernah menyakiti anaknya. Karena tidak mau apa yang dia alami, di alami oleh putrinya. Tapi apa? Dika melakukannya, dia mengusir sang anak dari perusahaan. Dika pun masih ingat, semua janji-janjinya pada Jenny dan Melinda kecil.


"Daddy, itu apa?"


"Daddy aku mau eskrim,"


"Daddy aku mau pergi ke sini."


"*Aku mau suami seperti daddy, yang baik dan sayang sama aku."


"Aku sayang daddy*."


"Daddy."


"Daddy."


"Daddy."


Dika membuka matanya, teringat akan Melinda kecil yang selalu membutuhkan perlindungannya. Selalu meminta ini dan itu padanya, bahkan dulu saat di Singapura mereka selalu kemana pun bersama dan melakukan apa pun bersama.


"Melinda," lirih Dika.


"Maafkan daddy nak!"


****


Semoga suka, maaf typo 💜

__ADS_1


__ADS_2