
Dika mengabaikan pesan dari Alderik, yang ingin bertemu dengan Melinda sekaligus Tara. Karena Tara tanggung jawabnya, jadi Alderik harus meminta izin padanya.
"Kenapa?" tanya Anyelir.
"Alderik, dia ingin bertemu dengan Melinda dan Tara." Jujur Dika.
"Lalu, kamu mengizinkannya?"
"Tidak, aku tidak mau Tara tertekan bertemu dengan Alderik. Tapi untuk Melinda pun aku rasanya berat sekali, takut Alderik membawa Melinda." Papar Dika.
"Mana mungkin, hak asuh Melinda kan ada pada mu."
"Sebaiknya kamu pertemukan tuan Alderik, dengan Tara dan Melinda. Agar tak ada penyesalan di kemudian hari," jelas Anyelir.
"Aku akan mempertimbangkannya," balas Dika.
Dika mengajak Melinda pulang lebih dulu, karena besok dia harus meeting pagi.
"Daddy tapi aku masih mau main, gak mau pulang dari rumah opa Jimi." Rengek Melinda.
"Sayang besok daddy harus kerja," jawab Dika.
"Gak mau pokoknya aku mau di sini," pekik Melinda.
"Sudah Dika, tidak apa-apa. Biarkan Melinda di sini." Timpal Sekar.
"Memang tidak merepotkan?" tanya Dika.
"Tidak, rumah ku dan Anyelir hanya berjarak beberapa rumah saja. Jika Melinda menangis kami akan mengantarnya lagian disini ada Dela juga," tutur Jimi.
"Baiklah kalau begitu, aku titip Melinda. Anye aku pulang dulu," pamit Dika.
"Iya, hati-hati mas." Kata Anyelir.
__ADS_1
Dika pun pulang bersama kedua orang tuanya, dan juga Yusra, Hito dan Maira.
***
Keesokan harinya, sesuai janji ayah Satria pada bunda Nia. Dia sudah membuat janji dengan Hito melalui sekretarisnya dan akan bertemu saat jam makan siang.
"Ayah gak lupakan?" tanya bunda Nia.
"Engga bunda, bunda tenang saja. Siapkan saja apa yang mau di bawa nanti untuk lamaran," kata ayah Satria.
"Baiklah kalau gitu, oh... Bunda akan kasih tahu Feli," ujarnya antusias.
Setelah membereskan bekas sarapan, bunda Nia menelepon Feli dan menceritakan. Lamaran Rumi dengan semangat, bahkan Bunda Nia meminta Feli datang saat menikah saja.
"Ya sudah kalau begitu, aku sama Yudis akan datang ke Indonesia." Kata Feli, tentu dengan ketiga anaknya.
Bunda Nia pun memutuskan panggilan teleponnya dengan Feli, yang berada di Korea. Dengan semangat empat lima, bunda Nia akan berbelanja seserahan untuk lamaran sang anak.
Jam makan siang tiba, Satria sampai lebih dulu. Karena Hito sedang berada di jalan, terjebak macet. Sepuluh menit berlalu, Hito sudah sampai dan langsung di sambut oleh sekretaris Satria.
"Baik pak Satria, suatu kehormatan anda ingin bertemu dengan saya." Kekeh Hito.
"Silahkan duduk," lanjut Hito lagi.
Hito dan Satria pun mengobrol basi-basi seputaran pekerjaan dan juga tentang saham, Satria berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
"Begini tuan Hito, maksud saya bertemu dengan anda adalah. Ingin melamar anak anda dengan putra bungsu saya," ujar Satria, membuat Hito syok dan menatapnya tak percaya.
"Maaf pak, apa anda tidak salah anak orang?" tanya Hito merasa masih bingung dengan semua ini.
"Tidak tuan Hito, saya tidak salah orang. Dan saya serius," balasnya dengan tegas, tak ada raut wajah gugup atau ragu.
"Tapi pak, anak saya Maira masih kuliah."
__ADS_1
"Tidak apa tuan Hito, bukankah kuliah sudah menikah. Tidak masalah?"
"Iya sih... Tapi, saya akan bertanya pada anak saya terlebih dulu. Bagaimana pun yang menjalaninya adalah putri saya pak," tutur Hito.
"Baik lah tuan, saya akan menunggu jawaban anda."
Tak lama pelayan datang, dengan membawa berbagai macam hidangan. Pembicaraan Hito dan Satria, sekarang beralih ke seputaran bisnis.
Di Lokal Seafood, Rumi hilir mudik tak jelas. Membuat Ryan menjadi pusing karena persis, seperti setrikaan.
"Lo kenapa sih?" tanya Ryan, dalam moda perhatian sok akrab dalam berbalut pertemanan.
"Gue lagi nunggu kabar dari ayah," sahut Rumi.
"Memang bokap lo kenapa? Atau nyokap lo sakit?" cerca Ryan, membuat Rumi memutar bola mata malas.
"Kepo."
"Idih kulkas... Bisa rese juga lo yah!" Ryan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Apa sih coba ceritakan ke gue," pinta Ryan sedikit memaksa.
"Gue mau lamar Maira," ucap Rumi, membuat minuman yang sedang Ryan menyembur ke depan. Beruntung gak mengenai, sang sahabat sejati Bima sakti.
Rumi mendengus tak suka menatap Ryan, beruntung dia agak jauh.
"Kalo minum tuh telan," omel Rumi.
"Lagian lo bikin gue kaget, sialan!"
"Cepat ceritakan bagaimana lo, bisa lamar Maira lewat bokap lo?".
"Adalah kepo, lo gak usah tau." Ketus Rumi, berlalu meninggalkan kantornya.
__ADS_1
***
Semoga suka ya, hari ini dikit karena aku ngantuk. Maaf typo. 💜