Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.28


__ADS_3

Setelah berbaikan Dela dan Auriga, memutuskan untuk menyusul Lula dan Ara. Ke rumah Jenny, Auriga tak pernah bosan menatap wajah Dela yang cantik. Dan sedikit berisi, karena kehamilannya tapi dia tak masalah. Justru akan jadi masalah, jika hamil Dela kehilangan berat badannya.


Dua jam kemudian, mereka sudah sampai di perumahan Residen Hills. Mobil keluarga Mario masih tersusun rapih, di halaman rumah Jenny yang lumayan luas.


Dela dan Auriga mengucap salam, dan langsung menuju ruang keluarga. Setelah di arahkan oleh Bibi Maura.


"Ayah, bunda." Pekik Ara antusias.


Lula pun merasa lega, melihat sang ayah bersama bundanya. Sedikit Lula sudah mengerti hubungan orang dewasa, dia takut terjadi perpisahan di antara ayah dan bundanya. Cukuplah bersama ibu kandungnya, jangan dengan bunda Delanya.


Ara memeluk Dela dengan erat, lalu menunjukan hasil gambar. Yang dia kerjakan bersama sang kakak dan Tatiana.


"Ini gambar buatan aku, kalo perpaduan warnanya. Di ajarin ka Tara," cerita Ara dengan cepat.


"Cantik gambarnya bagus," puji Dela.


"Makasih bunda," ucap Ara memeluk Dela.


Lula pun menunjukan hasil karyanya yang lebih bagus dan rapih, karena dia sudah besar. Tak lupa sang adik pun, menunjukan hasil karyanya seolah Tatiana tak mau kalah dengan kedua keponakan sambungnya tersebut.


Sementara Auriga sudah di tatap oleh Yumna dan Dika, membuatnya kikuk dan risih.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Auriga.


"Aku butuh penjelasan, tentang Dela yang telat datang." Kata Yumna, sebagai seorang ibu dia memiliki firasat jika sang anak sedang bermasalah.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, semua sudah selesai. Hanya kesalah pahaman kecil, karena aku lupa memberi kabar Dela pulang. Dan kami baik-baik saja," imbuh Auriga.


"Tapi..."


Bara menyentuh paha Yumna, agar tak berbicara lagi. Sang anak sudah dewasa, bisa menentukan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Sudah sayang, Dela sudah dewasa. Dia bisa menyelesaikan urusannya sendiri, jika kita ikut campur bukan tak mungkin rumah tangga mereka akan menjadi keruh. Maka biarkan saja mereka, jika dalam bahaya baru kita bertindak." Papar Bara menengahi.


"Betul apa yang di katakan Bara, Yumna. Dela sudah dewasa dia tanggung jawab suaminya Auriga," timpal Mario.


Mario bisa melihat posesifnya Yumna pada Dela, sama seperti dirinya pada ketiga anaknya. Yumna mengehela napas dengan pelan, dia mengangguk sebagai jawaban.


Hening yang terjadi di ruang tamu tersebut, membuat Auriga menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Kenapa pada diam?" celetuk Dela.


"Tidak ada, kamu sudah makan sayang?" tanya Laura.


"Sudah Granny, aku makan di rumah Granny." Jawab Dela tersenyum.

__ADS_1


"Di rumah? Kapan kamu ke rumah? Kok opah gak liat sih!" timpal Mario.


"Ya aku sembunyi lah," kekeh Dela, membuat semua orang menggeleng.


"Dimana Dika dan Jenny?" tanya Dela.


"Mereka di kamar, Jenny tak enak badan, katanya." Ujar Laura.


Dela hanya beroh saja, lalu mengajak Auriga makan siang dan menemaninya. Berbeda dengan di Jakarta, di Bandung tepatnya di Pangalengan. Anyelir di sibukkan dengan pelanggan yang datang, silih berganti. Membuat Sekar tak henti mengucap syukur. Begitu juga Anyelir, Anyelir pun berencana untuk menambah rumah makannya di daerah kota.


"An... Ehh... Cinta," panggil Axel hampir keceplosan.


"Ya, ada apa? Kamu selalu saja datang dan pergi. Udah kaya jelangkung aja," kekeh Anyelir.


"Dih... Memang aku hantu," cibir Axel.


"Biasalah aku mau minta jatah makan siang," katanya tak tau malu.


"Ka Axel jangan lupa bayar," ujar Adam memperingati Axel, membuat Axel tertawa dan mengacak rambut Adam.


"Ka Axel dan ka Cinta, sudah menjadi teman jadi ya gak harus bayar." Ujar Axel mengedipkan matanya, pada Anyelir membuat Anyelir memutar bola mata malas.


Namun tak ayal Anyelir, mengambilkan makan siang untuk Axel dan ibunya Arumi. Sesekali Bu Arumi mengunjungi rumah makan Anyelir, tapi lebih banyak fokus merajut untuk berjualan.


"Axel, nanti sore aku mampir."


"Iya, nanti aku bilang ibu."


Axel pun meninggalkan tempat makan Anyelir, setiap satu minggu sekali Axel membayar untuk makan dia dan ibunya. Terkadang Anyelir menolak, dan lebih memilih membantu Arumi merajut dan menjait.


Dan hasilnya di jual, di toko yang selalu Axel jaga. Tak jauh dari rumah makan Anyelir.


****


"Benar kamu baik-baik saja?" tanya Dika cemas, sebab Jenny mengeluh sakit kepala.


"Iya aku gak papa, aku mau istirahat saja."


"Ya sudah aku temani,"


"Jangan... Di luar kan masih ada yang lain, gak enak kalau kamu disini." Ujar Jenny, pasalnya dia akan menghubungi Alzeta karena sekarang Jenny tidak bisa minum sembarang obat.


"Baiklah, kalau ada apa-apa atau ada yang sakit, kamu cepat hubungi aku oke!"


"Iya." Senyum Jenny.

__ADS_1


Dika mencium kening Jenny, untuk membuatnya tenang. Karena Dika tak mau sang calon anak kenapa-napa, membuat Jenny berkaca-kaca namun dia menahan agar air matanya tak jatuh di hadapan Dika.


Dika melangkah keluar dari kamar, dan turun dari lantai dua menuju lantai satu. Sementara itu Jenny, mencoba menenangkan diri untuk mengurangi sakit di kepalanya.


"Kenapa harus kambuh? Aku ingin sembuh dan melihat anak ku tumbuh," lirih Jenny.


Dia pun menghubungi dokter Alzeta, di panggilan pertama tak di angkat. Namun di panggilan ke tiga di angkat juga


"Ada apa Jen?" tanya Alzeta di sebrang telepon.


"Aku pusing Zeta, tapi aku gak bisa makan obat sembarang sekarang. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Jenny.


Membuat Alzeta di sebrang sana, menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Jenny kamu tahu kan, penyakit kamu serius dan berbahaya?"


"Ya aku tahu," lirih Jenny.


"Aku sarankan kamu menggugurkannya, setelah sembuh kamu bisa hamil lagi." Usul Alzeta, membuat Jenny menggeleng walau tak terlihat.


"Aku gak bisa, Dika dan keluarganya sangat bahagia. Begitu juga aku," isak Jenny.


"Jen, jika kamu sekarang mengkonsumsi obat penghilang sakit pun itu bahaya. Karena dosis obat itu sangat tinggi, karena kamu sering mengeluh sakit yang teramat." Imbuh Alzeta.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Selain mengugurkan kandungan ku? Adakah jalan lain?" tanya Jenny dengan suara bergetar, dia mencoba menahan tangis tapi tetap saja air matanya keluar tanpa permisi.


"Ada, kamu bicarakan ini dengan Dika dan jujur soal penyakit mu. Jadi kalian bisa mencari solusi bersama," usul Alzeta.


"Baiklah kita bicara lagi nanti, aku banyak pekerjaan. Sampai jumpa," pamit Alzeta.


Panggilan pun terputus, membuat Jenny lagi-lagi menghela napas dengan pelan. Dia tak tega, harus menggugurkan kandungannya.


"Kenapa hidup ku seperti ini? Tidak bisakah aku bahagia untuk lebih lama Tuhan?"


Jenny menatap lekat langit-langit kamar, kilas balik hidupnya setelah di tinggal oleh sang ibu. Menjadi artis di perusahaannya sendiri, di pecat dari ahli waris karena ibu tirinya Linda yang serakah dan harus menanggung biaya sang adik. Walau Alderik sesekali memberikan uang pada Tara, namun tetap saja kurang, tak terasa Jenny merasakan kantuk dan mulai tertidur.


Dalam tidur pun Jenny selalu gelisah, untuk segala hal. Sampai Dika masuk untuk melihat Jenny, dia tertidur tapi gelisah.


Dika yang melihat keringat dingin di kening Jenny, langsung mengusap keringat tersebut. Dan mengusap puncak kepala Jenny, agar merasa tenang.


"Jenny, tidur yang nyenyak ada aku disini." Bisik Dika, memeluk Jenny dan kini perlahan mulai tenang dalam tidurnya.


tbc..


Semoga suka, maaf typo jangan lupa tinggalkan jejak makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2