
Jenny dan Dika menghabiskan waktunya di rumah Tara, mereka makan siang bersama. Dengan sabar Jenny mengurus sang adik, kadang dia terlihat seperti anak kecil kadang marah-marah.
"Tara, kakak pulang dulu. Nanti kesini lagi," kata Jenny, memeluk sang adik.
"I-ikut," pinta Tara.
"Engga nanti daddy marahi kamu lagi," bukannya Jenny menakuti sang adik, tapi dia tak mau Tara tertekan akan kemarahan sang ayah.
Tara dengan cepat menggeleng, dia takut pada Alderik. Masih ingat dengan jelas, dia di bentak dan di caci akibat kepergian sang ibu. Itu terjadi saat, Jenny sedang berada di luar Negeri.
"Baik-baik di sini, nurut apa kata bibi Maura yah!"
"Ba-baik."
Jenny memeluk kembali Tara, dan berpamitan pada perawat dan bibi Maura.
Dika pun melakukan hal yang sama, dia mengusap puncak kepala Tara. Tak ada obrolan, dalam mobil tersebut hanya keheningan.
Jenny melirik Dika, yang fokus pada jalan. Dia pun memilih memainkan ponselnya, tak akan menggangu Dika mengemudi.
****
Sementara itu di Villa, Dela sangat puas dengan masakan Anyelir atau Cinta. Dan Dela pun bisa merasa, bahwa itu adalah cita rasa masakan Anyelir.
Namun dia memilih untuk diam, Dela tak tahu kenapa Anyelir membohongi dirinya. Dia perlu bukti, untuk membuktikan dia Anyelir bukan Cinta.
"Makasih yah! Aku kenyang banget," ujar Dela, dia mengelus lembut perutnya yang kekeyangan.
"Sama-sama."
"Lula dan Ara pun suka, nanti kapan-kapan kalau aku kesini lagi. Kamu ke Vila yah? Buat masak," cetus Dela.
"Baik Dela," jawab Anyelir.
"Mana ponsel mu?"
"Saya gak punya ponsel, saya menjualnya untuk modal." tutur Anyelir.
Dela pun hanya mengangguk tak masalah, toh dia tahu dimana kontrakan Cinta. Mereka pun memperhatikan, anak-anak yang sedang main. Sedangkan Auriga berada di kamar, untuk memeriksa e-mail yang masuk.
****
Dika mengantarkan Jenny pulang kerumah, menurut Jenny tak ada lagi pemotretan atau syuting.
"Terima kasih Dika," ucap Jenny.
"Sama-sama, bisakah besok kamu kosongkan jadwal mu?"
"Bisa, memang mau kemana?"
"Kita akan beli hantaran, untuk pertunangan kita nanti." Cetus Dika, Jenny pun tersenyum senang.
Tak menyangka pasalnya Dika, akan mengajak dirinya pergi belanja.
__ADS_1
"Oke, aku akan kosongkan semua jadwal ku besok." Balas Jenny antusias.
"Ya sudah, aku pamit."
Jenny pun melambaikan tangannya, menatap kepergian mobil Dika. Jenny menyukai Dika, sejak dirinya masuk universitas yang sama dengan Dika. Namun dia selalu melakukan belajar dari rumah, atau tempat syuting jika jadwal padat.
"Dari mana kamu?" tanya Linda.
"Jalan sama Dika," jawab Jenny.
"Pasti nemuin anak itu kan? Anak pembawa sial," cibir Linda.
"Tante," pekik Jenny.
"Kenapa? Memang iya kan? Dia udah nyebabin ibu kamu meninggal. Dokter bilang, kandungan ibu mu beresiko. Tapi ibu mu mempertahankannya," papar Linda.
"Ibu ku meninggal bukan karena adik ku, tapi itu adalah takdirnya." Ujar Jenny.
"Tapi itu kenyataannya," sahut Alderik dari arah tangga.
"Aku sudah menyuruh ibu mu, untuk mengugurkan anak itu. Tapi istri ku malam mempertahankannya," sambungnya kemudian.
"Daddy bagaimana pun Tara adalah anak mu, darah daging mu." Bentak Jenny di tiba-tiba pusing namun dia menahannya.
Jenny melupakan obatnya, karena tidak ingin Dika tahu.
"Setelah kamu menikah keluar dari rumah ini, dan bawa adik mu. Jangan pernah menunjukan wajah kalian pada ku, jika perlu mati pun aku tak peduli," pekik Alderik.
Linda tersenyum sini, menatap Jenny seolah.
"Baiklah, jika itu mau daddy. Setelah aku menikah dan punya anak," cetus Jenny, dia pun meninggalkan ruang tengah dengan tergesa.
Alderik diam membisu, kata-katanya salah menyakiti sang anak. Bagaimana pun jauh dalam lubuk hatinya, Alderik Menyayangi Tara dan Jenny.
Tangis Jenny pun pecah, dia luruh di lantai. Menyembunyikan wajahnya di lutut, dia memukul tembok menyalurkan rasa marah.
"Kenapa ibu harus pergi?" isak Jenny.
"Daddy mau aku dan Tara pergi Bu."
Jenny pun berjalan gontai menuju tempat tidurnya, lalu merebahkan dirinya. Dia benar-benar melupakan obatnya, obat yang penting untuk mengurangi rasa sakit.
Waktu bergulir begitu cepat tak terasa pagi pun menyapa, tapi Jenny sungguh pusing. Dia teringat akan janjinya dengan Dika.
"Aku harus kuat," gumam Jenny.
Jenny mengirim pesan untuk Dika, jika lebih baik bertemu setelah makan siang saja. Karena dia ada kepentingan yang mendadak, dengan langkah yang menyeret. Jenny berusaha menuju kamar mandi, dia ingin bertemu dengan Alzeta.
Dan disinilah Jenny sekarang berada di ruangan dokter Alzeta, dokter spesialis Neurologi.
"Kamu lupa obat mu?" tanya Alzeta, laki-laki yang berkisar enam tahun dari Jenny tersebut, sudah menganggap Jenny sebagai adik begitu juga Tara.
"Iya... Kamarin aku, jalan sama calon tunangan aku." Ujar Jenny mengulum senyum.
__ADS_1
Alzeta menghela nafas pelan, dia menatap Jenny sekilas lalu menulis pada buku riwayat kesehatannya.
"Seharusnya kamu, kasih tahu dia. Agar ada yang mendukung mu, selama ini kamu bertahan demi Tara." Papar Alzeta.
Jenny hanya tersenyum samar, Alzeta benar. Selama ini dia bertahan untuk adiknya, dan sekarang dia pun ingin bertahan untuk orang yang dia sayangi.
"Aku tidak ingin merepotkan Dika, bagaimana pun dalam perjodohan ini. Aku yang meminta," tutur Jenny.
"Maksudnya?"
"Aku gak tahan sama daddy dan tante Linda, mereka selalu menuntut ku ini dan itu. Sebentar lagi kontrak ku, dengan Sanova corp. Lalu aku akan menjadi ibu rumah tangga," papar jenny tertawa.
"Kamu gak akan menyesal?"
"Engga, itu yang aku mau. Semua uang ku akan aku berikan untuk pengobatan Tara," cetus Jenny dia menatap Alzeta.
"Ya sudah kita lakukan pemeriksaan,"
Jenny pun menurut, dia melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan memasukan obat lewat infus, walau sakit dia tak peduli.
***
Sementara itu Dela sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta, karena Lula harus sekolah.
"Aku pamit dulu yah Cin,"
Dela memeluk Anyelir dengan erat, sebelum dia berangkat. Dela meminta Anyelir memasak untuk dirinya.
"Hati-hati."
Dela pun berpamitan pada Sekar, dan kedua anaknya.
"Ka Lula, aku pasti kangen." Ujar Lilya.
"Aku juga, nanti kalau libur kita ke sini lagi. Aku akan ajak ka Manda dan tante Tiana," tutur Lula.
"Benarkah? Wah... Jadi banyak orang dong! Aku suka," seru Lilya.
"Ka Lilya gak bakal kangen aku?" tanya Ara cemberut.
Membuat Lilya, Adam dan Lula terkekeh.
"Aku juga pasti rindu sama kamu Ara, iya kan Dam?"
"Iya benar." Sahut Adam.
Mereka pun saling berpelukan, lalu Lula dan Ara masuk kedalam mobil. Melambaikan tangan pada Adam dan Lilya.
Anyelir begitu merasa lega setelah Dela pergi, dia sangat takut jika Dika akan menyusul. Tapi menurut Dela, Dika sangat sibuk menjelang hari pertunangannya.
"Semoga kamu bahagia Dika," lirih Anyelir menatap mobil yang menjauh.
tbc...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏