
Pukul tujuh malam, Miska masih mengerjakan pekerjaan yang Aaron berikan. Dia terus saja menguap, karena kantuk menyerang.
"Kopi udah habis dua gelas, tetep aja ngantuk." Gerutu Miska.
Miska pun memutuskan untuk membuat mie instan saja, dia menuju pantry. Sebagian karyawan sudah ada yang pulang ada juga yang lembur, jadi Miska tak terlalu takut sendiri di gedung yang lumayan besar.
"Buatkan aku kopi sekalian," celetuk Aaron, membuat Miska terlonjak kaget.
"Astaga anda mengagetkan saja pak," ketus Miska.
"Ingat jika berdua jangan panggil aku pak," kesal Aaron, lalu pergi meninggalkan Miska.
"Dasar bocah," gerutunya.
Miska pun membuatkan kopi untuk Aaron, tiga menit kemudian mie instan dan kopi yang dia buat sudah selesai. Miska mengantarkan kopi terlebih dulu, jika di bawa dengan mienya pasti Aaron bakal mau begitu pikirnya.
"Ini kopinya." Miska menaruh kopi di meja Aaron, tanpa menunggu jawaban dari Aaron Miska keluar dari ruangan dingin tersebut.
"Mbak Miska, belum pulang?" tanya Sri, lagi-lagi membuat Miska terkejut.
"Astaga Sri, kenapa ngagetin sih ih..."
"Hehee... Maaf mbak, lagian aku panggil mbak gak jawab sih. Malah ngedumel terus mengumpat pak Aaron," ujar Sri, membuat Miska membelalakan matanya.
"Ja-jadi kamu denger Sri?"
"Iya, memang kenapa sih toh mbak?"
__ADS_1
"Mati lah aku, mudah-mudahan Aaron gak denger." Batin Miska.
"Oh... Gak papa Sri, aku lanjut kerja dulu yah. Dikit lagi tanggung soalnya," tutur Miska, Sri pun hanya mengangguk lalu melanjutkan bersih-bersih di sekitaran lorong tempat Miska bekerja. Sesekali Sri mengobrol dengan Miska, agar Miska tak mengantuk.
Tepat pukul sembilan malam, Miska sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia merentangkan tangannya, melakukan peregangan pada otot-ototnya yang terasa pegal.
"Akhirnya selesai juga," gumam Miska, dengan cepat dia membereskan meja dan mematikan komputernya. Kantor sudah sepi, hanya tinggal dirinya dan satpam mungkin saja.
"Sepi banget, jadi merinding."
Miska bernapas dengan lega, saat Aaron juga akan menaiki lift. Setidaknya dia tidak sendiri, dan memikirkan hal-hal yang aneh yang akan membuatnya takut.
"Aku antara," celetuk Aaron.
"Tidak usah pak, aku bisa pulang sendiri." Tolak Miska.
"Pulang pakai apa? Kamu lupa, tadi pagi kamu berangkat sama saya." Tutur Aaron, membuat Miska merutuki kebodohannya tak ingat dia berangkat dengan Aaron.
Seperti biasa terjadi keheningan di dalam mobil, di antara Aaron dan Miska. Walau malam, suasana jalanan lumayan ramai.
"Temani aku makan," titah Aaron, membuat Miska menoleh dan mengeryit.
"Tapi saya..."
"Jangan menolak, ini perintah." Sela Aaron dengan tegas, Miska pun pasrah mengikuti keinginan Aaron.
Aaron membelokan mobilnya ke rumah makan, khas sunda. Dia memesan paket ayam bakar dua porsi, tumis kangkung dan cumi-cumi. Saat menunggu pun Miska dan Aaron saling membisu, curi-curi pandang.
__ADS_1
****
Sementara itu di rumah sakit, Ameera menatap Azriel yang tengah menyiapkan makan malam untuk dirinya. Tadi sore, Anyelir memberitahu Azriel bahwa Ameera berada di rumah sakit.
"Maafkan aku Azriel," lirih Ameera, menatap sang suami.
"Sudahlah, aku juga salah mengambil keputusan di saat marah." Kata Azriel masih setia menunjukan wajah dinginnya, dia ingin melihat sampai mana perjuangan Ameera untuk keutuhan rumah tangga mereka. Itu saran dari Melinda dan Axel, Azriel harus bersikap dingin pada Ameera untuk sementara. Walau sudah menolak, karena takut kondisinya semakin drop tapi Melinda meyakinkan semua akan baik-baik saja.
"Makanlah, akhir-akhir ini sulit sekali makan. Aku tidak mau jika ibu mu menyalahkan aku, karena aku tak benar mengurus mu." Papar Azriel, diam-diam dia ingin tertawa menatap Ameera yang cemberut.
"Suapin," rengek Ameera.
Azriel pun menyuapi Ameera, Ameera menatap lekat wajah Azriel dan tersenyum diam-diam. Dia akan melakukan apa pun, untuk menjadi satu-satunya istri dari Azriel.
Di tempat lain kediaman Axel, kini Melinda sudah memakai pakaian yang sangat tipis. Bukan untuk menggoda sang suami, tapi dia memang selalu merasakan gerah karena kehamilannya.
"Menurut mu apa akan berhasil?" tanya Melinda, pada Axel yang baru keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama tidur pendek. Axel pun ikut berbaring, dan menatap Melinda dengan lekat. Setiap hari semakin jatuh cinta pada Melinda, Axel mengusap pipi Melinda dan menciumnya.
"Kamu makin cantik, sayang."
"Hemm... Gombal, pasti ada maunya." Tebak Melinda, membuat Axel terkekeh dan menggeleng.
"Tidak, kamu memang cantik sayang. Mungkin ini bawaan baby kita,"
Axel mengusap perut Melinda, dan mencium perut tersebut. Lalu mengajak bicara, sesekali bayi yang ada dalam perut Melinda merespon dengan gerakan-gerakan kecil.
"Ayok tidur, kamu pasti lelah. Abis nungguin Ameera,"
__ADS_1
"Sayang-sayangnya ayah, ayok tidur. Kasian ibu kamu," kata Axel di depan perut Melinda, membuat Melinda tertawa. Melinda kira, Axel ingin meminta jatah.
****