
Axel berusaha menenangkan Melinda, yang terus menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Ameera.
"Ini bukan salah mu sayang, apa yang terjadi pada Ameera murni karena kelalaian dia yang tergesa turun dari tangga." Ujar Axel.
"Tapi aku..."
"Sayang, tenang kamu sedang hamil." Axel mengelus lembut Melinda.
"Dia juga mendoakan keburukan pada calon anak kita kan? Mungkin apa yang dia doakan berbalik padanya, atau bisa jadi ada penyebab medis lainnya. Kita belum melihat CCTV bagaimana Ameer jatuh, jadi jangan menyalahkan diri sendiri oke!" tutur Axel.
Melinda mengangguk mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semuanya bukan salah dirinya. Melainkan Ameera tak hati-hati, dalam melangkah.
Axel membawa pulang Melinda, setelah berpamitan pada bibi. Melinda menatap jalanan, dia ingin tahu bagaimana keadaan Ameera saat ini. Tapi untuk datang pun, dia enggan pasti Ameera akan menyalahkan dirinya.
"Maafkan aku sayang, aku selalu merepotkan mu." Ujar Melinda.
"Kamu ngomong apa sih? Aku gak ngerasa di repotin sama kamu, aku senang kamu selalu menghubungi aku kalau ada apa-apa."
Melinda tersenyum menatap Axel, dia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Aku ikut ke kantor yah!"
"Iya, sekalian kita makan siang." Kata Axel, Melinda pun mengangguk sebagai jawaban.
****
Di perusahaan Wiriadinata, Miska merasa senang setelah mendapatkan kiriman makanan dari Melinda, Miska memberikan kotak makan milik Aaron.
"Masuk!"
Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, Miska pun masuk.
__ADS_1
"Ini ada kiriman makan siang, dari nona Melinda." Beritahu Miska, meletakan kotak makan siang.
"Ya, terima kasih." Jawab Aaron tanpa mengalihkan pandangannya, dari hadapan laptop.
"Permisi," pamit Miska.
Miska sungguh merasa sungkan pada Aaron, jiwa pemimpin dan tegasnya begitu terlihat.
"Kalo lagi serius dia kelihatan tampan sekali," gumam Miska.
Dia melihat kotak makan siang, yang dikirim oleh Melinda. Nasi putih, beef Teriyaki, tumis brokoli jamur dan ayam suir sambal kemangi. Yang menggunggah selera, seketika Miska menelan liurnya.
"Astaga Melinda tidak pernah gagal kalau masak," gumam Miska.
Tak hanya Miska dan Aaron, Dika pun dapat kotak makan siang dan sudah di terima oleh Dika. Menu yang berbeda dari yang lain, membuat Dika tersenyum menatap makan siang buatan sang anak.
Selamat makan siang daddy, semoga suka. ~love Melinda.
Namun senyum Dika surut, saat membaca pesan dari Anyelir yang memberitahu bahwa Ameera jatuh dari tangga. Dan dia keguguran, dan sekarang dia berada di rumah sakit.
"Ya Tuhan Ameera," gumam Dika, dia akan menemui Ameera setelah makan siang. Bagaimana pun juga, Dika menghargai masakan Melinda.
Di rumah sakit, Ameera sudah sadar dia menangis tak terima kehilangan anak yang bahkan belum dia lahir kan.
"Ini semua gara-gara Melinda, aku gak terima." Kata Ameera dengan terisak.
"Kenapa kamu menyalahkan Melinda Ameera?" tanya Anyelir.
"Karena dia mendoakan yang tak baik pada kandungan ku ibu," isak Ameera, dia pun menceritakan obrolan dengan Melinda. Anyelir sendiri tidak percaya, bahwa Melinda bisa berbicara buruk seperti itu.
"Dia tidak mungkin seperti itu Ameera," bela Anyelir.
__ADS_1
"Lebih baik ibu pulang saja, jika terus membela Melinda. Aku anak ibu bukan dia," pekik Ameera.
"Sayang tenang," ujar Azriel, yang sejak tadi menyimak pembicaraan Anyelir dan Ameera.
"Aku gak bisa tenang, kamu harus jebloskan Melinda ke penjara. Karena sudah membunuh anak ku," teriak Ameera.
Anyelir memutuskan untuk memanggil dokter, tapi saat akan keluar dia terkejut dengan kehadiran Dika. Anyelir takut Dika, mendengar semua perkataan Ameera pada Melinda.
"Sayang," sapa Anyelir.
Namun Dika tak menanggapi ucapan Anyelir, dia masuk ke dalam ruang perawatan Ameera.
"Tidak boleh ada yang melaporkan Melinda, itu kesalahan mu Ameera. Kamu yang berkata tak baik pada anak ku, selama ini aku selalu sabar pada mu dan mengabaikan mu."
"Daddy aku..."
Dika mengangkat tangan, membuat Ameera berhenti bicara.
"Selama ini aku kira kamu akan berubah, setelah aku memperhatikan mu. Tapi semakin ke di lihat kamu semakin menjadi Ameera, bahkan kamu menjelekan anak ku dan ibunya Jenny. Mulai sekarang datanglah saat aku tak ada di rumah, atau ibu mu yang akan ke rumah Azriel." Putus Dika, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan Ameer.
Ameer menangis kembali, dia terisak dalam pelukan Azriel. Sementara Anyelir hanya berdiri menatap Dika yang sudah menjauh, lalu menatap sang anak.
"Ibu pulang dulu Ameer, pikirkan semua kesalahan mu. Jangan pernah menyalahkan orang lain," tutur Anyelir.
Ameera menatap pintu yang tertutup, dia pun kembali menangis. Semuanya meninggalkan dirinya, tinggallah Azriel, yang setia menenangkannya dan memberi motifasi agar Ameera tetap semangat dan tabah menghadapi cobaannya.
"Kamu gak akan ninggalin aku kan?" tanya Ameera.
"Tidak, aku suami mu. Aku tidak akan meninggalkan mu sayang, aku akan selalu mengingatkan mu agar menjadi yang lebih baik lagi," ujar Azriel.
Azriel berharap setelah ini, Ameera sadar akan kesalahannya yang dia buat pada Melinda. Dan mengingatkan Ameera, bahwa mereka pernah sangat dekat.
__ADS_1
****