Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.91


__ADS_3

Dan di sinilah Ameera dan Melinda, di kamar milik Ameera. Mereka duduk di balkon kamar yang menghadap ke arah belakang rumah, setiap kamar memiliki balkon kecuali kamar tamu.


Ameera melirik perut Melinda yang masih rata, dan akan memasuki usia kehamilan dua bulan. Sedangkan kehamilan dirinya akan memasuki tiga bulan, selisih satu bulan saja. Walau perut mereka masih terlihat rata, tapi Melinda nampak sekali perubahan pada tubuhnya. Sedangkan Ameera tak ada yang berubah, hening tak ada pembicaraan di antara mereka.


"Mau bicara apa? Aku harap kamu berbicara yang baik Ameera. Karena kamu sedang mengandung," ujar Melinda.


"Memang kenapa? Toh bayi ku gak akan dengar," ketus Ameera, membuat Melinda menggeleng tak menanggapi perkataan sang adik tiri.


"Aku berharap setelah kamu melahirkan, jangan pernah datang ke sini. Karena ini rumah ibu ku," tekan Ameera.


"Ibu Anyelir juga ibu ku Ameera, jika kamu lupa ibu mu menikah dengan ayah ku." Sahut Melinda, menatap tajam Ameera.


"Jika kamu mengajak ku bertemu ingin mengajak ribut, sebaiknya kamu jangan temui aku Ameera. Karena sampai kapan pun sifat mu akan seperti itu gak akan pernah berubah iri dan dengki," tutur Melinda.


Melinda beranjak dari duduknya, lalu melangkah keluar dari kamar Ameera.


"Semoga anak mu kenapa-kenapa dalam perut mu Melinda," pekik Ameera, membuat Melinda menatap tajam Ameera.


"Ameera," marah Melinda, ingin rasanya dia menampar mulut jahat Ameera. Tapi dia masih sadar, dan memiliki perasaan bahwa dia adalah adiknya walau statusnya tiri.


"Kenapa? Kamu takut? Apa Tuhan mu akan menolong mu? Jika kamu hamil mungkin sedang berbaik hati," cibir Ameera.


"Jaga bicara mu Ameera, kamu sedang hamil." Bentak Melinda.


"Jangan sampai apa yang kamu ucapkan, berbalik pada mu." Ujar Melinda, lalu membanting pintu kamar dengan kasar.


Melinda dan Ameera sama-sama mengelus lembut perut mereka.


"Semoga kalian baik-baik saja sayang," gumam Melinda mengusap perutnya, sungguh dia takut karena telah durhaka pada sang ayah.


Melinda dengan tergesa turun menuju lantai satu, dan hampir saja terpeleset di tangga.


"Ya Tuhan," pekiknya, langsung memegangi pinggiran tangga. Dia memegang dadanya yang berdetak dengan cepat.


Dengan perlahan Melinda turun, dan dia duduk lebih dulu di meja makan yang berada di dapur. Dan meminta minum pada pembantu.

__ADS_1


"Terima kasih bi," ucap Melinda.


"Sama-sama non."


"Melinda, kamu baik-baik saja?" tanya Anyelir, yang melihat wajah Melinda yang pucat.


"Aku... Baik-baik saja bu," ujar Melinda mencoba tersenyum.


"Kamu makan dulu yah! Ibu udah masak makanan kesukaan kamu," kata Anyelir.


Melinda melirik jam di pergelangan tangannya, dan menggeleng.


"Aku..."


Sebelum Melinda melanjutkan ucapannya, terdengar suara jatuh dan teriakan Ameera. Anyelir dan Melinda bergegas melihat siapa yang jatuh, sesampainya di sana Anyelir dan Melinda begitu syok melihat Ameera merintih kesakitan. Darah keluar dari jalan lahirnya, Anyelir berusaha meminta tolong pada penjaga rumah dan supir untuk membawa Ameera ke rumah sakit.


"Cepat pak tolong," pinta Anyelir saat melihat supir lambat.


"Baik nyonya."


Supir dan penjaga keamanan rumah Dika, langsung membopong tubuh Ameera yang mengeluarkan banyak darah. Ameera sendiri sudah tak sadarkan diri, sementara Melinda. Dia terpaku di tempat menatap darah.


"I-iya bi, aku baik-baik saja." Lirih Melinda.


Bibi membawa Melinda untuk duduk, dan menenangkan diri. Dia tahu pasti anak majikannya tersebut tengah syok, melihat darah yang sangat banyak.


"Nona ini di minum." Bibi memberikan air putih untuk Melinda.


"Terima kasih bi,"


"Sama-sama, saya ke belakang dulu nona. Jika membutuhkan saya anda panggil saja," kata bibi, di jawab anggukan oleh Melinda karena dia belum kuasa untuk berbicara.


Melinda mengirimkan pesan pada Axel, dengan tangan gemetar. Dia sungguh takut saat teringat ucapannya tadi pada Ameera.


"Maafkan aku Ameera, aku gak bermaksud." Lirih Melinda, dia menunggu kedatangan Axel.

__ADS_1


****


Di rumah sakit, Anyelir mundar-mandir di depan UGD. Dia menunggu kabar dari dokter, Anyelir pun sudah menghubungi Azriel sang menantu.


"Selamatkan anak ku Tuhan." Doa Anyelir.


Dokter keluar dan memberitahu Anyelir, bahwa Ameera mengalami keguguran. Karena benturan yang sangat keras, akibat terjatuh dari tangga.


"Kami akan melakukan kuret," beritahu dokter.


"Lakukan dok, lakukan yang terbaik untuk putri ku." Ujar Anyelir, dokter meminta Anyelir menandatangani surat persetujuan sebagai walinya karena Azriel belum sampai.


Satu jam kemudian, Ameera sudah selesai di kuret. Dan Azriel pun baru sampai, meminta maaf pada Anyelir karena jalanan macet.


"Tidak apa-apa, ikhlaskan yang sudah pergi nak! Maafkan ibu gak bisa jaga Ameera dan calon anak kalian," ujar Anyelir menepuk pundak Azriel.


"Tidak apa-apa bu, mungkin ini sudah takdir kami." Kata Azriel, di jawab anggukan oleh Anyelir.


Ameera pun di pindahkan keruangan perawatan VIP, Azriel dan Anyelir menunggu sadarnya Melinda yang kehilangan banyak darah.


Anyelir belum memberitahu Dika, tentang kecelakaan yang menimpa Ameera. Karena menurut Andi, Dika sedang rapat penting.


Axel sudah sampai di kediaman Anyelir dan Dika, dia begitu khawatir saat membaca pesan Melinda.


"Sayang," panggil Axel, melihat Melinda yang melamun menatap kosong ke depan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Axel, mengelus lembut pundak sang istri.


Melinda memeluk Axel dengan erat, dia terisak.


"Kenapa?" tanya Axel lagi.


"A-Ameera, dia jatuh dari tangga." Lirih Melinda.


"Lalu kenapa hmm?"

__ADS_1


Melinda pun menceritakan semua, sampai perkataan Ameera yang menyumpahkan dirinya dan sang anak yang dalam kandungannya. Lalu Melinda kesal pada Ameera, membuatnya dia kelepasan memaki dia dengan yang sama. Axel mencoba menenangkan Melinda.


****


__ADS_2