Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.33


__ADS_3

Sesuai janjinya, Jimi menemani Dela ke cafe milik Anyelir. Itu pun atas persetujuan Auriga, sementara anak-anak di ajak jalan-jalan oleh Zea dan Keanu ke Lembang Park & Zoo.


Sehingga hanya tinggal Auriga sendiri di apartemen milik sang keponakan, dia pun memeriksa pekerjaan yang masuk ke e-mailnya.


Saat tengah asik memeriksa pekerjaan, tiba-tiba pintu bel berbunyi membuat Auriga mengalihkan perhatiannya dari laptop.


"Siapa yah?" gumam Auriga, dia pun beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu.


Pintu terbuka, membuat Auriga terkejut akan kedatangan Riana. Bagaimana dia tahu apartemen milik Reen.


"Dari mana kamu tahu, aku ada di sini?" tanya Auriga dengan dingin.


"Mudah saja bagiku Riga, jika cinta. Semua pun akan mudah," sahut Riana.


Tanpa di minta, Riana masuk ke dalam apartemen. Riana tahu, di apartemen ini hanya ada Auriga seorang.


"Riana," geram Auriga.


"Bisakah kamu bersikap dengan sopan, Riana!"


"Ahh... Maafkan aku Riga, aku selalu merasa kita seperti dulu. Saat aku menjadi kekasih mu, selalu keluar masuk dengan mudah. Ke apartemen mu," tutur Riana.


"Dulu dan sekarang jelas beda Riana, sekarang aku sudah memiliki istri. Dan sebentar lagi aku akan memiliki anak," ujar Auriga.


Riana pun mendekati Auriga, dan menggantungkan lengannya di leher mantan kekasihnya tersebut.


"Apakah istri mu memuaskan kamu Riga?" bisik Riana menggoda.


"Riana lepas, nanti ada yang datang. Dan bisa menjadi salah paham," balas Auriga mencoba menyingkirkan Riana.


"Kenapa Riga? Apa aku tidak menggoda untuk mu?" lirih Riana.


"Bukannya dulu kamu selalu memuji ku, dan selalu senang mencium ku." Lanjutnya lagi.


"Cukup Riana, sekarang sudah berbeda. Aku sudah menikah," tegas Auriga.


"Sekarang pergi dari sini, atau aku panggilkan keamanan. Untuk mengusir mu," ucap Auriga, dengan tatapan tajamnya.


Riana berdecak kesal, dia melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa. Membuat Auriga geram, dia hanya takut Dela salah paham dan semakin marah. Dia takut terjadi sesuatu, pada kandungannya.


"Pergi dari sini Riana," pinta Auriga.


"Tidak mau, aku mau di sini. Aku bosan di hotel," papar Riana.


Auriga pun menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu meninggalkan Riana di ruang tamu. Dan dia sendiri melanjutkan pekerjaannya, di meja makan Riana pun tersenyum menyeringai.


***


Sementara itu Jimi dan Dela, sudah sampai di cafe milik Anyelir. Dela pun meminta untuk bertemu dengan Anyelir.


"Dela," panggil Anyelir.

__ADS_1


"Anye," seru Dela riang, dia pun memeluk Anyelir dengan erat.


"Baru beberapa jam gak ketemu aku, udah kangen loh!" kekeh Dela.


"Kamu ada-ada saja, Tuan." Sapa Anyelir pada Jimi.


"Dia ingin bertemu dengan bu Sekar," bisik Dela.


"Hah?"


Anyelir menatap Jimi, lalu tersenyum sekilas.


"Tuan, mbak Sekar sedang ada di rumah. Kebetulan anaknya hari ini sedang tidak enak badan," ungkap Anyelir, seolah tahu Jimi tengah mencari Sekar.


Dela mengulum senyum, melihat ayah mertuanya salah tingkah seperti itu.


"Astaga... Benar-benar seperti abege saja." Bisik Dela dalam hati, berusaha mencoba menutupi tawanya yang ingin pecah.


"Oh... I-itu apa saya, ah... Saya ingin memesan kopi yang kemarin. Rasanya sangat enak dan pas," bohong Jimi, membuat Dela hampir tertawa keras.


Dela mengusap perutnya, merasa lucu akan tingkah mertuanya tersebut.


"Sudahlah dad, jujur saja." Goda Dela.


"Dela," desis Jimi, dan pada akhirnya tawa Dela pecah. Dia bersembunyi di belakang Anyelir, guna menghindari tatapan tajam sang mertua.


"Sudah ayok," ajak Anyelir pada Dela dan Jimi.


Sementara itu, di apartemen Auriga Riana masih setia bertahan di apartemen milik Reen. Membuat Auriga jengah, dan khawatir Dela cepat pulang.


"Riana, sampai kapan kamu tetap di sini?" tanya Auriga.


"Kenapa? Aku kan menemani kamu Riga," sahut Riana.


Riana pun beranjak dari duduknya, di melangkahkan kakinya menuju dapur dia akan membuatkan minum. Untuk dirinya dan Auriga, tanpa Auriga tahu. Riana memasukan sesuatu kepada, minuman milik Auriga.


Riana meletakan minuman buatannya, lalu duduk di dekat Auriga.


"Jangan terlalu dekat," kesal Auriga, mendorong tubuh Riana.


"Kenapa sih? Kamu kok gitu sekarang,"


"Karena aku sudah menikah, dan kamu janda. Jadi gak baik," cetus Auriga, membuat Riana memutar bola mata malas.


Dia pun meminum minumannya, sesekali melirik Auriga. Yang mulai mengambil gelas miliknya, membuat Riana tersenyum menyeringai. Beberapa menit kemudian, reaksi obat tersebut sudah mulai bereaksi. Membuat Auriga mulai mengantuk, dan tiba-tiba tertidur di depan laptop.


"Akhirnya," seru Riana kegirangan.


Yang harus dia lakukan sekarang adalah membawa Auriga ke kamar terdekat, Riana mencoba mengangkat tubuh Auriga dengan susah payah.


"Huh... Astaga, berat sekali kamu Riga. Tapi demi aku bisa memiliki mu lagi, aku akan berusaha." Gumam Riana.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Riana sudah berhasil membawa Auriga ke kamar tamu dengan susah payah. Dia membaringkan Auriga, dan menatapnya dalam.


"Huf... Pegal sekali, tapi aku bahagia. Sebentar lagi rencana ku berhasil," ujar Riana tersenyum licik.


Riana membuka baju yang di kenakan Auriga, lalu dia pun membuka bajunya sendiri. Dan memberikan tanda merah, di dada Auriga dan berbaring memeluk Auriga.


"Aku lakukan ini, karena aku mencintai mu Riga. Dulu daddy mu menolak ku, kita lihat. Apa daddy mu tetap menolak ku? Atau istri mu yang menolak ku, tapi aku yakin Dela akan menerima ku sebagai madunya." Kekeh Riana, terlalu percaya diri.


Setelah mendapatkan apa yang Dela mau, entah mengapa Dela ingin segera pulang. Dia khawatir dengan Auriga yang sendiri di rumah.


"Aku pulang dulu Nye, nanti ke sini lagi. Tentu kalau aku sudah melahirkan," cetus Dela.


"Ya aku tunggu, aku gak sabar mau liat baby twins kamu. Pasti tampan-tampan kaya ayahnya," kekeh Anyelir.


Dela tersenyum dia pun memeluk Anyelir, berharap dia bisa main ke Jakarta. Hanya di tanggapi senyum oleh Anyelir, Anyelir mengantar Dela ke depan cafe.


"Salam sama bu Sekar dari daddy," bisik Dela, membuat Anyelir tertawa menatap Jimi.


"Dela masuk," perintah Jimi, dengan tatapan tajamnya.


"Baik dad." Sahut Dela.


"Ya akan aku sampaikan, kamu hati-hati di jalan." Balas Anyelir.


"Ya, bye." Dela melambaikan tangan pada Anyelir, mobil pun melaju meninggalkan cafe milik Anyelir.


Selama dalam perjalanan, Dela merasa gelisah. Jimi pun beberapa kali melirik pada Dela, dan selalu menanyakan keadaannya.


"Kamu baik-baik saja nak?" tanya Auriga.


"Ya aku baik-baik saja dad," jawan Dela tersenyum.


Berpuluh menit kemudian, mobil Jimi sudah sampai di basment apartemen.


"Zea belum pulang?" tanya Jimi.


"Belum dad, mereka mungkin pulang sore." Sahut Dela.


Jimi pun hanya mengangguk saja, dia membawakan titipan yang di berikan oleh Anyelir untuk Dela. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai. Saat membuka pintu, keadaan apartemen sepi. Dela melangkah lebih dalam melihat laptop milik Auriga masih menyala.


"Di mana Auriga?" gumamnya.


Dela pun melangkah menuju kamar tamu, karena dia ingin membaringkan punggungnya yang pegal. Saat membuka pintu dia mematung, tak ingin mempercayai apa yang dia lihat saat ini, tiba-tiba perutnya terasa keram. Dan dadanya sesak, Jimi yang melihat Dela meringis pun dengan cepat menghampiri sang menantu takut terjadi sesuatu.


"Dela kamu gak papa?" tanya Jimi, menatap raut wajah Dela yang pucat menahan sakit.


Dan pandangannya lurus ke depan, Jimi pun mengikuti pandangan Dela. Dia pun begitu syok, dan juga marah bagaimana bisa Auriga melakukan hal yang tak pantas sementara itu istrinya tengah hamil besar.


"Auriga." Teriak Jimi.


tbc..

__ADS_1


__ADS_2