
Jangan menilai buku dari sampulnya, mungkin itu sangat cocok untuk Jenny Sanova. Dia terlihat angkuh di luar, namun begitu rapuh dari dalam. Tak pernah ada yang tahu, bagaimana dia setelah dalam rumah.
Ayah yang seharusnya menyayangi dirinya, justru selalu menuntutnya sempurna. Begitu pula dengan ibu tiri yang selalu banyak maunya dan menghasut sang ayah, bahkan ayahnya sendiri lebih sayang anak dari istri barunya. Jenny memiliki adik laki-laki yang sedang menempuh pendidikan di luar Negeri, yang bernama Rafael Sanova berumur sembilan belas tahun.
"Jenny," pekik Linda, dari balik pintu.
"Ada apa?" ketus Jenny.
"Cepat bersiap, hari ini kita akan kerumah keluarga Wiradinata."
"Apa? Yang benar tante?" Jenny tak pernah memanggil ibu atau mommy pada Linda, karena dia tak mau ada orang yang menggantikan mommy-nya.
"Iya cepat,"
"Oke."
Dengan segera Jenny masuk ke dalam kamar, dan bergegas membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, dia sudah mandi secepat kilat. Mungkin itu adalah mandi tercepatnya, dia memilih gaun yang terbaik untuk bertemu lelaki idamannya yaitu Randika.
"Daddy aku sudah siap!" ujar Jenny dengan semangat.
"Ingat Jenny, jika Dika tak menerima mu. Maka bersiaplah daddy jodohkan," tegas Tuan Alderik.
"Iya dad," lirih Jenny tak yakin.
Mereka pun menggunakan satu mobil untuk pergi ke keluarga Wiriadinata, ada perasaan cemas jika Dika menolak dirinya. Sungguh dia ingin keluar dari rumahnya, dia ingin hidup mandiri.
Saat sedang asik melamun, ponsel Jenny berdering tertera nama Rafa di layar ponsel tersebut. Rafa memang dekat dengan Jenny, dan selalu saling menyayangi.
"Hai!" sapa Rafa.
Jenny membalasnya dengan tersenyum.
"Wih... Udah cantik, mau kemana nih?
"Mau ke rumah calon," sahut Linda ibu dari Rafa.
"Mommy? Mommy ada di situ? Ka, aku mau bicara dong sama mommy." Pinta Rafa.
Jenny pun menyerahkan ponselnya, pada Linda.
"Ada apa nak?" tanya Linda.
"Mommy kapan ke sini? Aku kangen loh! Gak ada yang masakin aku," rengek Rafa.
Jenny hanya menyimak obrolan ibu dan anak tersebut, seandainya ibunya masih ada. Dia pun bisa bermanja pada ibunya, air mata turun tanpa permisi membuat Jenny buru-buru menghapusnya. Tanpa dia sadari sang ayah memperhatikannya dari balik kaca.
****
__ADS_1
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai. Dan di sambut oleh Laura dan Yusra, sedangkan Yumna dia menunggu di dalam bersama Dika.
"Selamat datang," ucap Laura, dia memeluk Linda.
Kemudian beralih pada Jenny, yang terlihat sangat cantik dengan dress berwarna hitam.
"Mari masuk," ajak Yusra.
Mereka pun masuk, dan langsung di persilahkan duduk. Tak lama Dika pun datang dengan Yumna, dengan wajah datar dan dinginnya. Membuat Jenny cemas, takut Dika menolak.
"Maaf om, tante. Bisakah aku bicara terlebih dulu dengan Dika?" tanya Jenny.
Dika menatap Jenny dengan mengerutkan keningnya, dimana wanita sombong dan angkuh selama ini.
"Boleh, Dika ajak Jenny ke taman belakang." Titah Laura.
"Terima kasih tante,"
Jenny pun mengikuti langkah Dika, mereka duduk di bangku yang ada di taman belakang. Bangku yang sering Dika, Dela dan Maira gunakan berkumpul.
"Ada apa? Katakan langsung, jangan buang waktu ku." Cetus Dika dengan nada dingin.
"Aku tahu, kamu terpaksa Dik. Tapi bisakah kamu menerima lamaran ini?"
Dika tersenyum tipis, nyaris sinis. Dia menatap Jenny, lalu memandang ke depan terdapat hamparan bunga milik sang ibu.
"Memangnya kamu siapa? Belum lamaran kamu sudah mengatur ku!"
"Keluar? Bukannya kamu senang jadi anak orang kaya? Dan bisa foya-foya!"
Jenny beranjak dari duduknya, dan berlutut di hadapan Dika. Membuat Dika terkejut, tapi dia tak ada niat membangunkan Jenny.
"Jika ini yang kamu mau, maka akan aku lakukan. Kamu hanya melihat sisiĀ ku hanya sebagian, kamu tak melihat ku dari keseluruhan." Papar Jenny, lalu mengalirlah cerita dari mulut Jenny.
Dengan menahan tangis, Jenny menyudahi cerita hidupnya. Yang tak pernah bahagia, ibunya pergi saat dia berumur empah tahun. Saat melahirkan adiknya bernama Tara, adik perempuan yang sangat istimewa. Awalnya Alderik sang menyayangi Tara, namun kedatangan Linda dan hadirnya anak lelaki membuat Alderik jarang mengunjungi Tara. Dan dengan hasutan dari Linda, Alderik jarang menemui Tara dan membenci anaknya karena dia sang istri pertama pergi selamanya. sangat malu mengakui anak ke duanya.
"Aku bekerja selama ini hanya untuk pengobatan Tara, daddy tak pernah membiayai Tara. Jika ada yang bilang aku sombong dan boros itu sangat salah." Tutur Jenny.
Jenny menatap Dika yang hanya dia saja, Jenny pun berdiri dan membersihkan lututnya.
"Sekarang aku sudah menceritakan semuanya, aku pasrah kamu mau nerima aku atau tidak."
Jenny pun berlalu meninggalkan Dika, sebelum bergabung bersama yang lain. Dia pun memutuskan ke kamar mandi terlebih dulu, beruntung tas make-upnya selalu di bawa di mana pun dia berada.
Dika menatap punggung Jenny yang telah hilang di balik tembok, tak menyangka jika hidupnya seberat itu. Kehilangan ibu di usia yang masih membutuhkan kasih sayang, lalu di paksa mengurus adik yang spesial.
"Mungkin aku harus melupakan kamu Anye," lirih Dika.
__ADS_1
"Bukan aku menyerah, tapi jika kita berjodoh. Aku harap kita bisa bertemu kembali, apa pun caranya."
Dika pun kembali masuk, dan menuju ruang tengah. Jenny sudah memasang wajah cerianya seperti sedia kala, ceria dan banyak senyum.
"Papi sudah bicara Dika, kami menyerahkan semuanya pada kamu. Apa pun keputusan kamu, kami akan menerimanya." Papar Mario.
Dika mengehela napas pelan, dia pun melirik kakak kembarnya. Yang di dampingi suami mereka masing-masing, dia pun melirik Maira yang mengedikan bahu acuh.
"Dela gue butuh lo," pekik Dika dalam hati.
"Aku terima lamarannya om, tante."
Jawaban yang di berikan Dika, membuat Jenny membulatkan mata tak percaya. Dia menatap Dika, dengan mata yang sudah memanas.
Tak etis memang jika wanita yang melamar terlebih dulu, niatnya hanya untuk bertemu keluarga saja. Namun berubah jadi lamaran, dan Dika menerima lamaran dari daddynya.
"Satu minggu lagi, aku akan datang ke rumah mu. Untuk melamar mu secara resmi," cetus Dika, membuat senyum di wajah Jenny berbinar bahagia.
"Baiklah, terima kasih nak Dika!" ucap Alderik.
"Kalau begitu, mari kita makan malam dulu." Ajak Laura.
Mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama.
"Kamu yakin dengan keputusan mu Dik?" bisik Yusra.
"Aku yakin ka," balas Dika, Dika pun menyusul yang lainnya ke meja makan. Dia duduk di sisi Laura berhadapan dengan Jenny.
"Sudahlah sayang, kita doakan yang terbaik untuk Dika." Kata Hito, dia tak ingin terlalu ikut campur urusan adik iparnya tersebut. Tapi jika dalam hal keburukan dia akan ikut campur.
Yusra pun memutar bola mata malas, dan bergegas menyusul yang lain. Hito pun menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Serba salah memang sama perempuan," celetuk Bara tiba-tiba dari belakang Hito.
"Ck... Kakak ipar menyebalkan, kirain udah di meja." Ujat Hito.
Mereka pun berjalan bersama menuju meja makan.
"Tadi ada telepon dari Dela," ucap Bara, dan di jawab 'oh' oleh Hito.
"Dela pasti ngamuk kalau tau," cetus Hito.
"Aku yakin Auriga pasti bisa memberi pengertian pada Dela,"
"Ayok kalian lama banget sih!" ketus Yusra, saat Hito dan Bara sudah tiba di meja makan.
Yumna pun terkekeh saat Bara dan Hito di marahi, mereka kikuk sendiri. Dan meminta maaf karena sudah membuat mereka menunggu.
__ADS_1
tbc...
Maaf typo, jangan lupa komen dan like