Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.53


__ADS_3

Karena mengkhawatirkan Melinda, Dika memutuskan untuk menjemput Melinda di rumah Anyelir. Dika hanya takut, Melinda rewel di malam hari, setelah membersihkan diri Dika turun kembali menuju lantai satu dan akan berpamitan pada Laura dan Mario.


"Bu, aku ke rumah Anyelir dulu yah!" ujar Dika.


"Loh! Kamu gak makan dulu Dik?" tanya Laura, pasalnya Dika baru sampai saat adzan magrib berkumandang dan sekarang akan pergi lagi, tanpa makan malam.


"Aku makan di rumah Anyelir saja bu, kalau boleh bungkus saja masakan ibu." Kekeh Dika, membuat Laura menggeleng.


"Dimana papi?" tanya Dika.


"Di ruang kerja, ada yang harus di periksa katanya." Jawab Laura.


"Oh.. terima kasih bu," ucap Dika menerima kotak makan dari Laura, dan mencium pipi sang ibu.


"Sama-sama, hati-hati di jalan. Jangan ngebut kalau Melinda gak mau pulang jangan di paksa," tutur Laura, memberi nasehat pada Dika.


"Iya bu," sahut Dika.


Berpuluh menit kemudian, Dika sudah sampai di perumahan milik Anyelir. Yang dia tahu dekat dengan rumah milik mertuanya Dela Jimi, sebelumnya Dika menanyakan lebih dulu pada Mario alamat Anyelir.


Sesampainya di depan rumah Anyelir, yang halamannya cukup luas. Dika memasukan mobilnya, dan mengetuk pintu rumah Anyelir. Saat pintu terbuka, Anyelir mengenakan baju tidur tanpa make-up.


Membuat Dika tertegun, menatap Anyelir sama seperti beberapa tahun yang lalu. Saat dia pertama kali melihat Anyelir, yang tanpa make-up tebal. Hanya tipis, dan sekarang aura Anyelir berbeda memancarkan pesona yang luar biasa. Entah mungkin karena dia sudah memiliki anak, dan Dika pun bisa tahu perubahan dari tubuh Anyelir terutama bagian dada.


Anyelir yang di tatap intens pun merasa risih, apalagi Dika tak berkedip saat menatap bagian dadanya. Anyelir pun berdehem, untuk membuyarkan lamunan Dika.


"Dasar mesum," batin Anyelir menatap Dika.


"Ahh... Anye maaf, malam-malam menggangu. Aku ke sini ingin menjemput Melinda," kata Dika.


"Oh... Melinda, baru selesai makan malam mas. Dia sedang main di kamar Ameera," jawab Anyelir.


Anyelir mempersilahkan masuk, Dika pun memberikan lauk pemberian dari Laura.


"Aku kira kalian belum makan, makanya aku bawa dari rumah."

__ADS_1


"Mas Dika belum makan?" tanya Anyelir.


Dika menggaruk rambutnya yang tak gatal, dia memang sengaja tak makan di rumah karena ingin makan malam dengan Anyelir modus.


"Belum sih, tadi aku buru-buru. Karena khawatir sama Melinda jadi tidak sempat," kilah Dika.


"Ya sudah aku temani mas makan," putus Anyelir.


Dika mengikuti Anyelir menuju meja makan, meja makan belum di bereskan sama sekali.


"Sebenarnya aku juga belum selesai makan mas," cetus Anyelir malu-malu.


"Ya sudah kita makan bersama, aku lihat kamu masaknya hanya sedikit."


"Iya karena hanya aku dan dua anak kecil," kata Anyelir.


Dia membuka kota makan pemberian Dika, yang berisi rendang, sambal goreng kentang, dan juga telur balado. Laura juga memberikan sayur sup ayam, nuget dan sosis untuk anak-anak, berhubung anak-anak sudah makan Anyelir menaruh makanan tersebut ke dalam lemari es untuk di hangatkan besok.


Dika dan Anyelir curi-curi pandang, layaknya pasangan baru saja jadian. Melinda yang ingin meminta minum, tentu terkejut dengan kedatangan Dika. Tapi dia nampak sangat bahagia.


"Daddy," pekik Melinda, dia berlari pada Dika yang sudah tersedak. Dan langsung meminum air yang di di berikan oleh Anyelir.


"Tidak sayang, daddy mau jemput kamu." Beritahu Dika, membuat senyum di wajah Melinda pudar.


"Daddy kan sudah janji, izinin aku nginap. Tante Anyelir juga," ujar Melinda melirik pada Anyelir, namun Anyelir hanya menggeleng.


"Apa tante gak suka aku di sini?" tanya Melinda, Ameera pun baru sampai di dekat meja makan saat mendengar Melinda berteriak nama ayahnya.


"Bukan sayang, bukan begitu. Tante memang izinin kamu menginap tapi daddy mu sangat mengkhawatirkan mu Melinda, jelas Anyelir dengan lembut, namun itu semua tak di terima dengan baik oleh Melinda yang memang sudah mengantuk. Karena jam tidur Melinda sebentar lagi, Dika selalu menerapkan jam tidur untuk Melinda pukul delapan malam. Paling lambat pukul, setengah sembilan malam.


Namun karena Melinda tak di rumahnya sendiri, dia jadi terlalu asik bermain.


"Bohong," bentak Melinda membuat Ameera takut.


"Sayang, jangan begitu gak baik. Kamu bikin Ameera takut," ujar Dika.

__ADS_1


Dika menatap Melinda, lalu mencium sang anak dengan sayang. Membuat Ameera nampak iri, dia juga menginginkan apa yang Melinda dapat dari seorang ayah.


"Dengar sayang, jangan nangis. Kamu anak cantiknya daddy gak boleh nangis oke!"


Melinda mengangguk sebagai jawaban, dan menatap Dika begitulah cara mereka menyelesaikan masalah, bicara dari hati ke hati.


"Daddy izinin kamu nginap di sini, tapi daddy khawatir kamu menangis di malam hari dan selalu mencari daddy atau mommy. Tante Anyelir juga tidak jahat oke," tutur Dika.


"Iya daddy, maafkan Melinda." Lirih Melinda.


"Tidak apa sayang." Dika memeluk Melinda dengan erat, Anyelir sungguh kasian pada Melinda.


"Tidak apa mas Dika, Melinda biar tidur di sini. Aku pasti bisa mengatasinya jika Melinda menangis di malam hari," kata Anyelir.


"Tidak Anye, aku takut kamu lelah." Tolak Dika.


Anyelir mengambil Melinda dari Dika, dia menimang-nimang Melinda yang memang sudah mengantuk. Dika melirik pada Ameera yang berwajah sendu, membuat Dika kasihan.


"Sini." Dika melambai pada Ameera, agar anak itu mendekat. Dengan malu-malu Ameera mendekati Dika, lalu Dika membawanya dalam pangkuannya.


Dika pun mencium kening Ameera dengan sayang, dan memeluknya membuat Ameera terisak. Karena rasa haru mendapatkan dekapan, seorang ayah yang telah lama dia rindukan.


"Terima kasih om, om sudah mau peluk aku." Lirih Ameera.


"Terima kasih juga Meera, sudah mau membagi pelukan ibunya untuk Melinda." Kata Dika dengan tulus, Ameera mengeratkan pelukan pada Dika semakin erat.


Sungguh jika ada yang melihat mereka, mereka akan beranggapan bahwa Dika dan Anyelir adalah keluarga bahagia dengan dua anak gadis yang sangat lucu.


****


Reen menatap langit malam yang cerah, walau tanpa bintang. Sore tadi, Zea menghubunginya menanyakan di mana dirinya? Sebab menurut Zea, Arjuna menghubungi sang ibu.


"Pulanglah Reen, bicarakan semuanya dengan Arjuna akan bagaimana hubungan rumah tangga kalian. Dan mommy menyerahkann semua keputusan akhir pada mu dengan Arjuna sayang," kata Zea pada pesan chatnya, Reen selalu menolak panggilan dari Zea atau Keano sang ayah.


"Maafkan aku mom, dad. Masih saja merepotkan mu," lirih Reen.

__ADS_1


Reen memutuskan untuk tidur, besok pagi dia akan pulang ke rumah miliknya dan Arjuna. Untuk menyelesaikan masalah mereka, Reen tak akan membuat masalah ini berlarut apalagi membuat si ulat bulu bahagia.


***


__ADS_2