Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.104


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kini usia si kembar Nathan dan Neil memasuki usia tiga bulan. Melinda dan Aaron baru melalukan syukuran kelahiran si kembar, awalnya mereka akan melakukan saat setelah tujuh hari mereka lahir namun saat itu Melinda pun masih di rumah sakit karena ada sesuatu.


Hubungan Aaron dan Miska pun berjalan lancar, tanpa ada kendala apa pun. Dan masih di rahasiakan, walau Dika sudah memberikan kode-kode pada Aaron dan Anyelir namun tak ada yang mengerti. Di kediaman Axel, sudah ramai dengan berbagai dekorasi berwarna biru dengan balon-balon lucu di setiap sudut rumah. Miska memutuskan untuk datang lebih dulu, sedangkan Aaron masih ada pekerjaan lain yang harus di selesaikan hari ini juga.


"Gimana? Udah isi belum?" tanya Melinda pada Miska, yang sedang menggendong Neil. Mereka kini sedang berada di kamar si kembar, yang berhadapan langsung dengan halaman belakang rumah yang sudah di hias.


"Isi apaan sih?"


"Cik.. jangan pura-pura." Kata Melinda.


Membuat Miska menghela napas dengan pelan, dia meletakan Neil di dalam box bayi.


"Belum kita sepakat untuk menundanya lebih dulu," beritahu Miska, di jawab anggukan oleh Melinda dia tahu mengapa Aaron bisa seperti itu. Tak ada lagi obrolan di antara Melinda dan Miska, karena mereka larut dengan pikiran masing-masing.


Sore pun tiba, seluruh tamu undangan sudah hadir untuk perayaan kelahiran si kembar walau pun telat. Keluarga besar Johnson pun sudah hadir, Dika terus menciumi kedua cucunya, si kembar jadi rebutan Mario dan Dika.


"Papi kan udah punya Dela, Tatiana dan Maira, lebih baik papi manjain cucu papi saja." Celetuk Dika, membuat Mario mendelik. Dia juga ingin menimang cicit dari anak lelakinya.


"Lagian opah aku juga cicit mu," timpal Rakai yang langsung memeluk Laura.


"Kalian sudah tua, bakal punya anak sendiri. Jadi opah akan memanjakan Nathan dan Neil," seru Mario, membuat semua orang tertawa.


Alderik pun hadir bersama Rafa, Dea dan anaknya yang sudah berusia satu tahun lebih, Tara dan suaminya. Alderik memeluk Melinda dengan penuh rindu, karena minggu-minggu ini jarang bertemu dengan cucu kesayangannya tersebut.


"Terima kasih kakek udah datang, aku senang." Kata Melinda memeluk Alderik.


"Kakek juga, bersyukur masih bisa melihat anak dari kamu. Mommy mu pasti bahagia di surga," cetus Alderik menatap foto Jenny, yang berada di ruang keluarga di rumah milik Melinda dan Axel. Setidaknya Melinda masih memajang foto ibunya, di antara foto keluarga besarnya. Melinda memeluk Alderik, dan mengangguk.


"Iya mommy sudah bahagia," balas Melinda tersenyum.


Walau Melinda dan Axel beragama non muslim, tapi mereka menggelar doa dengan anak-anak yang kurang mampu dan berbagi dengan mereka. Acara inti sudah selesai, Melinda dan Axel meminta seluruh anggota keluarga dan tamu untuk menikmati sajian yang mereka sediakan.


"Aku bawa si kembar ke kamar dulu yah! Kasian mereka udah ngantuk, tapi masih di perebutkan kakek sama neneknya." Kekeh Melinda.


"Iya, mau aku temani?" tanya Axel.


"Tidak usah aku sama Miska dan Ameera saja."


"Baiklah," Axel menarik Melinda ke dalam dekapannya, dan mencium puncak kepalanya dengan sayang. Tak peduli, walau banyak tamu di sekitarnya.

__ADS_1


"Kalian duluan saja, aku mau ke kamar mandi sebentar." Kata Miska, saat akan menaiki lantai dua.


"Di atas aja kan bisa," timpal Ameera.


"Gak tahan," celetuk Miska, membuat Melinda dan Ameera tertawa.


"Dasar ada-ada saja adik ipar satu itu," ujar Ameera pelan, namun Melinda dapat mendengarnya. Walau perutnya sudah mulai membuncit, tapi Ameera tak kesusahan untuk menggendong Nathan.


****


"Daddy harap kamu ambil keputusan Aaron," ujar Dika, menatap sang anak.  Dimana pun, kapan pun Dika selalu membahas tentang lanjut kuliah di Korea. Membuat Aaron malas.


"Tapi dad, di sini juga bagus. Kenapa harus jauh? Lagian aku gak ada yang kenal di sana! Jika Mahira, jelas ada tantenya." Tutur Aaron, dia menolak karena dia tak mau meninggalkan Miska.


"Apa alasan mu berat meninggalkan Jakarta? Kakak mu saja Melinda, kuliah di Singapura waktu itu."


Aaron menggaruk rambutnya yang tak gatal, ingin sekali dia mengatakan bahwa dia tak bisa meninggalkan sang istri.


"Kamu sudah punya kekasih?" tebak Dika.


"I-iya," lirih Aaron.


Saat akan menjawab Anyelir masuk, ke kamar tamu rumah Melinda. Dia melihat perdebatan antara suami dan anaknya.


"Ada apa?" tanya Anyelir.


"Aku meminta Aaron untuk ke Korea," sahut Dika.


"Kenapa harus ke Korea dad? Aku gak mau, aku mau di sini dekat dengan ka Melinda dan ka Ameera." Tegas Aaron, tanpa menunggu jawaban dari Dika Aaron meninggalkan kamar tersebut dia ingin menemui istrinya untuk meredam amarah.


"Aaron berhenti, daddy belum selesai bicara." Marah Dika.


"Sudahlah mas, malu ini di rumah menantu kita Axel. Kenapa kamu memaksa Aaron? Apa ada yang kamu sembunyikan?" tebak Anyelir memincingkan mata.


"Tidak ada, aku hanya ingin putra ku fokus pada pendidikannya dan juga perusahaan Wiriadinata." Kilah Dika, entah apa yang ada di pikiran Dika saat ini apa dia ingin menguji sejauh mana Miska bertahan dengan putranya.


Anyelir menghela napas dengan pelan, dia menatap Dika dan memeluknya.


"Jangan pernah keras pada putra kita sayang," ujar Anyelir.

__ADS_1


"Aku hanya ingin dia fokus saja, tidak usah memikirkan tentang cinta."


"Tapi dia sudah dewasa, aku lihat Aaron bertanggung jawab, penyayang dan baik hati. Walau dia selalu bersikap dingin pada wanita di luar," ungkap Anyelir, saat itu Aaron menemani Anyelir pergi berbelanja. Aaron dan Anyelir tak seperti ibu dan anak, wajah Anyelir yang awet muda malah terlihat seperti kekasih Aaron.


Banyak wanita yang melirik ke arah Aaron, namun sang anak malah bersikap cuek dan dingin bahkan dia merangkul Anyelir agar tak banyak laki-laki atau perempuan yang menggoda dirinya dan Aaron. Dika tak menjawab ucapan Anyelir, dia lebih memilih keluar dari kamar dan bergabung bersama dengan keluarga besar sang menantu.


***


Sementara itu, Miska yang tak sengaja mendengar pembicaraan mertua dan Aaron hanya bisa terdiam duduk menyendiri di sudut rumah Melinda yang hanya dia dan Aaron yang tahu. Sebuah tangan menutup matanya, dan dia tahu siapa pemilik tangan tersebut.


"Aaron." Desis Miska, membuat Aaron tersenyum dan mengecup pipi Miska dengan gemas.


"Kamu curang sayang, kamu selalu tahu aku." Kekeh Aaron.


Miska hanya tersenyum saja tanpa ada niat untuk menanggapi ucapan Aaron, jelas dia hapal karena parfum yang di pakai Aaron sangatlah khas.


"Aku kira di kamar si kembar, kenapa di sini?" tanya Aaron.


"Cari angin," jawab Miska singkat, Aaron menghela napas dengan pelan dia melirik Miska. Tentang keputusan Dika yang memintanya untuk pergi ke Korea.


"Apa aku bawa saja kamu?" batin Aaron menatap Miska.


"Kenapa? Ada masalah?"


"Tidak ada, hanya saja soal kuliah." Kata Aaron pada akhirnya dia berbohong.


"Sayang, bagaimana kalau aku pergi jauh untuk melanjutkan pendidikan ku? Apa kamu mau ikut?" tanya Aaron.


"Kemana?"


"Entahlah aku tidak tahu,"


"Aku akan di sini nungguin kamu Ar, sampai kamu lulus dan pulang nemuin aku. Aku akan selalu nungguin kamu," ujar Miska, walau dia pun ragu akan bagaimana ke depannya nanti.


Padahal Aaron sendiri belum memastikan akan pergi ke Korea, atau tidak? Setidaknya sebelum dia melanjutkan pendidikannya. Aaron akan mempersiapkan apartemen atau rumah untuk Miska dan juga dia akan meninggalkan kartu untuk kebutuhan Miska, selama dia ada di Korea. Hening tak ada pembicaraan di antara mereka, hanya suara tawa dari dalam yang terdengar juga suara binatang malam yang menemani kesunyian mereka.


*****


Semoga suka, sabar mereka gak akan pisah ko cuma masih maen rahasia hihihi

__ADS_1


__ADS_2